
"Terus bagaimana dengan kak Axel?"
Pertanyaan Ciya hari itu terus terngiang di telinga Kenji. Sepertinya memang tidak ada ruang di hati Ciya untuknya.
"Kak Kenji!" ucap Ciya sedikit berteriak.
"Hah?" tanya Kenji terkejut.
"Cuma ditinggal ke kamar mandi sebentar aja udah ngelamun," sindir Ciya.
"Ayo, mana. Katanya mau lihat file di flashdisk," lanjut Ciya.
Kenji segera mengeluarkan laptop dan flashdisk dari tasnya. Ya, mereka ada di sebuah cafe di dekat sekolah. Sebelum pulang ke rumah, mereka sepakat untuk melihat itu dulu.
Tangan Kenji sedikit bergetar saat membuka satu-satunya folder yang ada di sana. Hanya ada satu file video di dalamnya.
Ciya menatap Kenji dan meyakinkan untuk membuka video itu. Sebelum tangannya bergerak untuk mengklik file itu, Kenji menghela napasnya.
Perlahan video itu berputar. Terlihat pencahayaan yang remang di sana, suasana ruang tamu rumah Kenji yang begitu sepi.
Tak lama datang seorang pria yang mengenakan masker lengkap dengan sebuah botol di tangannya.
Pria itu mulai menjatuhkan barang-barang yang ada di sana. Tak lama Bundanya keluar dari kamar dan mencoba menghentikan orang tak dikenal itu.
Sebuah pukulan mendarat di wajah Bundanya yang dilayangkan pria itu. Teriakan yang sama seperti yang didengar Kenji malam itu.
Kenji meringis mengingat kembali kenangan kelam yang berusaha dia lupakan.
Belum sempat Bundanya bangun, pria itu dengan brutal memukul kepala Bundanya denga botol kaca yang menyebabkan darah segar keluar dari kepala Bundanya.
Sepertinya pria itu juga sedikit terkejut dengan apa yang dia lakukan karena setelah itu dia membuka masker yang dikenakannya, kemudian menjatuhkan botol berlumuran darah itu di sana dan segera melarikan diri.
Kenji terperangah. Wajah itu, Kenji mengenalnya. Wajah yang sangat sering dia lihat belakangan ini. Rahangnya mengeras dengan tangan yang mengepal kuat
"Bagaimana bisa?" tanyanya lirih disertai kemarahan di kalimatnya
*****
"Bajingan!!" Kenji melayangkan tinjunya ke wajah pria di hadapannya.
"Gimana bisa lo lakuin itu?!!" Kenji benar-benar murka saat ini. Bahkan kemarahannya saat ini disaksikan oleh murid-murid di sekolah.
"Ngomong apa sih lo?!" tanya pria yang kini sedang memegangi pipinya.
__ADS_1
"Dzikri Moza, orang yang selama ini gue percaya ternyata lo orang yang bunuh Bunda gue?!!" teriak Kenji.
Semua siswa yang menyaksikan pertengkaran itu terperanjat mendengar perkataan Kenji.
Sementara Kenji mendadak bungkam. Bagaimana bisa semua ini terungkap?
"Lo bingung kenapa gue bisa tahu?"
"Eng-enggak, Ken. De-dengerin gu-gue dulu, oke," ucap Dzikri berusaha menenangkan amarah Kenji. Baru kali ini dia melihat Kenji semarah ini.
Kenji tak ingin mendengarkan. Dia mulai memukuli Dzikri dengan membabi buta. Dia kalap, matanya penuh dengan sorot kebencian dan dendam.
"Kak Kenji!! Berhenti Kak!!" Ciya datang dari ambang pintu kelas Kenji dan berusaha melerai keduanya.
Kenji menulikan pendengarannya. Dia masih setia menghajar orang di hadapannya ini.
Ciya kehabisan akal. Akhirnya gadis itu nekat mendekati keduanya dan memeluk Kenji dari belakang seraya bergumam agar pria itu berhenti.
Mendengar suara isakkan Ciya, Kenji mulai mengendurkan pegangannya pada dasi Dzikri dan menghentikan pukulannya masih dengan deru napas yang sangat berat.
"Berhenti, Kak. Bunda Kakak gak akan senang lihat anaknya kaya gini," bujuk Ciya lembut.
Kenji terengah dengan wajah yang memerah.
"Tapi dia yang udah bunuh Bunda gue!! Orang yang selama ini gue percaya!!" teriak Kenji.
Napas Kenji mulai kembali teratur.Tatapan matanya melembut saat melihat raut khawatir Ciya.
Sementara di sana Dzikri masih terbaring dengan wajah yang penuh luka. Sebenarnya jika dibandingkan degan apa yang dia lakukan pada Bunda Kenji, hal itu tak ada apa-apanya.
Satu orangpun tak ada yang berani membantu Dzikri. Pria itu berdiri sendiri dengan susah payah.
"Dengerin gue dulu," ucapnya setelah berhasil menghampiri Kenji.
Kenji menghela napas, dia berusaha menahan amarahnya karena ada Ciya di sini. Kepalanya terangkat untuk menatap sahabatnya. Tatapan mata yang sangat sulit diartikan.
"Gak ada yang perlu lo jelasin." Kenji menarik tangan Ciya untuk pergi dari sana, namun sebuah suara menginterupsi mereka.
"Wakti itu gue gak tahu itu bunda lo. Kita belum sedekat itu."
Kenji menghentikan langkahnya dengan rahang yang kembali mengeras. Pria itu berbalik dan melepaskan genggamannya pada tangan Ciya.
"Kak," lirih Ciya. Dia takut Kenji akan hilang kendali lagi.
__ADS_1
Kenji menoleh. "Gue bakal selesaikan ini baik-baik, lo gak usah khawatir."
Setelah itu Kenji kembali fokus pada Dzikri.
"Jadi maksud lo, lo bakal tetap bunuh orang itu meskipun dia bukan nyokap gue kan? Sekotor itu hati lo?" ucap Kenji.
"Gak gitu." Dzikri mulai kebingungan mencari alasan.
"Jadi selama ini lo bodohin gue. Hah kasihan banget gue ya." Kenji tersenyum getir ketika membayangkan selama ini dia bercerita dan mengeluarkan keluh kesahnya pada orang yang telah membunuh bundanya sendiri.
"Atau jangan-jangan selama ini lo baik sama gue karena ngerasa bersalah?" tebak Kenji sambil menatap Dzikri.
Dzikri terdiam dengan kepala yang menunduk.
"Ahh benar ternyata." Kenji tertawa putus asa saat tak mendapatkan jawaban dari Dzikri.
"Lo tahu? Karena lo, selama ini gue benci sama ayah gue sendiri dan karena lo trauma dalam diri gue masih berbekas sampai sekarang!"
"Di mana hati nurani lo?" Mata Kenji mulai berkaca-kaca. Dia benar-benar tak menyangka jika yang melakukan perbuatan keji itu adalah sahabatnya sendiri.
"Ada masalah apa lo sama nyokap gue?" tanya Kenji memberanikan diri.
Tanpa Kenji sadari, pria itu telah membuka kenangan kelam Dzikri. Kepingan kejadian kini berputar dalam kepalanya seperti sebuah kaset.
Bayangan saat sebuah pukulan mengenai wajahnya, tendangan luar biasa yang menghantam perutnya dan jangan lupakan kata-kata tajam yang selalu menusuk hatinya.
Kini mata Dzikri memerah. Dia berusaha mati-matian untuk tidak mengingat hal itu lagi.
"Perusahaan bokap gue hampir bangkrut karena nyokap lo ngambil klien penting bokap gue," ucapnya jujur.
"Cuma karena itu lo tega hilangin nyawa orang?" ucap Kenji.
"Cuma? Lo bilang cuma?" Dzikri sedikit terkekeh mendengar ucapan Kenji.
"Asal lo tahu, gue hampir gila karena itu!!" Akhirnya sebuah bentakkan keluar dari mulutnya. Dia tak sanggup lagi menahannya.
Kenji terdiam.
"Lo gak tahu gimana tersiksanya gue waktu bokap gue lampiasin kemarahannya ke gue. Lo bisa lihat bekas jahitan di sini?" Dzikri memperlihatkan bagian belakang kepalanya yang memang memiliki jahitan lumayan panjang di sana.
"Atau lo mau lihat bekas luka gue di sini?" Dzikri menyingkap bajunya hingga bagian perutnya terlihat. Sangat jelas tercetak luka lebam di sana.
"Lo gak akan pernah tahu rasanya," lirih Dzikri.
__ADS_1
Kenji menghela napasnya dalam.
"Gue emang gak pernah tahu rasanya, tapi lo juga gak akan pernah tahu rasanya gimana ditinggalin nyokap lo buat selamanya dan dengan kematian yang mengenaskan kaya gitu."