Retisalya

Retisalya
S2 : Ketahuan


__ADS_3

Setelah penjelaan yang dibicarakan oleh Bunda Jihan beberapa hari lalu, Kenji sebenarnya merasa bersalah karena telah bertanya hal seperti itu.


Tapi lagi-lagi di hari liburnya ini dia melihat sesuatu yang sudah cukup menjelaskan segalanya. Dia melihat gadis itu lagi, gadis yang dia bilang mirip dengan Ciya.


Kali ini gadis itu ada di sebuah toko buku dan hanya sendiri. Tak ingin membuat gadis itu pergi, akhirnya Kenji mengikutinya dengan diam-diam.


“Kali ini gak boleh sampai lolos, gue harus ikutin ke mana dia pulang,” bisiknya. Dia mengikutinya tak terlalu dekat tidak juga terlalu jauh.


Hingga akhirnya gadis yang sedang dia ikuti itu membawa bukunya ke kasir petanda dia sudah selesai dan akan membayar buku yang telah dia bawa.


“Si*l, hampir aja ketahuan,” ucap Kenji saat gadis itu tiba-tiba menoleh. Namun dia yakin gadis itu tak menyadari keberadaannya.


Tiba akhirnya Kenji melihat dia masuk ke dalam sebuah taksi. Sama seperti orang yang sangat dia rindukan saat ini, ternyata gadis itu juga sepertinya tak terlalu pandai berkendara, atau mungkin dia memang tak memiliki mobil? Tapi mustahil dengan penampilan seperti itu dia tak memiliki mobil.


Kenji mengikutinya sampai akhirnya dugaannya selama ini hampir terbukti karena sekarang taksi yang ditumpangi oleh gadis itu berhenti di rumah Ciya.


Gadis itu turun dan berjalan menuju ke dalam rumah. Tepat sebelum gadis itu membuka pintu, Kenji mencekal lengannya.”


Gadis itu terlihat terkejut ketika menoleh sebelum akhirnya tubuhnya mematung. “K-kak K-kenji?” cicit Ciya ketika dia melihat siapa orang yang telah berani mencekal pergelangan tangannya.


“C-ciya? I-ini b-beneran lo?” tanya Kenji. Walau dia sudah menduga dari awal, tapi berhadapan dengan gadis itu seperti ini terasa mimpi baginya.


Ciya diam tak menjawab. Dia juga tahu harus mengatakan apa pada pria yang sekarang ada di hadapannya itu.


“Jelasin sama gue sekarang,” pinta Kenji dengan penekanan. Antara marah, kecewa, senang dan terharu menjadi satu. Kenji merasa marah tentu saja karena dia telah dibodohi. Dia juga kecewa karena Ciya telah tak mengatakan ini padanya. Tapi di sisi lain dia juga merasa senang danterharu karena orang yang selama ini selalu dia anggap telah tiada, ternyata masih ada di sini, di dunia yang sama dengannya.


Ciya melepaskan cekalan Kenji dan hendak pergi dari sana sebelum kemudian Kenji kembali menghalangi jalannya. “Gue gak akan biarin lo pergi sampai lo cerita semua yang terjadi sama gue,” ucapnya.


Pada akhirnya dia tak memiliki pilihan lain selain mengajak Kenji masuk ke dalam rumah dan menceritakan semuanya.


“Bunda,” panggilnya pada orang yang sedang sibuk membuat kue itu.

__ADS_1


“Ahh kamu udah pul – “


Ucapannya terpotong saat dia melihat ada orang lain di samping putrinya. “Kenji,” lirihnya.


Kenji hanya diam. Tentu saja dia juga marah pada Bunda Jihan karena telah membohonginya dan merahasiakan ini darinya.


“Gi-gimana bisa?” tanya  Bunda Jihan lagi.


“Ciya ketemu Kak Kenji di luar,” jawab Ciya dengan lembut. Sebenarnya saat ini dia merasa takut karena Kenji terlihat sangat marah padanya.


“Bunda, Ciya bicara dulu sama Kak Kenji ya,” pamitnya yang mendapat anggukan dari Bundanya. Sepertinya dia sudah tak bisa menolong lagi jik keadaannya sudah seperti ini.


Akhirnya Ciya dan Kenji pergi ke ruang tamu untuk membicarakan semuanya. Kenji memandang Ciya tak henti-henti setelah mereka duduk di sana.


“Jangan lihatin Ciya kaya gitu,” ucap Ciya. Selain karena malu, dia juga takut dipandang seperti itu oleh Kenji.


“Gimana bisa?” tanya Kenji langsung pada hal yang sangat ingin dia ketahui.


“Maaf,” cicit Ciya sambil menundukan kepalanya.


“Bagian mana yang mau Kakak tau?” Ciya malah balik bertanya.


“Semuanya.” Singkat, padat dan jelas tapi cukup untuk jawaban dari pertanyaan yang Ciya ajukan.


“Ciya gak meninggal,” cicitnya.


“Iya gue tau, buktinya sekarang lo masih ada di sini, di depan gue. Yang mau gue tau, gimana bisa lo ada di sini sekarang sementara dulu dokter udah vonis kalau lo meninggal,” ujar Kenji dengan panjang lebar.


Ternyata hanya penampilan Ciya saja yang berubah. Otak dan kelemotan Ciya sama sekali tak berubah, gadis itu masih sama.


“Daddy yang bawa Ciya pergi dari sana. Katanya nafas Ciya balik lagi.” Seketika acara ingin menghakimi Ciya berubah menjadi sebuah kegemasan bagi Kenji. Cara Ciya menjawab membuat pria itu tersenyum simpul.

__ADS_1


“Ternyata gue emang gak bisa marah sama lo,” ucapnya sebelum kemudian Kenji memeluk Ciya dengan erat. 


Untuk sejenak, Ciya merasa terkejut. Namun akhirnya dia bisa mengembalikan respon tubuhnya dan membalas pelukan itu.


“Gue kangen sama lo,” ucap Kenji lirih. Sementara itu Ciya sekarang sudah menangis.


“Ciya juga kangen sama Kak Kenji,” jawabnya dengan isakan. Kenji melepaskan pelukannya dan memandang mata gadis itu dengan dalam.


“Lanjutin cerita lo. Daddy? Daddy siapa yang lo maksud?” tanya Kenji karena dia sama sekali tak tahu tentang seseorang yang baru saja dikatakan oleh Ciya.


“Ahhh maksud Ciya Om. Om Ciya yang bawa Ciya dari sana saat kalian diminta untuk keluar dari ruangan itu.” Ciya kembali menceritakan tentang kejadian lima tahun lalu.


“Jadi, jasad siapa yang gue lihat waktu di pemakaman itu?” Kenji memang tak melihat wajahnya, tapi dia bisa melihat jika ada orang yang dimasukan ke dalam liang lahat itu.


“Ciya gak tau. Mungkin itu bukan manusia,” jawabnya.


“Selama lima tahun ini lo ada di mana?” Kenji merasa tak pernah melihat Ciya sebelumnya.


“Ciya ada di luar negeri. Daddy obatin Ciya di sana sampai Ciya sembuh total,” jawabnya.


“Terus sekarang lo balik ke sini?”


Namun Ciya menggeleng. Kenji menjadi bingung dibuatnya. “Terus lo sekarang ngapain ke sini?”


“Ciya di sana telat masuk kuliah karena sakit. Jadi, sekarang Ciya belum lulus kaya kalian. Ciya di sini sekarang lagi liburan.”


“Berarti lo bakal balik lagi ke sana?” Kenji sungguh tak menginginkan hal itu. Dia ingin Ciya tinggal di sini saja, dekat dengannya sehingga dia bisa dengan mudah menjaga Ciya.


“Lo gak mau tinggal di sini aja? Lo gak kasihan sama Bunda?”


Bukannya Kenji menggunakan Bunda Jihan sebagai umpan agar Ciya mau tinggal di sana, tapi bukankah apa yang dikatakannya itu benar?

__ADS_1


Selama ini Bunda Jihan tinggal sendiri di sini dan itu mungkin akan membuatnya merasa sedikit kesepian.


“Ciya gak tau Kak. Kalau kata Daddy Ciya boleh tinggal di sini, mungkin Ciya akan tinggal. Tapi kalau kata Daddy harus pulang ke sana, mungkin Ciya gak bisa di sini.”


__ADS_2