
“Kenapa, Kak?” tanya Ciya. Gadis itu menatap lekat netra Axel.
“Lo pulang bareng gue ya?”
“Tapi Ciya dijemput bunda, Kak,” jawab Ciya.
“Lo bisa telpon bunda lo buat gak jemput.” Karena Ciya yang terlampau bucin, akhirnya gadis itu menyetujui saran Axel.
Ciya mengeluarkan ponsel dengan case merah muda itu dan segera menghubungi bundanya.
“Bunda, gak usah jemput Ciya ya. Ciya pulang sama kak Axel,” ucap Ciya setelah panggilan tersambung.
“Wah... ada kemajuan nih?” goda Bunda Jihan.
“Ihh Bunda...” rengek Ciya.
“Iya-iya, nanti Bunda langsung pulang. Kamu juga jangan keluyuran,” ucap Bunda Jihan.
“Iya Bunda, ini Ciya langsung pulang kok. Bye Bunda~”
Ciya menutup telpon dengan wajah berseri-seri. Bagaimana tidak, hari ini dia akan pulang bersama Axel dan hanya berdua. Akhirnya penantian dan perjuangan Ciya terbayar saat ini.
“Ayo Kak, kata bunda boleh tapi jangan keluyuran.” Ciya menyampaikan pesan bundanya beberapa waktu lalu.
“Siapa juga yang mau bawa anak kecil keluyuran,” goda Axel.
“Kok anak kecil sih, kan ciya udah gede,” kesalnya. Ciya mengerucutkan bibirnya tak setuju dengan perkataan Axel.
“Iya iya ah gue bercanda.” Axel mengusap puncak kepala Ciya dengan lembut.
Mereka berjalan beriringan menuju motor Axel di tempat parkir. Tak jauh dari sana hingga mereka tak membutuhkan waktu lama.
“Mau makan dulu gak? Gak bakal lama kok,” tawar Axel.
Ciya mengangguk mantap. Bundanya tak akan marah jika hanya sebentar.
***
Suasana di restoran ini terbilang cukup sepi, namun meski begitu menurut Axel ini adalah suatu kenyamanan tersendiri untuknya.
Restoran dengan nuansa alami yang sangat nyaman dipandang mata mampu menenangkan hati para pengunjung.
“Mau makan apa?” tanya Axel.
“Apa aja, samain sama Kak Axel.” Axel mengangguk dan memesan makanan. Mereka makan dalam keadaan diam, meskipun sedari tadi netra Ciya berusaha mencuri pandang pada pria di hadapannya itu.
__ADS_1
“Jangan lupa gue tagih jawaban lo besok,” ucap Axel tiba-tiba. Hal itu sukses membuat Ciya yang sedang menikmati minumannya tersedak hingga terbatuk.
“Uhukk uhukk.” Tangan Ciya dengan gesit meraik tisu untuk menutup mulutnya.
Axel terkekeh.
“Kenapa?” tanyanya.
“Enggak Kak, Ciya cuma kaget.” Ciya tersenyum canggung.
“Ya udah yuk pulang.”
Axel membayar makanan mereka dan segera mengantar Ciya pulang.
***
“Bunda, nanti sore ajarin Ciya bikin cake ya,” mohon Ciya, bahkan makanan dalam mulutnya belum dia telan.
“Telan dulu Sayang, nanti keselek.” Bunda Jihan mengusap surai Ciya sementara Ayah Malvin menggelengkan kepalanya melihat putri dan istrinya akur seperti sekarang.
Ciya mengangguk dan menghabiskan makanannya.
“Bunda, nanti pulang sekolah Ciya mau main dulu ya sama teman. Enggak lama kok.” Ciya memang tak tahu Bundanya akan mengizinkan atau tidak, tapi setidaknya meminta izin pada orang tuanya adalah hal wajib yang harus dia lakukan sebelum melakukan sesuatu.
“Iya boleh. Berarti Bunda sama ayah gak usah jemput nih?” tanya Bunda Jihan.
Bunda Jihan yang mengerti dengan perubahan wajah Ciya sontak mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda putrinya.
“Ayo berangkat Bunda,” ajak Ciya.
“Seru ya berdua, Ayah sampai dilupain,” sindir Ayah Malvin yang sedari tadi hanya diam memerhatikan kedua bidadari dalam hidupnya.
“Iya Ayah ayo! Kan Ayah yang nyetir.” Ciya terkekeh sementara tangannya sibuk menarik ayahnya agar segera beranjak dari tempat duduknya.
“Iya ayo!” Pagi mereka dihiasi dengan gelak tawa yang membuat hati mereka menghangat.
Sangat beda dengan keluarga Ciya. Axel baru saja memasuki rumahnya, dia berniat mengambil barang-barangnya.
Bukan karena sengaja meninggalkan barang-barangnya di sini, tapi dia tak bisa membawa semua barang-barangnya begitu saja dan disimpan di apartemen Dylan.
Hanya dengan menumpang di apartemen Dylan saja sudah membuat dirinya tak enak, apalagi untuk memenuhi apartemen Dylan dengan barang-barangnya.
Untuk saat ini dia hanya akan membawa barang yang dia butuhkan, sisanya dia akan membawanya jika sudah mempunyai hunian sendiri.
“Masih ingat pulang kamu,” sentak Bunda Lylia saat Axel baru saja membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
“Kebiasaan ya gak pernah jawab omongan orang tua!” lanjut Bunda Lylia, namun Axel sengaja menulikan pendengarannya dan memilih tak menjawab bundanya. Dipagi yang cerah ini dia benar-benar tak ingin berdebat.
“Ah lo pulang?” Evelyn menuruni tangga dengan setelan kerja yang menempel di badannya. Axel mengangguk.
“Iya, ngambil barang. Lo juga di sini?”
“Iya. Gue kira lo belum pergi dari rumah ini makanya gue datang buat minta penjelasan lo.”
“Oke, bentar gue ambil barang dulu. Kita bicara di luar,” ucap Axel.
Dengan cepat Axel segera berlari ke arah kamarnya, tak banyak yang dia bawa. Hanya sebuah topi dan juga charger laptop yang lupa dia bawa.
“Yuk!” ucap Axel setelah selesai dengan urusannya.
Kini mereka ada di sebuah cafe yang tak jauh dari sekolah Axel. Mereka duduk berhadapan dengan secangkir kopi di hadapan masing-masing.
“Jadi gimana maksud lo?” tanya Evelyn.
“Lo tahu Dylan kan?” Evelyn mengangguk. Sepertinya dia pernah bertemu dengan pria yang dikatakan Axel beberapa kali.
“Gue sementara tinggal di apartemen dia dan dia ngajak gue bisnis. Untuk sekarang hasilnya emang belum seberapa, tapi gue rasa bisnis kita bakal lancar dan setelah gue dapat duit cukup gue mau beli apartemen sendiri,” ucap Axel. Evelyn mendengarkan penuturan adiknya sembari menghisap kopinya.
“Lo yakin mau keluar dari rumah?”
“Gue gak tahu, tapi gue udah muak lihat pemandangan yang sama setiap waktu.” Nada bicara Axel mulai berubah sendu.
“Oke gue gak bakal tanya lagi. Lakuin apa yang lo mau, kalau ada apa-apa hubungin gue,” ucap Evelyn.
“Kerjaan lo gimana?” tanya Axel. Walaupun dia terlihat dingin dan acuh, sebenarnya dia sangat khawatir pada kakaknya ini. Selain karena masalah keluarga yang menjadi beban baginya, kakaknya juga seorang wanita yang tentu saja sangat rapuh.
“Baik. Bos gue baik,” jawab Evelyn.
“Syukurlah. Gue harap lo selalu baik-baik aja. Oh iya, lo udah dapat kabar tentang keberadaannya?” tanya Axel.
“Belum. Tapi gue selalu berusaha dan itu juga yang bikin gue berani kerja di perusahaan gue yang sekarang. Lo tengang aja, gak usah mikir yang lain-lain. Urusan itu biar gue yang pikirin.”
Axel mengangguk sebelum kemudian dia melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 07.05.
“Gue pergi dulu,” ucap Axel seraya menunjuk jam tangannya.
“Oke.” Evelyn mengangguk mengerti dengan maksud Axel.
Hanya butuh 5 menit dari cafe tadi ke sekolah Axel dengan sepeda motornya.
“Wahh kita datang barengan!”
__ADS_1