Retisalya

Retisalya
Kecelakaan


__ADS_3

Dengan langkah terburu-buru Axel menyusuri seluruh sekolah. Dia bahkan rela bangun pagi dan berangkat lebih awal. Dia tak peduli jika nanti Dylan memarahinya karena tak membangunkan pria itu.


Sudah sekitar lima belas menit Axel keliling sekolah untuk menemukan Daisy. Kelas Daisy menjadi sasaran pertamanya saat dia sampai di sekolah, namun kelas itu kosong. Tak ada seorangpun yang menghuni kelas itu.


Dua putaran sudah, kini Axel telah kembali ke tempat pertama dia berlari. Depan gerbang. Dengan napas terengah, Axel tetap mengedarkan pandangannya ke segala arah.


“Kakak kenapa?” tanya seseorang.


Napasnya tercekat. Suara ini, suara orang yang tengah dia cari. Dengan spontan Axel memeluk erat tubuh mungil itu.


“Ahh akhirnya ketemu,” lirihnya. Entah mengapa segala beban yang ada dalam tubuhnya terasa terangkat begitu saja.


Axel melepaskan pelukannya dan menatap lekat netra Daisy.


“Kamu gak apa-apa?” tanya Axel. Dia masih ingat dengan kejadian kemarin di mana Daisy ditampar oleh wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya.


“Gak apa-apa.” Daisy mengangguk lucu seolah-olah memang tak terjadi apapun padanya.


“Kamu yakin?” tanya Axel sekali lagi untuk memastikan. Daisy kembali mengangguk dan tersenyum.


Axel memeluk gadis itu erat tanpa mengetahui bahwa sedari tadi ada yang memerhatikan interaksi keduanya.


***


“Brengsek banget tuh orang,” desisnya.


“Siapa?” tanya Dzikri saat telinganya mendengar Kenji bertutur.


“Apa?” ucap Kenji berpura-pura tak tahu.


“Gue dengar! Gak usah pura-pura bego!” kesalnya.


“Kalau gue bilang dia sama aja kaya nyokapnya, berarti gue sama aja sama bokap gue gak sih?” ucapnya mulai melantur.


“Lo ngomong apa sih?! Yang jelas, gila!!” Dzikri menoyor kelapa Kenji. Kenji memandang Dzikri dengan tatapan tajamnya.


“Dengar-dengar sih si Axel udah jadian sama Ciya.”


“Lah terus, apa hubungannya sama lo?”


“Tadi gue lihat dia pelukan sama temannya Ciya, anak kutu buku itu.”

__ADS_1


“Daisy?” Axel mengangguk saat mendengar nama yang disebutkan Dzikri.


“Gue masih belum ngerti, hubungan sama nyokap, bokap lo, sama lo apa?”


“Dia sama-sama brengsek kaya nyokapnya. Bedanya, dia punya dua cewek sekaligus sementara nyokapnya gonta-ganti cowok,” lirihnya.


“Kalau dia sama nyokapnya aja bisa samaan kaya gitu, sifat bokap gue bakal nurun ke gue gak ya?” lanjutnya.


“Heh! Maksud lo, lo mau kasarin cewe gitu?” Seketika suasana menjadi sepi. Dzikri segera menutup mulutnya dengan tangan. Bisa-bisanya dia keceplosan disaat seperti ini.


Kenji tak menjawab, dia hanya menghela napasnya kasar.


“Lo gak bakal kaya bokap lo!” ucap Dzikri akhirnya.


***


Axel yang sudah sedikit tenang membiarkan Daisy pergi ke kelasnya duluan, dia menghindari gosip yang mungkin muncul jika orang-orang melihatnya bersama Daisy.


“Kak Axel kok kayanya belum ke kelas!” teriak  gadis di belakangnya. Axel menoleh dengan sedikit terkejut. Ciya berada di belakangnya. Apakah gadis itu melihat apa yang dilakukannya bersama Daisy?


Ciya melirik tas yang memang masih digendong Axel di punggungnya.


“Ahh iya, gue baru datang,” bohongnya.


“Ya udah ayo ke kelas.” Dengan semangat, Ciya menggandeng tangan Axel dan menarik pria itu. Seperti biasa, senyum ceria selalu terpancar di wajahnya.


Mereka berjalan beriringan, namun raut wajah Axel tak menunjukkan rasa suka sedikitpun. Dia hanya terus memasang wajah dinginnya hingga sampai di depan kelas Ciya.


“Oh iya tunggu.” Ciya menggeledah tasnya untuk mencari kotak makan yang dia bawa.


“Buat Kak Axel.” Ciya menyodorkan kotak makan itu pada Axel. Tanpa banyak tanya Axel menerimanya.


“Makasih.” Seperti biasa, Axel mengelus surai Ciya lembut.


Ciya merona mendapat perlakuan manis dari Axel dipagi hari. Hal itu berhasil membuat semangatnya meningkat untuk menjalani hari.


“Belajar yang rajin.” Axel memberikan senyumnya pada Ciya.


Ciya mengangguk dan segera berlari ke dalam kelas.


***

__ADS_1


Hari ini tak seperti hari kemarin, Axel pulang ke apartemen Dylan tanpa harus mengantar atau berkencan dengan Ciya.


Entah karena dering ponselnya pelan atau suara teman-temannya yang terlalu keras membuat dering teleponnya tak terdengar, panggilan tak terjawab sebanyak tiga kali dari Kakaknya membuat Axel mengerutkan keningnya.


Heran? Tentu saja. Tak biasanya Evelyn menelponnya apalagi sebanyak itu. Tak menunggu waktu lama, Axel segera menghubungi Kakaknya untuk menanyakan apa yang terjadi.


“Kenapa?” tanya Axel setelah panggilannya terhubung.


“Ketemu?” ucap Evelyn.


“Apanya yang ketemu?” Axel mengerutkan dahinya bingung.


“Ayah. Gue nemuin keberadaan dia. Besok gue bakal temuin dia. Alamatnya di jalan xxx gedung x nomor xx,” ucap Evelyn.


Tubuh Axel menegang dengan pandangan kosong. Pikirannya berkecamuk. Tanpa sadar Axel menutup sepihak panggilan itu dan segera pergi dari kelasnya tanpa peduli pada Dhavin dan Dylan yang bertanya padanya.


Axel berlari menyusuri lorong apartemen yang entah mengapa saat ini terasa begitu panjang. Motor hitamnya menjadi tujuan utama.


Tak harus menunggu hari esok, dia akan menemui Ayahnya sekarang. Axel memakai helmnya dan segera meninggalkan area apartemennya.


Kepalanya agak pening, mungkin karena kabar mendadak yang diberitahukan Kakaknya, namun Axel tetap memaksakan diri agar cepat sampai di tempat tujuannya.


Laju motor Axel semakin kencang di tengah keramaian jalanan. Begitupun kendaraan lain, tak terkecuali sebuah mobil dari arah berlawanan yang melaju dengan kencang.


Silau lampu mobil di malam hari membuat pandangan Axel kabur apalagi ditambah kepalanya yang pening. Axel kehilangan keseimbangannya dan tak sempat menginjak rem hingga akhirnya kecelakaanpun tak bisa dielakkan.


Suara benturan itu terdengar menggema hingga membuat orang-orang yang masih berkeliaran di sana berteriak dengan keras.


Motor Axel beradu dengan bagian depan mobil hingga menyebabkan tubuhnya terlempar cukup jauh. Darah mengalir dari bagian belakang kepalanya.


Banyak orang yang mulai mengerubungi tempat kejadian dan melihat keadaan korban.


Axel masih bisa mendengar riuh orang yang berteriak dan berbicara disaat bersamaan, namun pandangannya mulai kabur seiring dengan kesadarannya hilang. Semuanya menjadi gelap.


Tak selang beberapa lama, suara khas ambulans terdengar di tengah keramaian kota. Dengan cepat petugas ambulans itu membawa tubuh Axel ke dalam ambulans. Syukurlah salah satu di antara orang-orang itu segera menghubungi ambulans.


Tak bisa dipungkiri jika darah yang keluar dari kepala Axel cukup banyak hingga mengalir di jalanan. Ambulan melaju dengan cepat membelah keramaian kota.


 “Oksigen!” ucap salah satu perawat yang mendorong brankar sesaat setelah mereka tiba di rumah sakit.


Alarick yang tak berdaya dengan darah yang mengalir dari kepalanya dibawa ke UGD dan ditangani oleh dokter.

__ADS_1


Dokter dan para perawat di sana sibuk memasangkan berbagai macam alat medis yang entah apa namanya pada tubuh Alarick.


Mereka tercekat saat monitor pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring dan garis lurus tercetak jelas di monitor.


__ADS_2