
Akhirnya Bunda Jihan bisa bernafas dengan lega saat Kenji sudah pergi dari rumahnya. Wanita paruh baya itu bergegas pergi ke kamar Ciya untuk mengatakan pada gadis itu jika Kenji sudah pulang.
"Sayang," panggilnya sambil membuka pintu kamar Ciya.
Saat terbuka, yang dia lihat adalah Ciya yang sedang melihat ke luar jendela kamarnya. Mungkin gadis itu tengah melihat kepergian Kenji dari rumahnya.
"Kenji udah pulang," sambung Bunda Jihan.
Ciya berbalik dan mengangguk dengan senyumannya.
"Dia masih sama ya, baik banget," ucap Ciya pada Bundanya.
"Hmm, dia masih sama. Dia kayaknya kangen banget sama kamu," ujarnya yang diangguki oleh Ciya.
"Oh iya, kayanya dia beberapa hari kebelakang lihat kamu deh," ujar Bunda Jihan mengingat cerita yang disampaikan Kenji tadi.
"Kapan? Di mana?" tanya Ciya panik.
"Bunda juga gak tau. Tapi katanya waktu dia makan siang dia lihat orang kaya kamu. Setelah dia jelasin karakteristiknya, Bunda yakin kalau orang itu emang kamu," jelasnya.
"Tapi dia gak yakin kalau itu Ciya kan, Bun?" Ciya khawatir.
"Hmm, dia ngira itu orang yang mirip sama kamu," jawabnya.
Ciya menghela nafas lega. "Yuk ke bawah lagi, dia juga udah pulang."
Mereka kembali melanjutkan aktifitas mereka dengan cake buatannya. Niatnya mereka akan menghiasnya.
"Gimana? Daddy kamu sama yang lainnya mau ke sini?" tanya Bunda Jihan.
"Kayanya lihat nanti aja. Kalau Daddy pulang cepat mungkin mau ke sini. Tapi kalau pulang malam mungkin gak bisa."
"Oh ya udah kita tunggu mereka dulu aja."
****
Bagas masih berkutat dengan dokumen. Setelah tadi mengantar Ciya, dia sekarang berada lagi di rumah sakit.
"Kerjanya emang bagus. Tapi sayang rasa sakit yang kamu kasih ke putri saya sangat buruk," ujarnya.
Setelah dia melihat hasil kerja Axel, Bagas membereskan kembali dokumennya. Setelahnya dia akan berkeliling rumah sakit untuk mengontrol kinerja dan juga sekalian mengontrol fasilitas yang ada.
Setelahnya barulah dia bisa pulang. Dia menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.
"Telpon dulu kali ya," ucapnya. Pria itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang rumah.
"Halo, Vi. Lagi di rumah?" tanya Bagas.
"Iya Dad, ini udah di rumah. Tadi habis belanja sama Mommy. Kenapa?" tanya Javier di seberang sana.
__ADS_1
"Tadi Ciya telpon, katanya bisa gak kalau kita ke rumah Bunda dia, kamu gimana? Bisa gak?" Bagas bertanya untuk memastikannya.
"Oh bentar Dad, tanya Mommy dulu," jawabnya.
Bagas menunggu putranya menjawab.
"Dad, kata Mommy bisa. Mau ke sana sekarang?" tanya Javier.
"Oke kalau kalian bisa. Daddy berangkat sekarang dari rumah sakit. Kalian langsung ke sana aja ya," ujarnya.
"Oke Dad."
Telepon ditutup setelah mereka selesai dengan pembicaraannya. Tak lupa Bagas juga mengirim pesan pada Ciya bahwa dia bisa datang ke sana.
Bagas melajukan mobilnya menuju rumah Ciya. Beruntung hari belum terlalu sore jadi dia sempat untuk datang ke sana.
Tiba di sana yang dia lihat sepi. Sepertinya Javier dan istrinya belum tiba. Selesai memarkirkan mobilnya, Bagas menekan bel rumah.
Ting tong
Ciya yang sedang berbincang setelah mengias kue-nya segera bangkit untuk membuka pintu. Dia tahu jika yang datang antara Daddy atau Mommy-nya.
"Dad!!" Ciya memeluk Bagas begitu pintu terbuka.
"Kamu kenapa?" Bagas membalas pelukan itu sebelum kemudian bertanya.
"Enggak apa-apa. Cuma kangen aja," jawabnya.
"Udah datang. Sibuk banget ya kayanya di rumah sakit," ucap Bunda Jihan saat adiknya sudah tiba di sana.
"Iya Kak, sibuk juga gak terlalu sih. Tapi masih bantu direktur baru buat adaptasi aja," jawabnya.
Bunda Jihan mengangguk. "Istri kamu sama Javier mana?" tanya Bunda Jihan saat dia sama sekali tak melihat orang itu.
"Kayanya masih di jalan. Tadi kan aku berangkat langsung dari rumah sakit. Mereka berangkat dari rumah," jawabnya.
"Oh gitu. Pantesan kalian gak datang bareng."
Mereka menunggu kedatangan Juliette dan juga Javier.
Tak lama setelah mereka berbicara seperti itu, bel kembali berbunyi yang menandakan jika orang yang mereka tunggu telah tiba.
Ciya kembali lagi untuk membuka pintu dan menyambut kedatangan mereka.
"Na, kenapa jidat lo?!!" tanya Javier heboh ketika dia melihat kening Ciya terdapat perban.
"Gak apa-apa. Cuma kecelakaan kecil tadi," ucapnya. "Udah diobatin samq Daddy, kok."
"Lagi ngapain sih sampai kaya gitu?!" bentak Javier.
__ADS_1
Baru saja dia meninggalkan Ciya beberapa jam tapi saudaranya itu sudah terluka.
"Udah-udah, kita bicara di dalam yuk." Juliette memisahkan mereka dan mengajak mereka masuk.
"Hai Kak," sapa Juliette begitu dia tiba di dalam. Tak lupa mereka saling berpelukan.
"Kok lama?" tanya Bunda Jihan.
"Iya Kak. Tadi kita baru aja datang, jadi mandi dulu," ucapnya yang diangguki oleh Bunda Jihan.
"Yuk duduk."
"Kenapa nih tiba-tiba ngundang kita ke sini?" tanya Bagas sudah tak sabar.
"Ini loh anaknya tadi abis bikin cake. Katanya mau dicobain sama Daddy sama Mommy-nya," jawab Jihan.
"Loh, gue enggak, Na?" tanya Javier terkejut karena namanya tidak tersebut.
"Iya lo juga. Udah diem!" Javier tersenyum puas saat akhirnya namanya disebut juga.
"Mana? Boleh potong buat Daddy?" tanya Bagas.
Walau hanya Bagas yang meminta, tapi tak tanggung-tanggung, Ciya juga memotongkan untuk Juliette dan juga Jihan.
"Lo pilih kasih banget. Gue gak diambilin," protes Javier.
"Ambil sendiri kenapa sih? Punya tangan kan?" jawab Ciya.
Javier menghela nafas saat kali ini dia tak bisa merayu Ciya. Akhirnya pria itu mengambil sendiri kue yang ada di hadapannya.
Suapan pertama mereka, ekspresinya sangat sulit diartikan. "Enak banget Na." Orang pertama yang berkomentar adalah Javier.
Bagas dan Juliette mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh putranya. "Ini beneran lo yang bikin?" Javier agak ragu karena sejauh ini yang dia tahu Ciya tak bisa memasak.
"Eheheheh kebanyakan Bunda sih yang bikin gue cuma bantu doa," kekehnya.
"Udah gue juga kalau lo nggak bisa masak seenak ini," jawab Javier.
Namun meski begitu mereka tetap menikmati cake itu hingga habis. Untuk minumnya mereka disiapkan jus jeruk oleh Ciya.
"Lu mau tidur di sini Na?" tanya Javier.
Ciya mengangguk mengiyakannya. "Udah bilang juga kok sama Daddy, dan Daddy kasih izin," jawabnya.
"Yah, gue gak ada teman dong di sana," ucap Javier.
Kalian tahu sendiri bagaimana takutnya pria itu jika tidur sendiri di tempat baru. "Ya udah sih, berdo'a aja biar ada pengganti gue di samping lo," kekeh Ciya menakut-nakuti Javier.
"Na, lo jahat banget sih sama gue," rengek Javier.
__ADS_1
Bukannya membantu dan mendukung Javier, semua yang ada di sana justru malah menertawakannya.
"Lagian kamu udah gede cowok pula masa takut sama yang begituan sih," ujar Juliette pada putranya.