
Seorang pria tampan yang berperawakan tinggi kini tengah termenung sendiri di sebuah ruangan. Ruangan yang memiliki sekat jeruji besi itu kini menjadi tempat tinggalnya.
Dzikri Moza, dia berakhir di dalam sel setelah dia menyerahkan dirinya dan mendapatkan hukuman.
Ini adalah tahun kelimanya dia berada di sana. Mungkin ini adalah tahun terakhirnya.
"Saudara Dzikri, ada yang berkunjung," ucap seorang penjaga tahanan.
Dzikri mengalihkan pandangannya pada pria itu dan segera bangun dari duduknya. Dia sudah tahu siapa yang berkunjung karena selama ini hanya dia saja yang selalu menjenguk Dzikri di tahanan.
Dengan dampingan dari penjaga Dzikri menuju sebuah ruang di mana dia bisanya bertemu dengan seseorang.
Ruang yang tak besar dengan sekat kaca di depannya yang menghubungkan langsung dengan orang yang menjenguknya.
Ketika Dzikri mengangkat kepalanya dan bertemu tatap dengan orang itu, tubuhnya sedikit mematung.
Sementara orang yang juga menatapnya masih sama. Orang dengan tatapan yang sama seperti lima tahun silam.
Setelah berhasil mengendalika dirinya, Dzikri kemudian duduk di kursi.
"Gimana kabar lo?" tanya orang itu. Dzikri tak menyangka jika kalimat itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut pria yang Bundanya telah dia bunuh.
Ya, pria itu adalah Kenji. "Ngapain lo ke sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Kenji tadi, Dzikri malah balik bertanya pada Kenji.
"Ya lo pikir aja kenapa gue sampai ada di sini. Lo kira gue ke sini mau masukin diri gue ke penjara?" jawab Kenji sarkas.
Dzikri terdiam cukup lama hingga dia akhirnya membuka suaranya.
"Maksud gue kenapa lo mau nemuin gue?" tanya Dzikri memperjelas pertanyaannya.
"Cuma mau tau kabar lo aja. Bentar lagi lo keluar, kan?"
Dzikri terdiam. Sebenarnya jika bisa, dia ingin tinggal di sana selamanya. Rasanya waktu lima tahun masih belum cukup untuk membalas apa yang telah dia perbuat.
"Hmm," jawabnya.
"Sampai lo keluar, jaga kesehatan lo. Gue mau pas lo keluar lo ikut gue. Ada hal yang harus gue bicarain," ucap Kenji.
"Ngomong di sini aja sekarang. Kenapa harus nanti?" tanya Dzikri.
__ADS_1
"Kalaupun gue bilang sekarang sama lo, lo gak akan bisa lakuin karena lo masih terkurung di sini," jawab Kenji.
Akhirnyaa Dzikri mengerti. Mungkin Kenji ingin berbicara dengannya dan memintanya melakukan sesuatu.
"Oke," jawabnya.
"Cuma itu aja?" Dzikri kembali bertanya.
"Enggak, masih banyak yang mau gue ceritain ke lo. Termasuk gue yang udah terima dengan kepergian Bunda dan gue gak mau lo juga berhenti jadi sahabat gue."
"Saudara Dzikri waktu anda habis." Penjaga sel berbicara dan segera membawa Dzikri kembali ke ruangannya.
Bahkan pria itu masih belum menjawab Kenji. Apakah ucapan Kenji berarti pria itu telah memaafkan perbuatannya?
Kenji tersenyum tipis. Ada rasa lega di hatinya setelah mengatakan itu semua pada Dzikri.
Sebenarnya sudah beberapa bulan lalu dia merasa tak nyaman dengan ini. Walau kesalahan yang dilakukan Dzikri bukan kesalahan sepele, tapi dia juga tak memungkiri jika keberadaan pria itulah Kenji bisa sampai di titik ini.
Kenji beranjak. Ini yang dia tak suka ketika berkunjung. Waktu dari rumah menuju tahanan itu membutuhkan sekitar satu setengah jam. Sementara dirinya bertemu dengan Dzikri hanya terhitung beberapa menit.
"Mungkin emang gue udah bergantung terlalu banyak sama dia selama ini," ucapnya.
Dia sudah memiliki rencana ketika Dzikri bebas nanti, dia akan melakukan sesuatu dengan temannya itu.
Tapi hari ini adalah jadwalnya untuk memeriksakan kesehatan. Dia rutin melakukan ini setidaknya satu kali dalam satu bulan.
Kenji melakukan mobilnya menuju salah satu rumah sakit di mana dia rutin melakukan kontrol kesehatan.
Sebenarnya dia malas pergi ke sana karena pasti dia bertemu dengan orang itu. Tapi apa daya karena semuanya sudah terlanjur.
Kenji berjalan menuju ruangan di mana biasanya dia melakuka pemeriksaan. Benar saja dugaannya, entah mengapa dia selalu bertemu dengan pria itu padahal rumah sakit ini sangat besar.
****
Apa yang ditakutkan oleh Kenji akhirnya terjadi. Bukan hanya berpapasan dengan pria itu tapi sekarang dirinya juga sedang meminum kopi bersama di cafetaria rumah sakit.
"Lama gak ketemu," ujarnya.
Mungkin maksudnya lama gak ngobrol karena selama ini mereka saling bertemu hanya saja tak saling menyapa.
__ADS_1
Baru kali ini mereka mengobrol seperti sekarang.
"Hmm," jawab Kenji sambil meneguk kopinya.
"Gimana kabar lo?" Pria dengan name tag Axel Lorenza itu kembali bertanya.
"Baik. Lo?" Kenji kembali bertanya setelahnya.
"Baik juga."
"Udah lama rasanya setelah dia pergi, iya kan?" ucap Axel.
"Jangan bahas dia lagi. Toh sebanyak apapun kita ngomongin dia dan masa lalu, kita gak akan ketemu dia lagi," jawab Kenji.
Axel tahu jika dia tak bisa lagi bertemu dengan Ciya bagaimanapun caranya. Bahkan ketika dia mati pun itu tak akan memastikan jika dia akan bertemu dengan Ciya.
Tapi Axel ingin saja membicarakan gadis itu. Dia ingin mengenang dan mengingat kembali bagaimana gadis itu dulu ketika masih mengejarnya.
"Selama ini gue sering lihat lo bolak-balik ke rumah sakit ini. Kenapa?" tanya Axel.
Selama ini dia sering sekali melihat Kenji datang ke rumah sakit mungkin sekitar satu bulan satu kali.
"Kontrol kesehatan doang." Kenji juga sudah menduga jika Axel pernah melihatnya di sini. Tapi baik itu Axel atau Kenji sama-sama tak saling menyapa.
Axel mengangguk mengerti. "Gimana kabar Bundanya Ciya?"
"Baik, dia baik-baik aja. Kenapa lo gak langsung datang aja ke rumahnya dan tanyain kabar dia," ujar Kenji.
"Beberapa kali gue udah niat mau ke sana dan bahkan gue juga pernah udah sampai di depan rumahnya. Tapi gue urungin niat gue karena gue ngerasa gak pantes. Lagian kalau gue ke sana, mungkin dia gak akan terima kedatangan gue," jawab Axel.
"Siapa tahu dia terbuka sama lo. Bunda Jihan bukan tipe orang picik yang menyimpan dendam pada seseorang. Coba aja lo datang, mungkin dia bakal nerima Lo dengan baik." Kenji kembali memberikan saran.
"Hmm nanti gue coba." Mereka kembali saling terdiam dan kembali meneguk kopi mereka.
Mereka berdiam diri cukup lama masih terpaku dengan apa yang ada di pikiran mereka masing-masing.
"Ciya," ucap Axel tiba-tiba.
Netranya menangkap sosok yang selama ini dia rindukan. Kenji yang mendengar itu sontak menolehkan pandangannya pada Axel dengan tatapan heran.
__ADS_1
"Apaan sih?" tanya Kenji.
"Ken gue lihat Ciya. Di sana!" Axel menunjuk ke arah di mana tadi dia melihat Ciya. Kenji mengikuti arah pandang Axel.