
Cia dan Javier turun ketika dirasa di sana adalah tempat parkir yang tepat. Karena di depan rumah orang yang mereka tuju ada mobil terparkir, maka mereka parkir di depan rumah sebelahnya.
"Kayaknya lagi ada tamu deh, Na," ucap Javier ketika melihat ada sebuah mobil di sana.
"Iya sih tapi kita coba dulu aja lah," jawab Ciya.
Dengan persetujuan gadis itu, mereka melangkahkan kakinya menuju rumah yang mereka tuju.
Tangan saya terangkat untuk menekan bel. Satu kali dua kali tidak ada seorangpun yang keluar dari rumah itu hingga kali ketiga barulah ada orang yang membuka pintu.
Pintu itu terbuka menampilkan sosok gadis seumuran sia yang mematung dengan bola mata yang membulat sempurna.
"Siapa Daan?" Satu orang lainnya muncul dari arah dalam rumah.
Ekspresi yang sama dia perlihatkan begitu dia melihat dia.
"Ciya?" ucap seorang gadis yang datang terakhir.
"Hai Bey, hai Daan." Ciya menyapa kedua orang itu yang tak lain adalah Beyza dan Daania.
Beyza terjatuh, lututnya seakan tak memiliki tulang. Beruntung Daania segera menggapai tubuh itu hingga tak jatuh terlalu sakit.
Setelah cukup tenang, akhirnya Daania mempersilahkan dua orang itu untuk masuk ke dalam rumah.
Rumah yang diketahui milik Beyza itu terlihat sangat bersih dan rapi.
"Bentar dulu, lo siapa?" Daania yang terlihat lebih tenang akhirnya bertanya.
"Gue Ciya Bryonna." Ciya kembali memperkenalkan dirinya sambil mengeluarkan tangannya.
Daania dan Beyza yang mendengar hal itu tentu saja menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang dikatakan gadis itu barusan.
Dia yang semula memakai topi akhirnya membuka topi itu sehingga memperlihatkan dengan jelas wajahnya.
"Ini beneran lo?" Kali ini Beyza yang bertanya.
Ciya mengangguk dengan yakin. "Gimana bisa?" lirih Beyza.
Sudah lima tahun lamanya sahabat mereka meninggal. Bagaimana bisa sekarang orang itu ada di hadapan mereka dengan kondisi yang sangat sehat dan bahkan terlihat lebih sehat dari sebelumnya.
"Lima tahun lalu gue gak mati, Om gue berhasil selamatin gue dan bawa gue ke luar negeri," jawab Ciya tanpa berbohong.
"Tunggu dulu Ciya nggak pernah manggil dirinya dengan 'gue' dia selalu manggil dirinya dengan namanya sendiri." Dania masih sangat mengingat detail tentang temannya itu.
__ADS_1
Ciya terkekeh mendengar hal itu. Dania masih sangat mengingat bagaimana kebiasaannya.
"Daan ini udah lima tahun dan gue bisa berubah. Gue gak selalu dan gak ingin jadi Ciya yang polos kayak dulu. Gue takut disakitin lagi, makanya gue punya tekad buat berubah," jawabnya dengan tenang.
"Terus di mana lo selama ini??" Kali ini Beyza yang bertanya.
"Selama ini gua di Inggris. Om gue yang bawa boleh ke sana," jawab Ciya.
"Gak bisa dipercaya, soalnya waktu itu gue ikut sendiri ke pemakaman lo." Daania masih tidak bisa memproses apa yang dikatakan oleh Ciya.
"Jujur, selama lima tahun ini gue juga baru tahu kalau gue yang udah rencanain semuanya. Mukjizat dari Tuhan kalau jantungku bisa berdetak lagi setelah berhenti," jelas Ciya.
"Jadi ini beneran lo??" Beyza kembali bertanya untuk memastikan semuanya. Kemudian Ciya mengangguk.
Tepat setelah gadis itu mengangguk, tangis Beyza pecah. Air mata yang selama ini tak tersalurkan akhirnya bisa keluar dengan deras. Rasa sesak di dadanya juga perlahan menghilang.
"Daan, akhirnya Tuhan jawab doa gue, hiks," isaknya.
Daania spontan memeluk tubuh Beyza yang mulai bergetar dan menangis kencang. Ciya yang melihat hal itu langsung mendekati Beyza dan ikut memeluk mereka.
Sementara Javier hanya bisa menyaksikan ketiga gadis itu berpelukan ria tanpa bisa ikut serta memeluk mereka.
"Udah jangan nangis," ucap Ciya.
"Gimana gue gak nangis? Lo prank kita gak kira-kira," jawabnya. Ciya terkekeh mendengar jawaban Beyza.
"Gimana kabar lo sekarang?" Saking senang dan terkejutnya, Daania bahkan sampai menanyakan hal itu pada Ciya saat ini.
"Gue udah sehat. Lihat." Ciya memperlihatkan badannya yang sudah sehat. Tak sakit seperti dulu.
"Syukurlah kalau lo udah sehat."
"Lo pindah lagi ke sini berarti?" Beyza bertanya. Dia tak ingin lagi kehilangan Ciya. Cukup dulu saja, setelah kehilangan gadis itu, hidupnya menjadi tak bersemangat.
Ciya memasang wajah menyesal. Temannya sepertinya berharap jika dirinya akan kembali tinggal di rumahnya.
"Engga, gue cuma liburan di sini. Satu bulan lagi mungkin gue balik ke Inggris," jawabnya.
"Oh iya sampai lupa. Kenalin, ini sepupu gue namanya Javier." Akhirnya setelah sekian lama menunggu, Ciya memperkenalkan Javier pada temannya.
"Hai," sapa Beyza dan Daania bersamaan.
"Haii. Gue sepupunya dia." Javier mengangkat tangannya sambil tersenyum bodoh.
__ADS_1
"Kalian ke sini berdua?" Kali ini Daania yang bertanya.
"Enggak. Kita juga sama keluarga Javier, Daddy sama Mommy-nya," jawab Ciya.
Daania dan Beyza kembali mengangguk. Saking belum percayanya dia jika yang di hadapannya itu adalah Ciya temannya, Beyza terus memandang Ciya dengan fokus seakan meneliti setiap jengkal wajah gadis itu.
"Kenapa lo lihatin gue kayak gitu?" Ciya yang merasa diperhatikan akhirnya bertanya.
"Gue masih belum percaya kalau ini lo," jawab Beyza.
"Ini beneran gue Bey, harus gue buktiin apa lagi sama lo biar lo percaya?"
"Berapa tanggal ulang tahun gue??"
"Dua puluh satu Agustus, tepatnya hari Selasa," jawab Ciya dengan lancar.
Untuk kali ini saja Ciya bersyukur dia tidak kehilangan ingatannya.
"Aaaa sahabat gue." Beyza berambur memeluk Ciya.
Acara pertemuan mereka diselimuti dengan suasana yang haru. Ciya tidak menyangka jika sahabatnya masih mengingatnya. Bahkan sepertinya mereka merindukannya.
"Kalian lagi apa?" Ciya mengalihkan tapi pembicaraan ya agar tidak terlalu sedih.
"Nggak kita nggak lagi apa-apa, kebutuhan aja tadi Daania lagi main ke sini."
"Main keluar mau nggak?" tawar Ciya dengan semangat. Sudah sangat lama dia tidak bermain dengan teman-temannya.
"Boleh."
"Sorry, gue juga diajak, kan?" Javier sangat khawatir karena sedari tadi pria itu hanya diacuhkan.
"Boleh dong, yuk!!" Daania menghampiri Javier dan memepet pria itu sebelum kemudian menarik Javier menuju keluar tepatnya ke mobilnya. Mereka diikuti oleh Ciya dan Beyza.
"Lo yang nyetir, kan?" tanya Daania. Dia tak mau jadi sopir hari ini.
"Oke gue yang nyetir." Javier memilih mengalah atau dia tak akan diajak oleh gadis-gadis itu.
"Mau ke mana?" Setelah semua orang naik ke mobilnya, dia kemudian bertanya.
"Ke tempat yang enak buat ngobrol. Di mana guys?" Ciya bertanya pada teman-temannya karena dia tak tahu perubahan apa saja yang telah terjadi lima tahun ini.
"Sambil makan?" tanya Beyza.
__ADS_1
"Boleh."
"Oke, jalan!!!!" Kali ini Beyza yang menjadi penunjuk jalan bagi mereka.