Retisalya

Retisalya
S2 : Reward


__ADS_3

Berminggu-minggu telah berlalu dan nilai tes milik Ciya dan Javier sudah keluar. Nilai mereka berada di atas rata-rata. Itulah kenapa sekarang dua orang itu tengah jalan-jalan dengan raut yang berseri-seri.


“Apa gue bilang. Gue tuh pasti bisa,” ucap Ciya sombong setelah dia mendapatkan sebuah pencapaian yang sangat luar biasa.


“Bukan cuma lo ya, gue juga bisa dan akhirnya kita liburan gratis!!” seru Javier. Mereka akan menagih janji yang diberikan oleh Bagas.


“Jangan dulu pulang deh, gue masih mau jalan-jalan,” ucap Ciya yang disetujui oleh Javier. Mereka akhirnya berjalan-jalan. Sebenarnya tak ada hal istimewa yang bisa mereka temukan di sana. Tapi ada sensasi lain yang bisa dirasakan oleh Ciya ketika dia menghabiskan waktunya di sana.


Hanya menyusuri jalan yang ada di sana. Tak jauh juga dari universitas mereka. “Ada yang mau lo beli buat bekal liburan?” tanya Javier.


“Enggak deh. Barang di rumah aja udah cukup,” jawabnya yang diangguki oleh Javier.


Sekirat satu jam mereka menghabiskan waktu untuk menyusuri jalanan tanpa tujuan hingga mereka kelelahan sendiri. 


“Mau minum,” rengek Ciya. kebetulan sekali di sana ada mesin penjual minuman. Tanpa berpikir panjang, Javier segera ke sana dan membeli dua kaleng minuman.


“Nih.” Pria itu menyodorkan satu kepada Ciya yang tengah duduk di kursi yang ada di sana.


“Makasih.” Mereka meminum minuman itu.


“Vi, menurut lo gimana gue harus bereaksi nanti kalau gue ketemu mereka?” tanya Ciya. Pandangan gadis itu kosong. Raganya ada di sana tapi entah dengan pikirannya.


“Tergantung lo. Mau lo bahagia sampai loncat-loncat karena bisa ketemu mereka lagi, atau mungkin lo sama sekali gak akan mau sama orang-orang tertentu karena lo kecewa, lo bisa lakuin itu. Lakuin apapun yang lo rasain saat lo ketemu mereka nanti,” jawab Javier.


“Ada sebagian dari hati gue yang rindu sama mereka. Tapi entah kenapa ada juga yang hampa. Gue rasa ada beberapa orang yang gak mau gue temuin. Bukan karena benci, tapi takut akan penolakan.” Javier paham apa yang dimaksud oleh Ciya. Dia juga tahu siapa orang itu.


“Kalau gitu jangan temuin dia. Cukup temuin orang-orang yang pengen lo temuin aja.” Ciya mengangguk. Dia kembali mengumpulkan mood-nya untuk melanjutkan perjalanan.


“Pulang yuk!” ajaknya. Selama di sini dia jarang sekali mengendarai mobil. Mereka selalu berangkat ke kampus dengan bus atau kereta.


Begitu pula dengan sekarang. Mereka akan menaiki itu untuk pulang.


**** 

__ADS_1


Jika dilalui dengan bahagia dan tanpa beban, semuanya terasa sangat cepat. Mereka telah tiba di rumah padahal rasanya baru beberapa menit lalu menaiki kereta.


“Mom, Dad kita pulang!” seru Javier sambil membuka pintu.


Seperti biasa, di sana Mommy dan Daddy-nya sedang duduk manis di sebuah sofa di ruang tamu. Mereka hanya tinggal menikmati masa tua. Harta yang mereka investasikan menjadi sebuah rumah sakit berjalan dengan lancar dan kini hanya tinggal memantau.


“Kok lama banget sih? Ini udah telat hampir dua jam loh,” ujar Juliette sambil beranjak dari duduknya.


“Sorry Mom. Tadi kita jalan-jalan dulu. Tahulah gimana stressnya setelah melakukan tes,” jawab Ciya.


Tes yang mereka lakukan sebenarnya sudah lewat dua hari lalu, tapi dia selalu saja menjadikan itu alasan agar tak kena marah ketika pulang terlambat.


“Ya udah sana ganti baju, walau Mommy tau ya itu cuma alasan kalian. Tes kalian udah selesia dua hari lalu,” ujarnya.


Bukannya takut, kedua anak itu malah terkekeh sebelum kemudian mereka beranjak menuju kamar mereka masing-masing.


“Dasar mereka itu, ada aja kelakuannya,” ucap Juliette sambil kembali mengambil posisi duduk. Sementara Bagas hanya menggelengkan kepalanya.


“Mereka udah lulus tes di kampusnya. Kamu masih ingat kan sama janji kamu?” tanyanya pada suaminya.


“Baguslah. Aku tadinya cuma mau ngingetin, takutnya kamu lupa.” Bagas mengangguk dengan senyumannya.


Setelah selesai mandi dan mengganti baju mereka, barulah mereka kembali turun. Yang lebih dulu turun adalah Javier. Dia hanya mengenakan kaos hitam dengan celana pendeknya.


“Mana Ciya?” tanya Bagas saat dia hanya melihat putranya yang turun.


“Gak tau Dad. Kayanya belum selesai deh, maklum lah cewek,” jawabnya yang dibalas dengan kekehan.


“Berarti Mommy juga gitu?” Juliette yang merasa tersindir segera bertanya.


Bukannya menjawab, Bagas dan Javier hanya saling memandang sebelum kemudian sama-sama menggedikan bahunya.


“Dasar,” ucap Juliette. Mereka terbahak saat mendapatkan respon seperti itu dari Juliette.

__ADS_1


“Ada apa nih rame banget?” tanya Ciya yang baru saja turun dari kamarnya. Akhirnya sang bintang utama yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya dari tadi datang juga.


“Telat, lo gak diajak,” jawab Javier mencoba menggoda Ciya.


“Ih Dad, senang benar dia goda Ciya terus tau,” rengeknya sambil mengadu pada Bagas.


“Udah ah jangan ribut. Daddy mau ngomong sama kalian,” ucap Bagas.


“Dad jangan serius-serius dong jadi takut,” ucap Ciya. Daddy-nya itu sangat jarang berbicara serius pada mereka, itulah kenapa ketika Bagas mulai serius maka Ciya akan sedikit gugup.


“Enggak kok. Ini juga biasa aja.”


Mereka mulai memasang telinga mereka baik-baik agar tak ada satu pun informasi yang keluar dari mulut Daddy-nya terlewat.


“Daddy waktu itu udah janji sama kalian, kalau kalian bisa lolos tes kalian dengan nilai sempurna, kalian bakal liburan ke Indonesia gratis.” 


Mendengar itu membuat Javier dan Ciya saling memandang. Keduanya mencoba menahan senyum karena sangat bahagia dengan hal ini.


“Tapi maaf...” Ucapan Bagas menggantung yang membuat Ciya dan Javier sudah lebih dulu berkecil hati bahwa liburan mereka akan dibatalkan. Inilah alasan kenapa Ciya selalu tak ingin merasakan bahagia yang berlebih.


“Gak apa-apa Dad, mungkin lain kali.” Ciya mendahului menjawab ucapan Bagas. 


“Maaf karena kayanya gak cuma satu minggu kalian di sana, tapi satu bulan,” ucap Bagas dengan rat wajah yang berseri-seri.


Ciya dan Javier kembali berpandangan sebelum kemudian mereka saling memeluk satu sama lain. “Yeeaayyy!!!”


“Tapi tunggu, kita libur berapa bulan?” tanya Ciya takutnya mereka malah akan bolos kuliah karena liburan mereka.


“Satu bulan setengah.” Jawaban dari Javier membuat Ciya lega dan kembali memeluk Javier setelah sebelumnya dia melepaskan pelukan itu untuk bertanya.


Cukup lama mereka saling berpelukan sebelum kemudian Javier melepaskannya. “Tapi Dad, kenapa jadi satu bulan?” tanya Javier penasaran.


“Ada yang harus Dad lakukan di rumah sakit yang ada di Indonesia. Jadi terpaksa kita semua harus pergi.” 

__ADS_1


Bagi Ciya ini adalah kebahagiaan yang berlipat. Di mana dia akan bertemu dengan Bundanya dan juga akan berlibur dengan keluarganya.


__ADS_2