Retisalya

Retisalya
S2 : Dylan


__ADS_3

Axel benar, dia juga melihatnya. Dia melihat seorang gadis dengan tampak belakang yang sangat mirip dengan Ciya.


"Itu beneran Ciya?" Kenji malah bertanya pada Axel. 


Axel menggeleng karena dia juga tak pasti dengan apa yang dia lihat. 


Sepersekian detik kemudian, gadis itu berbalik dan memperlihatkan semua raut wajahnya.


Harapan yang semula ada di wajah Kenji dan Axel kini pupus sudah karena orang yang mereka lihat sama sekali bukan Ciya.


"Cih, harusnya gue sadar kalau Ciya itu udah gak ada," kekeh Axel. 


Lebih tepatnya dia menertawakan dirinya sendiri karena dia terlalu bodoh. 


"Udah lima tahun tapi gue masih aja berharap." Kali ini Kenji yang berkata.


Dua orang yang sekarang tengah menikmati pahitnya kopi itu adalah dua orang yang kehilangan sosok berharga dalam hidupnya.


Buka keluarga tapi sosok itu mampu melengkapi kekurangan yang ada dalam diri mereka. 


Jika Tuhan berkenan, masing-masing dari mereka memiliki keinginan untuk dipertemukan kembali dengan Ciya di alam yang lebih abadi nanti. 


"Gue pulang dulu." Kenji bangkit dan membawa cup bekas kopinya. 


"Hmm hati-hati. Gue minta maaf kalau gue udah pernah salah sama lo." Tiba-tiba saja Axel mengatakan itu. 


Kenji yang terlihat bingung hanya bisa  terdiam. 


"Udah lama sebenarnya gue mau minta maaf. Tapi mungkin ini waktu yang tepat."


"Gue juga minta maap. Semoga dengan kepergian Ciya gak akan bikin kita jadi musuhan lagi dan kita bisa lupain masa lalu kita." Axel mengangguk. 


Tentang perselingkuhan Ibu dan Ayah Kenji dulu kala, dia sudah pasrah dan tak ingin mengungkitnya. 


Lagipula mereka sekarang sudah lebih berpikiran terbuka  dan memutus hubungan asmara di antara mereka. 


"Gue pergi." Kenji pergi dari sana sementara Axel masih betah memandang pepohonan yang ada di taman rumah sakit. 


"Aku kira kamu balik Ya." Harapan yang sebenarnya tak akan terwujud karena mustahil orang yang sudah meninggal bisa kembali lagi. 


Axel beranjak membuang cup kopinya. Pekerjaannya telah usai sejak tadi sebenarnya, tapi karena bertemu dengan Kenji, jadi dia menunda kepulangannya. 

__ADS_1


Sekarang dia baru akan pulang. "Pulang Dok?" Salah satu perawat bertanya saat berpapasan dengan Axel. 


Axel tersenyum. "Iya duluan ya." Selama ini tak ada orang yang benar-benar dekat dengannya. Mereka hanya sekedar mengenal dan menyapa satu sama lain. Selebihnya mereka bukan siapa-siapa. 


Setelah menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, Axel kemudian melajukannya. 


Dia melajukannya dengan pelan. Lagipula tak ada yang menunggunya di rumah jadi dia bisa sedikit santai. 


Menikmati pemandangan malam dengan lagu relaksasi yang dia nyalakan di mobilnya. 


Sesekali Axel ikut bergumam menyanyikan lagu itu. 


Tak terasa hingga akhirnya dia tiba di rumahnya. Agak heran karena begitu membuka pintu, lampu sudah menyala. 


"Oy udah pulang?" Begitulah pertanyaan orang yang sedang duduk manis di sofa dengan minuman berwarna merah di gelas yang dia pegang. 


"Ngapain lo di sini?" Axel bertanya sambil menghampiri orang itu. 


Sebenarnya mereka kerap bertemu, tapi dia tak diberitahu oleh orang itu jika dirinya akan datang ke rumahnya. 


"Main. Emang gak boleh?"


"Lan, aduh udah deh. Jangan berlebihan. Gue gak apa-apa." Axel tahu apa maksud dari kedatangan Dylan ke rumahnya. 


Tentu saja Axel tak percaya dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut Dylan. 


Dia tahu jika temannya itu datang pasti karena khawatir padanya. Sudah lima tahun itu berlangsung dan rupanya Dylan sama sekali tak bosan dengan perbuatannya itu. 


"Gue udah gede. Gak mungkin gue lakuin hal bodoh kaya lima tahun lalu." Axel mengakui jika lima tahun lalu dia melakukan hal bodoh yang akan merenggut nyawanya. 


"Iya iya terserah lo deh. Gimana kerjaan lo?" Dylan berusaha mengalihkan pembicaraan. Pria itu beranjak ke dapur untuk mengambil makanan di lemari pendingin. 


"Biasa aja. Gak ada yang istimewa," jawab Axel. 


Yang beda hari ini adalah dia melihat orang yang sangat mirip dengan  Ciya. Tapi dia tak berniat mengatakan  itu pada Dylan. 


Dylan datang kembali dengan toples berisi makanan. "Ini sebenarnya rumah siapa sih?" Axel bertanya karena sepetinya Dylan tahu semua yang ada di rumahnya. 


Mulai dari password pintu, letak minuman dan juga letak makanan. 


"Rumah lo. Tapi gue yang sering ada di sini," jawabnya. 

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Dylan memang benar. Walau Axel adalah pemiliknya tapi pria itu jarang berada di rumah. 


Axel lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit bahkan sering pria itu menginap di sana. 


Sementara Dylan juga punya rumah sendiri, tapi dia lebih sering tinggal di rumah Axel. 


Setiap kali datang ke sana, niat awalnya adalah menemani Axel agar pria itu tak terlalu berpikir keras. Tapi saat itu juga Axel sedang tak ada di rumah. Akhirnya Dylan hanya bisa tidur di sana sendirian. 


Itulah alasan kenapa dia lebih tahu rumah Axel daripada pemiliknya sendiri. 


"Oh iya. Tadi gue ketemu sama Kenji." Ucapan Axel itu berhasil membuat Dylan tersedak minuman. 


"Apa? Ngapain? Kalian gak ribut lagi kan?" Riwayat selama sekolah dulu, dua orang itu dikenal dengan selalu ribut. Itulah kenapa Dylan bertanya demikian pada Axel. 


"Gue udah bilang sama lo kalau gue bukan bocah."


Dari jawaban Axel, Dylan sudah bisa menyimpulkan jika tak ada yang terjadi antara mereka berdua. 


"Baguslah. Kalian ingat umur."


"Ngapain dia di sana?" Dylan kembali bertanya karena dia merasa penasaran dengan yang dilakukan Kenji di sana. 


"Kontrol kesehatan." Axel menjawab dengan singkat. 


Dylan mengangguk mengerti. "Kasusnya yang sama Dzikri udah kelar belum ya?" Dulu waktu masih SMA, kasus itu memang ramai diperbincangkan. Tapi setelah mereka lulus, mereka sudah tak tahu lagi kabar tentang hal itu. 


"Kayanya sih Dzikri udah keluar tahun ini," tebak Axel. 


Dia mengikuti kasus ini dan itu adalah jawaban menurut perhitungannya. 


"Semoga mereka baikan lagi. Sayang banget, pertemanan mereka udah lama dan harus hancur karena kasus itu." 


Axel setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dylan. 


"Udah lah jangan urusin hidup orang. Urus aja diri lo sendiri," ujar Axel. 


Mereka terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya Dylan kembali membuka perbincangan di antara mereka. 


"Tentang cewek itu, apa yang dibilang sama yang lain di grup itu beneran?" tanya Dylan. 


"Hmm beneran. Gue udah jenguk dia beberapa kali dan sangat mengenaskan."

__ADS_1


Perkataan Axel barusan membuat Dylan meringis. Antara tak tega dengan tak habis pikir dengan gadis itu. Padahal dulu dia hampir menjadi primadona sekolah. 


"Lo ada niat buat jenguk dia?" Dylan kembali bertanya pada Axel. 


__ADS_2