
Awal kemajuan bagi hubungan Ciya dan Axel, pasalnya pria itu sepertinya sudah mulai membuka hati untuk Ciya.
Lihatlah saat ini, Axel dengan senyum tampannya menerima handuk pemberian Ciya.
Pria itu baru saja selesai olah raga dan Ciya segera menghampiri Axel.
“Kak Axel cape?” tanya Ciya. matanya berbinar melihat keringat yang bercucuran di pelipis Axel.
“Hmm lumayan,” jawab Axel.
“Mau ke kantin? Ciya yang traktir.” Ciya mencoba mengeluarkan apa yang ada dalam benaknya. Semoga kali ini Axel tak menolaknya.
“Boleh. Sama siapa aja?” tanya Axel. Axel baru menyadari jika hari ini Ciya datang sendiri untuk menemuinya.
“Berdua. Emang ada siapa lagi?” Ciya balik bertanya. Sebenarnya dia heran mengapa Axel bertanya demikian, namun dia hanya diam.
“Kayanya gak seru kalau cuma berdua.” Axel mengusap belakang kepalanya canggung.
“Ahh gitu ya. Kalau gitu, Kak Axel mau ajak siapa?” Ciya mencoba mengerti Axel. Mungkin pria itu masih merasa canggung jika hanya berdua dengannya.
“Teman-teman lo. Daania atau yang lain mungkin,” jawab Axel cepat seakan dia sudah memikirkan sebelumnya.
“Oke, Ciya chat mereka aja ya. Kita duluan ke kantin.” Ciya mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk Daania.
“Ayo! Mereka nanti nyusul.” Dengan semangat, Ciya menarik tangan Axel. Axel dengan posisi berada di belakang Ciya mulai merubah ekspresi wajahnya.
Wajah yang semula berseri-seri itu kini terlihat sangat dingin. Tak ada sedikitpun senyum di bibirnya.
“Duduk di sini Kak, biar Ciya yang pesan. Kakak mau apa?” tanya Ciya.
“Samain aja kaya lo,” jawab Axel.
“Oke. Tunggu ya!” Ciya berlari kecil dengan semangat. Untuk pertama kalinya Axel bersedia berbicara bahkan makan dengannya.
***
Beberapa pasang mata itu berbinar melihat makanan yang hampir memenuhi meja kantin kan mereka tempati itu.
“Silahkan dimakan!!” semangat Ciya.
“Bry, lo yakin pesan segini banyak?” tanya Beyza. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan bahwa dia suka dengan makanan sebanyak ini.
“Udah kalo lo gak mau gak usah makan. Gue bisa habisin semuanya,” ucap Daania. Ya, mereka datang ke kantin sesaat setelah Ciya memesan makanannya.
Sementara Ciya, Daania dan Beyza membahas makanan, berbeda dengan Axel. Sedari tadi netranya tak lepas dari sosok gadis yang juga datang bersama Daania dan Beyza.
__ADS_1
Gadis yang ditemuinya beberapa hari lalu di toko buku.
“Lo juga makan.” Seketika suasana di meja mereka menjadi sepi saat Axel berbicara demikian pada Daisy.
“Ya? Ah iya Kak,” ucap Daisy canggung.
Ciya sepertinya juga mulai sadar. Sikap Axel padanya terasa sangat berbeda dengan sikap Axel pada Daisy.
“Ahahaha iya selamat makan.” Daania yang paham akan keadaannya mencoba mencairkan suasana dan mengalihkan perhatian mereka.
Napsu makan Ciya seakan melayang begitu saja. Dia tak ingin makan, dia hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di hadapannya tanpa memakannya sedikitpun.
“Kenapa gak dimakan? Gak enak ya?” bisik Axel pada Ciya saat melihat gadis itu hanya memainkan makanannya.
“Ah enggak Kak, enak kok.” Ciya berusaha keras menampilkan senyumnya. Dia tak ingin Axel melihat ekspresi lain di wajahnya selain senyumnya.
“Tau dari mana kalau itu enak? Lo aja belum makan sesuap pun.”
“Iya ini Ciya makan sekarang.” Perlahan Ciya mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya meski dia tak ingin.
Acara makan mereka berlalu dengan lancar walaupun menurut Ciya itu jauh dari kata lancar.
“Makasih makanannya. Gue balik ke kelas dulu ya.” Axel berpamitan dan mengusap surai Ciya lembut.
“I-iya,” jawab Ciya.
Bukan hanya Ciya yang terkejut. Ketiga temannya juga sama terkejutnya, bahkan mereka mulut mereka menganga dengan sempurna.
“Ciya? Lo pake pelet apa?” tanya Daania random setelah Axel hilang dari pandangannya.
“Ih Daania sembarangan! Ciya gak pake pelet!” kesalnya.
Ciya pergi dari sana menghentakkan kakinya.
***
Ciya berjalan lesu saat keluar dari kelas. Baru saja harinya terasa menyenangkan karena Axel mulai baik padanya, namun beberapa menit lalu orang tuanya menghubunginya bahwa mereka tidak bisa menjemput Ciya.
Orang tua Ciya malah menyarankan agar Ciya pulang dengan temannya saja dibanding harus naik bus atau taxi.
“Beyza, Ciya boleh ikut pulang gak?” Ciya memohon pada Beyza agar gadis itu bersedia mengantarnya pulang.
“Yah maaf nih ya, masalahnya gue juga pulang naik bus,” jawab Beyza. Ciya menghela napasnya. Harapannya hanya tinggal Daania.
“Daania?” tanya Ciya.
__ADS_1
Daania yang sudah paham maksud Ciya segera menjawab.
“Maaf Bry, gue juga gak bisa. Nyokap gue jemput dan gue langsung di antar ke tempat les.”
Hampir saja Ciya menangis. Bagaimana dirinya akan pulang sekarang?
“Gue pulang naik bus. Rumah kita searah juga kan? Lo mau bareng?” Daisy datang entah dari mana dan langsung berucap demikian pada Ciya.
“Nah kebetulan dong. Kalau gitu kita duluan ya. Daisy jaga Ciya ya.” Daania dan Beyza pergi dari sana setelah menitipkan Ciya pada Daisy.
“Udah gak usah nangis,” ucap Daisy.
“Ada apa ini?” Axel yang melihat raut khawatir di wajah Ciya segera menghampiri Ciya dan Daisy.
“Kak Axel?” ucap Ciya.
“Iya ini gue. Kalian kenapa?” tanyanya lagi.
“Ini Kak, Ciya mau pulang tapi bunda sama ayah Ciya gak bisa jemput. Daania sama Beyza juga gak bisa antar, jadi Ciya mau pulang sama Daisy aja naik bus,” adunya.
“Gak usah naik bus. Kalian berdua tunggu di sini, gue tinggal sebentar.” Axel berlari menuju ke kelasnya kembali.
“Lan, gue pinjem mobil lo bentar, lo pulang pake motor gue ya,” ucap Axel.
“Bentar! Ada apaan nih?” jawab Dylan. Tak biasanya Axel meminjam mobilnya seperti ini.
“Udah ah mana kuncinya. Nanti gue jelasin di rumah lo.” Axel merebut kunci mobil yang memang sedari tadi sudah ada dalam genggaman Dylan dan segera memberikan kunci motornya pada Dylan.
“Woy Xel! Sialan!!” teriak Dylan saat Axel sudah kembali berlari keluar kelas.
“Udahlah yuk biarin aja dia.” Dhavin yang sedari tadi ada di sana mulai membuka suaranya. Sejak tadi dia hanya memerhatikan interaksi Dylan dan Axel.
Dengan helaan napas pasrah, Dylan akhirnya pulang ke rumah menggunakan motor Axel dengan Dhavin.
***
“Sorry lama. Yuk pulang, gue antar.” Axel berjalan mendahului Ciya dan Daisy menuju parkiran.
“Masuk,” ucap Axel pada keduanya.
Kedua gadis itu terdiam cukup lama, mereka bingung harus duduk di mana. Jika mereka berdua duduk di belakang, kesannya Axel adalah sopir mereka. Tapi jika salah satu harus duduk di depan, siapa orang itu?
“Lo duduk di depan aja.” Akhirnya Daisy mengalah dan memilih duduk di belakang.
“Tapi...”
__ADS_1