
“Sekali lagi saja. Ciya bakal berjuang buat dapatin Kak Axel!” ucap Ciya semangat.
Alis Axel terangkat. Dia tak habis pikir dengan gadis yang berada di hadapannya ini.
“Berjuang? Cih, sebesar dan sekeras apapun lo berjuang, gue gak akan pernah luluh sama cewek kaya lo!”
“Jadi gak usah buang-buang waktu buat dapat perhatian itu dari gue,” lanjutnya.
“Ciya tahu, dapetin hati Kak Axel gak mudah. Tapi Ciya juga tahu jika Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin.” Ciya berkata dengan yakin.
“Lo gak malu?” tanya Axel.
“Kenapa Ciya harus malu?”
“Gue udah punya cewek dan lo udah punya cowok,” ucap Axel.
“Cowok? Kak Kenji maksud Kakak?” tanya Ciya.
“Kak Kenji bukan pacar Ciya, dia cuma kakak buat Ciya,” jelas Ciya.
“Dan buat Daisy, Ciya tahu Kak Axel pacaran sama dia. Tapi, Ciya akan berusaha. Bukan membuat kalian putus, tapi membuat hati Kak Axel menjadi milik Ciya. Kak Axel gak usah khawatir, Ciya tak akan curang dan tetap pada batasan Ciya.” Ciya tahu jika saat ini dia begitu egois, namun bisakah dia egois untuk kali ini saja?
Dia tak tahu kapan hidupnya akan berakhir. Kalaupun Axel menjadi miliknya, itu mungkin tak akan lama.
“Terserah lo!” Axel sangat lelah mendengarkan ocehan Ciya hingga akhirnya pria itu pergi meninggalkan Ciya yang masih ada di tempatnya.
“Semangat! Ciya pasti bisa!” Ciya mengangkat kedua tangannya dan mengepalkannya pertanda dia harus semangat dengan keputusannya.
***
“Oke anak-anak, seperti yang telah ibu jelaskan di pertemuan sebelumnya bahwa skala mohs yaitu skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kekerasan suatu mineral. Ibu akan tunjuk satu persatu untuk mengurutkan tingkat kekerasan nomor satu hingga sepuluh.”
“Dimas, yang pertama?”
“Rel, apaan anjir gue gak tahu,” bisik Dimas pada Farel teman sebangkunya.
“Talk bego. Makanya kalau lagi belajar jangan tidur!”
“Ah iya, yang pertama Talk, Bu.” Dimas menjawab dengan sangat percaya diri walaupun dia mendapatkan jawaban itu dari orang lain.
“Oke. Farel yang kedua?”
__ADS_1
“Gipsum.” Begitulah cara guru satu ini mengajar. Katanya agar siswa gampang ingat dengan apa yang diajarkan.
“Oke, Ibu anggap kalian mengerti dengan pembahasan ini. Kalau begitu kita lanjutkan ke bab selanjutnya.”
Jam pelajaran selesai. Waktu yang ditunggu-tunggu oleh seluruh siswa, yaitu jam pulang sekolah.
Setelah Ciya didiagnosa memiliki penyakit pneumonia, Kenji lah yang selalu menjemput dan mengantar Ciya pulang, karena setelah kepergian Ayahnya tak ada lagi yang bisa mengantar Ciya. Bundanya tak bisa mengendarai mobil, itu sebabnya Bunda Jihan meminta bantuan pada Kenji agar menjemput dan mengantar putrinya.
***
“Bunda, Ciya mau cerita boleh?” tanya Ciya pada Bundanya.
Suasana malam terasa sepi di rumah mereka karena kehilangan satu anggota keluarga.
“Kenapa, Sayang? Sini duduk.” Bunda Ciya menepuk kursi kosong di sebelahnya.
“Ciya pernah cerita tentang kak Axel, kan?” tanya Ciya.
“Iya pernah. Sekarang gimana, ada kemajuan?” tanya Bunda Jihan antusias.
“Sebenarnya wakti itu Ciya pernah pacaran kan sama kak Axel. Tapi, beberapa minggu setelah itu kak Axel berubah. Dia bahkan putusin Ciya karena udah nemu gadis lain.”
“Kalau gitu, dia gak pantas buat kamu. Kamu tahu? Sebenarnya Bunda rasa, Kenji lebih baik dari dia,” ujar Bundanya.
“Ciya cuma anggap kak Kenji sebagai kakak Ciya. Perasaan Ciya buat kak Kenji sama buat kak Axel beda, Bunda,” jelas Ciya.
“Terus sekarang kamu maunya gimana?”
“Ciya mau berjuang sekali lagi dan Ciya harap kali ini Ciya berhasil,” ucap Ciya. Bunda Jihan mendengarkan penuturan putrinya dengan seksama.
“Kalau itu yang kamu mau, lakukan. Bunda gak bisa bantu apa-apa, Bunda cuma bisa dukung kamu, Sayang. Dan ingat, jangan sampai sakit.” Sakit yang dikatakan Bunda Jihan bukanlah sakit fisik melainkan hati Ciya.
Ciya mengangguk memahami maksud Bundanya.
“Makasih Bunda selalu ada buat Ciya. Makasih juga Ayah udah besarin Ciya,” lirihnya. Walaupun kini Ayahnya sudah tak ada di sisinya, namun Ciya yakin pria itu melihatnya dari surga sana.
“Sekarang kamu tidur, udah malam. Jangan lupa siapin sesuatu yang membuat Axel luluh sama kamu,” kekeh Bunda Jihan.
Ciya tersipu malu sebelum akhirnya dia mengangguk.
***
__ADS_1
Seperti yang dikatakan Bundanya semalam, hari ini Ciya bangun sangat pagi. Rencananya dia akan membuatkan bekal untuk Axel. Walaupun hanya sandwich yang dibuatnya, Ciya harap itu bisa sedikit meluluhkan hati Axel.
“Niat banget yang mau ngejar gebetan,” sindir Bundanya yang tiba-tiba datang.
“Bunda ih, Ciya kaget tahu.” Ciya mengelus dadanya.
“Iya iya maaf. Kalau gitu kamu lanjutin, Bunda mau mandi.” Ciya mengangguk. Bunda Jihan beranjak dari sana.
Cukup lama Ciya berkutat dengan bahan makanan hingga beberapa potong sandwich kini berada di hadapannya.
“Tidak buruk,” ucapnya. Senyum bangga mengembang begitu saja.
Perlahan Ciya memasukkan sandwich itu ke dalam kotak bekal. Dia harap Axel akan menyukainya, ah setidaknya pria itu menghargainya.
“Kak Kenji duluan aja, Ciya mau cari kak Axel dulu.” Tanpa menunggu jawaban Kenji, Ciya segera beranjak dari tempat parkir menyusuri seluruh penjuru sekolah untuk mencari Axel.
Tempat terakhir yang ada dalam pikirannya adalah kantin. Jika Axel tak ada di sana, dapat dipastikan jika pria itu tak masuk sekolah atau terlambat datang.
Ciya mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat dia rindukan.
“Ketemu!” serunya. Ciya melebarkan langkahnya menghampiri Axel.
Axel sendiri kini tengah duduk di salah satu meja kantin dengan pandangan yang fokus pada layar ponsel.
“Kak Axel lagi apa?” tanya Ciya tiba-tiba yang membuat Axel terlonjak.
“Lo punya mata, kan? Pake mata lo, jangan cuma dijadiin pajangan!” ucapnya sarkas.
Ciya tersenyum mencoba menghiraukan ucapan Axel.
“Kak Axel, apa kabar hari ini? Ciya bawa makanan kesukaan Kak Axel, loh. Dimakan ya!” ucap Ciya semangat. Dia tahu ini makanan kesukaan Axel karena dia sempat bertanya dulu saat mereka pacaran.
Netra Axel memandang Ciya dengan penuh kebencian. Bekal makanan yang baru saja gadis itu berikan, kini sudah terkapar di tanah dengan isi yang berhamburan.
“Gue gak mau, dan gak akan pernah makan makanan sampah dari lo!” Axel membentak Ciya di tengah keramaian kantin.
Mata Ciya memanas, namun gadis itu segera menghalau air matanya. Lagi-lagi hatinya tertohok mendengar bentakan Axel. Senyum kembali mengembang di wajah gadis canti itu.
Axel pergi dengan segudang amarah sedangkan Ciya masih tetap mematung di tempatnya.
“Ciya! Ngapain di sini, bel udah bunyi,” tanya pria yang baru saja melewatinya.
__ADS_1
“Menunggu hari di mana kak Axel mencintai Ciya,” bisiknyaa hampir tak terdengar. Pandangannya yang kosong tiba-tiba kembali memburam karena air yang menumpuk di pelupuk matanya.