Retisalya

Retisalya
S2 : Kenji


__ADS_3

Hampa, Kenji merasai tulah hari-hari yang dia jalani setelah kepergian Ciya. Gadis itu meninggalkan luka mendalam di hatinya dan hingga sekarang bekas luka itu belum benar-benar mengering. 


Lima tahun sudah, tapi Kenji merasa itu baru terjadi beberapa bulan lalu. 


"Ahhh akhirnya selesai," ucapnya sambil menghela nafas lega. 


Setelah beberapa jam dia berkutat dengan dokumen di hadapannya, akhirnya dia bisa menyelesaikannya. 


Kenji bekerja di sebuah perusahaan ternama. Walau bukan yang terbesar, tapi perusahaan itu cukup berdampak di masyarakat. 


Bukan seorang bos atau atasan, dia hanya karyawan biasa dengan gaji pas-pasan yang harus dia perhitungkan setiap pengeluarannya. 


Perusahaan Ayahnya masih berdiri dengan  sempurna. Bahkan Ayahnya pernah menawarkan agak Kenji melanjutkan bisnisnya itu, tapi dengan Pasti Kenji menolaknya. 


Entah alasan apa yang dimiliki pria itu, hanya saja untuk sekarang dia lebih memilih bekerja di perusahaan kecil. 


"Sore ini enaknya bawa apa ya?" Dia masih belum melupakan seseorang yang sekarang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri. 


Bunda Jihan, Kenji selalu datang ke rumahnya setidaknya satu minggu tiga kali. Mungkin wanita paruh baya itu mulai merasa bosan dengan kedatangannya. 


"Ken, bisa ke ruangan saya sebentar sebelum pulang?" Bosnya datang padanya, padahal bisa saja dia menelpon, tak harus repot datang ke kubikelnya. 


"Baik Bu." Bosnya itu seorang gadis. Umur mereka tak terpaut jauh, hanya berbeda dua tahun dengan Kenji yang lebih muda. 


Kenji mengikuti langkah Queenara. Queenaea Zevana, nama lengkap dari Bosnya. Cukup rumit tapi itu adalah nama yang cantik. 


Tiba di ruangan itu Kenji dipersilahkan untuk duduk. "Duduk."


Kenji duduk dan menunggu sang atasan untuk menyelesaikan ucapannya. 


"Bukan depan saya mau kamu ikut ke luar kota. Bukan projek besar, tapi ini penting dan saya percaya kamu bisa handle ini, gimana bisa?" tanya gadis itu. 


Kenji sedikit berpikir. Akhir bulan depan adalah peringatan kematian Ciya dan biasanya Kenji akan pergi ke makam Ciya untuk berdo'a. 


"Apa di akhir bulan, Bu?" Akhirnya Kenji berani menanyakannya. 


"Enggak. Awal Bulan kita udah harus berangkat," jawab atasannya. 

__ADS_1


"Ah baik saja bisa." Setelah memastikan jika Kenji sanggup, bos muda itu mengangguk dengan senyumannya. 


"Itu saja, Bu?" Kenji kembali bertanya takutnya masih ada hal yang hendak disampaikan oleh bosnya padanya. 


"Udah. Kamu bisa balik ke ruangan kamu." Kenji mengangguk dan pamit dari sana. 


Agak merepotkan memang bekerja di sebuah perusahaan yang bosnya menyukai dirinya. Sudah dua kali Queena mengatakan apa yang dia rasakan pada Kenji. Namun saat itu juga Kenji mengatakan dengan tegas jika dia tak bisa menjalin hubungan dalam waktu dekat. 


Entahlah, tapi setelah lima tahun lalu, rasanya dia masih belum siap dengan apa yang akan terjadi jika dia kembali menjalin hubungan asmara dengan seseorang. 


"Pulang duluan ya," pamit Kenji pada orang-orang yang ada di sana. Sebenarnya jam pulang kerja sudah dari tadi, hanya saja dia menyelesaikan dulu pekerjaan yang tanggung. 


"Hmm. Hati-hati di jalan," jawab seseorang sementara yang lainnya hanya mengangguk. 


Kenji menuju parkiran di mana dia memarkirkan mobilnya. Tujuannya saat ini adalah kedai roti bakar yang sangat dia sukai. 


Sepanjang perjalanan, Kenji hanya memutar lagu sambil fokus pada jalanan yang mulai ramai. Jam pulang kerja memang biasa seperti ini. 


"Dih penuh juga ini roti bakar," ucapnya saat dia melihat bagaimana antrian di sana. 


Tapi Kenji tetap datang untuk membeli karena dia akan pergi ke rumah Bunda Jihan sebelum pulang ke rumahnya. 


Benar saja, kurang lebih satu jam dia menunggu barusan roti bakarnya jadi. 


"Bayar di kasir ya Mas," ucap sang penjual yang diangguki oleh Kenji. 


Kenji membayarnya sebelum kemudian pria itu melakukan mobilnya menuju rumah Bunda Jihan. 


**** 


"Bunda, lagi apa nih sore-sore gini?" Begitu tiba di sana, Kenji langsung berhambur ke dalam pelukan Bunda Jihan. 


Lama tak mendapatkan hangatnya pelukan seorang Bunda membuat Kenji sangat nyaman dan senang jika memeluk wanita itu. 


"Kamu ini belum seminggu kemarin ke sini udah datang lagi aja," guraunya. 


Dia memang tak bohong ketika mengatakan jika minggu kemarin Kenji datang ke rumahnya. 

__ADS_1


"Kalau langsung pulang ke rumah Ken bosan Bun. Gak ada orang," jawabnya sambil mengurai pelukan mereka. 


"Suruh siapa kamu milih tinggal sendiri? Kan Ayah kamu ada, dia juga sendiri di rumah," ucap Bunda Jihan.


Seringnya Kenji datang ke rumah membuat pria itu kerap menceritakan segala keluh kesahnya pada wanita yang telah dia anggap sebagai Bundanya itu. Bahkan dia tak ragu untuk menceritakan keluarganya. 


"Kan biar mandiri, Bun. Biarin  aja Ayah sendiri, biar cepat cari istri lagi dia," kekehnya. 


Mereka berdua tersenyum setelahnya. "Nih Ken bawa yang manis-manis." Pria itu menyodorkan roti bakar yang tadi dia beli. 


"Kamu ini kerja uangnya pakai buat kamu sendiri. Jangan terus kasih makan Bunda," ucapnya. 


"Kalau mau datang, datang aja gak perlu bawa makanan terus." Memang hampir setiap Kenji datang ke sana, pria itu tak luput membawa makanan terutama makanan manis yang sangat disukai Bundanya itu. 


"Gak apa-apa. Lagian kan gaji Kenji gede," candanya. 


"Kamu ini hambur-hamburin uang aja. Yuk masuk dulu." Bunda Jihan menghentikan acara membaca korannya dan mengajak Kenji untuk masuk. 


"Bunda cepet cari suami baru. Biar ada temennya di rumah," ucap Kenji. 


Dia sudah tak canggung lagi bahkan ketika bertanya tentang hal yang sedikit privasi seperti itu. 


"Masanya Bunda buat jatuh cinta udah habis. Sekarang masanya kamu. Tinggal kamu yang harus cari pasangan." Bunda Jihan malah membalikan keadaan. 


"Kenji mah jangan ditanya. Nikah besok juga bisa, tapi emang gak mau aja," jawabnya diiringi dengan tawa ringannya. 


"Gak mau terus. Mau sampai kapan kamu jomblo kaya gini?"


"Emm kalau memungkinkan mungkin selamanya," jawabnya. 


"Jangan gitu, kamu harus punya orang yang jadi rumah buat kamu. Jangan simpan semuanya sendiri. Semoga kamu cepat ketemu sama orang yang emang dijodohkan buat kamu,"


Kenji mengangguk. Sebenarnya rasa itu untuk Ciya masih ada. Tapi dia sadar, walaupun Ciya masih ada, gadis itu hanya akan menganggapnya sebagai kakak, tidak lebih. 


Mungkin memang sudah sepantasnya dia segera mencari pendamping. 


"Kalau nanti tiba-tiba Ken bawa cewek ke sini buat dikenalin sama Bunda, Bunda jangan kaget ya," godanya. 

__ADS_1


"Hmm tentu aja gak akan kaget. Udah lama Bunda nunggu itu terjadi," kekehnya. 


Kenji tersenyum simpul. Sebenarnya bukan sepenuhnya karena dia menutup hati, tapi memang belum ada orang yang cocok di hatinya. 


__ADS_2