
Hari itu, setelah bertemu Ayah Zayyan, Axel benar-benar dibuat menangis. Itu adalah kali pertamanya mengingat kenangan kelam yang membuat hatinya kembali teriris.
Setelah pertemuan itu rasanya sebagian beban dalam tubuhnya terangkat begitu saja.
Ayahnya tak meninggalkannya. Dia hanya menetap di suatu tempat dengan identitas baru, itulah yang Ayahnya katakan.
"Woy nih makan!" perintah Dylan. Sudah hari ketiga Axel tak masuk sekolah untuk memulihkan keadaannya.
"Iya," jawabnya.
Axel bangkit dari posisi tidurnya dan segera menghampiri Dylan yang berada di dapur.
Kalian berpikir Dylan memasak untuk Axel? Tentu saja tidak, dia memilih memesan makanan dari luar daripada membuat dapurnya hancur.
Mereka berdua makan bersama dalam keadaan hening. Setelah Axel ijin pada Dylan waktu itu, Dylan tak berani bertanya apa yang terjadi.
"Gue ketemu Ayah gue waktu itu," ucap Axel tiba-tiba setelah dia menghabiskan makanannya.
"Uhukk uhukk." Dylan terbatuk karena ucapan tiba-tiba Axel.
"Sebenarnya waktu kecelakaan, niatnya gue mau ketemu bokap. Tapi, karena pikiran gue kalut jadilah begini," ucap Axel sambil memperlihat luka-luka kecil yang ada di tubuhnya dan luka yang ada di bagian belakang kepalanya.
"Lo punya sahabat kenapa gak dimanfaatin, bego," ucap Dylan.
"Awalnya gue gak mau ngerepotin kalian. Jadi, gue lakuin urusan gue sendiri," jawab Axel.
"Terus, apa kata Ayah lo?"
"Dia bilang alasan dia pergi dari rumah dan di mana dia tinggal selama ini."
"Sebenarnya tanpa dia kasih tahu gue apa penyebab dia pergi, gue udah tahu karena gue juga lihat apa yang dilakuin nyokap gue waktu itu."
"Kalau gue ada di posisi bokap waktu itu, gue juga bakal pilih pergi," lanjutnya.
Dylan mengangguk. Dia juga sudah mengetahui apa yang terjadi dengan masa lalu Axel. Jadi, dia tak terlalu bingung dengan kedatangan Ayah Axel saat ini.
"Terus, di mana dia tinggal selama ini?" tanya Dylan penasaran.
__ADS_1
"Di sini, di sekitar gue sama kakak gue. Dia gak pernah pergi. Dia hidup dekat kita dengan identitas lain," jelas Axel. Untuk yang satu ini dia juga baru mengetahuinya.
"Eemmm. Terus sekarang mau gimana? Lo mau bawa dia balik ke rumah?" tanya Dylan.
"Gak. Gue gak mau dia ketemu nyokap. Udah cukup dengan dia baik-baik aja dan ada di sekitar gue. Gue gak mau dia sakit untuk yang kedua kalinya."
Dylan mengangguk paham.
"Oke udah selesai sesi curhat gue. Gue mau tidur, lo yang beres-beres ya!" Axel melenggang pergi setelah perutnya terisi penuh dan membiarkan Dylan membereskannya.
"Woyy sialan! Bantuin gue!" teriak Dylan, namun hening. Tak ada jawaban dari Axel. Nasibnya untuk membereskan bekas makan malam ini.
***
"Mau ke mana lo?" Pagi ini Dylan menatap aneh pada Axel.
Pria dengan balutan perban di kepalanya sudah siap dengan seragam sekolah lengkap dengan tas hitam yang dia gendong.
"Sekolah lah!" jawab Axel.
"Lo yakin? Dengan keadaan lo yang kaya gini?" Dylan menunjuk Axel dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Gak ada! Terserah lo!" teriak Dylan mendahului Axel.
Axel yang sadar harus menumpang mobil Dylan untuk ke sekolah hari ini, akhirnya berlari untuk menyamakan langkah mereka.
Suasana pagi hari di sekolah masih seperti biasanya. Sepi. Hanya ada beberapa siswa yang baru saja datang.
Hanya siswa siswi rajin yang datang ke sekolah di pagi hari seperti ini, namun untuk Axel dia datang pagi karena ingin bertemu dengan Daisy.
"Permisi, ada Daisy?" tanya Axel setelah masuk begitu saja ke kelas Daisy yang tentu saja juga kelas Ciya.
Daisy menoleh ke arah pintu masuk saat dirasa namanya terpanggil. Daisy diam sementara Axel menghampirinya dengan senyum lebar.
"Ada apa ya Kaka?" tanya Daisy terkesan canggung. Wajahnya juga mulai memucat.
"Kamu sakit? Kenapa wajah kamu pucat?" Bukan hanya sekedar bertanya, tapi Axel juga menyentuh kening dan leher Daisy untuk memastikan keadaan gadis itu.
__ADS_1
"Sa-saya baik-baik saja, Kak. A-ada apa ya?" tanya Daisy mulai tergagap.
Keringat dingin mulai bermunculan di permukaan kulitnya. Gadis itu memainkan jarinya karena terlalu khawatir.
"Aku kangen. Selama sakit kamu gak ada datang buat jenguk aku," ucap Axel. Rasanya aneh mendengar Axel menyebut aku-kamu di saat dia sangat dingin dengan orang lain.
Mata Daisy membulat sempurna dengan tubuh yang sedikit bergetar.
"Kak Axel," lirih seseorang yang baru saja bangun dari posisi duduknya di bagian belakang kelas.
Sepertinya gadis itu tengah duduk di lantai sambil memainkan ponselnya di belakang kelas.
"C-ciya?" Axel menoleh ke arah gadis yang dipanggil Ciya itu dengan badan menegang.
Apakah Ciya mendengar semuanya?
"Maksud Kakak gimana? Ciya gak paham," lirihnya. Dengan sekuat tenaga gadis itu berusaha berpikir positif.
"E-enggak. I-itu..." Hening. Axel tak bisa menjelaskannya pada Ciya.
Ciya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan air yang menggenang di pelupuk matanya.
"Ciya ngerti," ucap Ciya. Tangannya dengan cepat menghalau air mata yang turun tanpa persetujuan Ciya.
"Salah Ciya yang maksa buat deketin Kakak padahal Ciya tahu kalau Kakak udah nolak Ciya dari pertama kita ketemu. Ciya paham, kita udahan kan?" lirih Ciya. Beruntunglah suasana kelas sedang sepi hingga tak ada teman-temannya yang mengetahui hal ini.
"Baguslah kalau lo paham. Gue gak usah jelasin apa-apa sama lo. Sebenarnya baik dulu maupun saat ini gue gak pernah anggap lo pacar gue!" ucap Axel. Rasa gugupnya hilang berganti dengan rasa lega di hatinya.
Ciya tersenyum getir. Ternyata semuanya hanya halusinasinya. Axel tak benar-benar menjadi kekasihnya. Itu semua hanya harapan Ciya belaka.
"Kalau itu pilihan Kakak, Ciya harap Kakak bisa bahagia sama Daisy. Ciya terima keputusan Kakak." Air mata Ciya tak terbendung lagi. Isakkan ringan juga mulai terdengar di kelas yang sepi itu.
"Cih, gue gak minta persetujuan lo. Tanpa lo setujui sekalipun, gue tetep bakal buang lo!" Entah ajaran dari mana lidah Axel bisa begitu lemas mengucapkan kata-kata yang menghunus hati Ciya begitu saja.
"Buang?" lirih Ciya. Apakah di mata Axel dirinya seperti sampah?
Ciya menyerah untuk saat ini. Hatinya terlampau sakit dengan semua perkataan tajam Axel. Dia tak ingin lagi menerima rasa sakit semacam itu.
__ADS_1
Tubuhnya lemas. Dia akan terjatuh jika saja sebuah tangan tak menangkap tubuhnya. Ciya mendongak untuk melihat siapa yang telah menolongnya.
"Ikut gue," ucap orang itu seraya memapah Ciya untuk pergi dari sana.