
“Jadi...” Dylan menunggu jawaban Axel, namun pria itu malah menghela napas dalam.
“Jadi buat sekarang gue mau tinggal di apartemen lo, buat ke depannya gue bakal cari kerja buat ngontrak di sekitar sini,” jawab Axel.
Matanya menerawang jauh ke depan sementara pikirannya melayang memikirkan nasib hidupnya.
Dylan mengangguk mendengar jawaban sahabatnya.
Mobil putih itu kini telah melewati gerbang sekolah. Entah ini masih pagi atau karena cuaca yang kurang mendukung, namun suasana sekolah terlihat lebih sepi dari biasanya.
Untuk kedua kalinya Axel terpaksa harus berlarian di tengah hujan dari tempat parkir menuju gedung sekolah.
Netranya menangkap sosok wanita mungil dengan tas merah mudanya tengah mengeratkan jaket yang dikenakannya.
“Sialan! Cewek itu lagi,” umpatnya.
Pasalnya untuk mencapai kelasnya dia harus melewati gadis yang tengah duduk di bangku depan kelas itu.
“Apa? Siapa?” tanya Dylan yang mendengar umpatan Axel.
“Gak, bukan apa-apa.” Tanpa mempedulikan gerak-gerik gadis itu, Axel mempercepat jalannya menuju kelas.
***
Gadis berambut panjang dengan pita di bagian kiri rambutnya itu bukan tanpa sengaja hanya duduk di depan kelas di suasana dingin seperti ini.
Sedari tadi netranya terus memandang ke arah parkiran menunggu seseorang yang sudah sangat dia rindukan.
Sudah sekitar setengah jam Ciya menunggu kedatangan Axel sebelum akhirnya matanya berbinar karena menemukan pria itu.
“Kak Axel!?” teriak Ciya. Gadis itu bangun dari duduknya dan melambaikan tangannya dengan semangat. Jangan lupakan senyum yang selalu tersemat di bibir tipisnya.
Axel memutar bola matanya saat mendengar panggilan Ciya. Dia sudah menduga jika ini akan terjadi.
Axel dan Dylan berhenti saat jalannya dihadang Ciya.
“Minggir!” tegas Axel. Ciya menggelengkan kepalanya, tangannya menyodorkan termos kecil berisi susu hangat yang dia seduh dengan tangannya sendiri.
“Ciya bakal minggir kalau Kak Axel terima pemberian Ciya,” ucapnya.
Axel menghela napas.
“Gua gak mau dan gak akan pernah mau terima,” jawabnya.
“Lagian lo siapa sih nempel mulu sama gue, benalu lo?” sarkas Axel.
__ADS_1
“Enggak. Ciya bukan benalu. Ciya Cuma suka sama Kak Axel, jadi Ciya suka nempel-nempel.” Ciya menjawab random pertanyaan Alarick.
“Terserah lo, gue bilang minggir ya minggir!”
“Udah terima aja, Xel. Daripada lo gak sampai-sampai ke kelas,” saran Dylan.
Axel menatap tajam temannya, sebelum netranya kembali menatap Ciya.
“Minggir!” bentak Axel. Tak hanya sampai di situ, Axel juga menghempaskan termos yang di pegang Ciya hingga tutupnya terbuka dan tangan Ciya menjadi sasaran hangat air mendidih itu.
“Akhh,” rintih Ciya. Tangan kanannya sudah memerah akibat susu panas itu.
“Ciya?!” Seseorang yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu kini keluar dari persembunyiannya.
Jauh dari dugaan, Axel hanya berlalu begitu saja tanpa memedulikan rintihan Ciya. Ciya menatap punggung Axel nanar.
Ciya segera menolehkan pandangannya pada orang yang memanggilnya.
“Lo gak apa-apa? Astaga tangan lo!” Daisy Caroline, teman sekelas Ciya yang cukup dekat dengan Ciya seperti Daania dan Beyza, namun gadis satu ini tak pernah ikut berkumpul bersama mereka karena terus berkutat bersama buku-bukunya di perpustakaan.
Gadis cantik yang juga menyandang gelar pintar ini hanya sibuk dengan belajar hingga tak pernah berkumpul dengan Ciya dan teman-temannya.
“Enggak kok, Ciya baik-baik aja.” Ciya menarik tangannya yang dipegang Daisy.
“Baik dari mana? Ini merah. Ikut gue!” perintahnya. Daisy menarik Ciya ke arah kamar mandi.
Sejenak Axel terkesiap dengan wajah gadis itu. Entah perasaan apa yang sedang dirasakan hatinya namun dia senang melihat anita itu.
“Udah ngintipnya?” tanya Dylan yang terseret Axel untuk ikut mengintip.
“Eheemm.” Axel berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya.
Akhirnya kedua pria itu pergi ke arah kelasnya. Hujan sudah tak sederas tadi dan siswa juga mulai berdatangan.
***
“Duduk!” perintah Daisy.
Gadis itu membawa Ciya ke UKS setelah membasuh luka di tangan Ciya.
Daisy yang memang anggota PMR itu dengan telaten mengoleskan salep di atas luka Ciya dan tak lupa dia juga membalut tangan Ciya dengan perban.
“Yah, Ciya gak bisa nulis dong.” Ciya menghela napasnya sedih.
Daisy memandang Ciya tak habis pikir.
__ADS_1
“Lo masih mikirin nulis? Khawatirin dulu tangan lo,” gemas Daisy.
Ciya memajukan bibirnya. Dia kena marah Daisy. Tentu saja, bagaimana Daisy tak marah jika Ciya tak sedikitpun mengkhawatirkan luka di tangannya. Beruntunglah tangannya hanya memerah tak sampai melepuh.
Mereka berdua berjalan ke arah kelas setelah selesai dengan urusannya di UKS. Banyak pasang mata yang memandangi mereka, lebih tepatnya memandang tangan Ciya yang dibalut perban.
Tak terkecuali Axel. Pria itu juga melihat keadaan tangan Ciya walaupun dari kejauhan.
“Apa separah itu?” gumamnya.
“Hah apa?” tanya Dhavin yang mendengar Axel bergumam.
“Hah? Oh enggak,” jawab Axel panik. Rupanya dia benar-benar mengucapkannya, dia kira dia hanya mengucapkannya dalam hati.
“Huh hah huh hah aja lo berdua, gak jelas!” kesal Dylan. Mereka tengah duduk santai di depan kelasnya.
Pikiran Axel melayang. Haruskah dia meminta maaf pada Ciya? Tapi, di sini Ciya yang salah. Axel sudah memperingatkan Ciya berkali-kali, namun gadis itu keras kepala dan tetap menghalangi jalan Axel.
“Xel, lo dengar gak sih?!” tegur Dylan.
“Hah, apa lo bilang?” tanya Axel setelah sadar dari lamunannya.
Dylan merotasikan bola matanya. Lelah memang jika berbicara dengan Axel. Ini bukan kali pertama pria itu seperti ini.
“Kantin. Ikut gak?” ulang Dylan.
Axel menatap Dhavin meminta jawaban pria itu.
“Gue ikut,” jawab Dhavin.
Tanpa menjawab Axel beranjak dari sana mendahului kedua temannya.
Dhavin dan Dylan saling berpandangan melihat kelakuan Axel sebelum akhirnya mereka menggeleng kompak.
Sebenarnya kegiatan mereka di kantin tak jauh dari kegiatan mereka saat di kelas. Hanya membahas hal tak penting dengan segelas minuman di hadapan masing-masing.
“Xel, kenapa lo benci banget sama cewek sih? Makin tua lo, masa mau jadi perjaka tua,” canda Dhavin. Seperti yang kalian ketahui jika pria itu memang selalu mengeluarkan isi pikirannya tanpa di saring terlebih dahulu.
Alhasil saat ini kepalanya menjadi sasaran empuk bagi Axel. Pria dingin itu menoyor kepala Dhavin, sementara Dylan terkekeh melihat keduanya.
“Ngapain lo noyor gue? Gue kan Cuma nanya!” kesal Dhavin. Selalu saja kepalanya yang jadi korban.
“Lo pikir sendiri kenapa gue noyor lo,” jawab Axel.
Tak lama, sebuah tangan menyimpan roti di hadapan Axel. Tanpa mengucapkan sepatah katapun orang itu segera pergi dari sana sebelum panggilan Axel membuatnya menghentikan langkahnya.
__ADS_1
“Kapan sih lo mau berhenti ganggu hidup gue?!” teriak Axel.