Retisalya

Retisalya
Where Are You


__ADS_3

“Gadis itu, di man dia sekarang?” Jika kalian pikir Daania dan Beyza akan menjawab pertanyaan Axel dengan mudah, maka kalian salah.


“Siapa lo, tanya-tanya sama kita.” Tanpa menungg respon Axel, Daania dan Beyza segera meninggalkan tempat itu. Demi apapun mereka tak akan mengatakan keberadaan Ciya pada Axel.


“Sialan!” umpat Axel. Dia meninjukan tangannya ke dinding tepat di hadapannya. Axel tak merasakan sakit sedikitpun, hanya saja tangannya sedikit memar.


*****


Bagi Daania dan Beyza, sekolah rasanya sepi selama ketidak hadiran Ciya. Gadis itu adalah gadis ceria yang selalu menghidupkan suasana di antara mereka, namun kini semua itu hilang.


Ciya-nya terbaring lemah di brankar rumah sakit dengan nebulator yang senantiasa menemaninya.


“Perasaan baru kemarin gue telat datang MOS bareng Ciya dan sekarang kenapa semuanya jadi gini.”


“Waktu itu dia sangat baik-baik aja. Kenapa semua serba mendadak kaya gini?” Daania, seorang gadis tomboi yang tak pernah menangis kini hampir meneteskan air matanya.


Hatinya buruk saat membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Ciya. Dia sungguh tak ingin sahabatnya sakit.


Selama ini entah berapa banyak rasa sakit yang sudah sahabatnya rasakan. Mulai dari penolakan Axel,  kepergian Ayahnya dan sekarang fisiknya yang sakit. Sebenarnya berapa banyak lagi luka yang harus gadis itu dapatkan?


“Gue tahu Ciya kuat. Dia bahkan berulang kali bangkit setelah disakit Axel. Untuk kali ini, gue juga yakin dia bakal bisa lewatin masa sulit ini.” Beyza mengusap punggung Daania. Beruntunglah kelas sepi sehingga tak ada yang tahu apa yang mereka bicarakan.


Bunda Ciya menutup rapat mulutnya atas kondisi Ciya. Hanya pihak guru dan staf saja yang tahu, yang lainnya tak tahu. Itu semua karena permintaan Ciya, dia tak ingin dikasihani nantinya. Jadi, dia memilih menyembunyikan kondisinya.


“Bey, gue gak ngerti kenapa orang sebaik Ciya menerima banyak luka. Terutama penolakan Axel.”


“Gue juga menyayangkan itu. Ciya tulus, bahkan dia mempertaruhkan nyawanya untuk Axel. Sorry rasanya gue udah gak mau panggil dia pake embel-embel ‘Kak’.”


“Apa nih. Gue dengar kalian omongin pacar gue.” Daisy tiba-tiba datang tanpa menyapa.


“Cih, geli banget gue bicarain cowok kurang ajar itu,” jawab Beyza.


“Jaga mulut lo!” Daisy hendak menghampiri Daania dan Beyza sebelum pria yang sedang mereka perdebatkan datang.


“Ada apa ini?” tanya Axel.


“Mereka ngomongin kamu,” adu Daisy.


Axel spontan menatap Daania dan Beyza meminta jawaban.


“Gak ada kerjaan banget!” ucap Daania.


“Cabut!” Daania mengajak Beyza untuk pergi dari sana. Sebelum mereka benar-benar keluar, tepatnya saat berpapasan dengan Axel, Daania membisikan sesuatu yang membuat Axel menegang dan penasaran di saat yang bersamaan.


“Asal lo tahu, dalam tubuh lo itu mengalir darah orang yang lo tolak habis-habisan. Itulah alasan lo masih hidup sekarang,” bisik Daania.


*****

__ADS_1


 Perkataan Dania masih saja terngiang dalam indera pendengarannya hingga pagi ini. Semalaman dia tak bisa tidur karena memikirkannya.


“Apa hubungannya?”


“Darah? Orang yang gue tolak habis-habisan? Ciya maksudnya?”


“Tubuh gue? Darah Ciya ada di tubuh gue?”


“Masa iya. Kalau iya, kenapa bisa?”


Axel kembali memutar waktunya. Darah, hal yang berhubungan sama darah adalah hari di mana Axel mengalami kecelakaan.


“Gak mungkin kan?” Axel berusaha menyangkal pikirannya. Saat itu yang ada di rumah sakit hanya Kakaknya, kedua sahabatnya dan Ciya.


Axel mengambil ponselnya. Ini hari minggu, jadi kemungkinan Kakaknya tidak bekerja.


“Halo,” ucap Axel setelah telepon tersambung.


“Kenapa? Tumben banget lo telpon gue jam segini.”


“Oke.  Ada hal yang mau gue tanyain sama lo,” ucap Axel serius.


“Apa?”


“Bisa kita ketemu?”


 “Lo bisa ke apartemen Dylan? Gue masih di sini.”


“Gue berangkat sekarang.”


Axel memutus sambungan telpon. Dia kembali memikirkannya.


“Oyy bangun lo. Cepat, ada yang mau gue omongin.” Axel berusaha membangunkan Dylan yang masih setia di alam mimpi dengan menggoyangkan  badannya.


“Emmhh apaan sih, masih pagi,” jawab Dylan dengan suara serak khas bangun tidurnya.


“Pagi pala lo! Udah jam sepuluh, buruan ah!” Axel menendang tubuh Dylan hingga tubuh itu menggelinding dan kini terkapar di lantai.


“Rese banget sih lo! Pantat gue sakit anjing!” umpatnya.


Axel tak memedulikannya. Dia hanya kembali berjalan menuju ruang tengah untuk menunggu Kakaknya. Sementara Dylan terpaksa menuruti kemauan Axel dan membasuh badannya.


Suara bel terdengar cukup nyaring. Axel segera bangun dari duduknya dan membukakan pintu.


“Duduk.” Setelah mempersilahkan Kakaknya duduk, Axel menuju dapur untuk mengambil segelas minuman.


“Jadi apa yang mau lo omongin?” tanya Evelyn.

__ADS_1


“Bentar, kita tunggu Dylan.” Tak lama orang yang ditunggu kedatangannya  pun sudah berada di sana.


“Ada apa nih?” tanya Dylan penasaran.


Setelah Dylan duduk barulah Axel menyampaikan maksud dan tujuannya.


“Kalian inget waktu gue kecelakaan?” Pertanyaan Axel diangguki oleh kedua orang yang ada di sana.


“Waktu itu gue kehilangan banyak darah?” Lagi-lagi keduanya mengangguk pasti.


“Terus siapa yang donorin darahnya buat gue?”


Keduanya dibuat terdiam dengan pertanyaan Axel yang satu itu. Evelyn dan dilan saling menoleh dan memandang satu sama lain.


“Sorry, gue gak bisa kasih tahu. Orangnya gak mau lo tahu tentang dia.” Evelyn mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Dylan.


“Darah orang itu ada dalam tubuh gue. Gimana caranya gue balas budi sama dia kalau gue aja gak tahu orang itu.” Axel berdecak kesal.


Mereka diam. Dylan tak yakin jika Axel akan benar-benar berterima kasih pada orang itu setelah dia tahu siapa orangnya.


“Orang itu Ciya?” tanya Axel.


Evelyn dan Dylan tersentak. Bagaimana bisa Axel mengetahuinya.


“Jadi benar?” tanya Axel kembali untuk memastikan.


“Ya.” Akhirnya Dylan menjawabnya. Dia juga tak bisa lagi menyembunyikan kenyataannya jika Axel sudah seperti ini.


“Kenapa kalian gak bilang gue?” ucap Axel.


“Gue udah bilang, Ciya gak mau lo tahu.”


Axel mendesah, dia tak habis pikir dengan gadis itu. Setelah apa yang dia lakukan padanya, gadis itu masih saja memedulikan keselamatannya?


“Cewek gila,” desisnya.


Axel pergi dari sana dengan tibaa-tiba mengambil jaketnya dan kunci motornya. Dia harus mencari keberadaan gadis itu setidaknya untuk berterima kasih.


Axel melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Beruntungnya dia pernah mengantar Ciya hingga dia hapal betul di mana letak rumah gadis itu.


Sepi. Itulah suasana rumah Ciya saat ini. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.


“Ciya!!” Axel menggedor pintu rumah Ciya dengan brutal. Dia berharap gadis itu muncul di hadapannya sekarang juga.


“Buka pintunya!! Gue mau bicara!” Tak ada respon sedikitpun karena memang tak ada orang. Bunda Ciya memilih tinggal di rumah sakit untuk menemani putrinya.


“Ke mana dia?” Terdengar helaan putus asa dari Axel.

__ADS_1


__ADS_2