
Ciya merasa sangat bahagia sekarang karena tepat detik ini akhirnya dia bisa kembali menghirup udara di tanah kelahirannya.
“Na, akhirnya kita di sini,” ucap Javier terharu. Pria itu berdiri tegap dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
Sementara Ciya yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Dulu gadis itu terkesan sangat polos dan manis. Namun sekrang paras manis yang dia punya berubah mejadi cantik mempesona.
Bukan operasi plastik, tapi karena penampilan Ciya sekarang terlihat lebih Dewasa. Rambut yang dulu berwarna hitam pekat, sekarang berwarna coklat tua. Tak ada lagi aksesoris di rambutnya, yang ada gadis itu mengeriting gantung rambutnya sehingga dia terlihat lebih dewasa.
“Jangan lebay deh Vi. Gue juga biasa aja,” ucapnya. Begitu dalam ucapan tapi siapa yang tahu jika hatinya sekarang telah berbunga-bunga.
“Sayang, kita duluan ya. Kalian kalau mau jalan-jalan dulu boleh biar barang kalian kita yang bawa,” ucap Juliette.
“Buru-buru amat Mom?” tanya Javier.
“Daddy kamu udah beberapa kali di telpon dan harus ke sana sekarang,” jawabnya.
“Ya udah kalian langsung aja ke rumah sakit biar kita yang bawa barang. Lagian sebelum jalan-jalan kita juga mau ke rumah dulu kok,” jawab Javier yang disetujui oleh Ciya.
“Oh gitu. Ya udah, kita duluan ya.” Mereka pamit meninggalkan Javier dan Ciya yang masih berada di sana.
“Kita juga pulang?” tanya Javier meminta persetujuan gadis itu.
“Ayo, ganti baju dulu baru habis itu kita jalan-jalan sepuasnya,” jawab Ciya.
Mereka menunggu sebuah taksi untuk menuju ke rumah mereka. Rumah yang sudah lama tidak dihuni itu sangat sejuk, tapi juga berdebu. Beruntung sebagian barang-barang, mereka tutupi dengan kain putih polos.
“Ini rumah udah berapa lama gak dihuni?” tanya Ciya begitu dia masuk ke dalam sana. Dia beberapa kali pernah ke sana, tapi jika untuk menginap, dia tidak pernah.
“Lima tahun yang lalu kayanya.” Ciya bisa memaklum jika kondisi rumah mereka seperti itu karena telah ditinggalkan selama lima tahun.
“Ini kita yang beresin ini dulu?” tanya Ciya. Bukannya tak ingin, tapi ukuran rumah yang tak kecil membuat dia berpikir dua kali untuk membersihkannya apalagi dengan hanya dua orang.
__ADS_1
“Enggak lah. Mommy udah bilang kemarin kalau dia akan suruh orang buat beresin rumah. Kayanya kita lebih aman pergi dari sini dulu deh. Biarin aja barang di sini,” saran Javier.
Mereka juga tak mungkin membereskan barang mereka sekarang meningat lemari pakaian juga masih sangat kotor.
“Ya udah. Kita mau ke mana?” tanya Ciya.
“Lo mau ke mana?” Javier balik bertanya karena dia juga tak tahu daerah sini. Makanya dia bertanya pada Ciya yang dia pikir lebih tahu.
“Lo kira gue masih ingat daerah sini? Udah limaa tahun, pasti banyak banget yang berubah,” ucap Ciya.
“Tapi lo gak lupa sama rumah Bunda lo, kan?” Ciya terdiam saat Javier mengajukan pertanyaan seperti itu.
“Kita ke sana dulu. Itu tujuan utama lo kan datang ke Indonesia?” tanya Javier. Ciya mengangguk lemah. Apakah dia akan siap bertemu dengan Bunda-nya?
“Jangan dipikirin, pergi dulu aja. Gimana nanti di sana,” saran Javier daripada mereka hanya diam di sana dengan segala pikiran yang bersarang dalam otak mereka.
“Gue gak yakin sama jalannya. Tapi mungkin kita bisa pakai taksi?”Javier mengangguk setuju. Akhirnya mereka memilih pergi dengan taksi.
Setelah mendapatkan taksi, Ciya segera memberitahu sopir taksi alamat rumah Bundanya. “Menurut lo, gue gak aneh kan pakai baju kaya gini?” tanya Ciya pada Javier.
“Not bad. Tapi ... “
“Lo lihat ekspresi muka nyokap lo aja deh nanti. Kalau buat gue sih udah biasa aja. Tapi gak tahu penilaian nyokap lo.” Ciya mendengus kesal. Javier sama sekali tak membantunya.
Awalnya, jika penampilannya terlihat sangat aneh, dia akan membeli baju dulu. Tapi sepertinya tak usah. Lagipula dia bertemu dengan Bunda-nya bukan orang lain.
Cukup lama mereka menempuh perjalanan menuju rumah Ciya akhirnya mereka tiba. Rumah itu masih sama. Hanya warna cat yang berbeda. Dulu rumah itu berwarna merah muda karena Ciya yang memintanya, tapi sekarang menjadi warna abu dan putih.
Ciya dan Javier keluar dari taksi dan membiarkan taksi itu pergi. “Harus sekarang banget ya?” tanya Ciya. Bahkan kakinya sangat sulit untuk dia langkahkan.
“Bukannya ini yang lo tunggu-tunggu sejak lama?” tanya Javier. Ciya tak menjawab karena memang iya dia menunggu saat ini.
__ADS_1
Tapi sekarang rasanya dia belum siap. “Ayo.” Javier agak menarik gadis itu untuk segera masuk. Tapi di waktu yang bersaman Ciya juga menarik dirinya tak ingin masuk.
“Mau lo apa sih? Dulu lo mau banget ke sini. Katanya rindu. Sekarang udah ada di depan mata malah mau pergi lagi? Gimana sih?” ucap Javier jengah.
Javier memang tidak merasakan bagaimana rasanya menjadi Ciya. Dia ingin, tapi ada juga rasa enggan di hatinya.
“Cepet Na, atau gue minta Daddy buat beliin tiket lagi balik ke Inggris?” ancam Javier.
“Ih lo kok jahat banget sih?” rengek Ciya.
“Ya abisnya lo tuh labil banget jadi orang. Jadi, mau gak nih? Kalau enggan, gue mending susul Daddy ke rumah sakit.” Dia kembali mengancam agar Ciya mau segera masuk ke rumahnya.
“Bentar kasih gue waktu beberapa menit buat persiapan.” Javier merotasikan bola matanya.
“Dari tadi lo juga udah ulur waktu bahkan kayanya udah sampai setengah jam,” ucap Javier melebih-lebihkan.
“Mana ada!!”
“Ya udah ayo cepat!!”
“Oke bentar gue tarik nafas dulu.” Ciya mearik nafas dalam-dalam sebelum kemudian dia kembali mengeluarkannya dan dia melakukan itu beberapa kali.
“Udah ayo!” Javier kembali menarik tangannya. Kali ini Ciya tak menolah. Dia pasrah ketika ditarik Javier menuju rumahnya.
“Ketuk pintunya,” titah pria jangkung itu.
Dengan ragu, Ciya mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu itu. Tapi lagi-lagi dia terhenti dan malah menatap pada Javier dengan tatapan memohon agar mereka membatalkannya saja.
“Cepet!!” Ciya menghela nafasnyaa dan akhirnya dia mengetuk pintu itu beberapa kali. Tak ada jawaban dari dalam.
“Gak ada kali. Besok lagi aja yuk.” Dengan cepat Ciya menarik tangan Javier agar mereka bisa pergi dari sana.
__ADS_1
Ketika itu terjadi, pintu terbuka membuat dua orang yang sedang tarik menarik itu akhirnya menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
Untuk beberapa saat mereka saling berpandangan hingga akhirnya Jihan sadar siapa yang datang.