Retisalya

Retisalya
S2 : Temu Kangen


__ADS_3

Pintu rumah Jihan kembali diketuk oleh seseorang. Javier dan Ciya sudah menduga jika itu Daddy dan Mommy-nya.


"Biar Ciya aja yang buka Bun." Ciya yang melihat Bundanya sibuk dengan masakannya menawarkan diri untuk membuka pintu.


Tak menunggu Bundanya menjawab, gadis itu segera menuju ke pintu depan untuk membuka pintu.


Pintu terbuka dan benar saja menampilkan Daddy dan Mommy-nya.


"Hai Sayang," sapa Bagas pada putrinya.


"Hai Dad, Mom yuk masuk." Dua orang tamu itu masuk ke rumah dan Ciya membawa mereka ke dapur karena Bundanya memang sedang berada di sana.


"Wah kebetulan banget lagi masak nih," ucap Bagas sambil menghampiri Kakaknya begitu juga dengan Juliette.


"Kak gimana kabarnya?" tanya Bagas seraya berpelukan sebelum kemudian mencium pipi kiri dan kanan Kakanya.


"Baik. Kamu gimana kabarnya?" Bunda Jihan balik bertanya.


"Baik juga Kak." Setelah Bagas, gantian Juliette yang memeluk iparnya itu.


"Ahh kangen banget," ucapnya sambil memeluk dengan erat. Mereka sangat dekat, namun sayang harus terpisah lama karena Juliette harus pindah ke Inggris untuk pengobatan Ciya.


"Duduk dulu ya, bentar lagi siap," ucap Bunda Jihan.


Semuanya mengangguk kecuali Juliette yang masih berdiri di sana. Tentu saja dia akan membantu.


"Biar aku bantu Kak," ucapannya. Bunda Jihan mengangguk dan menyerahkan beberapa pekerjaan pada adiknya itu.


Tak perlu lama makanan mereka sudah siap. Dengan telaten Bunda Jihan dan Juliette menghidangkan makanan itu di meja makan.


"Yuk makan!" ajak Bunda Jihan setelahnya.


Mereka makan bersama dengan lahap disertai beberapa obrolan ringan di antara mereka.


"Dad, Ciya harus tidur di mana malam ini? Tadi Bunda bilang buat tidur di sini," tanya Ciya.


"Untuk malam ini kayanya kamu tidur sama kita dulu ya, buat jaga-jaga aja. Nanti kalau emang udah agak lama, baru kamu tidur di sini," jawab Bagas.


Dia harus tahu jadwal seseorang yang selalu datang ke rumah Kakaknya sehingga dia tak akan bertemu Ara.


"Bun," lirihnya. Ciya menatap Bundanya merasa bersalah karena tidak bisa bermalam di sana untuk malam ini.

__ADS_1


Bunda Jihan tersenyum simpul. "Gak apa-apa. Ikutin apa yang Daddy kamu bilang. Kalau kamu gak bisa tidur di sini, nanti kapan-kapan Bunda yang ke sana. Boleh kan?" Bunda Jihan bertanya pada Adiknya.


"Itu lebih baik. Mending Kakak aja yang ke rumahku," jawab Bagas.


Ciya tersenyum dibuatnya. Semua orang baik padanya dan melakukan sesuatu hanya untuk kebaikannya.


"Sampai kapan kalian di sini?" Bunda Jihan bertanya sambil terus menyuap makanannya.


"Dad, satu bulan kan?" Juliette bertanya juga pada suaminya karena dia takut salah menjawab.


"Hmm. Niat awalnya sih kita cuma satu bulan di sini. Tapi setelah pertemuan tadi, kayanya kita gak tentu sampai kapan. Bisa kurang atau mungkin bisa lebih dari satu bulan," jawabnya.


Di rumah sakit tadi dia sangat di butuhkan untuk posisi direktur sementara. Dia merupakan pemilik dan dulu dia telah memilih orang untuk menjabat sebagai direktur rumah sakit. 


"Ada masalah besar di rumah sakit?" Jihan menjadi agak khawatir.


"Hmm. Direktur yang dulu aku tugaskan tiba-tiba mengundurkan diri, jadi sekarang posisi itu kosong. Aku mau mulai mencari yang baru, tapi itu gak bisa asal tunjuk," ucapnya.


"Ahh gitu. Semoga bisa segera dapat yang baru." Bagas mengangguk. Dia juga berharap begitu agar pikirannya tidak terbagi.


Mereka selesai dengan makanan mereka, piring kotor juga sudah dicuci dengan bantuan Ciya.


"Kak kayanya kita langsung pulang. Udah malam juga, kita belum beres-beres di rumah," pamit Bagas.


Bunda Jihan sekarang tinggal sendiri lagi. Setelah beberapa saat lalu rumahnya ramai, sekarang kembali sepi.


**** 


Empat orang itu sudah tiba di rumah mereka. Rumah yang lama mereka tinggalkan.


"Kalian gak beres-beres kan tadi?" tanya Juliette pada kedua anaknya.


"Enggak. Kan Mommy yang bilang gak usah," jawab Javier.


Juliette mengangguk membenarkan perbuatan mereka. Setelah itu dia mengeluarkan ponselnya untuk mencari jasa kilat pembersih rumah.


"Tunggu di luar dulu aja ya. Kalau nunggu di dalam nanti kena debu," ucapnya.


Mereka akhirnya duduk di taman depan rumah. Beruntung malam ini langit terlihat cerah sehingga mereka tak khawatir akan turun hujan.


Cukup lama menunggu, akhirnya jasa yang mereka panggil telah datang. Juliette menunjukan semua bagian yang harus mereka bersihkan.

__ADS_1


Sekitar setengah jam dan mereka sudah selesai. Setengah jam untuk membersihkan rumah sebesar ini sudah termasuk luar biasa cepat.


"Makasih ya Mas. Saya udah bayar lewat aplikasi," ucap Juliette.


"Sama-sama. Kalau gitu mari Bu." Orang-orang itu pergi setelah pekerjaan mereka selesai.


 "Yuk masuk!" ajak Juliette. Rumah yang tadinya sangat kotor dengan debu dan juga berantakan, seketika disulap menjadi bersih dan sangat rapi.


"Bersih-bersih habis itu tidur ya," ucap Juliette pada kedua anaknya.


"Siap Mom," jawab Ciya patuh. Sementara Javier hanya mengangguk saja.


Ciya dan Javier masuk ke kamar yang telah ditunjukkan oleh Daddy dan Mommy-nya.


Ciya mengeringkan rambutnya setelah dia mandi. Namun tiba-tiba dia teringat dengan apa yang dikatakan Bundanya. 


"Dia gak punya orang lain dan menyesal?" tanyanya. Kalimat itu tiba-tiba terngiang dalam benaknya. 


"Apa dia masih sama?" Ciya tidak munafik jika ada sebagian dari hatinya yang merindukan orang itu. Tapi otaknya melarang dengan keras. Otaknya itu terus saja mengatakan bagaimana perlakuan orang itu padanya dulu. 


"Ahh kenapa malah diingat-ingat lagi sih!" Ciya menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan orang itu dari pikirannya. 


Karena tak ingin berlarut, Ciya segera menyelesaikan acara mengeringkan rambutnya sebelum kemudian dia naik ke ranjang untuk tidur. 


Betapapun dia berusaha untuk memejamkan matanya, nyatanya sangat sulit baginya. Bukannya tertidur, dia malah kembali teringat dengan orang itu lagi. 


"A arghh kenapa gak amnesia aja sih sekalian!" ucapnya frustasi. 


Dengan pikiran, mungkin jika dirinya amnesia dia tak akan mengingat orang itu dan akan lupa selamanya. 


Jika seperti ini caranya, bagaimana dia bisa lupa? 


Pintu diketuk dari luar menandakan jika di sana ada orang yang ingin masuk. 


"Masuk," ucap Ciya dari dalam. 


Ciya melihat Javier di sana. Pria itu sudah memakai piyama. Tapi ada yang aneh, pria itu membawa sebuah guling di pelukannya. 


"Ngapain lo bawa guling? Kaya mau pindahan aja," ucapnya. 


"Gue tidur di sini ya," izinnya. 

__ADS_1


Ciya sudah tidak aneh dengan ini. Pria itu selalu saja seperti ini jika di tempat baru. 


"Laki tapi takut setan lo! Sini!!" Ciya mengejek tapi juga membiarkan Javier tidur di tempatnya. Gadis itu sedikit bergeser agar ada ruang untuk Javier. 


__ADS_2