
Daisy Caroline, nama yang indah bukan? Tak hanya indah, nama itu juga memiliki makna yang mendalam.
Kalian tahu apa itu Daisy? Bunga cantik yang melambangkan kemurnian, kesetiaan, kesabaran dan juga kesederhanaan. Caroline melambangkan wanita yang bebas, namun bagiku itu hanya sebuah nama.
Nyatanya, pemilik nama itu tak sesabar dan tak sebebas itu. Rasanya seluruh duri kehidupan menancap di tubuhnya.
“Aku sudah bilang padamu untuk menggugurkan kandunganmu!! Lihat sekarang bagaimana hasil dari bangkanganmu?!!” Daisy kecil duduk meringkuk di sudut kamarnya dengan tubuh yang gemetar dan air mata berlinang.
Sikap ayahnya yang kasar itu mampu membuatnya tak berani keluar dari persembunyiannya.
“Apa katamu?!! Kau yang membuatku mengandung anakmu!! Sekarang kau menyalahkanku?!” Suara teriakkan yang saling beradu begitu menggema di rumah yang tak besar ini.
Itulah rangkaian kalimat yang dia dengar sejak dia kecil. Entah karena sering mendengar hal seperti itu atau apa, sekarang dia tak setakut itu.
Gadis dengan rok biru selutut itu dengan santai menyisir rambutnya sebelum berangkat ke sekolah. Usia SMP, saat itulah dia mulai berani dan terbiasa dengan segala hal yang dilakukan orang tuanya.
Gadis itu berjalan menyusuri jalanan menuju ke sekolahnya.
SMP Rajawali. Salah satu sekolah terkenal di kota ini karena yang masuk ke sekolah ini adalah mereka yang memiliki kekayaan yang melimpah. Lalu, bagaimana Daisy bisa masuk sekolah ini? Otaknya tak diragukan lagi, dia mendapatkan beasiswa untuk bisa sekolah di sini.
Tepat di gerbang sekolah dia mematung tertegun melihat teman-temannya.
Hampir seluruh siswa dan siswi diantar orang tuanya dan jangan lupakan kendaraan yang mereka pakai, bukan barang murahan, tapi mobil dengan harga selangit.
Sementara dirinya, hanya berjalan kaki dengan sepatu lusuhnya. Pandangannya melirik ke bawah melihat sepatu yang dia kenakan. Sepatu hitam yang terlihat sedikit kotor itu selalu menemani perjalanan menuju ke sekolahnya.
“Iya Bunda, nanti Ciya telepon kalau udah selesai.” Gadis dengan wajah cantik itu tersenyum sambil memegang tangan Bundanya.
“Ya udah, belajar yang benar ya.” Bunda dari seorang Ciya Bryonna mengelus surai putrinya.
Pemandangan manis itu tak luput dari pandangan Daisy. Gadis itu tersenyum getir memikirkan nasibnya yang tak seberuntung Ciya Bryonna.
Dia mencoba menguatkan dirinya dan kembali berjalan menuju ke kelas. Di sana, sebelum sampai kelas, dia melihat Delvin Ryoji pria yang disukai gadis-gadis di sekolah ini termasuk dirinya.
__ADS_1
Pria tampan itu membawa sebuah kado di tangannya. Dengan senyum indah, dia terus melangkah hingga dihadapannya telah berdiri gadis yang beberapa saat lalu Daisy perhatikan.
Ciya Bryonna.
“Ciya? Nih buat lo.” Dengan wajah berseri pria itu memberikan kado yang dipeganggnya.
“Ciya gak ulang tahun.” Itulah jawaban Ciya yang dapat Daisy dengar. Gadis itu memang tak melanjutkan langkahnya setelah netranya menangkap Delvin.
Dia terus saja menguping pembicaraan kedua insan itu hingga akhir.
“Gue tahu, tapi lo terima ini ya.” Daisy mengerutkan keningnya. Pasalnya baru kali ini dia mendengar seorang Delvin memohon pada gadis terlebih gadis itu Ciya.
“Maaf Delvin, Ciya gak bisa.” Mulut Daisy menganga saat mendengar penolakan Ciya.
“Cih.” Daisy berdecih.
“Sombong sekali,” lanjutnya. Setelah selesai dengan acara mengupingnya, Daisy melanjutkan langkahnya untuk ke kelas.
Daisy tak seterkenal Ciya, kepintarannya juga tak dikenal karena kebanyakan siswa di sekolah ini lebih mementingkan penampilan.
Setelah dia mendudukkan diri di bangkunya, pikirannya kembali melayang pada kejadian pagi tadi. Di mana orang tuanya selalu ribut, sangat jauh jika dibandingkan dengan kasih sayang Bunda Ciya pada Ciya.
Ciya yang lebih populer bahkan berhasil membuat seorang Delvin Ryoji bertekuk lutut padanya, sementara dirinya bagaikan segumpal daging busuk yang tak diinginkan orang-orang.
Dari sanalah, rasa iri dan dengkinya muncul.
‘Ciya seorang gadis murahan yang mendekati setiap pria dan melepaskannya begitu puas’.
Salah satu rumor yang sangat Daisy sukai saat bersekolah di sini. Senyumnya mengembang saat membaca rumor itu di ponselnya.
Tak sampai di sana, Ciya yang dikabarkan di-bully dan dirawat di rumah sakit menjadi suatu kebahagiaan tersendiri untuknya.
Saat itulah dia berpikir tak ada yang mustahil. Dia mulai menata penampilannya dan jika dilihat sekilas, penampilannya tak jauh berbeda dari Ciya, hanya saja dia membuat penampilannya sedikit lebih dewasa.
__ADS_1
Untuk melakukannya dia membutuhkan uang yang banyak, maka dari itu dia bekerja paruh waktu di berbagai tempat dan memakai gajinya untuk keperluannya.
Perubahan penampilan Daisy yang mendadak tentu saja membua orang tuanya sedikit heran. Tapi, pandangan Ayahnya padanya menjadi beda.
Gelap. Itu yang dia lihat di mata Ayahnya saat mata itu menatap tubuhnya. Dan benar saja dugaannya, selang beberapa minggu setelah perubahan penampilan Daisy, Ayahnya berusaha menodainya.
Daisy akan kehilangan mahkotanya jika saja saat itu tangannya tak segera meraih vas bungan yang ada di atas nakas dan membenturkannya ke kepala Ayahnya.
Bukan hal yang baik, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan untuk bertahan.
Itulah sifat Ayahnya yang membuat Ibunya muak dengan semua lelaki yang dia temui. Dulu, setelah mengetahui Ibu Daisy hamil, sang ayah hanya mengatakan...
“Gugurkan saja kandunganmu, lagi pula kita hanya teman.”
Tapi, Ibu Daisy memilih untuk menjaga dan melahirkan Daisy dengan harapan Ayahnya akan bertanggung jawab. Tanggung jawab itu memang dilakukan, dia menikahinya, namun sifatnya tak jauh berbeda dengan sebelum mereka menikah.
Ayahnya yang sering kelayapan untuk mencari wanita lain di luar sana dan akan dibuang begitu dia puas membuat Ibunya sedikit depresi hingga Daisy yang selalu menjadi pelampiasan.
Sejak kejadian Ayahnya yang hampir menodainya, Daisy jarang pulang ke rumah dan memilih tidur di asrama yang sudah di sediakan oleh pemilik kedai di mana dia melakukan kerja paruh waktu.
Barulah saat usianya dirasa sudah dewasa dan siap melawan Ayahnya, dia berani pulang lebih sering. Ibunya tak tahu apa yang dilakukan Ayahnya.
Hingga masa SMA, dia dipertemukan lagi dengan seorang Ciya Bryonna dan mereka satu kelas. Rasa iri dan dengkinya pada Ciya tak pudar begitu saja.
Itu berlanjut hingga sekarang. Di mana dia melihat Ciya yang mengejar-ngejar Axel, orang tuanya yang masih selalu mengantar Ciya ke sekolah dan teman-teman Ciya yang selalu mendukung Ciya membuat rasa dengkinya bertambah.
Akhirnya dia memutuskan untuk merebut salah satu kebahagian Ciya, merebut Axel adalah hal yang paling mudah karena Axel sepertinya juga tak menyukai Ciya.
Itulah alasan mengapa Daisy melakukan hal buruk pada Ciya. Tak ada kesalahan pada diri Ciya, hanya rasa iri dan dengki yang menjadi motif Daisy melakukannya.
Mampir sini yuk!!
...
__ADS_1
...
Ada video baru tentang Axel loh😉