Retisalya

Retisalya
Javier Marah


__ADS_3

"Masih ngikutin gak?" tanya Ciya dengan panik. Tentu saja dia panik, sudah dia katakan kalau dirinya sama sekali belum siap bertemu dengan Kenji.


"Masih. Pegangan!!" Beyza langsung saja menancap gasnya dengan cepat.


"Telpon Javier sekarang. Bilang kita ketemuan di jalan xxx," ucap Beyza pada Ciya.


"Mau apa?" tanya Ciya tak mengerti.


"Udah, cepet telpon!" Karena tak ingin memperpanjang urusan, akhirnya Ciya menelpon Javier.


"Vi, lo lagi di mana?" tanya Ciya dengan panik.


"Di rumah. Kenapa? Kaya panik gitu?" tanya pria di seberang sana.


"Gue minta tolong. Lo sekarang ke jalan xxx kita ketemuan sekarang!! Cepat!!" 


"Oke!!" 


Beyza masih melajukan mobilnya sambil terus melihat spion. Di pertigaan dia segera berbelok.


"Itu mobil Javier!!" Ciya menunjuk mobil yang berhenti di depan mereka.


"Pindah ke mobil itu!!" Ciya mengangguk dan segera pergi ke sana. Setelahnya mobil Javier itu melaju entah ke mana. Sementara Beyza kembali melajukan mobilnya untuk mengecoh Kenji yang masih mengikutinya.


Beyza berhenti di sebuah toko baju. Dia keluar dari mobil seolah tak ada yang terjadi. 


"Bey!!" Beyza mendengar jika Kenji memanggilnya. Gadis itu menoleh.


"Ah Kak." Beyza menghampiri pria itu dengan senyuman di wajahnya.


"Lo sama siapa?" tanya Kenji yang melihat ke arah belakang Beyza.


Beyza seolah penasaran dan juga melihat ke belakangnya. "Siapa?" tanya Beyza.


"Tadi gue lihat lo sama seseorang. Lo abis dari makam Ciya, kan?" tanya Kenji.

__ADS_1


"Makam Ciya? Enggak Kak. Gue dari rumah langsung ke sini." Sepertinya jika Beyza mengikuti casting, dia akan lolos menjadi pemeran utama.


"Jangan bohong lo. Dari tadi gue ngikutin lo," ucap Kenji tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Beyza.


"Loh, Kakak bisa lihat sendiri kalau gak percaya," ucap Beyza sambil mempersilahkan Kenji untuk memeriksa mobilnya.


Kenji segera menghampiri mobil Beyza. Dia yakin jika mobil yang dia ikuti tadi itu mobil Beyza.


"Gak ada kan?" Beyza menghampiri Kenji dan bertanya pada pria itu.


Kenji tak menjawab, namun memang di sana tidak ada siapapun. "Orang aku emang ke sini sendiri kok. Emang siapa yang Kakak lihat?" tanya Beyza ingin memastikan jika Kenji tak melihat Ciya.


"Tadi di makam Ciya gue lihat orang yang mirip banget sama Ciya. Entah lagi apa dia di makam Ciya. Dia gak sendirian, dia sama orang lain juga," jawab Kenji menjelaskannya.


Beyza terkekeh. "Kakak kayanya sakit deh. Masa ada orang yang udah meninggal hidup lagi," ucap Beyza.


"Tapi gue lihat dengan jelas. Dan ini bukan yang pertama kalinya," jawab Kenji masih berusaha meyakinkan Beyza.


"Kakak mending istirahat. Kayanya Kakak kecapean. Aku ke sini dulu ya Kak," ucapnya sambil meninggalkan Kenji sendirian di sana.


Beyza masuk ke toko baju itu. Setelah dia memastikan jika Kenji tak lagi mengikutinya, gadis itu mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan pada Ciya menyampaikan bahwa semuanya sudah aman.


**** 


"Aahhhh akhirnya gue bisa nafas lega," ucap Ciya sambil menghela nafasnya. 


"Ada apa sih sebenarnya? Dari tadi gue bawa mobil udah kaya orang kesetanan tapi sama sekali gak tau apa yang terjadi," tanya Javier.


Setelah mendapatkan telpon dari Ciya tadi, pria itu dengan segera mengambil kunci mobil dan langsung pergi ke tempat yang disebutkan oleh Ciya, itupun dengan bantuan maps.


"Gue hampir aja ketauan sama Kak Kenji," jawab Ciya. Saking seringnya Ciya berbicara tentang pria itu atau teman-temannya yang lain, Javier menjadi tahu siapa orang-orang itu.


"Kenapa bisa?" Javier mulai memperlambat laju mobilnya karena ingin mendengar cerita dari Ciya.


"Hari ini gue minta Beyza jemput gue di rumah Bunda. Gue minta dia buat antar gue ke makam gue." Rasanya aneh menyebutkan hal itu di saat dirinya masih hidup.

__ADS_1


"Mau apa lo ke sana?" Lagipula Javier tak mengerti dengan jalan pikiran Ciya. Untuk apa dia pergi ke tempat itu.


"Gue cuma mau lihat aja. Dan setelah gue sampai di sana ternyata kuburannya indah, kayanya ada seseorang yang datang beberapa hari lalu karena masih ada bunga yang agak segara di sana," ucap Ciya menceritakan apa yang tadi dia lihat.


"Terus dengan adanya bunga di sana lo bahagia?"


"Bahagia. Karena waktu gue hidup, gue sama sekali gak pernah dapat bunga dari siapapun. Akhirnya setelah gue dinyatakan meninggal, banyak yang kasih bunga sama gue."


Javier sangat miris rasanya mendengar hal itu. Dia tak menyangka jika kehidupan Ciya akan setragis itu.


"Lo ke sana cuma mau lihat bunga?" Javier kembali bertanya.


"Enggak Vi, masa iya gue juga harus bilang sama lo kalau di sana gue juga ngomong sama nisan!" kesal Ciya karena Javier seolah memojokannya.


"Nah abis itu kan lo ketemu sama Kak Kenji lo itu?!" sentak Javier.


Bukan apa-apa dia hanya tak ingin Ciya kenapa-kenapa. Makanya akan lebih baik bagi gadis itu untuk diam saja di rumah. Jangan mendekati tempat-tempat yang sekiranya akan dikunjungi oleh orang-orang di masa lalunya.


"Ya maaf. Gue kan gak tau kalau dia mau ke sana," cicitnya. Dia tak marah pada Javier karena dia tahu jika pria itu mengkhawatirkannya.


"Jangan ke tempat-tempat kaya gitu lagi kalau lo emang masih belum siap ketemu sama mereka. Kecuali kalau lo udah gak peduli mau ketemu mereka atau enggak." Javier berusaha memberikan pengertian pada Ciya.


Ciya mengangguk paham. Lain kali dia akan lebih hati-hati jika pergi ke luar.


"Terus sekarang lo mau ke mana? Pulang ke rumah atau ke rumah Bunda lagi?" tanya Javier. Entah sudah berapa lama mereka berputar di jalan yang sama hanya untuk berbicara.


"Mau ke rumah Bunda." Selama apapun tinggal dengan Daddy dan Mommy-nya, rumah Bundanya memang tak akan pernah tergantikan. Ciya lebih nyaman berada di rumah bundanya karena dia merindukannya.


"Kapan lo mau tidur di rumah lagi? Gue takut tidur sendiri," rengek Javier.


"Vi, please deh. Lo itu udah gede, masa masih takut sama yang begituan sih?" tanya Ciya tak mengerti. Padahal jika kita tak mengganggu, mahluk halus juga tak akan mengganggu kita.


"Gue juga gak tau. Lo gak akan pernah tahu gimana takutnya gue kalau tidur sendiri di tempat baru," ucap Javier.


Dia juga tak ingat, entah sejak kapan dia merasakan takut pada sesuatu seperti itu.

__ADS_1


"Ya udah lo mending cepat nikah biar ada yang temenin lo tidur. Jangan gue terus yang nemenin. Lo jahat kalau lagi tidur," ucap Ciya.


Ketika sedang terlelap, Javier memang suka tak tahu diri. Pria itu selalu menghabiskan tempatnya.


__ADS_2