Retisalya

Retisalya
Perjuangan Terakhir 1


__ADS_3

Tiga minggu terhitung setelah diagnosa dokter terhadap penyakit Ciya. Selama itu juga Ciya sering bolak-balik ke rumah sakit. Kerap sekali penyakitnya kambuh, hingga pernah gadis itu sampai tak sadarkan diri.


Hari ini adalah hari yang indah dengan debaran-debaran jantung para siswa siswi. Hari kenaikan kelas sekaligus pengumuman juara kelas.


“Gue naik gak ya?” tanya Daania.


“Lo bego jadi kayanya gak bakal naik,” ucap Beyza. Mereka selalu saja bercanda seperti itu. Selama kurang lebih tiga minggu pula mereka berdua terlihat menjaga jarak dari Ciya.


Mungkin karena ucapan Ciya tempo lalu, Daania dan Beyza merasa tak dianggap oleh gadis itu.


Seorang guru masuk ke kelas Ciya. Sontak semua siswa dan siswi yang ada di kelas itu kembali duduk di kursinya masing-masing.


“Pagi, anak-anak.”


“Pagi, Bu!” Semuanya kompak dan terlihat sangat bersemangat kecuali Ciya. Sedari tadi gadis itu terus saja memegangi dadanya yang terasa sakit.


“Gak usah basa-basi ya, kita langsung aja ke acara inti. Ibu sudah menuliskan peringkat kalian dalam kertas ini, nanti ibu bagikan satu-satu. Untuk sekarang ibu akan membagikan rapor terlebih dahulu. Untuk yang namanya dipanggil bisa langsung maju ya,” jelasnya.


“Baik, Bu!”


“Yang pertama, Raisa silahkan maju.”


Satu persatu siswa sudah maju mengambil rapornya. Beberapa dari mereka ada yang dengan percaya dirinya langsung membuka dan melihat nilai yang tertera di sana, namun tak jarang juga ada yang langsung menyimpannya ke dalam tas tanpa melihatnya.


“Daania Melody?” Daania terlonjak saat namanya dipanggil. Gadis itu segera mengambil rapor dan kembali ke tempat duduknya.


“Loh kok gak dilihat sih?” tanya Beyza dengan suara kecil berjaga agar tak berisik.


“Gak perlu, gue cuma mau lihat peringkat gue,” bisiknya.


“Oke anak-anak, sekarang ibu akan bagikan lembar peringkat. Kalian boleh lihat sendiri ya.”


“Dapat peringkat berapa lo?” tanya Beyza pada Daania saat Daania sudah menerima lembaran itu sementara dirinya belum.


“Masuk lima besar gue,” ujar Daania.


“Beneran?!!” Beyza sedikit berteriaak saking terkejutnya.


“Asli.”


Tak lama Beyza menerima lembaran itu. Dengan serius Beyza melihat daftar nama teratas, melihat apakah benar nama Daania berada di atas atau tidak.


“Kok gak ada?” tanya Beyza pada Daania.


“Lima besar terbawah terbawah maksud gue,” celetuk Daania.


Spontan Beyza menoyor kepala Daania.

__ADS_1


“Apaan sih?” ucap Daania.


Sementara Ciya, gadis itu tak melihat apa yang dibagikan guru sama sekali, dia hanya menelungkupkan kepalanya di atas tangan.


Badannya tak enak, tanpa sepengetahuan siapapun gadis itu mengirim pesan pada Kenji agar segera ke kelasnya.


Tak dia sadari jika guru yang tadi membagikan rapor telah keluar dari kelas. Selang beberapa menit setelah Ciya menghubungi Kenji, pria itu datang ke kelasnya.


“Lebih penting dia ya sekarang daripada sahabat sendiri,” sindir Daania saat melihat Kenji datang dan menghampiri Ciya.


Ciya yang merasa kalimat itu ditujukan padanya hanya diam. Dia paham perasaan sahabatnya, lagi pula biarlah seperti ini untuk sekarang. Biar sahabatnya membencinya dan tak tahu tentang penyakitnya.


“Lo gak apa-apa?” tanya Kenji saat melihat Ciya menelungkupkan kepalanya di atas meja.


“Dada Ciya sakit lagi,” lirihnya setelah mengangkat kepalanya menghadap Kenji.


“Mau ke rumah sakit aja?”


Ciya menggeleng.


“Ke rooftop aja, Ciya mau cari udara segar,” ucapnya.


“Oke.” Kenji menggenggam tangan Ciya dan membawanya ke rooftop.


Seperti biasa, suasana di sini sangat nyaman dan tentu saja sunyi.


“Hmm.”


“Kalau Ciya pergi gimana?” tanyanya random.


“Lo gak bakal pergi ke mana-mana jadi gak apa-apa,” jawab Kenji.


“Ciya juga berharap begitu.”


“Kak, kalau Ciya nyoba satu kali lagi...”


“Apa?” tanya Kenji penasaran, pasalnya gadis itu menggantungkan kalimatnya.


“Satu kali lagi saja memperjuangkan kak Axel.”


Kenji yang mendengar itu tentu saja kesal bukan main. Rahangnya mengeras. Sampai kapan Ciya akan berpikir tentang Axel sementara selam ini ada dia di sisinya.


“Terus?” tanya Kenji. Dia ingin tahu kelanjutan rencana Ciya.


“Ciya mau berjuang sekali lagi, dan kalau gagal juga, Ciya bakal nyerah. Ciya janji.” Sebuah janji yang dikatakan Ciya benar-benar dari hatinya.


Entah apa hasilnya nanti dia akan menerimanya, walaupun harapannya Axel akan luluh padanya.

__ADS_1


“Lakuin apa kata hati lo. Gue gak bisa larang karena gue bukan siapa-siapa lo, gue juga gak bisa nyuruh lo buat berjuang lagi. Jadi lakuin apa kata hati lo,” jelas Kenji. Sebenarnya dia keberatan dengan keputusan Ciya, namun seperti katanya tadi dia tak memiliki hak untuk melarang Ciya.


“Kalau begitu Ciya akan lakukan.” Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Suasana sepi kembali menyelimuti mereka.


Ciya tahu dengan perkataannya itu dapat menyakiti Kenji yang sudah terang-terangan mengungkapkan perasaannya, namun selama ini Ciya hanya menganggap Kenji sebagai Kakaknya, tidak lebih.


***


Sementara itu, orang yang akan diperjuangkan oleh Ciya kini tengah bercumbu mesra dengan kekasihnya.  Selepas pembagian rapor tadi, Axel mengajak Daisy ke rumahnya untuk mengambil barang. Beruntunglah Bundanya tak ada di sana hingga dia tak perlu membuang waktu dan tenaganya untuk berdebat.


“Kamu cantik,” ucap Axel setelah kedua bibir itu terlepas.


Daisy tersipu malu, walaupun dia belum mencintai Axel, tapi dalam hal ini gadis mana yang tak akan tersipu bila dipuji seperti itu.


“Aku dengar waktu itu Ciya dirawat, kenapa ya?” tanya Daisy berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


“Aku gak tahu dan gak mau tahu,” jawab Axel.


“Kakak gak penasaran kenapa selama ini Ciya kejar-kejar Kakak?”


“Aku bukan tipe orang yang mau tahu urusan orang lain. Hak orang itu buat suka sama aku, selama dia gak berlebihan aku gak apa-apa. Tapi, untuk Ciya entah kenapa rasanya sangat menganggu,” jelasnya.


Daisy mengangguk. Itu berarti tak ada sedikitpun rasa di hati Axel untuk Ciya.


***


Hari ini Ciya bertekad untuk kembali menemui Axel setelah beberapa minggu dia menghindarinya. Ciya takut hidupnya tak akan lama lagi mengingat penyakitnya yang sering kali kambuh belakangan ini.


Dengan keberanian yang tinggi, Ciya melangkahkan kakinya menuju kelas Axel.


“Permisi,” ucapnya saat dirinya sudah berada di depan kelas Axel.


Semua orang yang ada di kelas itu sontak menoleh karena baru kali ini ada orang yang menyapa ketika akan masuk kelas.


“Cari siapa?” tanya salah satu teman kelas Axel.


“Kak Axel-nya ada, Kak?” tanya Ciya sungkan.


“Ah Axel...”


“Tuh dia di belakang lo,” lanjutnya. Ya, Axel baru saja datang.


Ciya membalikan badannya guna melihat Axel yang katanya ada di belakangnya. Setelah memastikan bahwa itu benar Axel, senyum Ciya mengembang. Walaupun bibirnya pucat, tapi senyum itu terlihat sangat tulus.


“Apa lagi?” tanya Axel ketus.


“Sekali lagi!” ucap Ciya semangat.

__ADS_1


__ADS_2