
Seorang gadis dengan mantel tebal berwarna mocca itu berjalan dengan senyuman di wajahnya.
Empat tahun terakhir adalah tahun-tahun yang tidak bisa dia duga sebelumnya.
Bersekolah di negeri orang membuatnya rindu pelukan hangat sang Bunda dan juga tentu saja masakan rumah.
"Na, kok ninggalin gue sih," protes seorang pria berantem hitam.
Warna mantel yang dia gunakan senada dengan warna rambutnya yang membuat pria terlihat sangat tampan.
"Makanya cepat!!" ujar gadis yang sama sekali tak menekankan langkahnya.
"Cita Bryonna, sejak kapan lo jadi cuek gini sama gue!!" Pria itu masih terus melangkah untuk mensejajarkan dirinya dengan gadis yang dipanggil Ciya itu.
"Ihh apaan sih? Lagian lo juga yang jalannya lambat," jawab Ciya tak terima.
"Terus lo pikir gue lambat karena siapa?" tanya pria itu.
"Itungan banget lo! Udah ah ayo!" Mereka kembali berjalan beriringan.
Musim dingin di negeri orang sudah cukup sering Ciya alami hingga dia sudah mulai terbiasa dengan hal itu.
Beberapa saat lalu mereka baru saja melihat-lihat sebuah gelang di toko kecil. Ciya sangat tertarik dengan salah satu gelang itu hingga dia akhirnya menanyakan harganya.
Ketika sangat penjual mengatakan harganya, Ciya menjadi tak Terima karena menurutnya itu sangat mahal.
Itulah kenapa pria itu ketinggalan Ciya karena dia membereskan beberapa masalah kecil yang diperbuat Ciya dengan penjual itu.
"Profesor kayanya udah gemas deh sama tugas kita yang salah mulu," kekehnya.
"Javier Keylee, mohon maaf. Tapi mungkin yang Anda maksud itu Profesor gemas dengan tugas Anda yang salah terus." Ciya mengoreksi ucapan Javier.
"Bukannya tugas lo udah beberapa kali kena marah juga?" Javier tak percaya karena itulah selama ini yang dia dengar dari teman-teman Ciya.
"Enak aja. Tugas gue selalu sempurna," jawab Ciya dengan angkuh.
"Lah, terus yang dibilang sama Shanaya?" tanya Javier.
Shanaya adalah salah satu teman Ciya yang ada di sana, Inggris tepatnya.
"Lo percaya sama dia?" Ciya tak habis pikir, padahal sudah beberapa kali Javier diperdaya oleh gadis itu, tapi tetap saja pria itu masih mempercayainya.
"Awas aja!!" Javier sekarang menyimpan dendam pada Shanaya. Hal itu membuat Ciya hanya bisa terkekeh.
__ADS_1
Mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar. Begitu mereka masuk, lampu otomatis menyala.
"Loh, katanya mau jalan-jalan, kok cepat banget," ucap seorang pria dengan kisaran umur tiga puluh delapan tahunan.
"Iya Dad, dia cari masalah lagi. Makanya gak jadi jalan-jalan lama," jawab Javier sambil menunjuk Ciya.
"Enggak Dad. Penjualnya aja yang gak tahu malu. Dikira aku gak tahu harga aslinya berapa, dia jual lebih mahal," timpal Ciya membela diri.
"Udah udah, jangan diterusin. Kalian ini kayanya gak ada sehari pun gak berantem." Wanita cantik yang baru saja tiba di hadapan mereka langsung menengahi.
"Sini, mending kalian cobain ini." Wanita itu membawa sebuah toples berisi kue kering.
"Wahh Mom, kenapa gak buka toko aja." Tanpa diminta dua kali, Javier langsung menyerbu kue kering itu begitupun dengan Ciya.
"Jangan rebutan, di dapur masih ada banyak." Wanita yang dipanggil Mommy itu segera mengingatkan sebelum dua orang itu saling serang untuk mendapatkan kue kering yang baru saja dia bawa.
Mereka menyantap makanan itu dengan sangat girang. Setelah agak lama Ciya menikmati makanan itu, raut wajahnya berubah menjadi sendu.
Dia mengingat sesuatu di masalalu.
****
"Kue buatan Bunda emang gak ada duanya. Enak banget!!" Ciya menyantap kue yang baru saja dikeluarkan dari open itu dengan sangat lahap.
Tak bohong ketika dia mengatakan jika kue itu rasanya sangat enak.
"Boleh. Laku banget pasti!" jawab Ciya dengan sangat yakin.
"Lagi pada apa sih?" Ayah Ciya datang dengan koran di tangannya.
"Ayah cobain deh, enak banget tau," ujar Ciya dengan semangat. Walau dia tahu Ayahnya tak terlalu suka dengan makanan manis, Ciya tetap memaksa agar Ayahnya memakan kue buatan Bundanya.
Karena tak mau merasa putrinya sedih, akhirnya dia mengambil satu potong kue dan memasukannya ke dalam mulutnya.
"Emm ini enak. Kayanya kalau yang ini Ayah bisa makan terus. Soalnya gak terlalu manis," komentarnya.
Dia sampai mengacungkan dua jempol setelah menelan semua kue yang ada di mulutnya.
"Jadi, Ayah setuju juga kalau Bunda buka toko?" tanya Bunda Jihan pada suaminya.
"Hmm tentu saja. Tapi jangan jauh-jauh. Manfaatin aja lahan di depan rumah itu," saran suaminya.
Itulah awal muka kenapa Bunda Jihan bisa membuka toko dan Ciya sangat menyukai kue buatan Bundanya.
__ADS_1
****
"Na, kamu kenapa? Gak enak ya?" Mommy-nya bertanya karena Ciya tiba-tiba terdiam setelah dia memakan kue itu.
"Ah, enak kok My. Aku cuma ingat sama Bunda aja," tuturnya.
Setelah Ciya mengatakan itu, Mommy dan juga Daddy-nya saling memandang satu sama lain.
"Kamu mau ketemu sama Bunda?" Ketika Mommy-nya menawarkan itu, tentu saja Ciya terkejut dan juga senang.
"Apa boleh?" tanya Ciya dengan penuh harap.
"Kita diskusi dulu ya. Takutnya Bunda kamu juga gak mau terjadi sesuatu sama kamu. Jadi nanti kita lihat baik buruknya dulu," jawab Daddy-nya.
Ciya mengangguk. Walau hanya beberapa persen harapan yang dia punya, tapi setidaknya harapan itu ada.
"Aku ke kamar dulu ya," pamit Ciya.
Mommy dan Daddy-nya selalu bingung jika dihadapkan dengan Ciya yang seperti ini.
Bukan berarti mereka tak memperbolehkan, mereka juga tahu jika ada di posisi Ciya pasti berat.
Tapi bagaimana lagi jika Bunda-nya saja menitipkan gadis itu pada mereka.
Mereka tentu saja harus sepenuh hati menjaga Ciya agar gadis itu hidup dengan baik.
"Gimana ini Dad?" Seringkali Javier juga ikut berpikir keras tentang ini.
Dia juga sering menjadi penenang bagi Ciya agar gadis itu lebih kuat menahan rasa rindu pada Bundanya.
"Kamu tenangin dia dulu ya. Bicara baik-baik sama dia. Biar Daddy yang bicara sama Bundanya," ucap pria itu.
Javier mengangguk dan segera melangkah menuju kamar gadis yang tepat berada di seberang kamarnya.
"Na," panggil Javier setelah dia berada di depan pintu kamar Ciya. Gadis itu memang dipanggil Bryonna di sana.
Tak kunjung ada jawaban, Javier kembali memanggil Ciya kemudian mengetuk pintunya.
"Gue boleh masuk gak?" tanya Javier takut-takut gadis itu gak memberinya izin.
"Hmm. Masuk aja, gak dikunci kok," jawab Ciya dari dalam.
Itu berarti Javier telah mendapatkan lampu hijau untuk masuk ke kamar Ciya.
__ADS_1
Ciya yang sedang duduk di meja belajarnya menoleh ke arah pintu ketika pintu itu dibuka.
"Kenapa?" tanyanya dengan pelan.