
Tak menyerah sampai di sana, Axel kembali mencari Ciya. Saat berpikir di halaman rumah Ciya tadi, tiba-tiba Daania ada dalam kepalanya.
Ya, dan sekarang Axel ada di depan rumah Daania.
“Daan, Daania?!” Axel mengetuk pintu rumah Daania. Walaupun terkesan tak sabar, dia tetap menahan nada suaranya sebisa mungkin agar tenang.
Pintu terbuka dan menampilkan Daania di sana dengan muka bantalnya. Seketika mata Daania membulat sempurna karena kehadiran Axel di rumahnya.
“Kak Axel!” ucapnya terkejut.
“Lo tahu di mana Ciya?” tanya Axel tanpa mengindahkan perkataan Daania tadi.
Wajah Daania seketika berubah mendengar pertanyaan Axel. Yang semula terkejut kini wajahnya terkesan datar dan tidak bersahabat.
“Ada urusan apa lo sama dia?” tanya Daania sarkas.
“Gue tahu apa yang lo maksud waktu itu. Ciya, dia donorin darahnya buat gue kan?”
Daania berdecak diiringi senyum sinisnya. “Terlambat kalau lo baru sadar sekarang!” Daania menutup pintu rumahnya dengan keras.
“Pergi! Meskipun gue tahu, gue gak akan kasih tahu lo di mana dia!!” teriak Daania dari balik pintu.
“Gue mohon, kali ini aja. Seenggaknya biarin gue bilang makasih sama dia, Daan!” Axel membalas teriakan Daania, namun hening tak ada jawaban lagi dari Daania.
Axel menunduk mencoba berpikir di mana lagi dia bisa menemukan cewek itu. Matanya membulat seakan mendapatkan pencerahan.
“Kenji!”
*****
Axel menyerah untuk hari ini. Dia mendatangi rumah Kenji namun pria itu tak ada di rumahnya. Itulah mengapa untuk hari ini dia akan kembali ke kediaman Dylan dan melanjutkan mencari Ciya besok hari.
*****
Sementara di sini, Ciya dengan Kenji melangkahkan kakinya. Di tempat sepi dengan segenggam bunga di tangan Ciya.
Ya, dokter mengijinkan Ciya keluar walau hanya sebentar dan tentu saja masih dengan selang oksigen yang menemaninya.
Gundukan tanah yang dia tuju kini sudah ada di hadapannya. Tak peduli seberapa keras dia menahan air matanya agar tak keluar, akhirnya air mata itu menerobos juga.
Ciya dan kenji berjongkok di hadapan gundukan tanah yang terdapat taburan bunga di atasnya itu.
“A-ayah.” Nafas Ciya tercekat, sementara Kenji mengusap punggung Ciya lembut berusaha menenagkan gadis itu.
“Ciya kangen. Ciya mau ketemu Ayah.” Ciya terisak pilu. Mungkin jika kalian mendengar tangisan Ciya saat ini, itu akan membuat hati kalian seakan terhantam benda tumpul yang begitu besar.
“Ayah tahu, semenjak kepergian Ayah, hidup Ciya –“ Ciya berhenti seakan tak mampu melanjutkan perkataannya.
“Hidup Ciya hancur. Ciya takut. Ciya mau ketemu Ayah, tapi Ciya takut meninggalkan Bunda sendirian,” lanjutnya.
__ADS_1
Tangis Ciya pecah. Dia meraung seakan hidupnya benar-benar hancur dan tak ada harapan lagi baginya.
Kenji memeluk tubuh rapuh itu, berharap hal itu bisa membantu menenangkan Ciya, namun nafas Ciya semakin tersenggal.
“Aakhh, Kak Axel –“ ucap Ciya sebelum kemudian kehilangan kesadarannya.
Deg
Kenji mematung, kehidupan seakan berhenti begitu saja.
“Sepertinya memang gak ada tempat buat aku di hati kamu. Di saat seperti inipun nama Axel yang kamu sebut.”
*****
Setelah hari di mana Ciya kehilangan kesadarannya di pemakaman, Kenji segera membawa gadis itu kembali ke rumah sakit dan mendapat penanganan dari dokter.
Hari ini, tepat lima hari setelah kejadian itu dan Ciya masih tak ingin membuka matanya. Gadis itu masih betah di alam mimpinya.
Selama lima hari itu, Kenji tak pernah absen mengunjungi Ciya. Setelah Kenji mendapatkan kabar bahwa Axel mencari Ciya, sebisa mungkin dia menghindari Axel.
Dia tak ingin Axel bertemu Ciya, biarkan dia menjadi egois kali ini saja.
“Kamu masih betah tidur?” tanya Kenji. Tangannya menggenggam erat tanga Ciya. Tangan itu semakin dingin hari demi hari.
Sebenarnya Kenji mulai takut dengan keadaan saat ini. Dia takut kemungkinan buruk yang akan menimpa Ciya.
“Jangan lama-lama, aku kangen,” ucapnya.
*****
Ini sudah kaleng ke 5 yang dia habiskan sejak pagi tadi. Wajahnya memerah efek alkohol yang dia minum.
“Mau sampai kapan lo kaya gini?” Mungkin ini sudah kesepuluh kalinya Dylan menanyakan pertanyaan yang sama.
“Gue ma tidur,” jawab Axel mulai mengalihkan pembicaraan.
“Lo suka kan sama Ciya?” Pertanyaan Dylan yang satu ini cukup berhasil membuat Axel membuka matanya.
“Gak!” bantahnya.
“Terus kalau gak suka kenapa sampai kaya gini lo?” Dylan menunjuk kaleng minuman yang berserakan di kamar Axel.
“Gue Cuma mau berterima kasih sama dia, emang salah?” kesal Axel.
“Cih omong kosong!” ucap Dylan. Dia pergi meninggalkan Axel sendirian lagi.
Setelah kepergian Dylan, Axel melamun. Meresapi perkataan Dylan yang mengatakan bahwa dirinya menyukai Ciya.
“Enggak. Gue cuma suka Daisy. Ciya? Gue cuma mau bilang terima kasih,” monolognya. Dia membenamkan kembali kepalanya di balik bantal.
__ADS_1
“Aaarrggg!!!” Axel mengerang frustasi.
*****
“Kak, kenapa diam aja dari tadi?” tanya Daisy.
“Ah enggak kok, gak kenapa-kenapa. Lagi gak enak badan aja,” jawabnya.
Daisy mengangguk.
“Katanya sekarang ada murid pindahan ya?”
Belum sempat Axel menjawab pertanyaan Daisy, sebuah suara berhasil membuat mereka mengalihkan pandangannya.
“Hey yo Daisy, lo berubah banget ya!” serunya. Daisy bergetar, dia ketakutan.
“Lo – lo siapa?” tanya Daisy gugup.
“Cih, lo pura-pura lupa mentang-mentang udah cantik lo.”
“Lo siapa? Kenapa ganggu cewek gue?!” Axel meraih kerah baju pria itu.
“Santai bro, gue teman SMP-nya.” Axel menatap Daisy untuk meminta kepastian.
Daisy menunduk, dia tak tahu harus menjawab apa.
“Oke kalau lo lupa. Nama gue Delvin Ryoji orang yang udah permaluin Ciya dan lo orang yang nyuruh gue.” Senyum orang yang bernama Delvin itu mengembang, sementara Daisy membulatkan matanya.
“Maksudnya?” Axel bingung karena semua ini.
“Ups, sorry gue kelepasan.”
“Jelasin sekarang!!” teriak Axel yang membuat Daisy terlonjak.
“Dia benci Ciya, hmm bukan lebih tepatnya dia iri sama kehidupan Ciya yang sempurna. Ya, dan sisanya lo pasti ngerti kenapa dia juga deketin lo. Karena Ciya suka sama lo, dan dia lebih dulu dapetin lo daripada lihat lo sama Ciya bahagia.”
Mata Axel membulat.
“Jadi selama ini kamu gak ada rasa sama aku?” tanya Axel. Dia berharap semua itu tidak benar.
“Bu-buk – “
“Jawab yang jelas!” bentak Axel. Daisy menunduk. Semua yang dikatakan Delvin benar, dia tak pernah menyukai Axel, dia hanya tak mau melihat Ciya bahagia dengan Axel.
“Ya benar! Semua yang dia bilang itu benar!” teriak Daisy.
Axel mengangkat tangannya hendak menampar Daisy, nemun dia menahannya karena mengingat jika Daisy itu wanita.
Axel menghela napasnya dalam. “Cewek gila,” desisnya, entah Daisy mendengarnya atau tidak.
__ADS_1
“Kita putus!” Axel pergi dari sana setelah mengatakannya