
Ciya tetaplah seorang Ciya. Dia tak jarang sekali memasukkan perkataan orang ke dalam hatinya, begitupun kejadian kemarin.
Hari ini Ciya sekolah seperti biasanya dan entah ini hari keberuntungannya atau apa, namun jam pelajaran pertama di kelasnya kosong.
"Untunglah gak masuk, gue belum ngerjain tugas," Daania menghela napas lega.
"Nonton basket yuk, kakak kelas lagi pada main!" ajak Beyza semangat. Dia bahkan menghiraukan masalah tugasnya yang belum dia kerjakan.
"Ayo!" Tentu saja Ciya semangat, dia berharap kak Axel-nya ada di sana.
"Daisy ikut gak?" tanya Ciya. Walaupun sebenarnya dalam hatinya masih ada yang mengganjal.
Daisy mengangguk dan segera menghampiri Ciya, Daania dan Beyza.
Mereka berjalan beriringan dengan senyum yang tampak bahagia.
Seperti yang mereka duga, kini lapangan basket penuh dengan teriakan para gadis yang mendukung tim masing-masing, bahkan tribun di pinggir lapangan terlihat sangat penuh.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa guru-guru tak mengajar pagi hari ini.
Netra Ciya memandang ke seluruh bagian pinggir lapangan dan berharap ada tempat kosong untuk mereka tempati dan ya di sana, di bagian tengah tribun mungkin cukup jika ditempati oleh tiga nyawa.
"Yah, cuma tiga." Ciya mendengus kecewa.
"Gak apa-apa, kalian duduk di sana aja duluan. Gue mau cari makanan dulu nanti bisa cari tempat kosong," ucap Daisy.
"Gak apa-apa?" tanya Beyza.
Daisy mengangguk mengiyakan pertanyaan Beyza. Mereka bertiga melambaikan tangannya sebelum mulai menduduki tempat kosong tadi.
"Eh itu kak Axel, kan?" tanya Bezya. Matanya memicing memastikan tebakannya tak salah.
"IYA," jawab Ciya semangat.
Ciya ikut berteriak dari tribun untuk menyemangati Axel begitupun teman-temannya walaupun teriakan teman-temannya tak lebih heboh dari Ciya.
***
Kaki jenjangnya terus melangkah agar cepat mencapai tujuan. Gadis dengan rambut kuncir kudanya itu ingin segera mencapai kantin.
"Ibu, beli ini satu ya," ucapnya pada pemilik kantin setelah sampai di sana.
"Eh Neng Daisy. Tiga ribu, Neng." Daisy segera mengeluarkan uang sepuluh ribuan untuk membayar air mineral yang baru saja dia beli.
"Makasih ya Bu. Kembaliannya nitip aja buat nanti kapan-kapan," kekehnya. Gadis dengan kepribadian ramah itu kerap menarik perhatian pemilik kantin karena memang ramah pada siapa saja.
__ADS_1
Penampilannya yang sederhana juga dibarengi sifatnya yang tidak sombong memang membuat sebagian siswa iri padanya karena gadis itu lebih dikenal di kalangan guru dan orang-orang di area sekolah.
Daisy kembali menuju lapangan dengan sebotol minum di tangannya. Matanya menerawang mencari tempat yang kosong dan kebetulan sekali tribun bagian kiri masih memiliki tempat yang kosong.
Sejenak matanya menatap Ciya dan teman-temannya yang sedang asik bersorak sebelum akhirnya Daisy duduk.
***
"Ciya ke kantin dulu ya, mau beli minum buat kak Axel," pamitnya pada Daania dan Beyza.
"Nitip buat kita juga, nih uangnya." Daania meyodorkan uang berwarna hijau.
"Dari Ciya aja," ucap gadis itu dengan senyum manisnya.
Ciya berlari ke arah kantin. Ciya terpaksa pergi ke kantin untuk membeli minuman walaupun sebenarnya dia tak ingin melewatkan pertandingan Axel.
"Ciya beli ini empat, Bu," ucapnya.
"Kenapa pada beli minum semua ya," kekeh ibu kantin.
Ciya yang tak terlalu mempedulikan perkataan ibu kantin segera membayarnya dan pergi dari sana. Dia harap pertandingannya belum usai.
"Aduh kasian banget bayi gue repot begini," canda Daania saat melihat tangan Ciya yang penuh dengan botol minuman.
Sementara Ciya hanya merespon ucapan Daania dengan cengiran khasnya.Beyza juga hanya terkekeh kecil.
"Belum selesai kan pertandingannya?" tanya Ciya.
Beyza dan Daania kompak menggelengkan kepalanya tanpa menjawab karena mulutnya saat ini penuh dengan air.
Suara peluit terdengar sesaat setelah Ciya mendudukkan dirinya di tribun.
"Tuh baru aja selesai," kekeh Beyza. Gadis itu memang senang sekali mengerjai Ciya.
Ciya menekuk bibirnya pertanda dia kesal, namun rasa kesalnya hilang seketika setelah netra Axel menatap ke arahnya.
Senyumnya mengembang dengan mata berbinar. Dia berharap Axel akan membalas senyumnya. Ciya sontak berdiri dan akan menghampiri Axel, namun langkahnya terhenti dalam sekejap.
***
Kemenangan membuat Axel tersenyum setelah menyelesaikan pertandingan. Semua itu tak luput dari perhatian Ciya bahkan senyum Axel berhasil membuat senyum Ciya juga mengembang.
Axel juga melihat bagaimana Ciya tersenyum padanya. Senyum lebar yang terlihat mengagumi dirinya, namun Axel segera membuang muka dan mengalihkan pandangannya ke arah tribun bagian kiri di mana Daisy duduk dengan tenang di sana.
Axel berjalan menghampiri Daisy. Seperti biasa senyumnya kini kembali memudar digantikan dengan ekspresi dinginnya.
__ADS_1
"Buat gue?" ucapnya pada Daisy.
Daisy tak menjawab, dia hanya menunduk menatap ujung kakinya. Karena merasa tak ada jawaban dari Daisy, Axel mengambil botol minum yang dipegang Daisy begitu saja dan segera meneguknya.
"Makasih," ucap Axel dan mengembalikan botol itu ke genggaman Daisy.
Daisy mengangguk dengan senyum yang tetap dia sembunyikan. Sementara Axel kembali ke tengah lapangan di mana teman-temannya masih di sana.
Pemandangan itu tak luput dari perhatian Ciya. Baru juga lukanya dia balut, kini Axel kembali menyayatnya.
Ada hubungan apa antara Axel dengan Daisy? Itulah pertanyaan yang kini ada dalam benaknya.
Kedua teman Ciya memandang ke arah mata Ciya memandang dan juga melihat bagaimana perlakuan Axel pada Daisy.
Mata Ciya mulai memburam. Jika saja dia mengedipkan matanya, mungkin air mata itu akan segera meluncur ke luar.
"Balik ke kelas," tegas Daania. Secuek apapun Daania, gadis itu tetap tak bisa jika melihat sahabatnya ini tersakiti.
Beyza menggandeng tangan Ciya dan menariknya menuju kelas. Ciya mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar namun pertahanannya gagal saat bayangan Axel dan Daisy bersama.
Sudah kedua kalinya dia melihat pemandangan itu.
***
"Lo sengaja kan?" tanya Dylan pada Axel.
Kini mereka berada di rooftop. Setelah pertandingan usai, mereka sengaja pergi ke sana untuk mencari angin.
"Apa?" Axel balik bertanya pada Dylan.
"Lo beneran suka Daisy?" Dylan penasaran. Sudah sangat lama Axel tak berhubungan dengan seorang wanita, jadi saat Axel kembali tertarik untuk berhubungan dengan wanita maka Dylan agak curiga.
"Gue gak tahu," jawabnya.
"Gue curiga lo manfaatin dia cuma biar Ciya ngejauh dari lo," timpal Dhavin.
Axel diam tak menjawab pernyataan Dhavin karena mungkin perkataan Dhavin tak sepenuhnya salah.
"Gue saranin lo gak usah cari cewek cuma buat Ciya ngejauh dari lo. Secara gak sengaja, lo udah nyakitin dua cewek sekaligus." Entah mendapat hidayah dari mana, kini perkataan Dhavin sepertinya sangat serius.
"Apa masalah lo kalau gue nyakitin dua cewe?" tanya Axel.
Dhavin dan Dylan tak menduga perkataan itu akan keluar dari mulut Axel sendiri.
"Lo bakal nyesel." Seorang pria tiba-tiba muncul dan menjawab pertanyaan Axel.
__ADS_1