Retisalya

Retisalya
Now I Know


__ADS_3

 Semakin hari kondisi Ciya semakin memburuk, namun walaupun begitu gadis itu masih menyempatkan diri untuk datang ke sekolah.


Hari-harinya tak lagi sama. Sahabat yang dulu selalu menemaninya kemanapun dan menjadi sandaran untuknya kini sudah berubah.


Tak perlu menyalahkan orang lain karena memang Ciya yang menginginkan semuanya. Dia merasa tubuhnya tak mampu lagi menahan rasa sakit. Itulah mengapa dia berjaga-jaga, lebih baik sahabatnya membencinya daripada harus menangis karena kehilangan Ciya.


Bibir yang dulu ranum kini terlihat semakin pucat walaupun Ciya sudah berusaha menyamarkannya dengan menggunakan lipbalm.


Gadis itu berjalan dengan Kenji yang setia menemaninya. Setelah hari di mana Kenji mengetahui penyakit Ciya, pria itu tak pernah absen untuk berada di samping Ciya, bahkan tak jarang Bunda Jihan meminta pria itu menginap di rumahnya.


“Jangan ngelamun, kerasukan tahu rasa lo!” Kenji menyenggol halus lengan Ciya.


“Ihh apaan sih, Kak. Ciya gak ada ngelamun kok!” balas Ciya kesal.


Tak hanya sekali dua kali pria di sampingnya ini membuatnya kesal. Kadang Kenji menjahilinya hingga Ciya merajuk hingga beberapa hari.


Kenji juga tak tahu mengapa menggoda Ciya semenyenangkan itu.


“Kak, bibir Ciya kelihatan pucat gak?” tanya Ciya. Gadis itu menghentikan langkahnya dan menghadap Kenji.


Kenji yang mendapat pertanyaan tiba-tiba sontak terkejut dan sedikit gugup.


“E-eh, eng... i-itu,” ucap Kenji terbata.


“Apaan sih, Kak. Gak jelas banget. Cuma tinggal bilang iya atau enggak aja.” Ciya memajukan bibirnya karena kesal. Sebenarnya gadis itu tak mengetahui seberapa menggemaskannya dia hingga membuat seorang Kenji menjadi gugup.


“Enggak. Cantik kok,” jawab Kenji pada akhirnya setelah dia berhasil menetralkan perasaannya.


Walaupun Ciya hanya menganggapnya seorang Kakak, namun Kenji tak sedikitpun menganggap Ciya seorang adik. Kenji benar-benar memandang Ciya sebagai seorang gadis.


Ciya mengangguk paham. Mereka kembali berjalan menuju kelas Ciya.


Tentang perjuangan Ciya untuk mendapatkan Axel, tenang saja Ciya masih melanjutkannya.


Walaupun hari demi hari Axel semakin menempel dengan Daisy, namun Ciya juga tak menyerah untuk cintanya.


Setidaknya sebelum semuanya terlambat, Ciya menginginkan hati Axel satu kali saja.


*****

__ADS_1


Suasana taman sekolah disiang hari memang sangat nyaman. Walaupun sinar matahari yang menerpa kulit sangat kuat, Ciya tak memedulikan itu. Lagipula ada pohon rindang yang saat ini melindunginya.


Panas mentari itu seakan terkalahkan dengan tiupan angin yang mengenai wajahnya. Sangat sejuk dan cukup untuk menenangkan pikiran dan perasaannya.


“Daania, Beyza mau ke mana?!” tanya Ciya sedikit berteriak saat matanya menangkap kedua sahabatnya tengah berjalan.


Dua orang yang merasa terpanggil itu segera berhenti dan menolehkan kepalanya.


“Bukan urusan lo!” balas Daania dengan teriakan juga. Bahkan orang-orang yang ada di sekitar mereka memerhatikan interaksi mereka.


Ciya hanya tersenyum paksa dan menganggukkan kepalanya, sementara Daania dan Beyza kembali melanjutkan langkahnya.


Jika Ciya perhatikan sepertinya kedua sahabatnya tengah menuju ke kantin.


“Ngapain sendirian di sini?” Suara bariton berhasil membuat Ciya terlonjak. Ciya mendongak guna melihat siapa yang datang.


“Kak Kenji, sini duduk. Ciya lagi lihat orang-orang,” jawab Ciya.


“Kayanya bukan orang-orang yang lo lihat, tapi dua orang,” sindir Kenji. Ya, pria itu sedari tadi memerhatikan interaksi mereka.


“Mereka masih marah, ya. Kata Kakak mereka marah gak akan lama,” lirih Ciya. Dia masih ingat dengan jelas perkataan Kenji waktu itu perihal kemarahan sahabatnya yang hanya sesaat.


“Gue juga gak tahu bakal selama ini. Tapi, coba lo bayangin kalau lo ada di posisi mereka dan mereka ada di posisi lo. Penyakit lo bukan penyakit ringan, dan mereka sebagai sahabat lo gak tahu sama sekali tentang semua itu padahal fisik lo udah nunjukin semuanya di depan mereka.” Kenji berusaha memberikan pengertian pada Ciya.


Ciya tertegun dengan perkataan Kenji. Haruskah dia memberi tahu sahabatnya?


“Maksudnya apa?” ucap seseorang dengan suara lirih.


*****


“Mau makan apa lo?” tanya Daania pada Beyza.


Beyza tak menjawab, dia masih sibuk mencari-cari sesuatu di sakunya.


“Lo nyari apa sih ah, sibuk amat!”kesal Daania karena sahabatnya tak menggubris pertanyaannya.


“Dompet gue Daan, kayanya ketinggalan di tas deh,” ucapnya tanpa merasa berdosa.


“Astaga Bey. Lo tahu berapa banyak keringat yang gue keluarin buat jalan dari kelas ke kantin? Nih lihat perut gue sampai kempes kaya gini dan kita harus balik lagi ke kelas?”

__ADS_1


“Ya maaf, kan gue lupa kalau dompetnya masih di tas. Ya udah sih ayo balik lagi aja.” Dengan sangat terpaksa mereka harus kembali mengeluarkan keringat.


“Jangan lewat depan Ciya. Belakang aja,” ucap Daania. Dia tak ingin gadis itu menyapanya lagi.


Dan seperti dugaannya, Ciya masih di sana. Hanya saja kini sudah ada Kenji di sampingya.


Jarak mereka dan Ciya semakin dekat dan Daania bisa mendengar apa yang dikatakan dua orang itu.


“Mereka masih marah, ya. Kata Kakak mereka marah gak akan lama,” lirih Ciya. Daania tahu jika yang dimaksud Ciya itu adalah mereka.


“Gue juga gak tahu bakal selama ini. Tapi, coba lo bayangin kalau lo ada di posisi mereka dan mereka ada di posisi lo. Penyakit lo bukan penyakit ringan, dan mereka sebagai sahabat lo gak tahu sama sekali tentang semua itu padahal fisik lo udah nunjukin semuanya di depan mereka.” Kenji berusaha memberikan pengertian pada Ciya.


“Maksudnya apa?” tanya Daania. Ya, Daania dan Beyza menghampiri mereka setelah mendengar apa yang dikatakan Kenji.


“Daania, bu-bukan a-apa-apa kok,” ucap Ciya terbata.


“Lo sakit?” Kini Beyza yang bertanya.


“Enggak. Ciya sehat, ini buktinya masih bisa sekolah!” jawab Ciya semangat. Jangan lupakan senyum yang senantiasa tersemat di wajahnya.


“Jangan bohong Ciya. Gue dengar semuanya.” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ciya begitupun Daania dan Beyza.


“Sakit apa?” tanya Daania. Suaranya seakan tercekat, hatinya teriris mendengar semua kebenaran ini sementara beberapa hari ini dia malah mengabaikan Ciya.


“Bukan sakit yang parah kok,” ucap Ciya.


“Sakit apa gue tanya?!” Daania mulai murka dengan air mata yang kini sudah menetes.


“Pneumonia,” lirih Ciya. Ciya menyerah, dia tak bisa lagi menyembunyikannya.


Tangis mereka pecah begitu saja saat mendengar penuturan Beyza


“Kenapa gak bilang dari awal?” lirih Beyza. Gadis itu segera berhambur memeluk Ciya.


Dirinya merasa sangat jahat karena tak tahu tentang kebenarannya dan dengan mudah mengabaikan Ciya selama ini.


“Maaf,” lirih Daania.


Air mata mereka benar-benar tak terbendung lagi. Mereka menangis sejadi-jadinya dan tak memedulikan tatapan orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2