
Dia berlari dengan cepat Setelah dia mendapatkan kabar jika Axel terjerat sebuah kasus penggelapan dana rumah sakit di rumah sakit Daddy-nya. Ciya sangat tahu jika dia bukan orang seorang pria yang seperti itu.
Makanya sekarang dia sedang berlari di rumah sakit untuk menemui Daddy-nya.
"Daddy." Ciyaa membuka pintu ruangan Daddy-nya.
"Sayang Kenapa kamu datang?" tanya Daddy-nya dengan lembut.
"Udah lihat ini." Ciya memperlihatkan sebuah artikel yang mengatakan bahwa direktur Rumah Sakit mereka yang tak lain adalah aksara Lorenza telah menggelapkan dana Rumah Sakit sebanyak miliaran rupiah dan direktur itu akan dikenakan sanksi sesuai dengan keharusannya.
"Oh itu Iya itu emang benar. kenapa?" tanya Bagas pada Ciya.
"Ciya mau tanya, daddy yakin kalau ini beneran? Daddy yakin kalau ini bukan settingan?" tanya Ciya.
Dia berpikir seperti itu karena lima tahun yang lalu Daddy nya juga melakukan hal yang sama.
Pria itu sudah merencanakan tentang kematian Ciya dan juga keberangkatan Ciya menuju ke luar negeri dan Ciya sangat yakin jika Daddynya tahu tentang Axel dan dirinya.
" Gimana maksud kamu?"
"Daddy, Ciya tahu kalau daddy kenal sama Kak Axel. Daddy tahu kan masalah kak Axel sama Ciya?" tanya Ciya.
Bagas sudah kehabisan kesabaran dia melakukan ini Untuk ciya Namun sepertinya Ciya tidak mengharapkannya.
"Dad kalau Ciya memohon sama Daddy sekarang buat nggak lakuin ini Daddy bisa nggak turutin kemauan Ciya?" pintanya.
"kamu mau lindungin dia lagi? Berapa besar sih cinta kamu sama dia? Sampai kamu mati-matian kayak gini. Ciya, sadar! Sebesar apa dulu dia sakitin kamu bahkan sampai kamu dinyatakan meninggal dia masih nyakitin kamu. Kamu masih mau terima dia?" tanya Bagas.
"Kalau ciya bilang Ciya masih mau maafin dia dan mau terima dia, Daddy mau berhenti?" Bagas mendengus ketika mendengar hal itu dari putrinya.
"Kalau Daddy bilang Daddy gak akan berhenti kamu mau apa?"
"Oke nggak papa kalau Daddy gak akan berhenti, Ciya cukup ada di samping Kak Axel dan selesaiin ini semua bersama itu udah cukup. Tapi asal daddy tahu kalau Daddy masih lanjutin hal ini Ciya Udah gak mau lagi ketemu sama Daddy."
"Sebelumnya Makasih udah rawat Ciya sejauh ini sampai Ciya sembuh. Makasih juga udah peduli sama ciya sampai sejauh ini bahkan sampai mau balas dendam sama orang yang Ciya cintai sampai saat ini juga," ucap Ciya.
ucapan putrinya itu membuatnya sadar jika putrinya memang tidak bisa melepaskan Axel. perasaannya masih sama seperti dulu.
Jika balas dendam ini harus dihentikan maka dia harus memaksa Axel untuk mencintai dan menyayangi putrinya.
"Oke kalau kamu emang sesayang itu sama dia temuin dia sekarang karena Daddy gak yakin dia akan bertahan lama dengan segala asal luka yang dirasakan sekarang."
"Maksud daddy?" tanya ciya.
"dia ada di Rooftop sekarang." mata Ciya terbelalak begitu daddynya mengatakan hal itu.
__ADS_1
Walaupun dia berusaha berpositif thinking tapi Pikirannya pada nyatanya tetap negatif. Apa yang dilakukan Axel di Rooftop Ketika pikiran pria itu sedang kalut seperti sekarang?
Ciya segera berlari menuju rooftop. lift yang akan dia gunakan tidak kunjung terbuka sehingga membuat kesabarannya habis.
pada akhirnya dia melewati tangga darurat untuk pergi ke tempat yang dia tuju.
ceklak
pintu Rooftop Terbuka membuat seseorang yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara sementara itu.
Cia Tengah mengatur nafasnya agar kembali beraturan.
"Kak Axel," panggil Ciya dengan nafas yang terngengah.
"Cia Ngapain kamu di sini? tanya Axel heran.
"Ciya yang harusnya tanya Kak Axel ngapain Di Sini?" tanya Cia dengan emosi.
"aku lagi tenangin pikiran kenapa?"
bukannya menjawab Dia Justru malah menangis.
Gadis itu menangis sejadi-jadinya lututnya sudah gemetar karena lemas sebelum akhirnya tubuhnya ambruk dia menangis tersedu-sedu.
" Kamu kenapa?" tanya Axel.
"Kakak masih bisa tanya aku kenapa? aku yang harus tanya gitu sama kakak. Kakak kenapa? Kenapa ada di sini?" tanya Ciya.
"Aku kan udah bilang kalau aku lagi nenangin pikiran."
"Kenapa harus di Rooftop?" dia menangis terus karena sangat khawatir.
"Ssst jangan nangis." Axel marangkul Ciya ke dalam pelukannya.
"jangan nangis Kamu ini kenapa sebenarnya?
"Kakak masih bertanya aku kenapa? kakak yang bikin khawatir aku?"
Axel menjauhkan tubuhnya dari Ciya dan memandang Netra Gadis itu yang sudah mengeluarkan banyak air mata.
"Kamu khawatir sama aku." Axel mencoba bertanya takutnya dia salah dengar. Entah kenapa lihat ciya yang khawatir padanya membuat hatinya menghangat dan senyum tipis mengembang begitu saja.
"Kok malah senyum sih? Aku ini lagi khawatir loh," ucapnya sambil menangis.
"Iya iya Maaf udah bikin kamu khawatir."
__ADS_1
Axel kembali memeluk tubuh dia hingga akhirnya Gadis itu mulai tenang tak lagi menangis.
"Kamu khawatir sama aku?" Axel kembali bertanya Entah kenapa melihat dia yang khawatir padanya membuatnya sangat senang sehingga dia ingin mendengar itu terus-menerus.
" Iya udah berapa kali aku bilang kalau aku khawatir. Lain kali kalau mau nenangin pikiran jangan ke Rooftop, cari aja yang datar di bawah jangan di atas kayak gini kalau jatuh gimana?" Kesal Ciya.
" Iya aku minta maaf ya lain kali aku Kalau nanangin pikiran di rumah aja," jawabnya.
"dari siapa kamu tahu aku di sini?" tanya Axel penasaran dari.
"Daddy."
"mending sekarang kamu pulang."
Mendengar hal itu dia sontak menatap Axel dengan tatapan tajam.
"Bahkan setelah aku hilang lima tahun pun Kakak masih berani nolak aku? Emang aku gak semenarik itu di mata Kakak?" Mendengar hal itu dari mulut ciya membuat Axel menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Enggak bukan gitu setelah ini aku nggak bakal punya apa-apa lagi, harta atau mungkin teman atau yang paling parah nyawa aku bisa kehilangan semuanya, dan aku gak mau dengan kamu stay sama aku kamu malah jadi menderita. jadi kamu boleh pergi sekarang sebelum kamu rasain penderitaan itu," ucap Axel.
Air matanya telah mengalir, dia sudah sepasrah itu sekarang. Dia sudah tak peduli lagi dengan hidupnya.
"Kak Axel nggak tahu Berapa besar penderitaan yang udah aku lewatin sampai sejauh ini. kalau cuma masalah harta teman atau nyawa Aku bahkan bisa lakuin Apapun buat kakak. Kakak udah tahu dari dulu seberapa besar rasa sayang aku buat kakak jadi bisa nggak kakak nggak usah raguin aku? Aku mau sama kakak kali ini pun walaupun Kakak masih tolak aku Aku bakal berjuang kayak dulu. Aku bakal ulang semua hal yang pernah aku lakuin buat dapat hati kakak."
"Sebenarnya hati kamu itu terbuat dari apa? Kenapa bisa sebaik dan setegar ini?" tanya Axel.
"itu semua karena kakak yang udah latih hati aku supaya nanti bisa jadi sebesar dan sekuat ini. Jadi sekarang kalau kakak Butuh sesuatu Kakak bisa bilang sama aku. Aku mau balas jasa kakak karena udah bikin aku kuat kayak sekarang."
Axel yang Mendengar hal itu tersenyum simpul tangannya mulai melingkar di tubuh Ciya dan memeluk Gadis itu dengan erat.
"makasih Makasih udah kembali dengan Ciya yang masih sama dengan Ciya yang dulu aku kenal. dan aku janji setelah ini aku gak bakal sakitin kamu lagi."
Cia mengangguk Mendengar hal itu membuat hatinya menghangat dia tak menyangka jika kebahagiaan yang sudah dia tunggu dari lama bisa datang sekarang.
akhirnya Setelah perjuangan yang dia lakukan berbuah sekarang dan itu sangat manis.
Itulah akhir dari kisah mereka dengan sebuah kebahagiaan manis yang mereka dapatkan dari perjuangan Ciya Bryonna dan penantian seorang Axeo Lorenza.
"Aku sayang kamu," ucap Axel yang membuat senyum di bibir Ciya mengembang.
"Ciya juga sayang Kak Axel," jawabnya mereka berpelukan di sana cukup lama hingga pada akhirnya matahari mulai tenggelam.
" Indah kan?" tanya Axel dia beberapa kali memang pernah melihat matahari tenggelam di sini dan beruntung hari ini sangat cerah sehingga dia bisa melihat pemandangan itu lagi bersama Ciya.
tentang masalah aku yang sekarang lagi ada di depan mata aku janji bakal selesaian ini dan buktiin ke semua orang kalau aku nggak salah. aku sama sekali gak pakai dana Rumah Sakit buat kepentingan aku sendiri. Ciya mengangguk "Aku percaya sama kakak."
__ADS_1