Retisalya

Retisalya
Kembalinya Ayah


__ADS_3

Senyum Ciya luntur begitu saja. Semalaman penuh Ciya menunggu Axel siuman, namun setelah apa yang ditunggunya datang malah rasa sakit yang dia dapatkan.


“Daisy? Ini Ciya, Kak,” lirih Ciya. Dia berusaha menutupi rasa sakitnya. Genggaman tangannya pada Axel tak kunjung lepas.


Dhavin menghampiri mereka berdua. Axel menoleh pada Dhavin sekilas sebelum kemudian fokusnya kembali ke arah gadis yang ada di sampingnya.


Dia mencoba menata pikirannya. Netranya terbuka lebar saat sadar apa yang telah dia katakan.


“C-ciya?” ucapnya untuk menutupi kesalahannya beberapa saat lalu.


Ciya mengembangkan senyumnya. Walaupun agak terpaksa, tak bisa dipungkiri bahwa dia senang melihat Axel telah siuman.


“Iya. Kak Axel mau apa?” tanyanya.


“Minum,” lirihnya. Perasaannya mulai tak enak. Dia telah menyakiti Ciya begitu dalam bukan? Tapi dia masih mengharapkan Daisy, bukan Ciya.


Ciya dengan cepat mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Axel.


“Masih hidup lo?” canda Dhavin.


Ciya spontan memukul lengan Dhavin.


“Apaan, kok Kak Dhavin ngomongnya gitu?!” kesalnya.


Kadua pria itu terkekeh melihat tingkah Ciya. Dhavin dan Axel memang sudah biasa bercanda seperti itu, namun sepertinya Ciya sedikit keberatan dengan candaan macam itu.


“Loh kok udah sadar?” ucap Dylan yang baru saja sampai di sana.


“Terus lo mau gue mati?” timpal Axel.


“Ih Kak Axel! Sama aja!!” kesal Ciya.


Evelyn hanya terkekeh melihat tingkah para remaja itu. Evelyn kembali keluar untuk memanggil dokter.


Tak lama Evelyn datang dengan seorang Dokter lengkap dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.


Dokter mulai memeriksa keadaan Axel dengan teliti.


 “Keadaannya sudah stabil, tinggal menunggu tenaganya kembali dan Tuan Axel boleh pulang,” ucap Dokter setelah memeriksa keadaan Axel.


Mereka semua mengangguk dan menghela napas lega. Dokter pergi dari sana setelah selesai memeriksa keadaan Axel.


“Titip Axel dulu ya, gue ada urusan sebentar,” ucap Evelyn tiba-tiba. Mereka bertiga dengan kompak mengangguk menjawab permintaan Evelyn.


Evelyn pergi dari sana dengan sedikit terbur-buru. Beberapa waktu lalu dia kembali teringat bahwa dia akan memastikan keadaan ayahnya.


Taxi berhenti tepat di hadapannya saa Evelyn melambaikan tangannya. Tujuannya adalah gedung x, tempat yang kemarin dia katakan pada Axel.


“Ke jalan xxx gedung x, Pak,” cap Evelyn.

__ADS_1


“Baik Nona.” Sopir taxi itu segera melajukan mobilnya menuju alamat yang baru saja dikatakan penumpangnya.


Kini di hadapannya sudah terlihat gedung yang cukup besar. Kakinya melangkah untuk memasuki gedung itu. Gedung apartemen yang memiliki beberapa tingkat. Netranya dengan teliti mencari di mana apartemen milik ayahnya.


“Ah ini!” ucapnya antusias saat menemukan apa yang dia cari.


Evelyn menekan bel yang ada di sana. Satu, dua kali tak kunjung ada yang membukakan pintu, namun Evelyn tak menyerah, dia masih terus menekan bel hingga seorang pria paruh baya keluar dari sana.


Tubuh keduanya menegang dengan mata yang terbuka lebar. Tak disangka mereka akan saling bertemu lagi setelah sekian lama.


“A-ayah,” lirih Evelyn.


“Lyn,” ucap ayahnya. Zayyan Zanerka.


Dengan spontan Evelyn berhambur pada pelukan ayahnya. Pelukan yang selama ini dia rindukan. Pelukan yang selalu menghangatkan tubuh dan hatinya.


Air mata Evelyn tak bisa lagi dibendung, mereka berlomba-lomba untuk keluar dari nerta Evelyn. Air mata Ayah Zayyan juga berlinang. Kerinduan yang sekian lama dia rasakan kini terbayar.


 Mereka melepaskan pelukan masing-masing.


“Masuk,” ucap Ayah Zayyan sembari menarik Evelyn masuk ke apartemennya.


Evelyn dipersilahkan duduk setelah berada di dalam apartemen itu sementara Ayah Zayyan mengambilkan minum untuk putrinya.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Ayah Zayyan semabari memberika segelas jus jeruk.


“Baik Ayah. Ayah sendiri?”


“Kenapa?” tanya Evelyn.


“Ayah selalu mengingat dan mengkhawatirkan kalian,” lirihnya.


“Bagaimana dengan Axel?” lanjut Ayah Zayyan.


“Dia di rumah sakit saat ini.” Ayah Zayyan terlonjak. Bagaimana tidak? Putranya berada di rumah sakit saat ini.


“Apa yang terjadi?” paniknya. Jantungnya berpacu dengan cepat. Dia takut terjadi apa-apa dengan putranya.


“Dia kecelakaan kemarin. Aku memberitahunya keberadaan Ayah. Kemungkinan dia pergi untuk menemui Ayah, namun dia malah kecelakaan,” jelas Evelyn.


“Lalu bagaimana keadaannya saat ini?”


“Kondisinya sudah membaik. Kepala bagian belakangnya terluka hingga menyebabkan dia kehilangan banyak darah.”


“Lalu bagaimana? Golongan darahmu berbeda dengannya,” ucap Ayahnya.


“Kekasihnya. Kekasih Axel datang dengan penampilan yang sangat kacau. Golongan darahnya sesuai dan dia mendonorkan darahnya pada Axel. Tak hanya itu, gadis itu juga menunggu hingga Axel sadar.” Evelyn menjalaskan apa yang terjadi kemarin.


“Axel memiliki kekasih?” tanya Ayah Zayyan, lebih tepatnya dia terkejut dengan hal tersebut, namun di sisi lain, dia juga merasa lega karena ada seseorang di samping putranya.

__ADS_1


“Ya Ayah. Tapi gadis itu meminta agar tak memberitahu Axel bahwa dia yang mendonorkan darahnya,” lanjutnya.


“Kenapa?”


“Lyn gak tahu, mungkin dia punya alasan sendiri,” ucapnya. Ayahnya mengangguk mengakhiri perbincangan tersebut.


“Ayah ingin bertemu dengan Axel.”


“Bisakah Ayah sedikit bersabar? Saat ini Axel sedang menjalani pemulihan dia akan pulang setelah kondisinya membaik. Setelah itu aku akan mengatur pertemuan kalian,” bujuk Evelyn.


Jika Axel bertemu dengan Ayahnya saat ini Evelyn kurang setuju, dia tak ingin mengganggu proses pemulihan Axel. Biarkan Axel fokus pada kesembuhannya dulu dan dia akan mempertemukan keduanya.


“Oke, nanti hubungi Ayah jika kondisi Axel sudah membaik,” ucap Ayah Zayyan.


“Hmm.”


***


Setelah Axel sadar, Ciya pamit untuk pulang dulu. Dia takut Bundanya akan mengkhawatirkannya.


Hari ini Ciya kembali ke sekolah. Beruntunglah kemarin adalah hari libur sehingga dia menginap di rumah sakit.


Ciya menggendong tasnya dan berjalan lesu. Tak ada Axel di sekolah membuat semangatnya juga hilang.


“Ciya, kok wajah lo pucat sih!?” ucap Beyza melihat wajah Ciya.


Beyza melihat Ciya yang berjalan dengan kepala menunduk sehingga dia menyusul gadis itu dan memperhatikan wajahnya.


“Ah mungkin Ciya kelelahan,” jawab Ciya.


“Emang habis ngapain?” tanya Beyza penasaran.


“Kemarin nemenin kak Axel di rumah sakit.”


“Kenapa dia?” Jiwa penasaran Beyza mulai muncul.


“Kecelakaan, jadi Ciya nginap di sana,” jelasnya.


“Kenapa gak bilang gue? Gue kan bisa temenin lo,” kesal Beyza.


“Gak apa-apa. Ciya gak mau ngerepotin Beyza sama Daania.”


Beyza mengalah, sepertinya Ciya sedang tidak dalam mood untuk diajak bicara saat ini. Terlihat dari bagaimana gadis itu hanya menjawab dengan singkat pertanyaan yang dia ajukan.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas. Tak seperti biasanya, Ciya tak memancarkan wajah cerianya saat ini.


Ajah cantik itu terlihat murung dan hal itu membuat teman-teman sekelasnya penasaran apa yang terjadi pada Ciya termasuk Daisy.


“Ciya, kenapa?” tanyanya.

__ADS_1


“Kak Axel sakit. Ciya sedih,” jawabnya.


“Apa?!! Kak Axel sakit?!” teriak Daisy sedikit keras. Ciya menaikan sebelah alisnya. Mengapa gadis di hadapannya ini terlihat begitu khawatir?


__ADS_2