Retisalya

Retisalya
S2 : Kecelakaan Kecil


__ADS_3

"Mom, kita udah pulang," ucap Javier setelah dia memasuki rumahnya. Dia masuk dengan terburu-buru karena khawatir, takut orang tuanya kenapa-kenapa.


"Hai sayang udah pulang? Sini kita makan dulu. Mommy beli makanan dari luar banyak, jadi kita makan sama-sama ya." Javier dan Ciya mematung dengan mulut menganga.


Sepanjang perjalanan mereka khawatir jika terjadi sesuatu pada orang tuanya, tapi ternyata orang tuanya justru baik-baik saja dan malah mengajak makan. 


Walau begitu Javier bersyukur karena dugaannya yang tidak tidak tentang orang tuanya salah.


"A-ah iya Mom kita makan bareng ya?" tanya Javier sambil menghampiri Mommy-nya yang sedang menghidangkan makanan di dapur.


"Bantu Mommy buat tuang jusnya ya."


Javier melihat ada jus strawberry di blender yang belum dituang ke gelas. Akhirnya Javier menuang jus itu ke gelas dan menghidangkannya di meja maka.


"Terus Ciya bantu apa Mom?" tanya gadis itu sambil menghampiri Mommy-nya.


"Kamu buka bungkus ini ya, tuangin ke piring," ucap Mommy-nya.


"Siap Mom!!"


Setelah selesai menghidangkan makanan, mereka duduk di kursi masing-masing.


"Loh Daddy ke mana Mom?" 


"Dia masih di rumah sakit, masih ada yang harus dia selesaiin. Mommy tadi pulang duluan. Buat sekarang kita makan bertiga dulu ya," ucapnya yang diangguki oleh anak-anaknya.


Mereka mulai memakan makanannya dengan perbincangan kecil diantaranya. "Kalian habis dari mana barusan?" tanya Juliette. 


"Ketemu temen Ciya Mom. Temen lama waktu SMA,"  jawab Ciya.


"Temen kamu?" Juliette memperjelas.


"Iya sahabat lebih tepatnya."


"Terus gimana reaksi mereka?"  


"Kaget lah Mom. Siapa sih yang nggak kaget kalau orang yang mereka kira udah meninggal hidup lagi," jawab Ciya. "Tapi habis itu mereka jadi biasa lagi kok. Kita tadi juga main bareng keluar," jawabnya.


"Syukur deh kalau mereka masih nerima kamu."


"Oh iya Vi, habis ini temenin Mommy belanja ya buat nanti malam. Mommy mau pergi sendiri cuma kayaknya mami perlu orang deh buat ngangkat belanjaan Mommy," kekehnya.


"Boleh Mom. Habis ini atau mau nanti sore?" tanya Javier.


"Habis makan aja nggak papa kan?" Mommy-nya meminta pendapat Javier.


"Iya nggak apa-apa Mom."


"Kalau gitu Ciya boleh main ke rumah Bunda nggak?"

__ADS_1


"Kamu mau nyetir sendiri?" tanya Juliette khawatir.


"Iya lagian kan masih sama aja. Ciya bisa kok nyetir," ucap Ciya.


"Ya udah tapi hati-hati jangan ngebut. Biar lama di jalan asalkan kamu selamat oke," pesan Mommy-nya.


"Oke Mom siap!" Ciya mengangkat tangannya berpose seperti menghormat pada Mommy-nya.


Mereka menghabiskan makanan mereka hingga tandas. Mungkin karena mereka sudah lama tidak memakan makanan Indonesia, rasanya sangat nikmat sekali.


"Ah kenyang banget," ucap Ciya sambil memegangi perutnya.


"Gimana gak kenyang, tadi sama temen-temen lo kita juga makan, sekarang makan lagi." Ciya tertawa.


"Iya juga sih hahaha."


"Tunggu sepuluh menit ya Mommy siap-siap dulu." Mommy-nya pergi menuju kamar, mungkin untuk mengganti pakaian dan memoles sedikit wajahnya dengan make up.


"Lo beneran mau ke rumah bunda sendiri? k


Kok gue khawatir ya," ucap Javier.


"Gue udah besar Vi, gak perlu lo khawatir-khawatir lagi," ucap Ciya.


"Ya tetap aja gue khawatir. Selama ini kan biasanya gue yang jadi sopir lo," jawab Javier.


"Udah biarin gue sendiri, biar mandiri," ucapnya.


"Lo berangkat sekarang?" tanya Javier saat melihat Ciya sudah selesai dengan makanannya.


"Nanti aja bareng sama kalian," jawab Ciya yang diangguki oleh Javier.


Sambil menunggu Mommy-nya bersiap, Ciya membereskan dan mencuci piring kotor mereka.


"Yuk, Mommy udah siap." Juliette keluar dari kamarnya dengan pakaian yang lebih manusiawi dan juga wajah yang lebih segar.


"Yuk!" Baik Javier maupun Ciya sama-sama beranjak untuk berangkat. 


Javier memberikan kunci mobilnya pada Ciya sementara dirinya menggunakan mobil milik Mommy-nya.


"Ingat pesan Mommy, jangan buru-buru. Pelan aja asal selamat, oke?" 


Ciya mengangguk paham diiringi dengan senyumannya.


Mereka berangkat bersama dengan mobil yang terpisah. Mereka berpisah di persimpangan depan. Ciya ke kanan dan Javier ke kiri.


Seperti yang dikatakan Mommy-nya, dia menjalankan mobil dengan santai. Hanya saja tak terlalu pelan.


Ciya hampir sampai ke rumah Bundanya sebelum kemudian dengan tiba-tiba seekor kucing menyebrang sehingga membuatnya terkejut dan spontan menginjak pedal rem dengan tiba-tiba.

__ADS_1


Duk


"Astaga!" ucapnya. Ciya membelalakkan matanya dengan jantung yang berdebar kuat. Sepertinya dirinya memang tidak ditakdirkan untuk menyetir sendiri.


Ciya berhenti sejenak untuk menenangkan jantungnya. Dia melihat pada cermin di depan dan betapa terkejutnya ketika mengetahui bahwa keningnya berdarah.


"Berdarah," lirihnya. Tak sakit, tapi jika tak diobati takut infeksi.


"Ke rumah sakit dulu deh," ucapnya. Dia merubah laju mobilnya menjadi menuju ke rumah sakit. Tepatnya rumah sakit sang Daddy.


Tiba di sana Ciya memarkirkan mobilnya lalu menelpon Daddy-nya. 


"Kenapa sayang?" tanya Bagas saat dia tiba-tiba mendapatkan telpon dari Ciya.


"Daddy di rumah sakit, kan?" tanya Ciya.


"Iya, kenapa?" 


"Bisa keluar sebentar Dad, Ciya ada di depan." Gadis itu terlalu enggan untuk masuk sendirian.


"Oke Daddy keluar sekarang." Sambungan telpon dimatikan dan Ciya masih menunggu di sana sambil memegangi keningnya. Parahnya, darahnya itu tak kunjung berhenti.


"Sayang, kenapa di– Astaga!!" Kalimatnya terpotong saat dia melihat keadaan putrinya.


"Kenapa ini?" tanyanya panik.


"Luka dikit kok Dad, tapi bisa tolong diobatin gak? Darahnya gak berhenti," cicit Ciya.


"Ikut Daddy ke dalam." Mereka melewati IGD, dan melewati banyak sekali perawat yang sedang berkumpul.


"Siapa dia? Kenapa?" Axel yang juga ada di sana ikut bertanya pasalnya gadis itu terlihat kesakitan.


"Ohh itu putri pemilik rumah sakit Dok. Kayanya dia luka deh," jawab seorang perawat.


Namun sayang Axel tak bisa melihat wajahnya karena terhalang oleh badan tegap Bagas. Dia hanya mengangguk. Tapi entah kenapa hatinya merasa sedikit berbeda dan lebih tenang dari biasanya.


Sementara itu di ruangan Bagas, Ciya sedang diobati sambil diceramahi oleh Daddy-nya.


"Makanya udah Daddy bilang kamu gak boleh nyetir sendiri. Ngeyel sih, gini kan jadinya. Untung kamu bawa mobil pelan, kalau lagi ngebut gimana? Sakit gak?" Ciya hanya bisa mendengarkan omelan Daddy-nya. 


"Tadi enggak Dad, tapi sekarang sakit," ringisnya.


Dengan telaten Bagas mengobati luka putrinya hingga menempelkan perban di sana.


"Jangan kena air dulu, biarin sampai kering." Ciya mengangguk mengerti.


"Emang kamu mau ke mana sih?" tanya Bagas.


"Ciya mau ke rumah Bunda. Lagian Javier sama Mommy pergi belanja. Masa Ciya diam di rumah sendirian, kan bosan. Makanya Ciya mau ke rumah Bunda," jelas Ciya.

__ADS_1


"Padahal kamu bisa minta Javier buat antar kamu dulu sayang. Kalau udah gini mau gimana coba?" 


__ADS_2