
Malam tadi Ciya kembali tidur di rumah Bunda-nya. Dia merasa sekarang sudah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, dia akan selalu berhati-hati jika dia keluar nanti.
“Bunda,” panggilnya saat gadis itu menuruni anak tangga. Dia melihat Bundanya sedang menonton siaran televisi dengan sangat fokus.
Namun, begitu putrinya memanggil, wanita paruh baya itu menoleh dan tersenyum. “Mau ke mana, Sayang? Kok udah rapi gitu?” tanya Bunda Jihan melihat putrinya yang sepertinya akan pergi.
“Iya Bun. Ciya mau main sama Beyza, kebetulan dia lagi libur kerja,” jawabnya. Ciya mendudukan dirinya di samping sang Bunda.
“Oh iya. Pasti kamu juga bosan ya di rumah gak ada kegiatan?” tanya Bunda Jihan yang sangat sesuai dengan perasaan yang sedang Ciya rasakan saat ini. Dia sangat bosan di rumah dan hanya diam.
“Iya Bun,” jawabnya.
“Ya udah, jangan main aneh-aneh ya. Pulangnya jangan kemalaman juga.” Bunda Jihan mencoba memperingati putrinya.
“Iya Bunda, paling sore juga udah pulang, kok,” ucap Ciya. Bunda Jihan mengangguk.
“Terus sekarang, kok malah diam di sini? Katanya mau main?” Bunda Jihan sedikit heran karena putrinya bukan berangkat justru malah duduk di sampingnya dengan tenang.
“Belum Bunda, Ciya lagi nunggu Beyza jemput. Katanya dia aja yang mau ke sini sekalian ketemu sama Bunda,” jawab Ciya yang diangguki mengerti oleh Bunda Jihan.
“Bunda kalau lagi nonton televisi emang suka fokus banget kaya gini ya?” tanya Ciya yang merasa lucu ketika melihat Bundanya yang fokus pada layar televisi.
“Ya kalau lagi nonton emang harus fokus biat kita tahu apa yang mereka bicarain,” jawabnya. Padahal Bundanya itu hanya menonton sinetron yang sedang ramai diperbincangkan saat ini.
Ciya terkekeh mendengar hal itu dan akhirnya dia juga ikut menonton dengan Bundanya daripada bosan karena menunggu Beyza yang tak kunjung datang.
Tin Tin
Suara klakson mobil membuaat Ciya mengalihkan perhatiannyaa dari televisi. “Kayanya Beyza udah datang deh,” ucapnya.
“Suruh dia masuk dulu kalau gitu,” jawab Bundanya. Ciya mengangguk dan segera beranjak untuk membuka pintu.
__ADS_1
Benar saja seperti dugaannya, Beyza sudah tiba dan kini temannya itu sedang berjalan menuju rumahnya.
“Hei.” Dengan senang, Beyza memeluk Ciya seolah dia sudah lama tak bertemu dengan temannya itu. Padahal mereka sudah bertemu baru-baru ini.
“Kenapa sih?” tanya Ciya yang sedikit aneh dengan gadis itu.
“Gak kenapa-kenapa, gue kangen aja sama lo, emang gak boleh?” tanya Beyza sedih.
“Bukan gitu, gue aneh aja datang-datang main peluk,” kekeh Ciya. “Ya udah sini peluk lagi.” Ciya akhirnya membawa Beyza kembali dalam pelukannya.
Mereka terus berada dalam posisi itu hingga beberapa saat. “Udah ah, Bunda udah nunggu lo di dalam, yuk masuk,” ajaknya.
Beyza mengangguk dan mengikuti langkah Ciya untuk masuk ke dalam rumah.
Benar apa yang dikatakan Ciya jika Bunda Jihan sudah menunggunya. “Hai Bey, lama gak ketemu ya,” ucap Bunda Jihan sambil bersalaman dengan Beyza, tak lupa mereka juga saling berpelukan.
“Iya Bunda. Bey jarang ada di rumah, sekarang aja kebetulan ada libur agak panjang,” jawabnya.
“Emang mau pada main ke mana sih?” tanya Bunda Jihan penasaran.
Bunda Jihan tersenyum membalas gurauan Beyza. “Ya udah kalau udah mau pergi. Hati-hati ya,” ucapnya yang diangguki oleh anak gadis dan temannya itu.
Mereka pergi dari sana setelah berpamitan pada Bunda Jihan. “Lo beneran mau ke sana?” tanya Beyza kembali meyakinkan Ciya. Ciya kembali mengangguk.
“Tapi mau apa? Gak ada yang bisa lo lihat di sana,” ucap Beyza.
“Gue pengen lihat aja sejauh ini udah berapa banyak bunga yang ada di atas kuburan gue?”candanya sambil terkekeh.
“Bry, gak lucu tau gak!” Dia benci saat Ciya mengatakan itu adalah kuburannya. Padahal gadis itu masih bernafas saat ini di sampingnya.
Karena tak ingin berdebat lagi, akhirnya Beyza mengantar Ciya ke tempat yang diinginkan gadis itu tadi.
__ADS_1
Tiba mereka di sebuah pemakaman yang sangat luas. Bahkan Ciya bisa melihatnya dengan matanya saat ini, membayangkan jika orang-orang berpikir bahwa dirinya adalah salah satu dari banyak orang yang berbaring di sana.
“Di sebelah mana?” tanya Ciya pada Beyza.
Temannya itu tak menjawab, dia berjalan perlahan untuk mencapai makam Ciya. Tak terlalu jauh hingga kini mereka ada di sana.
Sebuah makam yang sangat cantik, mungkin ada orang yang mengurus pemakamannya. Nisan Ciya terlihat baru, bahkan ada bunga tabur yang belum begitu layu di atasnya menandakan jika beberapa hari lalu ada orang yang menjenguknya ke sini.
“Ternyata masih ada orang yang peduli sama gue walau gue udah mati,” ucapnya miri.
“Bry, jangan ngomong seolah-olah emang udah gak ada yang peduli sama lo di dunia ini. Banyak orang yang terpukul saat mereka tau lo udah pergi. Jangan hanya karena satu orang yang gak peduli sama lo, bikin lo berpikir kalau semua orang yang ada di dekat lo juga gak peduli sama lo,” tutur Beyza.
Ciya mengangguk, apa yang dikatakan oleh Beyza benar. Selama ini dia terlalu fokus pada satu orang yang selalu menolaknya sampai dia memandang orang lain dengan sama.
Ciya berjongkok dan memegang nisan itu. “Hai gue yang dulu, gue anggap makam ini adalah makam Ciya yang dulu lemah banget. Gue anggap lo udah mati. Sekarang lo harus bangkit jadi orang yang lebih kuat lagi demi orang-orang yang peduli sama lo. Sorry karena baru ke sini sekarang, sorry karena terlambat. Tapi sekarang gue benar-benar lepas lo buat selamanya,” ucapnya.
Ciya merasa dia akan menangis ketika dia mengingat bagaimana menyedihkannya kehidupannya dulu.
Sakit parah, hampir mati, bahkan ditolak beberapa kali oleh seseorang yang sangat dia harapkan dukungannya.
“Gue rasa kita harus pergi sekarang, Bry.” Ciya menatap Beyza yang tiba-tiba berkata seperti itu.
“Kenapa?” tanya Ciya.
“Kak Kenji ada di sini dan sekarang dia lagi natap ke sini.” Tubuh Ciya menegang saat Beyza mengatakan hal itu.
“Kenapa lo baru bilang sekarang?” Ciya bangun sambil kembali memasang kaca mata yang sempat dia lepas tadi.
“Ayo pergi!” Ciya berbisik dan mereka segera pergi dari sana dengan langkah cepat. Sekarang Ciya hanya berharap jika Kenji tak mengenalinya dan tak mengikutinya.
Ciya dan Beyza menghela nafas setelah mereka tiba di dalam mobil. Namun belum sampai sana karena ternyata Kenji mengikuti mereka.
__ADS_1
“Pergi sekarang,” ucap Ciya. Dia mulai panik.
“Jangan ke rumah Bunda, gue tau kalau dia pasti bakal ke sana setelah ini.”