Retisalya

Retisalya
Rencana Daisy


__ADS_3

“Tapi...”


“Oke lo duduk di depan.” Axel menarik tangan Ciya dan membawanya ke kursi depan.


Sepanjang jalan mereka hanya diam dengan pikirannya masing-masing. Ciya yang bingung harus membahas apa, Daisy yang merasa canggung dan Axel dengan kepribadian acuhnya.


“Di mana rumah kalian?” tanya Axel.


“Depan sedikit Kak yang ada pohon mangga,” ucap Ciya. Dia baru menyadari jika rumahnya lebih dekat daripada rumah Daisy. Itu berarti Daisy akan sedikit lebih lama dengan Axel.


Axel memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Ciya dan mematikan mesin mobilnya.


“Di rumah gak ada siapa-siapa?” tanya Axel pada Ciya saat Ciya baru saja turun dari mobil yang dia tumpangi.


“Kayanya gak ada. Ayah sama bunda belum pulang. Di rumah Ciya juga gak ada pembantu,” jawabnya.


“Lo berani sendiri?” tanya Axel lagi.


“Iya Kak Ciya berani kok. Makasih udah antar Ciya ya. Ciya pulang dulu, Kak Axel sama Daisy hati-hati.”


“Ya udah. Gue balik dulu ya,” pamit Axel.


“Iya Kak.” Ciya melambaikan tangannya sampai mobil yang dikendarai Axel berbelok dan hilang dari pandangannya.


“Kamu gak mau pindah ke depan?” tanya Axel pada Daisy.


Tanpa menjawab, Daisy segera beranjak dan pindah ke kursi depan.


“Kenapa kamu biarin dia yang duduk di sini?” Sejenak Axel menolehkan pandangannya pada gadis di sampingnya itu.


“Dia suka Kakak, dan dia gak tahu kalau aku sedekat ini sama Kakak,” ucap Daisy.


Gadis itu tersenyum manis.


“Bisa gak sih kalau aku jadi pacar kamu tanpa ngelakuin syarat yang kamu mau?” Raut wajah Axel terlihat sangat putus asa.


“Jadi Kakak gak mau lakuin syarat dari aku? Berarti Kakak udah nyerah buat jadi pacar aku?” tanya Daisy.


“Bukan gitu. Aku cuma gak mau pacaran sama Ciya, aku gak suka.” Akhirnya Axel menyampaikan isi hatinya.


“Tapi itu satu-satunya cara buat Kakak jadi pacar aku.” Daisy berucap dengan nada menantang dan jangan lupakan senyum miring yang tercetak jelas di bibirnya.


Axel yang memang sangat lemah dengan tatapan Daisy hanya bisa menghela napas dan kembali fokus pada jalanan di depannya.


“Kita sampai. Sampai jumpa dan semoga berhasil,” ucap Daisy sebelum kemudian turun dari mobil yang dikendarai Axel.


“Hmm.” Axel melajukan mobilnya menuju kediaman Dylan.


***


Flashback

__ADS_1


Tatapan tajam itu terus saja mengarah pada pria yang tengah bermain basket. Entah apa yang gadis itu rencanakan, hanya saja tatapannya benar-benar tak lepas dari Axel Lorenza.


“Inikah saatnya?” bisiknya.


Sesuai dengan rencananya, Axel berjalan menghampiri Daisy. Ya, gadis yang terus memandangi Axel adalah Daisy. Seperti biasa senyum Axel kini kembali memudar digantikan dengan ekspresi dinginnya.


“Buat gue?” tanya Axel pada Daisy.


Daisy tak menjawab, dia hanya menunduk menatap ujung kakinya. Karena merasa tak ada jawaban dari Daisy, Axel mengambil botol minum yang dipegang Daisy begitu saja dan segera meneguknya.


“Makasih,” ucap Axel dan mengembalikan botol itu ke genggaman Daisy.


Daisy mengangguk dengan senyum yang tetap dia sembunyikan. Sementara Axel kembali ke tengah lapangan di mana teman-temannya masih di sana.


Ya, pria itu masuk dalam perangkapnya. Rencana pertamanya berhasil.


Dia tahu Ciya memerhatikan semua interaksi yang dia lakukan dengan Axel sebelum gadis itu pergi dari lapangan bersama teman-temannya.


“Akhh,” rintihnya. Kini Daisy sudah terduduk di lapangan dengan lutut sedikit memerah.


“Daisy!” Axel berteriak dan segera berlari menghampiri gadis itu. Daisy tersenyum miring, untuk kali keduanya diapun berhasil.


“Lo gak apa-apa?” tanya Axel.


“Xel ayo, masuk kelas gurunya udah datang!” teriak Dylan dari kejauhan. Niatnya dia akan turut membantu Daisy, namun guru killer itu berhasil menghentikan niatnya.


“Lo duluan, gue titip absen!” balas Axel. Akhirnya teman-teman Axel kembali ke kelas tanpanya.


“Gak usah Kak, pakai plester juga sembuh, nanti aku beli,” jawab Daisy.


“Oke lo tunggu di sini gue beli dulu.” Tanpa menunggu jawaban Daisy, Axel segera berlari untuk membeli plester.


“Ah sialan, kaki gue jadi ada bekas lukanya,” ucap Daisy kesal. Selagi menunggu Axel, gadis itu memainkan ponselnya.


Dia memasukkan kembali ponselnya saat dilihat Axel telah tiba. Dengan telaten Axel memasang plester itu. Desisan kecil keluar dari bibir Daisy.


“Sakit?” tanya Axel.


“Sedikit,” jawabnya.


“Makasih, Kak.” Daisy hendak berdiri dan meninggalkan tempat itu, namun tangannya dicekal oleh Axel.


“Kenapa Kak?”


“Lo harus jadi pacar gue.” Axel menatap netra Daisy tajam.


“Maksud Kakak?” Pernyataan itu agaknya terlalu mendadak untuk Daisy. Tak begini rencananya.


“Ya lo harus mau jadi pacar gue,” ulang Axel.


“Kalau aku gak mau?” Daisy mencoba mencari kesempatan dalam keadaan seperti ini, mungkin saja ini adalah jalan pintas untuk mencapai tujuannya.

__ADS_1


“Gue bakal turutin semua mau lo asal lo jadi pacar gue.” Entah ada apa dengan Axel. Pria itu benar-benar berucap tanpa berpikir terlebih dahulu.


“Apapun?” ucap Daisy memastikan.


“Apapun,” jawab Axel.


“Kalau aku minta Kakak pacarin Ciya?”


“Apa?” tanya Axel.


“Setelah dia benar-benar jatuh dalam pelukan Kakak, Kakak harus putusin dia. Baru kita bisa pacaran,” lanjut Daisy.


Axel sedikit berpikir. Bukankan akan baik-baik saja? Toh dia akan berpacaran dengan Ciya sebentar saja dan kemudian dia akan berpacaran dengan Daisy untuk melepaskan Ciya untuk selamanya.


“Oke gue setuju,” putus Axel.


***


Axel memasuki apartemen Dylan tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Dhavin dengan stick game di tangannya begitupun Dylan. Jangan lupakan kulit kacang yang sudah berceceran di mana-mana.


“Haahhh.” Axel menghela napas lelah. Apakah keputusannya tepat? Entahlah, dia hanya ingin tidur saat ini.


“Gak main dulu?” tanya Dhavin.


“Gak, gue mau tidur.” Axel melewati mereka begitu saja dan menuju kamar yang selama ini dia tempati.


“Kenapa lagi dia? Bukannya tadi baik-baik aja?” tanya Dhavin pada Dylan.


“Gue gak tahu.” Dylan menggedikkan bahunya dan melanjutkan bermain game-nya.


***


“Bunda sama ayah di mana sih? Kenapa gak pulang-pulang.” Ciya benar-benar khawatir dengan kedua orang tuanya, selebihnya dia takut sendirian di rumah.


Untuk mengalihkan rasa takutnya Ciya hanya bermain ponsel walaupun aplikasi-aplikasi yang sedari tadi dia buka benar-benar tak berguna.


“Bunda pulang!” teriak wanita paruh baya saat memasuki rumahnya.


“Aaaa Bunda kenapa lama? Ciya takut sendirian,” manjanya pada sang bunda.


“Kerjaan Bunda sama Ayah banyak jadi pulang telat. Oh iya, kamu pulang naik apa?” tanya bunda Jihan penasaran.


“Dianter teman Bun. Kak Axel, yang Ciya kasih bekal.” Raut wajah Ciya berubah menjadi berseri-seri saat membahas Axel.


“Iya? Terus-terus gimana?” tanya bunda Jihan penasaran.


“Ada apa nih rame banget?” Ayah Malvin baru saja masuk dan penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan istri dan putrinya.


 

__ADS_1


__ADS_2