
“Lama banget, udah belom?” Ciya bertanya. Sekitar satu jam setengah sudah dia megantar Javier belanja. Masih di tempat yang sama dan pria itu belum usai.
“Bentar lagi Na. Sabar kenapa sih?” Bukan hanya karena banyak yang dia beli, tapi juga karena pria itu mencobanya satu persatu. Selain boros, Javier juga tipe orang yang sangat pemilik.
“Lima detik lo gak bawa barang-barang lo ke kasir, gue pergi sekarang juga.” Ciya sudah beranjak dari duduknya. Lebih baik dia pulang dengan taksi dan dia bisa rebahan di rumahnya daripada harus menunggu Javier lebih lama lagi.
“Satu...”
Dengan segera Javier memilih baju yang dia inginkan lagi. “Dua...” Pria itu semakin kelimpungan karena tak memiliki banyak waktu lagi.
“Tiga...” Javier membawa semua pakaiannya ke kasir dengan segera.
“Hah.. hah... hah...” Dia terengah ketika tiba di sana. Tentu saja, jaraknya agak jauh dan barang yang dia bawa juga tidak sedikit.
Kasir mulai menghitung nominal yang harus dibayar oleh Javier. Setelah menyebutkan nominalnya, Javier segera mengeluarkan kartunya dan membayarnya.
“Yuk!” ajaknya setelah dia selesai. Yang dikatakan pria itu memang benar, dirinya belanja dan inilah yang dia sebut dengan belanja. Dua paper bag besar di kedua tangannya.
“Gila nih orang,” desis Ciya dengan pelan berharap Javier tak mendengarnya. Mereka menuju ke parkiran di mana mobil mereka diparkir.
“Udah puas?” tanya Ciya saat dia melihat belajaan Javier dan melihat bagaimana pria itu tersenyum puas dengan belanjaannya.
“Udah. Lo mau ke mana?” tanya Javier dengan senyuman manisnya.
“Karena satu setengah jam gue lo habisin dengan belanja barang-barang lo yang gak guna ini, sekarang antar gue ke Rumah Sakit Jiwa,” ucap Ciya yang berhasil membuat Javier membelalakan matanya.
Apa karena dia belanja cukup banyak sampai membuat Ciya ingin memasukannya ke rumah sakit jiwa?
“Lo gak akan masukin gue ke sana, kan?” tanya Javier curiga.
“Eh kalau lo gila, mending di jalanan aja. Gak usah gue masukin lo ke sana. Enak banget lo ke sana dikasih tempat tidur sama dikasih makan,” jawab Ciya.
“Jahat banget lo sama saudara sendiri,” ujar Javier.
“Lah, emangnya lo mau jadi orang gila? Terus gue masukin ke rumah sakit jiwa?” tanya Ciya merasa ucapannya tak ada yang salah.
“Gak mau lah!” sangkalnya.
__ADS_1
“Ya udah gak perlu serius gitu kalau lo gak mau gila,” jawab Ciya santai.
Javier melajukan mobilnya ke tempat yang sudah dikatakan oleh Ciya. “Jadi lo mau apa ke sana?” tanya Javier masih tak menyerah karena di penasaran.
“Mau jenguk teman,” jawabnya dengan singkat.
“Teman lo ada yang gila?” tanya Javier terkejut. “Bukannya lo yang disakitin? Kenapa jadi dia yang gila?” Javier terheran-heran.
“Ya mana gue tau. Udah ah, ayo cepat.” Javier lebih mempercepat laju mobilnya saat Ciya berkata demikian.
Cukup jauh perjalanan Ciya ke sana. Membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. “Na, lo yakin ini rumah sakitnya?” tanya Javier. “Atau jangan-jangan teman lo yang ini yang waktu itu diomongin sama kedua sahabat lo?” Javier merasa lupa-lupa ingat dengan pembahasan ini.
“Iya yang itu. Sekarang dia di sini dan gue mau lihat kondisi dia sekarang kaya apa,” ujar Ciya yang membuat Javier mengangguk.
Mereka keluar dari dalam mobil ketika mereka telah tiba di tempat tujuan. Begitu mereka masuk, mereka meliha meja administrasi.
“Permisi, Sus,” sapa Ciya dengan ramah.
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya Suster itu.
“Sebentar ya biar kita carikan dulu namanya.” Ciya mengangguk dan menunggu suster itu mencari nama yang baru saja dia sebutkan.
“Ah ada, biar saya antar,” ucap suster. Ciya mengangguk dan mengikuti ke mana suster itu pergi, Javier juga mengekor di belakangnya.
“Silahkan, pasien ada di dalam.”
“Makasih Sus.” Ketika Ciya datang ke sana, datang dua orang suster lagi. Mungkin untuk mengawasinya ketika menjenguk pasien.
Ciya melangkahkan kakinya menuju ke dalam. Pintu yang terbuka membuat Ciya lebih mudah masuk ke sana.
“Cantik,” ucap Javier ketika melihat wajah Daisy. Tak bisa dipungkiri jika gadis itu memang cantik. Itulah kenapa Javier sampai kagum dengan kecantikannya.
“Lo suka sama dia?” bisik Ciya sebelum mereka tiba di hadapan Daisy.
“Enak aja!”
Tiba di sana, Daisy yang sedang berbaring tiba-tiba menatap kedatangan Ciya. Ciya merasa iba dengan gadis itu. Dulu pandangan Daisy tidak pernah seperti ini.
__ADS_1
“Hai,” ucap Ciya sambil mengangkat tangannya. Dia bingung harus menyapa seperti apa.
“Siapa?” bisik Daisy yang hampir tak bisa didengar oleh Ciya.
Ciya sangat miris melihat gadis yang dulu meyakitinya kini menjadi seperti ini. “Gue Ciya, lo ingat gue?” Ciya yakin jika Daisy tak akan mengingatnya. Tapi dia ingin mencobanya saja.
“Jahat banget lo dulu. Sampai hati lo sakitin gue kaya gitu padahal sebelumnya gue gak pernah bikin masalah sama lo,” ucap Ciya.
“Na, lo ngomong kaya gitu juga dia gak bakal ngerti,” bisik Javier.
“Iya gue tahu. Lo diem aja, gue mau ungkapin perasaan yang sempat gak bisa gue ungkapin dulu,” jawabnya.
Javier mengangguk dan kembali diam memperhatikan Ciya yang terlihat akan melanjutkan peembicaraannya.
“Padahal gue udah pergi buat kasih Kak Axel buat lo. Gue udah ikhlas, tapi malah lo juga sakitin dia dan bahkan sekarang lo sakitin dia,”
“Siapa?” Daisy terus saja memperhatikan Ciya yang berbicara. Bahkan dia sama sekali tak mengerti apa yang sedang dikatakan oleh gadis itu.
Hanya kata ‘siapa’ yang terus keluar dari bibirnya semenjak Ciya datang ke sana.
“Mau gue bilang berapa kali pun, lo gak akan ingat nama gue.”
“Tapi meski begitu, gue tetap berdo’a yang terbaaik buat lo. Semoga lo bisa sembuh kaya dulu lagi tapi dengan versi yang lebih baik,” sambung Ciya.
“Aku minta maaf.” Satu-satunya kalimat terpanjang yang diucapkan Daisy pada Ciya. Entah apa maksudnya, tapi itu berhasil membuat Ciya mematung.
“Lo minta maaf sama gue?” tanya Ciya beharap Daisy sedikit mengingat tentangnya.
Namun sepersekian detik, Daisy tertawa terbahak entah karena apa. Hal itu membuat Ciya menghela nafas.
“Emang gak mungkin secepat itu.” Ciya berkata.
“Ya udah, gue ke sini Cuma mau mastiin kalau lo emang ada di sini dan masih ada di dunia ini. Baik-baik di sini dan semoga lo bisa segera keluar dari tempat ini. Sampai jumpa lagi, Daisy.”
Ciya menggenggam tangan gadis itu memberikan kekuatan sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari sana.
“Yu Vi.”
__ADS_1