Retisalya

Retisalya
R U Crazy


__ADS_3

Setelah pertanyaan Bunda Jihan kemarin sore, Ciya dengan antusias menceritakan semua yang dia alami. Tentu saja mereka bercerita hanya berdua, jika ayahnya tahu bisa-bisa Ciya mendapatkan wejangan dari ayahnya.


Walaupun hari-hari biasanya Ciya selalu menampilkan senyum cerianya, entah mengapa senyum itu hari ini terasa lebih ceria dari biasnya.


“Ciya!” panggil seseorang yang suaranya sudah Ciya hapal di luar kepala.


Ciya menolehkan kepalanya. Axel, pria itu hari ini sepertinya datang sendiri karena Ciya tak melihat ada Dylan ataupun Dhavin di sampingnya.


“Kak Axel.” Ciya melambaikan tangannya. Perasaan dalam dadanya sangat membuncah saat Axel menyebut namanya.


“Kak Axel sendiri?” tanyanya saat Axel sudah ada di hadapannya.


“Iya, mereka masih pada tidur,” jawab Axel. Mereka berjalan beriringan. Kelas mereka memang tak terlalu jauh, itu sebabnya mereka berjalan sangat pelan.


“Kak Axel udah sarapan?” tanya Ciya basa-basi. Dia tak suka suasana sunyi yang canggung.


“Mau sarapan bareng?” Axel malah membalikan pertanyaannya yang berhasil membuat Ciya menganga.


“Boleh?” tanya Ciya memastikan.


Tanpa menjawab, Axel menarik tangan Ciya menuju kantin. Ciya yang diperlakukan seperti itu tentu saja sangat bahagia.


Mereka makan dalam diam. Meskipun Ciya tak nyaman dengan suasana seperti ini, namun dia berusaha menahan mati-matian untuk mengucapkan apapun. Dia takut Axel tak suka dan acara makannya berakhir dengan buruk.


“Masih mau nambah?” tanya Axel setelah mereka menghabiskan makanannya.


“Enggak Kak, Ciya kenyang. Nanti Ciya gendut,” kekeh Ciya.


“Gak apa-apa, gue suka lo gendut daripada lo sakit karena gak makan.” Ucapan Axel berhasil membuat wajah Ciya merona.


“Gak usah salting,” canda Axel dengan senyum di wajahnya. Banyak pasang mata yang saat ini memerhatikan interaksi mereka.


“Enggak ya, Ciya gak salting. Ayo ah ke kelas.” Ciya berdiri dari duduknya dan pergi dari sana dengan tergesa.


Perlahan raut wajah Axel menjadi dingin.


“Sampai kapan gue harus kaya gini? Muak sialan!” desisnya. Dia tak ingin ucapannya didengar oleh siswa lain karena itu akan menggagalkan rencananya.


***


“Muka lo kenapa merah, Bry?” tanya Beyza saat Ciya sudah memasuki kelas dengan senyum yang tersemat di bibirnya.


Ciya menggeleng malu-malu.

__ADS_1


“Cih sakit lo?” decak Daania.


“Enggak kok. Ciya sehat!” semangatnya.


Teman-teman Ciya agak bergidik melihat perilaku Ciya. Ciya memang selalu tersenyum, namun jika senyum Ciya seperti ini sepertinya ada yang tidak beres dengan gadis itu.


Sementara di sudut kelas seorang gadis tengah memerhatikan perilaku Ciya dengan senyum miringnya.


“Kena lo,” desisnya. Senyum miring tercetak jelas di wajahnya.


 Sejak Axel mulai melancarkan aksinya, Daisy sudah mulai menjauhi Ciya. Dia tak ingin dicurigai oleh Ciya.


Daisy segera kembali memfokuskan diri pada buku di hadapannya sebelum Ciya melihat bisa melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu.


Sepertinya pelajaran pertama akan segera dimulai. Jam pertama dengan mata pelajaran yang sangat dibenci oleh kebanyakan siswa. Matematika, mereka akan sangat malas jika bertemu dengan pelajaran ini, apa lagi dengan seorang guru killer yang kerap menghukum mereka karena berbagai alasan.


Ketika semua siswa menekuk wajahnya malas, berbeda dengan Ciya. Ciya memang salah satu orang yang juga membenci pelajaran itu, namun sepertinya pelet Axel masih sangat kuat menempel pada diri Ciya.


“Ciya! Kamu ngetawain saya?!?” Sebuah teriakan yang menggema di kelas Ciya membuat Ciya terlonjak. Bagaimana tidak? Saat ini pikirannya sedang dipenuhi Axel singkatnya dia tengah melamun.


“Enggak, Pak. Ciya gak ketawa, ini namanya senyum,” jawabnya. Teman-temannya dengan kompak menepuk jidat masing-masing. Bisa-bisanya Ciya menjawab guru itu dalam keadaan seperti ini.


“Kamu ini! Keluar kamu, hormat di lapangan sampai jam istirahat!” kesal guru itu.


“Siapa tahu Ciya bisa ketemu kak Axel kalau dihukum di lapangan,” desisnya.


Kakinya terus melangkah ke arah lapangan dengan kepala yang menengok ke sana ke mari guna mencari sosok pria yang disukainya.


Nihil. Orang yang dicarinya tak menampakkan batang hidungnya sedikitpun, mungkin jam pertama kelasnya tidak kosong.


Ciya menghormat bendera di lapangan dengan cuaca yang bisa dikatakan panas. Keringatnya bercucuran.


“Kok ini muter-muter ya.” Ciya memegangi kepalanya dan sesekali menggelengkan kepalanya.


“Padahal tadi Ciya udah sarapan,” desisnya sebelum kemudian semuanya gelap.


***


Perlahan Ciya membuka matanya dan orang pertama yang Ciya lihat adalah Daania dan Beyza.


“Lo pingsan,” ucap Daania spontan saat melihat raut wajah Ciya yang sepertinya bertanya-tanya mengapa dirinya ada di sini.


Ya saat ini mereka tengah berada di UKS.

__ADS_1


“Pakai segala jawab pertanyaan tuh guru sih,” lanjut Beyza.


“Ya kan kalau ada yang tanya harus dijawab,” jawab Ciya membela diri.


“Ciya ditolongin siapa?” lanjut Ciya. Dia sangat berharap jika Axel yang membawanya ke sini.


“Yang jelas bukan Axel,” jawab Daania.


Raut wajah Ciya berubah saat Daania menjawab seperti itu.


“Kenji,” ucap Beyza tiba-tiba. Ciya terbelalak mendengar penuturan beyza yang tiba-tiba.


***


“Lama lo!” teriak Dzikri saat melihat Kenji akhirnya muncul setelah dia menunggu lama.


“Ada masalah dikit tadi,” jawabnya. Suasana di atas sini memang sangat nyaman untuk bersantai. Itulah mengapa rooftop sekolah menjadi tempat favorit bagi siswa siswi.


“Masalah apa? Lo ribut lagi sama Axel?” tanya Dzikri. Dia memang sudah hapal dengan masalah Kenji.


“Bukan.”


“Lah? Terus apaan?” Dzikri mulai penasaran dengan cerita Kenji yang satu ini, pasalnya Kenji tak pernah peduli dengan masalah orang lain.


“Lo tahu cewe yang selalu ngejar-ngejar Axel?” tanya Kenji. Kenji tahu Ciya selalu mengejar Axel karena memang itu sangat ketara. Bagaimana tidak? Di mana ada Axel di situ pasti ada Ciya.


“Iya, kenapa?” Dzikri mulai serius dengan pembicaraan Kenji.


“Tadi dia pingsan dan gue bantu bawa dia ke UKS,” jawab Kenji.


“Wah apaan nih? Sejak kapan lo peduli sama orang-orang?” kekeh Dzikri. Pasalnya ini pertama kalinya setelah beberapa tahun Kenji peduli dengan seseorang.


Jika kalian tak tahu, satu tahun lalu terjadi kecelakaan di depan sekolah dan itu terjadi tepat di depan mata Kenji. Kalian tahu apa yang pria itu lakukan? Melewatinya begitu saja.


‘Biarin lah, nanti juga ada yang nolong’ Begitulah kiranya perkataan yang dia ucapkan.


“Masa ada yang pingsan depan mata gue, gue anggurin gitu aja sih! Gila lo,” sanggah Kenji. Lihatlah bagaimana perbedaan pandangan Kenji satu tahun lalu dengan sekarang.


“Ya ya ya terserah lo.”


“Tapi lo gak suka kan sama Ciya?” lanjut Dzikri mencoba menggoda Kenji.


“Gila lo!” Kenji beranjak dari sana. Jika dia meladeni perkataan Dzikri maka dia sama gilanya dengan Dzikri, begitu pikirnya.

__ADS_1


“Tunggu. Ada yang mau gue omongin.” Nada suara Dzikri beruban menjadi serius.


__ADS_2