
Kata orang, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Namun untuk yang satu ini, rasanya tak lebih baik sama sekali.
Rasa sesak yang baru pertama kali Axel rasakan. Sesakit ini ternyata kehilangan orang yang sangat berarti bagi kita. Hidup seakan hancur, dunianya runtuh begitu saja.
Belum sempat dia membahagiakan Ciya, bahkan sekalipun. Jangankan membahagiakan, menghargai perasaan gadis itupun tak pernah dia lakukan.
Andai saja dia bisa memutar waktu. Andai saja dia lebih cepat menyadari perasaannya, mungkin rasa sesalnya tak akan sedalam ini.
Kini gadis yang selalu mengganggu hidupnya sudah tenang. Beristirahat di tempat peristirahatan terakhir, di sisi Tuhan. Tuhan yang bahkan Axel ragukan keberadaannya.
Axel masih betah di sana. Tempat di mana Ciya-nya berbaring dengan gundukan tanah yang menimbun tubuhnya. Gundukan tanah itu terlihat sedikit lebih indah karena terdapat taburan bunga di bagian atasnya.
Nisan yang dia pegangi sedari tadi. Rasanya semua seperti mimpi. Begitu pandainya Ciya menyembunyikan penyakit separah ini darinya dan semua teman-teman sekolahnya kecuali kedua sahabatnya dan Kenji.
“Kenapa gak bilang?” lirihnya. Tangannya mengelus nisan seolah itu adalah Ciya.
“Maaf atas semua rasa sakit yang gue kasih. Gue bahkan belum sempat bilang kalau gue suka lo.”
“Rasa sakit ini, mungkin gue akan tanggung selama sisa hidup gue. Gue gak pernah bisa kasih kebahagiaan buat lo. Sekarang, gue harap lo bahagia di sana dan gue gak akan pernah lupain apa yang pernah gue perbuat sama lo.”
“Selamat jalan, Cantik.” Axel beranjak dari sana setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Air mata tak bisa berhenti mengalir di pipinya.
Dadanya terlalu sesak membayangkan kehidupannya tanpa Ciya. Tak akan ada lagi yang memanggil namanya dengan nyaring, tak ada lagi yang memberinya sekotak susu dipagi hari, tak ada lagi kotak bekal yang akan dia terima.
Yang paling penting, tak ada lagi sosok Ciya yang selalu tersenyum ceria. Semuanya hilang. Axel belajar bahwa menghargai adalah hal yang paling penting.
Jika saja dulu dia bersikap lebih lembut pada Ciya, mungkin penyesalannya tak akan sebesar ini. Mungkin Axel akan menanggung sesal itu selamanya.
Jika diingat, bisakah dia bahkan untuk jatuh cinta lagi?
Jawaban atas pertanyaan it terlalu mustahil untuk Axel. Bagaimana dia bisa hidup bahagia setelah apa yang dia perbuat.
Langkahnya tertatih. Dia tak tahu lagi ke mana harus pergi, rasanya seluruh tempat di dunia ini tak ada yang nyaman. Haruskah dia memperjuangkan Ciya-nya? Haruskah dia pergi bersama gadis cantik itu?
__ADS_1
*****
5 tahun berlalu. Bunda Jihan masih betah dengan kesendiriannya. Untuk saat ini tak ada niatan di hatinya untuk berkeluarga lagi. Semua kenangan yang telah dia lalui bersama Almarhum suami dan Almarhumah putrinya belum bisa dia lupakan.
Semua rasa sakit di hatinya belum berhasil dia obati. Dia hanya terus berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengembangkan bisnisnya.
“Bunda!” teriak seseorang dari luar.
Inilah salah satu hal yang dia syukuri. Pria yang sudah dia anggap sebagai putranya sendiri terlampau sering mengunjunginya.
Bunda Jihan beranjak dari duduknya untuk menyambut putranya.
“Kamu datang lagi? Sampai kapan kamu akan mengkhawatirkan Bunda?” candanya. Tentu saja itu hanya kalimat gurauan. Bunda Jihan selalu merasa baik ketika pria itu megunjunginya.
“Hhmm, mungkin sampai aku tak bisa ke sini lagi?” jawabnya.
Bunda Jihan terkekeh.
“Kali ini alasan apa lagi yang kamu gunakan untuk menemui Bunda?” Bunda Jihan mengajaknya duduk di ruang tamu.
“Baiklah baiklah. Karena kamu membawa sesuatu, jadi mari kita makan.” Mereka berdua pergi ke dapur bersama.
“Ken, umurmu sudah matang sekarang. Kamu masih tak ada niatan untuk mencari pendamping?” celetuk Bunda Jihan.
Ya, pria itu adalah Kenji. Pria yang Bunda Jihan anggap sebagai putranya sendiri setelah kepergian Ciya.
Kenji mematung. Jantungnya selalu berpacu dengan cepat ketika seseorang berbicara mengenai pendamping hidup.
Bukannya tak mau, tapi di hatinya masih tersemat nama Ciya. Gadis itu benar-benar berhasil menggenggam hati Kenji hingga saat ini.
Kenji berusaha tersenyum dan bersikap santai. “Belum Bunda. Ken mau cari uang yang banyak dulu,” ucapnya.
“Bunda tahu, tapi cobalah untuk melupakan Ciya. Dia tak akan senang jika kamu terus seperti ini.” Bunda Jihan yang tahu Kenji hanya beralasan akhirnya memberikan jawaban seperti itu.
__ADS_1
“Iya Bunda nanti Ken cari.” Keduanya sama-sama tersenyum sebelum kemudian melahap cake yang ada di hadapannya.
*****
“Udah lima tahun, tapi rasa sakitnya masih sama,” ucap Daania dengan pandangan kosong.
Saat ini gadis itu tengah ada di pusat kota, menikmati satu cup es krim bersama Beyza. Hari libur seperti ini mereka memang berjanji untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
“Dan respon tubuh gue juga masih sama kalau ingat kepergian Ciya,” jawab Beyza.
“Ciya lagi apa ya?” tanya Beyza entah pada siapa. Tak terasa air matanya sudah mengalir membasahi pipinya.
Selalu seperti ini, mereka akan sangat lemah jika mengingat semua itu. Mereka tahu itu tak baik untuk selalu menangisi orang yang sudah pergi, tapi tak bisakah mereka menumpahkan kesedihannya lewat air mata? Sesekali, hanya sesekali.
“Haahh, udah ah. Ciya gak akan suka lihat kita kaya gini.” Daania menghela napas dalam mencoba menghala air mata yang hendak menetes.
*****
“Hhaahh, lelah sekali,” ucap pria itu. Pria itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Netranya beralih menatap sebuah foto yang terpajang di meja kerjanya.
Potret seorang gadis dengan baju serba merah muda senada dengan warna bibir naturalnya. Senyum tipis yang melengkapinya sungguh sangat indah di mata pria itu.
Seorang dokter dengan name tag Axel Lorenza mencoba meraih foto itu. Mengusapnya dengan tangan kosong.
“Aku merindukanmu,” lirihnya. Sudah lima tahun, dan dia masih meneteskan air matanya ketika melihat potret gadis itu. Gadis yang sempat menjadi korban atas kekejamannya, gadis yang tak pernah menyerah akan dirinya dan gadis yang masih Axel cintai hingga saat ini.
Setelah pikirannya untuk menyusul Ciya lima tahun silam dan maut hampir merenggut nyawanya akhirnya Axel terselamatkan.
Dia bertekad untuk membalaskan dendam pada dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa mati setelah menyakiti Ciya sedalam itu, bukankah setidaknya dia menerima siksaan rasa sakit dulu sebelum kematiannya? Itulah yang Axel pikirkan.
Dan ya, saat ini Axel menjadi seorang dokter specialis paru. Selain untuk menyelamatkan orang-orang yang mempunyai penyakit seperti Ciya, dia juga menikmati rasa sakitnya penyesalan selama lima tahun ini.
Mimpi buruk yang selalu menghampirinya setiap malam bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit yang dia berikan pada Ciya.
__ADS_1