
"Kak Axel, bisa bicara sebentar?"
Axel memutar badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Siapa yang Kak Axel bilang murahan?" lanjut gadis itu.
Axel menaikan alisnya. Sama halnya dengan Axel, Dylan juga heran dengan gadis ini.
"Dia yang Kak Axel sebut murahan?" Axel mengikuti arah pandang gadis itu.
"Apa sih urusan lo?" kesal Axel.
"Gue sahabat dari cewek yang barusan lo bilang murahan. Daania, nama gue Daania. Mungkin lo gak akan peduli sama nama gue, tapi asal lo tau, gadis yang lo bilang murahan itu berjuang mati-matian buat dapatin lo!" Niatnya untuk pergi ke kantin kandas karena tak sengaja mendengar desisan Axel.
"Gue gak peduli semua itu. Lo bilang sama cewek aneh itu, jangan ganggu hidup gue!" Axel juga menaikan suaranya.
"Lo bilang sendiri sama orangnya dan ingat, bilang baik-baik gak usah pake bahasa kasar. Bahasa kasar lo lebih murahan tau gak?!" Daania menendang tulang kering Axel saking kesalnya dan langsung pergi dari sana.
"Sialan! Cewe gila!!" Axel berteriak keras. Dia tak peduli jika kini dirinya menjadi pusat perhatian.
"Wahh ada juga yang berani sama lo." Dylan terkekeh geli.
Baru kali ini dia melihat Axel diperlakukan seperti itu terlebih oleh seorang gadis.
"Kak Axel?!" teriak seorang gadis.
Axel kembali merotasikan bola matanya. Baru saja kekesalannya sedikit memudar kini penyebab kekesalan lainnya datang lagi.
***
Setelah selesai dengan pelajaran Geografi-nya, Ciya keluar untuk ke kantin.
Sementara kedua sahabatnya masih setia dengan tugas lain yang akan dikumpulkan hari ini.
Dalam perjalanan, Ciya bertemu lagi dengan kakak kelas yang dia kenal. Kakak kelas beranting yang memberitahunya nama Axel.
"Oh Kakak!" serunya saat mereka berpapasan.
Pria itu berhenti berjalan dan menatap Ciya.
"Ciya tahu nama Kakak sekarang, kalau gak salah nama Kakak Kenji, kan?" ucap Ciya mulai menebak.
"Tau dari mana?" tanya Kenji. Sejak pertama bertemu dengan Ciya, Kenji memang sedikit tertarik dengan gadis itu dan sekarang mereka tak sengaja bertemu.
"Teman Ciya," bangga Ciya. Ciya menyimpan ibu jari dan telunjuknya di bawah dagu.
"Mau nanya apa lagi sekarang?" tanya Kenji. Pria itu sedikit menarik Ciya ke pinggir saat gadis itu tak sengaja akan tertabrak oleh anak-anak yang berlarian.
"Makasih Kak. Enggak kok Ciya gak nanya lagi, cuma nyapa aja," jawabnya.
Kenji mengangguk dan sedikit tersenyum.
"Oh Kakak senyum," serunya.
Memang sangat langka menantikan seorang Kenji tersenyum dan kali ini Ciya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1
Samar-samar Ciya mendengar teriakan dari arah kanan. Dengan spontan Ciya dan Kenji menolehkan kepalanya melihat siapa yang baru saja berteriak.
"Kak Axel?!" teriak Ciya saat netranya menangkap seseorang yang dia suka.
Ciya melambaikan tangannya dengan raut bahagia kemudian berlari menghampiri Axel, namun sebelum itu dia...
"Kak Kenji, Ciya pamit dulu ya." Ciya melambaikan tangannya pada Kenji dan segera berlari ke arah Axel.
"Cih dasar anak itu." Kenji sedikit tersenyum melihat tingkah laku Ciya yang seperti anak kecil.
Tak sampai di sana, Kenji sedikit memerhatikan interaksi Ciya dan Axel.
***
"Kak Axel kenapa tadi?" tanya Ciya.
Axel sungguh tak nyaman dengan kehadiran Ciya, namun kemudian dia menjawab pertanyaan Ciya.
"Ditendang teman lo," kesalnya.
"Siapa? Teman Ciya banyak loh, satu kelas semua teman Ciya," hebohnya.
"Daania," jawab Axel.
Dylan yang memperhatikan percakapan temannya itu melongo heran.
"Bro, ini lo?" tanya Dylan. Dia meragukan jika yang ada di sampingnya ini adalah Axel.
"Iyalah, apaan sih lo?" bisik Axel.
"Wahh Daania keterlaluan! Tenang aja, Ciya yang balas dendam," ucap Ciya meyakinkan Axel.
"Oke." Axel mengusap surai Ciya lembut.
Ciya tertegun dengan perlakuan Axel. Satu sisi dia merasa sangat bahagia, rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan dalam perutnya.
Tapi, di lain sisi Ciya juga merasa aneh dengan perlakuan Axel padanya.
Tadi pagi pria itu bahkan membuang bekal yang diberikan Ciya, namun mengapa sekarang menjadi sangat lembut? Bukankah itu terlalu tiba-tiba?
"Gue pergi dulu," pamit Axel.
Perkataan Axel barusan sekaligus menjadi alarm penyadar Ciya dari keterkejutannya.
"Ah iya Kak." Ciya tersenyum lebar hingga kedua matanya hampir tertutup.
Axel melewati Ciya dan melanjutkan langkahnya menuju tempat tujuannya.
***
"Daania?!!!" Ciya masuk ke kelas dengan langkah besar.
Niatnya pergi ke kantin terhenti saat dirinya mendapatkan kabar dari Axel jika Daania menendang Axel.
"Apa sih! Berisik Ciya," kesal Daania. Gadis itu memejamkan matanya sebelum kemudian memandang Ciya tajam.
__ADS_1
"Daania apain kak Axel?" Ciya meletakan kedua tangannya di pinggang.
"Ada apa sih, Daan?" tanya Beyza yang memang tak tahu apa-apa.
"Gak tau nih anak ribut mulu," acuh Daania.
"Ihh Daania jawab pertanyaan Ciya. Daania apain kak Axel?" tanyanya lagi.
"Gue tendang tuh tulang keringnya biar tau rasa!" Saking kesalnya kedua giginya ikut menggertak.
"Kenapa ditendang? Dia kesakitan tahu." Ciya memasang wajah sedihnya.
"Hati gue lebih sakit dengar dia jelek-jelekin sahabat gue."
"Dah lah gak guna. Gue mau ke toilet." Daania beranjak dari sana.
Sementara Bezya benar-benar bingung dengan keadaan saat ini. Salahnya juga tak ikut ke kantin dengan Daania tadi.
"Kok jadi Daania yang ngambek, kan Ciya yang duluan marah." Ciya menghentak-hentakkan kakinya kesal.
"Udah-udah, ada apa sih kalian?"
"Sini duduk dulu cerita ke gue." Beyza menepuk-nepuk kursi di sampingnya yang beberapa waktu lalu diduduki Daania.
"Bey tahu gak?" tanya Ciya.
Seakan hilang begitu saja kekesalan Ciya tadi dan terganti dengan senyum antusiasnya.
Beyza menggelengkan kepalanya karena dia memang tak tahu apa-apa.
"Tadi kak Axel elus-elus rambut Ciya loh," adunya antusias.
"Ah masa? Gak percaya gue."
"Kok gak percaya sih! Ciya serius."
"Terus lo pikir apa yang bikin dia merubah sikapnya ke lo?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Beyza.
Ciya bungkam. Dia juga tak tahu apa yang membuat Axel menjadi baik padanya.
"Hati-hati lo di mainin," ucap Beyza.
"Gak mungkin. Kak Axel baik kok," jawab Ciya.
"Ahh udah lah terserah lo." Beyza menyerah berbicara dengan Ciya.
Bagaimana pun, Ciya sepertinya tak akan mendengarkan perkataannya.
"Mending lo susul Daania, kayanya dia benar-benar marah," saran Beyza.
"Ya udah deh. Ciya susul Daania dulu." Ciya beranjak dari sana dan mencari Daania.
"Haahh sendiri lagi gue." Beyza menghela napasnya sebelum perhatiannya kembali fokus ke buku yang ada di hadapannya.
***
__ADS_1
"Kali ini lo gak bakal dapat apa yang lo mau, Ciya." ucap seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Ciya.