
Ciya masih berusaha untuk melepaskan pelukan Javier. Selain karena terkejut, Ciya juga merasa bingung dengan perlakuan Javier yang bisa dibilang tiba-tiba itu.
"Kenapa sih?" tanya Ciya sambil berusaha melepaskannya.
"Kalau gue kasih tahu lo, lo bakal kasih apa sama gue?" tanya Javier sebelum akhirnya dia melepaskan pelukannya.
"Kalau gitu gue milih gak tahu apa-apa aja." Setelah mengatakan itu, Ciya berlalu menjauhi Javier.
"Na, gue serius loh. Lo pasti suka sama apa yang bakal gue bilang sama lo," ujarnya berusaha membuat Ciya penasaran.
"Ya udah, apa?" Ciya kembali bertanya.
"Ck, gak seru," ucapnya kecewa saat Ciya tak kunjung mengatakan apa yang dia inginkan.
"Iya, lo mau hoodie yang tadi, kan? Warna army," jawab Ciya dengan cepat.
Javier langsung menampilkan senyumnya. Dia sudah menduga jika Ciya sangat memperhatikannya dan gadis itu juga pasti tahu dengan seleranya.
"Beneran ya?" Javier kembali memastikan agar Ciya tak berbohong.
"Iya. Lusa deh lusa," lanjut Ciya.
Jika seperti ini, barulah Javier bisa bicara dengan terang-terangan.
"Kata Daddy, kita bisa liburan ke Indonesia kalau kita dapat nilai sempurna di tes kita nanti," ucapnya dengan girang.
Ciya tak menunjukkan reaksi apapun. Dia hanya terdiam masih tak percaya dengan yang dikatakan oleh Javier.
"Lo serius?" Akhirnya dia mengeluarkan suaranya.
Javier mengangguk dengan semangat. Ciya yang akan bertemu dengan Bunda-nya, tapi malah dia yang lebih antusias.
Setelah Javier mengangguk, Ciya tersenyum lebar. Dia bahagia bukan main. Meski hanya liburan, tapi dia bisa melepas rasa rindu pada Bunda-nya.
Saking bahagianya, Ciya sampai tak bisa berkata-kata.
"Jadi mending sekarang lo belajar biar nilai lo gak ancur," goda Javier.
Ciya dan Javier memang bukan tipe mahasiswa yang sangat pintar. Mereka ada di tengah-tengah, tapi Javier yakin jika dia belajar sedikit lebih keras, dia akan mengalahkan semua orang. Itulah yang pria itu katakan.
"Lo juga. Jangan sampai gue berangkat ke Indonesia cuma sendiri," jawab Ciya.
"Gue dari lahir emang udah pintar," jawab Javier tak mau kalah.
"Mom, Ciya ke kamar dulu ya. Mau belajar," ucap Ciya dengan sangat girang.
__ADS_1
"Hmm. Kamu juga, benar kata Ciya. Jangan sampai Ciya berangkat ke Indonesia cuma sendiri," ucap Juliette yang dia arahkan pada Javier.
"Iya Mom pasti. Aku gak bakal kalah dari Yonna," ucapnya.
Setelah mengatakan itu, keduanya naik ke kamar mereka masing-masing dan di sana hanya menyisakan Bagas dan Juliette.
"Lima tahun emang bukan waktu yang singkat. Wajar aja kalau dia rindu sama Bunda-nya," ucap Juliette sambil memandang nanar pada kamar Ciya.
"Hmm. Tapi kita lakuin ini bukan tanpa alasan," jawab Bagas.
****
Diam-diam Bagas memperhatikan keponakannya itu dari jauh. Sebenarnya sudah lama dia melakukan hal ini. Beberapa perawat di rumah sakit tempat dia bekerja sesekali mengatakan jika dirinya sudah seperti mata-mata.
Tentu saja Bagas tak perduli dengan hal itu. Yang dia perdulikan saat ini hanya kesehatan Ciya.
Dia tahu dari Ayah Ciya jika gadis itu mengidap penyakit. Itulah alasan kenapa dia sering kali mengikuti Ciya ke manapun.
"Dasar anak mudah," ucapnya. Saat ini dia sedang berada di depan sekolah Ciya.
Sudah beberapa kali dia melihat Ciya mengejar seorang pria. Balasan pria itu sangat buruk pada Ciya, tapi sepertinya Ciya tak ingin menyerah.
"Kalau aku ayahnya, udah aku larang dia," sambungnya.
Selama ini dia memang jarang menemui Ciya karena kesibukannya. Dia hanya akan bertemu dengan keponakannya itu jika Ciya drop dan dirawat di rumah sakit.
"Aku sangat khawatir, tapi aku bisa apa?" ucapnya dari kejauhan.
****
"Yaahh akhirnya selesai," ucapnya.
Kuliah di jurusan Desain Grafis memang bukan hal yang bisa dikatakan mudah, tidak juga dikatakan sulit.
Dia hanya perlu ketelitian dan juga keuletan untuk memahaminya.
Tapi selama ini dia sama sekali tak pernah mengeluh karena dia sadar, sekolah di sana bukan dengan uang yang sedikit.
Itu sebabnya dia harus selalu bersyukur atas apa yang sudah terjadi sekarang.
"Bunda lagi apa ya?" ucapnya.
Selama lima tahun ini bukan berarti dia sama sekali tak berkomunikasi dengan Bunda-nya.
Dia hanya berkomunikasi beberapa bulan sekali. Selain karena kesibukan mereka, Bunda-nya juga mengatakan jika itu untuk kebaikan Ara.
__ADS_1
Entah apa yang sedang Bunda-nya lakukan hingga mereka harus melakukan ini.
"Na, boleh gue masuk?" tanya Javier. Tentu saja, siapa lagi selain pria itu yang akan mengganggunya.
"Hmm masuk aja!" Ciya agak berteriak takut Javier tidak bisa mendengarnya.
Pintu terbuka dan menampilkan pria itu yang datang dengan ponsel di tangannya. Pria itu juga menggaruk bagian belakang kepalanya seolah kebingungan.
"Kenapa lo?" tanya Ciya heran.
"Ini, gue masuk aplikasi, tapi kok gini ya?" tanya pria itu sambil memperlihatkan layar ponsel pada Ciya.
Tertera di sana jika verifikasi melalui email.
"Lah, kan lo tadi masukin email lo?" tanya Ciya memastikan.
Javier mengangguk. Rasanya dia sudah benar memasukan emailnya. Tapi kenapa tampilannya jadi seperti ini?
"Astaga Vi. Lo baca bisa gak sih? Ini tuh buat verifikasinya dikirim lewat email lo. Dan buat buka itu lo harus lihat email lo dan tinggal tekan tautan yang mereka kirim."
Ah, ini memang buka kali pertama bagi Ciya untuk mengajarkan Javier.
Pria yang memiliki paras tampan itu rupanya gagap teknologi. Dia selalu takut salah dan berakhir kebingungan seperti sekarang.
"Ohh gitu ya. Ya udah maaf, jangan pakai marah segala," ucapnya sambil memandang Ciya.
Ciya merotasi kan bola matanya karena tak habis pikir dengan Javier.
"Katanya lo harus kursus deh," ucap Ciya yang hanya diacuhkan oleh Javier.
"Gini nih, lo perhatiin baik-baik," ucap Ciya sambil mengambil alih ponsel milih Javier.
Kemudian Ciya mengajarkannya pada Javier layaknya sedang memberikan tutorial yang ada di internet.
"Ahh gue paham," ucap Javier.
Setelah melihat Ciya yang melakukannya, dia pikir itu tak terlalu sulit. Lalu kenapa dirinya tak bisa melakukannya?
"Ngerti?" tanya Ciya.
Javier mengangguk. Ciya sudah sangat hapal dengan Javier. Sekarang pria itu mengatakan mengerti, tapi beberapa hari lagi jika ditanya hal yang sama, dia akan kembali melupakannya.
"Ah udahlah. Nanti kalau ada yang susah, lo temuin gue aja," ucapnya.
Javier mengangguk. Memang itu yang sangat dia harapkan.
__ADS_1
"Udah itu doang?" Cika kembali bertanya, takutnya masih ada hal lain yang harus dilakukan Ciya.
"Udah. Gue balik, makasih ya." Ciya mengangguk dan memperhatikan Javier kembali ke kamarnya.