
Seharian ini dan kemarin Axel dibuat sangat sibuk karena direktur dari rumah sakit yang dia tempati mengundurkan diri.
Entah apa yang menjadi alasannya hanya saja kini posisi itu kosong. Staff dari rumah sakit segera memberitahukan hal itu pada pemilik Rumah Sakit.
Dan kemarin pemilik Rumah Sakit telah datang ke sana untuk melakukan diskusi dengan semua dokter yang bekerja di sana.
Hari ini pun begitu, jadwal untuk hari ini yaitu menunjuk orang yang akan menjadi direktur rumah sakit.
"Gimana? Menurut kalian siapa yang cocok ditempatkan menjadi direktur di rumah sakit ini. Saya tidak bisa ajukan satu nama karena saya nggak tahu kinerja mereka kalian yang lihat sehari-harinya bagaimana?"
Terdengar beberapa orang dari mereka berdiskusi tentang siapa yang akan menjadi direktur rumah sakit berikutnya.
"Sejauh ini saya lihat Dokter Axel sangat berpotensi. Selain banyak pasien yang menyukainya, kinerjanya juga sangat memuaskan," ucap salah satu orang.
Axel terkejut mendengar itu. Dia sama sekali tak berharap akan menjadi direktur. "Saya setuju. Sejauh ini Dokter Axel juga tak punya riwayat yang negatif dengan pasien."
"Bagaimana Dokter Axel?" tanya Bagas selaku pemilik Rumah Sakit.
"Jika memang sudah menjadi keputusan semua orang. Saya akan mengemban amanah dengan sebaik mungkin," ucapnya.
Jika menolak sepertinya bukan keputusan yang bagus. Dia secara tidak langsung akan mengecewakan semua orang. Setelah dipilih, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakannya.
Pertemuan mereka selesai diakhiri dengan serah terima jabatan.
Axel kembali berjalan menuju ruangannya dengan beban jabatan yang dia terima. Ruangannya akan pindah ke ruang direktur, mungkin besok.
"Dokter Axel," panggil seseorang dari arah belakangnya yang membuat Axel menoleh.
"Ah Dok, iya ada apa?" tanya Axel. Ternyata orang yang memanggilnya adalah pemilik rumah sakit yang tak lain adalah Bagas.
"Enggak, saya cuma mau menyapa saja. Anda gak keberatan bukan?" tanya Bagas.
"Semua orang sudah percaya, jadi mana mungkin saya mengkhianati kepercayaan mereka," jawab Axe.
"Saya suka itu."
"Kalau begitu saya duluan." Bagas berlalu dari sana.
Dia melirik sekilas pada Axel. Dia sudah tau pria itu dan tentu saja semua yang terjadi hari ini sudah dia rencanakan.
__ADS_1
Rasa sakit yang didapat oleh Ciya harus dibayar juga kan?
Bagas menuju ruangannya. Di sana sudah ada istrinya yang sedang menunggunya.
"Gimana? Udah selesai?" tanya Juliette begitu suaminya tiba.
"Hmm sesuai rencana."
"Baguslah." Mereka kembali terdiam tak ada pembicaraan lagi.
****
Hari pertama menjadi direktur rumah sakit membuat kepala Axel sakit. Saat ini dia tengah merebahkan badannya di sofa di rumahnya.
Entah sudah berapa pil yang dia minum, tapi rasa kantuk tak kunjung datang. Seperti biasa, yang ada di pikirannya saat ini adalah Ciya.
Dia sangat merindukan gadis itu.
"Haruskah ke sana?" ucapnya. Pandangannya lurus mengarah ke langit-langit rumahnya.
Karena rasa kantuk tak kunjung datang dan kebetulan hari masih sore, Axel memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat yang sudah lama tidak dia kunjungi.
Pria itu mulai bersiap. Hanya mengenakan celana jeans hitam, kaos hitam dan kemudian dia memakai blazer hitamnya.
Namun sebelum itu dia menyempatkan untuk membeli sebuah bunga. Tiba di sana, dia tak melihat siapapun selain gundukan tanah dengan bunga di atasnya. Semuanya hampir sama.
"Sudah lima tahun," lirihnya. Dia menggunakan kacamata hitamnya. Asal menaruh karangan bunga itu tepat di kepala nisan Ciya.
Axel jongkok di sana di depan sebuah gundukan tanah dengan nisan bernama Ciya Bryonna.
"Cantik, udah lima tahun ya," ucapnya sambil mengelus nisan gadis itu.
Gadis yang dia rindukan setiap hari dan setiap malam. Gadis yang membuatnya selalu ingin pulang kepada sang pencipta. Tapi apa daya, jika dia pulang sendirian, Tuhan akan marah. Itulah kenapa dia lebih memilih menunggu Tuhan menjemputnya.
"Hari ini aku dikasih amanah buat jadi direktur rumah sakit, Ya. Gimana? Keren kan?" tanyanya sambil terkekeh.
"Ini semua aku lakuin biar aku sibuk. Maaf Ya, tapi kayanya mulai sekarang aku bakal lebih jarang ingat kamu karena kesibukan aku."
Walau tak ada yang menjawab, setidaknya hatinya akan sedikit tenang jika telah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan pada Ciya.
__ADS_1
"Tapi tenang, kalau aku lagi di rumah, aku pasti selalu ingat kamu," sambungnya.
"Lima tahun ini berat banget buat aku. Tapi aku yakin kalau kamu ngalamin hal yang lebih berat daripada ini. Aku nggak bakal berhenti buat selalu minta maaf sama kamu. Atau kalau Tuhan mengizinkan, aku mau ketemu kamu dan minta maaf secara langsung."
Setelah itu masih banyak lagi hal yang disampaikan Axel pada Ciya. Meski tak ada jawaban tapi Axel merasa lebih baik.
"Mungkin aku cuma sebentar ke sini, tapi makasih udah bikin hati aku tenang cuma karena aku ngungkapin semua perasaan aku ke kamu," ucapnya.
"Baik-baik di sana ya, aku pulang dulu."
Sebagai penutup Axel mencium nisan Ciya. Setelah itu dia berlalu untuk kembali ke rumahnya atau mungkin mampir ke rumah Dylan untuk menghibur hatinya.
Langit sore yang indah seolah tengah menghibur Axel yang sedang sedih sekarang. Pada akhirnya dia sepertinya harus berkunjung ke rumah Dylan terlebih dahulu.
"Lan, ada di rumah nggak?" Sebelum tepat sampai di sana, Axel terlebih dahulu menelepon pria itu.
"Hmm gue di rumah kenapa?"
"Oke."
Tanpa menjawab pertanyaan Dylan, Axel mematikan sambungan telepon dan memacu gasnya menuju ke rumah temannya itu.
Hanya butuh sekitar lima belas menit untuk akhirnya tiba di sana. Bisa Axel lihat bagaimana mewahnya rumah Dylan. Selain karena kaya dari keturunan, pria itu juga sangat pintar berbisnis sehingga dia mendapatkan banyak laba dari perusahaannya itu.
Tok tok
Axel mengetuk pintu rumah Dylan hingga sang empu akhirnya keluar.
"Lo gak liat ini apa?" tanya Dylan sambil menunjuk sebuah bel yang terpasang tepat di samping pintunya.
"Oh ya sorry gue lupa." Tanpa memperdulikan itu, sama nerobos masuk ke rumah Dylan membiarkan sang pemilik rumah masih berdiri kaku di ambang pintu.
"Untung teman kalau bukan udah gue tonjok dia," ucapnya dengan gemas.
Sebenarnya ini bukan kali pertama dia mengingatkan jika di rumahnya ada sebuah bel. Sudah berkali-kali dia mencoba mengingatkan Axel.
Tapi sepertinya pria itu sama sekali tidak menggubrisnya, hingga setiap ke sini dia selalu mengulang mengetuk pintu hingga Dylan keluar.
Setelah rasa gemasnya separuh hilang, dilan akhirnya menyusul Axel menuju ke dalam rumah.
__ADS_1
"Ngapain lu ke sini?" tanya Dylan begitu Axel mendudukkan dirinya di sofa.
"Emang nggak boleh gue ke sini?"