
"Ayah, yang tenang di sana ya. Sekarang Ciya yang akan menggantikan tugas Ayah buat jaga Bunda." Gadis itu masih di sana, di hadapan tumpukan tanah dengan nisan bertuliskan nama Malvin Alvendra.
Semua orang telah pergi dari sana, kini menyisakan Ciya, Bunda Jihan dan Kenji.
"Pulang, Sayang. Ayah udah bahagia di sana. Tuhan sayang Ayah kamu," bujuk Bunda Jihan.
Walau tak bisa dipungkiri bahwa rasa sakitnya memang sama dengan yang Ciya rasakan, namun dia harus menjadi kuat untuk putrinya.
Ciya menoleh ke arah Bundanya dan di sana juga ada Kenji. Mereka pulang ke rumah Ciya.
"Kak Kenji makasih udah antar Ciya pulang," ucap Ciya.
"Sama-sama." Kini mereka sudah berada di rumah Ciya.
"Apa yang sebelumnya terjadi Tante? Maaf saya bertanya seperti itu." Bukan karena rasa penasarannya, kejadia yang menimpa Bundanya masih sangat melekat pada ingatannya. Itulah dia bertanya berharap kepergian Ayah Ciya bukan karena hal tak wajar seperti yang menimpa Bundanya.
"Ayah Ciya punya penyakit jantung. Saat itu kambuh dan tak bisa tertolong," lirih Bunda Jihan.
Tangis Ciya kembali pecah. Kepingan kenangan yang dia ukir bersama Ayahnya berputar dalam ingatannya layaknya sebuah film.
"Ci-ciya gak nyangka ayah bakal pergi secepat ini." Ciya menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Kali pertama sejak kejadian yang membuatnya trauma dulu dia memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan orang lain, apalagi orang itu adalah Kenji.
"Gue tahu lo kuat. Sekarang lo Cuma harus berdo'a buat Ayah lo dan lanjutin hidup lo. Bikin Ayah lo bangga." Kenji mengusap surai Ciya.
Bunda jihan yang melihat kejadian seperti itu merasa tenang karena ada seseorang di samping Ciya.
Bunda Jihan tahu jika pria yang sekarang menghibur putrinya ini bukan pria yang sering diceritakan Ciya, Axel. Tapi laki-laki ini terlihat lebih baik dari Axel.
***
Hari demi hari telah Ciya lewati tanpa Axel, tanpa Ayahnya dan tanpa kebahagiaan. Gadis itu berubah menjadi gadis murung yang datang ke sekolah hanya untuk daftar hadir.
Hari itu, setelah Ciya mulai tenang kedua sahabatnya datang dengan berurai air mata. Mereka mendapatkan kabar tersebut dari guru sehingga cepat menuju ke rumah Ciya.
"Bry, mau ke kantin?" tanya Beyza hati-hati. Pasalnya setelah hari kepergian Ayahnya, Ciya menjadi pendiam dan sangat sensitif.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Ciya menggelengkan kepalanya dan menidurkan kepalanya di atas meje dengan tangan sebagai bantalnya.
Beyza dan Daania saling berpandangan bingung harus berbuat apa. Sementara di bangku paling pojok, seorang gadis tersenyum sinis.
"Satu persatu kebahagiaannya hilang." Dia memang bukan penyebab kematian Ayah Ciya, namun entah mengapa ada rasa puas tersendiri dalam hatinya.
Apalagi saat ini dia menjadi populer di sekolah karena berpacaran dengan Axel. Rasanya kali ini semesta tengah berpihak padanya.
"Daisy, ayo!" ucap seseorang di ambang pintu kelas berhasil membuat Ciya mengangkat kepalanya.
Pandangan keduanya saling beradu, hanya saja dapat terlihat perbedaan dari tatapan itu. Ciya dengan tatapan sendunya sementara pria di ambang pintu itu dengan tatapan acuh.
"Iya, Kak." Daisy menghampiri kekasihnya. Tunggu hingga beberapa hari dan dia akan membebaskan diri.
Dua sejoli itu pergi beriringan dengan senyum merekah. Ciya iri melihat senyum Axel yang sangat lebar apalagi dia bukan orang yang membuat senyum itu terukir.
"Sekali lagi gue bilang, lupain dia. Masih banyak orang yang sayang sama lo. Gak usah peduliin dia yang selalu bikin luka di hati lo." Daania angkat bicara.
Dia sudah tak kuasa menahannya. Dia menyayangi sahabatnya, dia tak mau luka bar tergores di hati Ciya.
"Iya Ciya udah lupa, tenang aja," jawab Ciya.
***
"Bagus lo ya, nyakitin hati sahabat gue. Brengsek!!" Daania melayangkan pukulan di wajah Axel hingga sudut bibirnya sedikit memar.
"Dan gue gak nyangka sama lo! Ada modelan cewek kaya lo!! Kalian serasi dengan keberengsekan kalian tahu gak!!" Gadis itu murka, dia berkata seperti itu sembari menunjuk wajah Daisy.
"Gak usah bentak pacar gue!!" teriak Axel.
"Cih, pacar?"
"Gue harap lo nyesel seumur hidup lo karena udah nyakitin Ciya!" Daania beranjak dari sana diikuti Beyza.
***
"Mau makan bakso? Lo suka bakso kan?" tanya Kenji perlahan. Daania melaporkan jika Ciya tak ingin makan siang, maka dari itu dia datang untuk membujuk gadis ini.
__ADS_1
Ciya menggeleng.
"Lo makan, gue bakal kabulin permintaan lo," ucap Kenji. Dia berharap Ciya menerima tawarannya walaupun ini terdengar sedikit konyol.
Ciya mengangkat kepalanya. Wajah pucat terpampang di depan Kenji.
"Lo sakit?" tanya Kenji sembari menyentuh kening Ciya dengan punggung tangannya.
"Astaga!" teriak Kenji.
"Ikut gue sekarang." Tanpa pikir panjang, Kenji menggendong Ciya ke UKS, setidaknya dokter di sana dapat memeriksa apa yang terjadi pada Ciya.
Seiring dengan langkah kaki Kenji, napas Ciya semakin berat. Napasnya mulai tersenggal-senggal, Ciya mengalami sesak napas.
"Dok, tolong dia." Kenji membaringkan Ciya di kasur yang ada di UKS untuk segera diperiksa.
Dengan telaten dokter memeriksa keadaan Ciya.
"Saya tak ingin asal mendiagnosa, tapi dilihat dari gejalanya sepertinya ini penyakit yang cukup parah. Bawa dia ke rumah sakit untuk melakukan beberapa pemeriksaan seperti CT scan, pemeriksaan darah dan bronkoskopi karena saya rasa dia memiliki penyakit pneumonia," jelas Dokter.
Napas Kenji tercekat. Dia takut, kejadian Bundanya saat itu masih belum hilang sepenuhnya dalam ingatannya. Dia takut Ciya juga akan meninggalkannya.
Tanpa pertanyaan apapun, Kenji kembali membawa Ciya ke rumah sakit seperti saran dokter.
***
Sebuah oksigen di pasangkan pada hidung Ciya, napasnya sudah sedikit stabil. Setelaj Kenji menjelaskan apa yang dikatakan dokter tadi, Ciya segera melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan apa yang terjadi.
"Dengan keluarga Nona Ciya," ucap Dokter yang telah selesai menangani Ciya.
"Saya. Ah, orang tuanya sedang ada keperluan jadi saya mewakilinya," jawab Kenji. Ya, Kenji sudah menghubungi Bunda Jihan menggunakan ponsel Ciya dan sekarang beliau berada di perjalanan menuju kemari, namun kemacetan jalanan menjadi hambatan untuk Bunda Jihan.
"Silahkan ikut saya." Kenji mengikuti langkah dokter itu menuju ruangannya.
Dokter itu memperlihatkan beberapa dokumen hasil pemeriksaan Ciya.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan dan dihubungkan dengan gejala yang terjadi pada pasien dengan ini menyimpulkan bahwa pasien memiliki penyakit pneumonia. Pneumonia ini adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh infeksi. Dilihat dari hasilnya, ini sudah berlangsung cukup lama hingga menimbulkan abses paru dan bronkiektasis."
__ADS_1
"Atau biasa disebut juga kerusakan saluran bronkus pada paru-paru," lanjut Dokter.
Tubuh Kenji melemas seiring dengan terbukanya pintu ruangan tersebut.