
Riuh kantin menjadi pemandangan yang sangat mengesankan bagi seorang Ciya Bryonna. Dengan cardigan oversize-nya gadis itu berlari-lari kecil menuju kantin yang sering dia kunjungi dengan teman-temannya.
“Mau makan apa, Bry?” tanya Daania yang baru berhasil menyusul Ciya. Jangan lupakan Bezya yang masih mengatur napasnya di samping Daania.
“Bakso kayanya enak.” Ciya memejamkan matanya. Dalam pikirannya sudah melayang-layang semangkuk bakso hangat yang masih mengepulkan asapnya.
“Oke ayo!” Daania merangkul Ciya dan Beyza dan menyeret mereka untuk mencari tempat duduk.
“Kalian duduk di sini, biar gue yang beli.” Daania melangkahkan kakinya membelah kerumunan yang sangat sesak. Dia berusaha mencapai penjual bakso yang dimaksud Ciya.
“Awas air panas, air panas!” teriaknya menggelegar di tengah keramaian kantin. Secara otomatis orang-orang memberi jalan pada Daania dan begitulah Daania berhasil membeli tiga mangkuk bakso.
Sementara itu, di lorong sekolah dua orang pria yang sama-sama dingin saling beradu pandang. Bukan pandangan memuja atau sebagainya, melainkan pandangan benci yang mereka layangkan satu sama lain.
“Bilang sama bokap lo, kalau main itu modal dikit,” bisik Axel saat mereka saling berpapasan. Kenji menggertakkan giginya dan jangan lupakan rahangnya yang mengeras.
Bisikan Axel membuat emosinya memuncak.
“Apa maksud lo?!” Kenji menarik kerah Axel dengan sebelah tangannya. Sementara tangan satunya sudah mengepal kuat dengan buku-buku jari yang memutih.
“Cih, lo bodoh atau pura-pura bodoh?” desis Axel. Senyum miring tercetak di bibirnya mendengar ucapan Kenji.
“Bukannya harusnya nyokap lo yang berhenti gangguin bokap gue? Gara-gara dia nyokap gue pergi, nyokap lo pembunuh,” bisik Kenji di akhir kalimatnya.
Mereka berdua sama-sama memiliki senjata untuk menyerang satu sama lain.
“Sialan!” Dengan mudah, Axel melayangkan satu tinjuan ke wajah Kenji. Kenji sudah mengepalkan tangannya dan hendak meninju wajah tampan Axel sebelum satu suara menginterupsi keduanya.
“Kak Axel!” teriak gadis manis dengan cardigan oversize-nya. Gadis itu berlari menghampiri Axel dan Kenji. Di saat semua orang tak ada yang berani mendekati mereka saat ini, Ciya dengan berani menghampiri keduanya.
“Ohh Kakak yang waktu itu! Ngapain Kakak mau mukul Kak Axel?” tanya Ciya menunjuk Kenji dengan telunjuk pendeknya.
Kenji memalingkan wajahnya, emosinya sedang ada di puncak, namun tak mungkin dia menghantam Axel di depan gadis bodoh ini.
“Gue belum selesai.” Kenji menunjuk Axel dan segera pergi dari sana.
__ADS_1
“Kak Axel gak kenapa-kenapa, kan?” tanya Ciya dengan tatapan khawatir. Gadis itu bahkan tak menghabiskan makanannya saat tahu Axel sedang ribut.
“Kita ke UKS ya.” Ciya menarik tangan Axel begitu saja.
“Apa sih urusan lo! Gak usah ikut campur urusan orang bisa gak sih?! Muak gue lihat muka lo.” Axel meludah tepat di hadapan Ciya. Gadis itu terlonjak kaget dengan perlakuan Axel, namun sekuat tenaga Ciya memaksakan senyumnya.
“Ciya minta maaf ya.” Senyum tulus terukir di bibir tipis Ciya. Sejenak, Axel tertegun dengan reaksi Ciya. Dia kira gadis itu akan menangis meraung atau berlari pergi dari sana dengan air mata buayanya, namun tanpa Axel duga gadis itu malah tersenyum dan meminta maaf padanya.
Axel melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Ciya. Ciya tersenyum sebelum kemudian air matanya berhasil luruh begitu saja setelah Axel hilang dari pandangannya.
Bukannya Ciya tak sakit, bukan Ciya tak sedih, dia hanya tak ingin kak Axel-nya melihat dia menangis. Jika Axel bersikap begitu dingin, itu pasti karena alasan tertentu. Itulah mengapa Ciya selalu berusaha menampilkan senyumnya di hadapan Axel berharap Ciya hanya meninggalkan kenangan indah dalam hidup Axel.
***
“Daania, Ciya pulang sendiri aja ya. Ciya pasti sampai ke rumah kok, tenang aja,” bujuk Ciya. Sejak lima belas menit lalu mereka memperdebatkan siapa yang akan mengantarkan Ciya pulang.
“Gak, lo Cuma boleh pilih balik sama gue atau Beyza?” ucap Daania.
Ciya menghela napasnya dalam. Ciya tahu teman-temannya ini mengkhawatirkannya, tapi dia bukan lagi anak kecil. Ciya sudah dewasa.
“Oke lo pulang sama gue. Ayo!” Daania menggenggam pergelangan tangan Ciya.
“Bey, Ciya pulang bareng gue aja ya. Lo hati-hati,” ucap Daania.
“Oke, kalian juga hati-hati. Gue duluan.” Daania mengacungkan jempolnya.
Daania menarik lengan Ciya untuk masuk ke dalam mobilnya. Biasanya Ciya di jemput oleh kedua orang tuanya, namun sepertinya hari ini kedua orang tuanya tak bisa menjemput putri kesayangannya itu.
“Masih sedih? Gue bilang juga apa, gak usah di samperin.” Daania berkata, namun pandangannya masih lurus memandang jalanan.
“Kok Daania marahin Ciya sih.” Ciya memajukan bibirnya. Temannya ini memang menyebalkan, bukannya menghiburnya tapi malah menyalahkannya.
“Bukan marah Ciya, tapi gue lagi usaha buat bikin lo ngerti, oke.” Daania memandang Ciya sekilas.
“Tapi kan Ciya khawatir sama kak Axel. Gimana kalau dia berdarah. Aduh, kalau tadi Ciya gak datang, Ciya yakin kak Axel udah di pukul sama kakak Anting itu.” Ciya bergidik ngeri membayangkan bagaimana jika wajah Axel berdarah karena pukulan.
__ADS_1
“Namanya Kenji bukan Anting,” kesal Daania. Anak ini memang seenaknya saja membuat julukan pada orang-orang.
“Iya kan Ciya gak tahu, habisnya dia pakai anting,” ucap Ciya mencari pembelaan.
“Terserah lo. Ini ke mana arah rumah lo?” tanya Daania.
“Itu depan belok dikit, udah sampai.” Ciya menunjuk arah perumahan elite yang ada di sana.
Daania mematikan mesin mobilnya saat sampai di depan rumah Ciya.
“Gue gak perlu nemenin lo sampai bokap nyokap lo datang kan?” khawatir Daania.
“Enggak perlu. Ciya bisa sendiri kok. Tapi, kalau Daania mau mampir dulu Ciya lebih lega eheheh.” Ciya terkekeh jahil.
Akhirnya Daania masuk ke rumah Ciya setelah mendapat sinyal dari Ciya bahwa gadis itu benar-benar ingin Daania menemaninya dulu.
“Tadi aja sok mau pulang sendiri, ini di rumah aja masih mau di temenin,” bisik Daania berusaha meyindir Ciya.
“Ya udah kalau kepaksa Daania pulang aja sana!” Ciya mendorong badan Daania agar pergi dari rumahnya.
“Yakin? Gue pergi nih!” ancam Daania.
“Ihh Daania rese banget sih!” Ciya menghentakkan kakinya karena kesal dengan godaan temannya ini.
“Iya-iya gue gak pulang, ayo masuk.” Dania merangkul bahu Ciya dan mengajaknya masuk.
“Daania mau makan? Kita pesan aja ya,” tanya Ciya.
“Oke.”
Dan inilah penampakan ruang tamu Ciya setelah makanan mereka sampai di waktu yang sama. Meja tamu yang ada di sana sudah tak memungkinkan lagi untuk menampung makanan yang mereka pesan hingga sofa pun menjadi sasaran empuk untuk menyimpan makanan-makanan itu.
“Selamat makan!” seru keduanya semangat.
“Astaga! Ada apa ini?!” seru wanita paruh baya yang baru saja memasuki rumahnya.
__ADS_1