Retisalya

Retisalya
Dark Memory


__ADS_3

Malam ini seperti yang sudah dijanjikan Evelyn gadis itu tengah berjalan menuju sebuah apartemen yang telah dia ketahui letaknya.


Sepatu dengan hak 3 cm itu menyusuri lorong yang tampak sunyi. Gadis itu mencari apartemen Dylan, tangan Evelyn mengudara untuk menekan bel yang terletak di sana.


tak membutuhkan waktu lama sang tuan rumah telah membukakan pintu untuk Evelyn.


"Masuk," ucapnya. Tanpa menjawab, Evelyn mengikuti langkah pria itu menuju ke dalam apartemen.


Di sana nampak Axel Tengah berbaring di sebuah sofa yang ada di ruang tamu.


"Udah siap?" tanya Evelyn sembari mendudukan dirinya di tempat kosong di samping Axel.


"Udah. Mau berangkat sekarang?" tanya Exel. Memang tak membutuhkan waktu lama bagi seorang laki-laki mempersiapkan diri untuk pergi keluar.


Hanya celana jeans hitam dipadukan dengan hoodie dengan warna senada. Penampilan Axel saat ini ini bisa dikatakan merupakan penampilan yang sangat didambakan oleh setiap gadis, apalagi wajahnya yang tampan menambah nilai plus untuknya.


Axel meminta izin pada Dylan, pria itu mengangguk mengiyakannya.


Sementara Axel dan Evelyn kini keluar dari sana untuk segera bertemu sang ayah.


Udara dingin di malam hari cukup menusuk kulit Evelyn, beruntunglah Axel menggunakan hoodie tebal yang menutupi seluruh tubuhnya.


Mereka pergi menggunakan mobil Evelyn, perjalanan di malam hari bukan semakin sepi malah suasana ibu kota semakin ramai dengan anak muda yang berkeliaran kesana kemari.


Evelyn langsung menancap gas untuk menuju restoran tempat di mana dia berjanji untuk bertemu dengan ayahnya.


***


Dua pasang netra itu hampir saja tidak melepas pandangan masing-masing. Air mulai menggenang di pelupuk mata pria paruh baya yang saat ini duduk berhadapan dengan sang putra.


Axel, pria itu berusaha mati-matian menahan agar air matanya agar tidak meluncur membasahi pipinya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya sang ayah.


"Ayah..." lirih Axel. Pertahanannya runtuh bersamaan dengan air matanya luruh, mengalir menelusuri garis rahangnya.


Axel mengangguk-anggukan kepalanya dengan isakan yang dia tahan.


"Aku baik-baik saja," lirihnya.


Evelyn yang menyaksikan 2 pria Tengah mengutarakan isi hatinya itu juga ikut meneteskan air mata.


Kalian tidak akan pernah tahu jika belum merasakannya, ditinggalkan seorang ayah dan tak berjumpa setelah sekian lamanya bukanlah hal yang mudah.


Ayah Zayyan mendekat untuk memeluk putranya. Pelukan hangat yang di rindukan Axel selama ini kini dia dapatkan.

__ADS_1


"Kembalilah," lirih Axel.


Sang ayah hanya bisa memejamkan matanya dengan erat, hatinya bagai tertusuk pedang kala mendengar isakan putranya.


"Semua akan baik-baik saja, Ayah sudah kembali," ucap sang Ayah.


Tangannya mengelus punggung putranya yang terlihat rapuh, dia tahu itu tak akan cukup, namun setidaknya untuk saat ini dia ingin menenangkan Axel.


Hati Axel bagai diremas saat kepingan kenangan itu kembali dalam ingatannya.


Andai saja malam itu dia tidak pulang, dia tidak akan melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.


Andai saja kakaknya lebih cepat datang, mungkin semua bisa diatasi.


Andai saja Ibunya tak melakukan hal menjijikan seperti itu, Ayahnya tak mungkin pergi.


Kini hanya kata "andaikan" yang ada dalam benaknya. Penyesalan Selalu datang diakhir, itulah yang dirasakan Axel saat ini.


***


Mobil hitam itu kini terparkir dengan rapi di halaman rumah yang cukup luas.


Zayyan, sang pemilik mobil keluar dari pintu kemudi dan berjalan menuju rumah yang menjadi tempatnya pulang selama ini.


"Ahh melelahkan sekali hari ini," ucapnya. Hal itu terlihat dengan jelas dari helaan napas yang dia hembuskan.


"Ayah pulang!" ucapnya sedikit berteriak berharap orang rumah menghampirinya.


"Kok sepi," monolognya.


Langkah kakinya terus berlanjut hingga sampai di depan kamarnya.


Pria itu memasang indera pendengarannya baik-baik saat suara-suara aneh tertangkap dengan jelas oleh telinganya.


Tubuhnya menegang saat suara-suara menjijikan itu semakin jelas.


Tangannya mengudara untuk membuka pintu kamar yang saat ini ada di hadapannya.


"Lylia!!" teriaknya begitu pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita tengah melakukan hal tak senonoh dengan pria lain terlebih itu di kamarnya.


"Kau pikir apa yang kau lakukan!!?" Amarahnya memuncak. Matanya memerah dengan rahang yang mengeras. Jangan lupakan tangannya yang mengepal hingga buku-buku tangannya memutih.


Dengan langkah gontai, Lylia menghampiri Zayyan setelah sebelumnya mengenakan pakaian tidurnya.


"Tidur dengan pria lain?" jawab Lylia dengan mata sayu. Aroma alkohol menyeruak kala wanita itu berbicara.

__ADS_1


Zayyan semakin mengeratkan kepalan tangannya. Dia menahan mati-matian agar tangannya tidak terangkat dan berakhir melukai istrinya.


"Kau istriku!! Bagaimana bisa kau melakukan itu?!!" teriak Zayyan di depan wajah istrinya.


"Aku muak dengan semuanya!! Kau dan pekerjaanmu, aku muak!!!"


"Aku bekerja untukmu dan anak-anak!!" Zayyan tak habis pikir dengan Lylia. Disaat dia mati-matian mencari uang, istrinya malah melakukan hubungan intim dengan pria lain?


Tanpa mereka sadari Axel datang dan sedikit bersembunyi. Dia mengetahui apa yang terjadi dan menyaksikan semuanya.


"Bukan uangmu! Aku tak butuh uangmu! Aku hanya ingin waktu dan kasih sayangmu!!" teriaknya. Air matanya mulai mengalir. Entah dia sadar atau tidak, yang jelas saat ini dia ada di bawah pengaruh alkohol.


"Bagaimana kau bisa hidup tanpa uang?!" bentak Zayyan. Dia sungguh kehilangan kesabarannya.


Suara tamparan menggema di ruangan itu. Ya, Lylia menampar Zayyan dengan kencang hingga pipi pria itu memerah.


"Aku tak membutuhkanmu jika yang kau berikan hanya uang!!"


"Kau tak membutuhkanku?" lirih Zayyan.


Lylia adalah satu-satunya orang yang dia percayai setelah kedua orang tuanya meninggal dan kini orang itu justru mengkhianatinya dan berkata tak membutuhkannya?


"Hmm aku tak membutuhkanmu," ucapnya sedikit memelan.


Zayyan mengangguk-anggukkan kepalanya paham dengan maksud Lylia.


Sementara pria yang melakukan hubungan tak senonoh dengan Lylia masih setia terdiam di kasur dengan tubuh yang masih bertelanjang dada.


Perlahan namun pasti, Zayyan memundurkan langkahnya untuk pergi dari sana.


Entah memang tidak terlihat atau atau karena pikirannya sedang kalut, Zayyab sama sekali tak menyadari keberadaan Axel di sana.


Semakin tergesa pria itu pergi dengan segala luka yang ada di hatinya.


Axel yang melihat Ayahnya akan pergi segera mengikuti pria itu dan memanggil Ayahnya.


"Ayah," ucapnya sedikit berteriak.


Tak ada jawaban, Zayyan terus melangkah dengan cepat.


Zayyan menaiki mobilnya dan segera melajukannya.


Terlambat, Axel tak bisa menyusul Ayahnya. Ban mobil itu dengan cepat meninggalkan halaman rumahnya.


Tepat dengan kejadian itu, Evelyn baru saja datang dari sekolah.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Evelyn pada Axel saat melihat Ayahnya pergi dengan Axel yang terdiam di halaman rumahnya.


__ADS_2