
Hari berlalu begitu saja. Kegiatan sehari-hari Ciya masih tetap sama, pergi ke sekolah, check up ditemani kenji dan pulang. Begitulah kiranya keseharian Ciya.
Tentang Axel, Ciya masih sangat gencar mendekati pria itu sementara pria yang dikejar Ciya malah makin menempel dengan sang kekasih.
Raut wajah Ciya berubah muram saat lagi-lagi melihat pemandangan yang tidak menyenangkan. Axel dan Daisy sedang bergandengan tangan dan berjalan di koridor sekolah. Mungkin mereka menuju kantin.
“Lihatin apa?” Seseorang yang sedang dia tunggu kedatangannya akhirnya datang juga.
Ciya memalingkan wajahnya untuk melihat orang yang baru saja datang.
“Bukan apa-apa. Kak Kenji ngagetin,” ucapnya.
“Mau ke mana sekarang?” tanya pria itu. Ciya terlihat sedikit berpikir. Awalnya dia ingin sekali ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong, namun melihat dua sejoli tadi berjalan ke arah kantin, gadis itu mengurungkan niatnya.
“Rooftop?” ucap Ciya ragu.
Kenji mengangguk. Dia tak pernah menolak permintaan Ciya jika itu memang masih masuk akal.
Suasana tenang rooftop memang benar-benar menjadi obat hati bagi Ciya. Gadis itu menghirup udara sebanyak-banyaknya sehingga memenuhi ruang di dadanya dan menghembuskannya perlahan.
“Kira-kira berapa lama lagi Ciya bisa melihat pemandangan indah ini ya Kak?” tanya Ciya.
“Kamu bisa lihat sepuas kamu dan kamu akan selalu melihatnya.” Kenji tahu ke mana arah pembicaraan Ciya, namun Kenji memilih untuk memberikan jawaban sepositif mungkin agar Ciya tetap tenang dan tidak terlalu memikirkan penyakitnya.
“Ciya harap begitu,” lirihnya. Jujur saja, dia tak ingin mati.
Ciya menolehkan kepalanya memandang Kenji. Gadis itu teringat kejadian beberapa hari lalu saat Kenji menghajar habis-habisan Dzikri di kelasnya.
“Kak gimana masalah kemarin?”
Kini giliran Kenji yang menerawang jauh mengingat kejadian beberapa hari lalu. Dia berusaha menyangkal bahwa Dzikri yang melakukannya, namun setiap mengingat video yang dia putar, Kenji selalu kembali membenci sahabatnya itu.
“Gak tahu, lupain aja,” ucapnya singkat. Ciya mengangguk enggan memperpanjang pembicaraan itu saat dirasa Kenji tidak nyaman.
*****
Belakangan ini, di tengah-tengah rasa bahagia yang dirasakan Axel selalu saja ada Ciya yang mengganggunya. Seperti beberapa hari lalu saat Axel dan Daisy sedang berkencan, tiba-tiba gadis itu datang menghampiri mereka.
Lagi-lagi Ciya mengungkapkan perasaannya pada Axel walaupun tanpa Ciya mengatakannyapun Axel sudah mengetahuinya.
__ADS_1
Baginya Ciya adalah seorang pengganggu. Jika di dunia ini hanya tinggal mereka berdua, jujur saja Axel memilih mati meninggalkan gadis itu. Baginya gadis itu terlalu berisik.
Sekarang, dia berada di kantin dan berharap agar gadis itu tidak tiba-tiba muncl dan mengganggunya lagi.
“Kamu udah persiapan buat pertandingan basket siang nanti?” tanya Daisy tiba-tiba di tengah lamunannya.
“Aku gak perlu persiapan. Pacar kamu ini udah hebat,” jawab Axel percaya diri.
Mereka terkekeh ria di tengah keramaian kantin.
*****
“Siang nanti ada pertandingan basket, Kakak mau lihat?” tanya Ciya.
“Aku main,” jawab Kenji. Ya benar, Kenji main. Ciya sampai melupakannya, Ciya hanya mengingat jika Axel yang akan bertanding.
Ciya mengangguk.
“Ciya semangatin Kakak dari tribun ya,” ucapnya girang. Kenji mengangguk, dia tahu jika Ciya tak akan melakukannya. Yang ada dalam indera penglihatan Ciya selama ini hanyalah Axel dan sudah pasti jika Ciya menonton basket hanya karena Axel ada di sana.
*****
Seperti yang telah dikatakan Ciya tadi, kini gadis itu benar-benar ada di tribun untuk melihat pertandingan basket.
Ciya bisa melihat dari ekor matanya bahwa di tribun paling bawah ada Axel dan juga Daisy. Gadis itu memegangi handuk kecil yang biasa dipakai Axel untuk menyeka keringatnya dan sebuah botol minuman berwarna biru.
“Ciya juga mau ada di posisi Daisy,” lirihnya.
“Hoy, main ninggalin aja.” Ciya terlonjak. Sahabatnya datang dengan tiba-tiba. Memang beberapa waktu lalu Ciya meninggalkan kedua sahabatnya itu di kamar mandi karena terlalu lama.
“Habisnya kalian lama,” jawab Ciya.
“Udah udah, kalian ke sini mau ngobrol atau mau nonton.” Daisy berusaha melerai keduanya.
Tanpa sebuah jawaban, pandangan mereka kembali fokus ke arah lapangan di mana permainan akan segera dimulai.
“Eh eh tuh kak Kenji.” Beyza menyenggol lengan Ciya agar gadis itu mengikuti arah pandangnya.
Benar saja, Ciya segera mengalihkan pandangannya dari Axel dan mencari keberadaan Kenji. Kenji yang memang berada di tengah lapangan melambaikan tangannya pada Ciya dan dibalas juga oleh Ciya.
__ADS_1
“Ehemm, ada yang baru nih,” sindir Daania. Jujur saja, gadis itu lebih memilih Kenji yang bersama Ciya daripada Axel.
“Sttt berisik! Kalian ini apaan sih!” kesal Ciya.
Pertandingan berjalan dengan aman dan di sana terlihat jika kelas Axel memimpin dengan skor 15:18.
Seperti halnya gadis lain, Ciya juga berteriak kala Axel berhasil mendapatkan skor. Itulah mengapa saat ini dia terbatuk-batuk.
Bukan dahak yang keluar dari mulutnya melainkan darah, namun Ciya menahan segala rasa sakit yang menerpa dadanya. Dia kembali terlihat baik-baik saja setelah menyeka darah di sekitar mulutnya dengan tisu.
Tangannya terus saja memegang sekitar dadanya yang terasa nyeri, namun beruntunglah kedua sahabatnya fokus pada pertandingan hingga tak menyadarinya.
Sepertinya memang sudah menjadi sejarah bahwa tak ada yang bisa mengalahkan kelas Axel.
“Udah selesai, yuk turun. Mau nemuin kak Kenji gak?” tanya Beyza pada Ciya.
Ciya mengangguk. Walaupun tubuhnya terasa lemas dengan wajah memucat Ciya mencoba berjalan menuju lapangan.
Belum sempat Ciya menghampiri Kenji, gadis itu lebih memilih menghampiri Axel yang jaraknya tak jauh dari Kenji.
Senyumnya mengembang. Raut bangga sangat tercetak jelas di wajahnya yang memucat.
“Selamat Kak,” ucapnya pelan. Ciya mengulurkan tangannya.
“Makasih,” jawab Axel singkat, bahkan pria itu tak ada sedikitpun niatan untuk membalas pandangan maupun uluran tangan Ciya.
“Kak, boleh Ciya minta sesuatu? Terakhir kalinya mungkin,” lirih Ciya. Dengan tubuhnya yang sudah sangat lemah ini, Ciya tak yakin akan bertahan hidup.
Axel memandang netra Ciya lekat menunggu kelanjutan ucapan Ciya.
“Boleh Ciya minta pelukan Kak Axel?” Matanya mulai sendu saat pria itu tak kunjung memberikan jawaban.
“Ciya janji ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya.” Gadis dengan tubuh rapuh itu menggenggam erat tangan Axel.
“Segitu murahnya lo minta peluk sama cowok yang bukan siapa-siapa lo?!” Axel menghempaskan tangan Ciya hingga gadis itu tersungkur.
Satu keinginannya lagi-lagi pupus begitu saja.
“Jangan pernah ganggu hidup gue lagi!” sarkasnya.
__ADS_1
Tubuhnya bergetar, dia tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang perlahan menggerogoti jiwa dan raganya.
“Tuhan, aku ingin melupakannya,” lirihnya.