Retisalya

Retisalya
S2 : Wish


__ADS_3

Lima tahun silam, tepatnya setelah Ciya dinyatakan meninggal dunia, dan semua orang mengerubuninya di rumah sakit. 


Saat semua orang diminta keluar dari ruangan agar perawat bisa mengurus jenazah Ciya, sebuah keajaiban terjadi. 


Detak jantungnya kembali dan nafasnya mulai berhembus walau terlihat sangat berat. 


"Dok, dia bernapas lagi!" seru seorang perawat. 


"Pasang kembali oksigennya." Mereka semua sibuk memasang segala peralatan medis yang bisa menunjang Ciya. 


Tepat ketika itu terjadi, seorang pria dengan jas putihnya masuk ke sana. 


"Apa sudah selesai?" tanya orang itu bermaksud untuk menanyakan jenazah Ciya. 


"Dia kembali bernafas, Dok," ucapnya. 


"Syukurlah!! Jangan beritahu mereka dulu. Aku berencana membawanya jauh dari sini," ujarnya. 


"Tapi Dok, walau Anda Om-nya, orang tua dia juga berhak tau," jawab Dokter lainnya yang tadi menangani Ciya. 


"Saya tahu dan akan bicara padanya setelah tak ada siapapun di sana. Untuk sekarang kalian keluar dan bilang pada mereka untuk menunggu di bawah. Jenazah akan segera kita antar dengan ambulans," jelasnya. 


Karena posisi Dokter yang tak lain adalah Om-nya Ciya lebih tinggi dari mereka, mereka hanya bisa mengangguk dan menurutu ucapan Dokter itu. 


**** 


"Jangan sedih dong. Gak seru kalau lo sedih!!" Javier berusaha menghibur Ciya agar gadis itu melupakan rasa sedihnya barang sejenak pun. 


"Siapa yang sedih? Gue gak apa-apa," jawab Ciya diiringi dengan senyum tipisnya. 


"Kalau liburan aja gimana?" Ciya bisa menangkap maksud dari ucapan Javier. 


"Liburan?" Ciya sedikit berpikir untuk menimbang apakah itu mungkin atau tidak. 


"Hmm, kalau cuma liburan mungkin Mommy sama Daddy akan kasih izin, begitupun Bunda," jawab Javier. 


"Kita tunggu jawaban dari Daddy sama Mommy aja. Kalau mereka ngelarang pun, mungkin  mereka punya alasan." Ciya hanya bisa pasrah. 


Dia tak bisa juga memaksakan kehendaknya dan menjadi egois. Dia juga harus memikirkan orang-orang yang telah baik dan berusaha membuatnya bahagia. 


"Ini udah lima tahun loh. Emang hati lo masih sama?" Javier tahu semua hal yang terjadi pada Ciya lima tahun lalu. 


"Gue gak tahu. Tapi kalau gue ingat-ingat dia lagi, rasanya aneh. Kaya nyeri hati gue," ucap Ciya. 


"Tapi entah kenapa, ada juga ruang di hati gue yang bilang kalau rasa gue masih sama," sambungnya. 

__ADS_1


Walau Javier tak pernah mengalami hal yang dirasakan Ciya, tapi dia sedikit banyaknya bisa ikut merasakan apa yang dirasakan gadis itu. 


"Padahal di sini banyak yang deketin lo, tapi selalu aja lo tolak," ucap Javier. 


Ucapannya tak hanya sebuah candaan. Hal itu memang nyata, dan seperti biasa Ciya selalu menolaknya dengan alasan dia masih ingin fokus belajar. 


"Punya pacar itu menurut gue gak penting. Buat apa gue punya pacar kalau gue punya lo." Ciya menjawab sambil menaik turunkan alisnya berusaha menggoda pria yang menjadi sepupunya itu. 


"Duh diem deh. Kalau baper gue bisa berabe," jawabnya. 


"Vi, kayanya lo emang gak ditakdirin buat jadi bule deh," ucap Ciya setelah beberapa lama dia menatap wajah pria itu. 


Javier memang blasteran. Daddy-nya yang tak lain Om-nya Ciya adalah orang Indonesia dan Mommy-nya orang Inggris. 


Javier juga berwajah layaknya orang blasteran. Tapi sifat dan tingkahnya sangat melokal. Mungkin karena pria itu lama tinggal di Indonesia. 


"Dih baper apanya?" jawab Ciya. 


"Ya makanya jangan godain gue mulu," protes Javier. 


Mereka tertawa bersama. Javier memandang Ciya dengan perasaan lega karena mood gadis itu sepertinya sudah kembali. 


"Ke bawah yuk! Mommy kayanya masih bikin cake yang lain," ajak Javier. 


Sebenarnya Ciya belum ingin bertemu dengan siapapun. Tapi kembali lagi jika dia tidak ingin menjadi orang yang egois. Dia juga harus memikirkan perasaan orang lain yang khawatir padanya. 


"Ya udah yuk. Kali aja bisa nyicipin sampai habis," candanya. 


Tentu saja Ciya hanya bercanda karena mana mungkin dia bisa menghabiskan makanan manis dalam porsi yang sangat banyak. 


Keduanya turun untuk kembali bertemu dengan Daddy dan Mommy-nya. 


"Hai, masih mau nyicipin cake buatan Mommy?" tanya Juliette saat melihat kedua anaknya turun menghampirinya. 


"Iya dong. Enak banget Mom," jawab Ciya dengan sangat antusias. 


"Ya udah nih Mommy bikin banyak buat kalian." Wanita itu kembali mengeluarkan cake yang baru saja dia panggang dalam open. 


Bahasa Indonesia-nya sudah lancar karena dia lama tinggal di Indonesia. Tinggal di tempat lahirnya menurutnya tidak seenak tinggal di Indonesia. Dia lebih suka di tinggal di kampung halaman suaminya. Tapi karena hal mendesak, mereka harus pindah ke sini. 


"Daddy mana?" tanya Javier saat dia tak melihat barang hidung Daddy-nya. 


"Tadi dia pergi, tapi gak tahu ke mana. Coba panggil, mungkin di kamar," jawab Juliette. 


Javier berjalan menuju kamar Daddy-nya yang agak jauh letaknya dari dapur. 

__ADS_1


"Dad," panggilnya sambil mengetuk pintu. 


"Yes." Suara dari dalam sana terdengar oleh Javier. 


"Lagi apa?" tanya pria itu saat pintu telah terbuka. 


"Baru telpon Bunda. Gimana Bryonna?" tanya Bagas. 


"Dia baik-baik aja sekarang. Dia bilang—" 


"Kita bicara di dalam." Bagas mengajak putranya masuk ke dalam kamar karena takut Ciya tiba-tiba datang dan mendengar pembicaraan mereka. 


"Gimana?" Bagas bertanya kembali agar Javier melanjutkan penjelasannya. 


"Aku kasih saran sama dia kalau mau ketemu Bunda, biar nanti pas liburan. Jadi ke sananya gak menetap, cuma beberapa hari aja," jelasnya. 


"Dia setuju?" Bagas kembali bertanya. 


"Dia bilang terserah keputusan dari Daddy sama Mommy. Dia gak mau jadi egois, dia sih bilang gitu," lanjut Javier. 


Rupanya tidak sia-sia dia merawat dan membimbing gadis itu selena lima tahun terakhir ini. 


Sekarang Ciya lebih dewasa dari yang dia kenal. Gadis itu juga tak lagi mementingkan keinginan dirinya sendiri dan belajar menghargai perasaan orang. 


"Kapan kalian libur?" tanya Bagas. 


"Satu bulan lagi mungkin," jawabnya. 


"Oke, kalau nilai kalian bagus dan semua di atas rata-rata, kalian liburan gratis ke sana. Semua biaya Daddy yang tanggung," ujar Bagas hingga membuat Javier ingin berteriak. 


Namun dia tak mengeluarkan teriakannya karena dia sadar dia berada di mana.


"Thank's Dad," ucapnya dengan sangat antusias. 


"Ayo kita ke sana!" Javier menarik tangan Daddy-nya saking senagnya dia. 


"Aduh jangan tarik-tarik," protesnya. Tapi Javier seakan tuli, dia tak mendengar apa yang dikatakan oleh Daddy-nya. 


"Boleh aku kasih tahu sama Yonna?" tanyanya yang diangguki oleh Bagas. 


"Yes!!" serunya. Ciya yang akan bertemu dengan Bunda-nya, kenapa dirinya yang menjadi sangat antusias? 


"Naaaa!!!" teriak Javier begitu dia tiba di dapur. 


Spontan dia memeluk tubuh mungil gadis itu hingga sangat empu sangat terkejut dengan  kelakuan sepupunya itu.

__ADS_1


__ADS_2