
Kenji masih betah dengan dokumen kerja di hadapannya. Sampai sekarang dia tak berniat menerima tawaran ayahnya untuk mengambil alih perusahaan mereka.
Tapi dia masih bekerja di perusahaan orang dengan gaji pas-pasan. Dia punya rencana untuk menerima tawaran ayahnya itu jika nanti dia siap. Dia sudah merencanakan sesuatu.
"Ken bisa ke ruangan saya sebentar." Atasannya memanggil yang membuat Kenji menghentikan kegiatannya untuk sesaat.
Pria jangkung itu beranjak untuk menuju ruangan atasannya. "Ada apa Pak?" tanyanya.
"Bisa tolong input data ini. Saya harus keluar sebentar," ucap atasannya.
"Kamu kerjain di sini aja biar gak harus email ke saya," sambungnya.
"Ah baik Pak." Kenji mengambil alih kursi atasannya itu setelah sang atasan pergi dari sana.
Hal ini memang sudah menjadi makanan sehari-hari baginya. Pandai di segala hal memang selalu membuat Kenji dibutuhkan oleh setiap rekan kerjanya.
"Masih ada satu jam setengah lagi," ucapnya setelah dia melihat jam di pojok kanan bawah komputer.
Sejak pagi dia belum makan, jadi jam makan siang adalah jam yang sangat dia tunggu-tunggu. Bukan karena tak ingin sarapan, hanya saja jika sarapan, Kenji akan merasakan mual dan berakhir makanan itu keluar kembali. Untuk menghindari itu, jadi Kenji selama ini tak pernah sarapan. Dia selalu memulai makan ketika siang sudah menjelang.
Dengan fokus dan teliti pria itu menginput data. Jika sudah biasa, pekerjaan juga akan semakin cepat. Itulah Kenji sekarang. Karena tak terlalu banyak, Kenji berhasil menyelesaikannya hanya dalam waktu empat puluh menit.
"Selesai, sisanya tinggal kerjaanku yang belum." Sudah yakin tak ada yang terlewat, Kenji keluar dari ruangan atasan dan kembali ke mejanya.
Tampilan layar komputer masih sama seperti ketika dia meninggalkannya tadi. Dia segera menyelesaikannya agar bisa segera makan siang.
Tak lupa Kenji juga mengirim pesan pada atasannya joke dia sudah selesai menginput data yang diminta dan di simpan di sebuah folder di komputer atasannya.
Tepat ketika jam istirahat tiba, Kenji telah menyelesaikan tugasnya. Dia bersiap pergi dari sana. Ketika makan siang tiba, dia memang selalu makan di luar. Jarang sekali dia makan di kantin kantornya. Bukannya makanannya tak sedap, hanya saja bertemu dengan orang kantor yang dia kenal bukannya fokus makan, mereka malah akan lebih fokus bergosip. Itulah kenapa dia selalu makan siang di luar.
Kenji berjalan menuju tempat yang menjadi tangganannya. Sebuah warung nasi sederhana. Entahlah, tapi suasana tenang dan juga nyaman membuatnya betah berada di sana.
"Bu kaya biasa ya," pesannya.
"Siap Mas. Sendirian lagi?" tanya sang pemilik warung.
"Iya Bu." Tak banyak bertanya lagi, sang pemilih warung segera membuatkan makan untuk Kenji.
__ADS_1
Setelah makanan ada di hadapannya, Kenji segera melahapnya. Perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi membuat Kenji makan dengan lahap.
Pemandangan yang berhadapan langsung dengan jalanan yang ramai membuat Kenji merasa tenang. Dia suka suara kendaraan yang berlalu lalang karena itu menandakan masih banyak orang di bumi ini.
"Bu makasih ya. Ini uangnya." Kenji membayar makanannya setelah dia selesai. Tak ingin langsung kembali ke kantor, pria itu diam sebentar memperhatika keramaian kota.
"Ciya?" ucapnya. Dia melihat seorang gadis yang sangat mirip dengan Ciya sedang menyeberang jalan. Gadis itu tak sendiri melainkan dengan seorang pria.
Pakaian hitam yang dikenakan gadis itu membuat kulitnya yang putih terlihat sangat kontras. "Ah gak mungkin."
Kenji menggelengkan kepalanya menyangkal apa yang ada dalam kepalanya. Mana mungkin orang yang sudah tiada hidup lagi.
Kenji semakin memperhatikan gadis itu. Wajahnya sangat mirip. Yang membedakan hanya rambut gadis itu berwarna coklat berbeda dengan milik Ciya. Juga penampilannya yang sangat berbeda jauh.
"Apa dia bereinkarnasi," kekehnya menertawakan dirinya sendiri.
Tak ingin berpikir lebih jauh atau menduga-duga yang tak mungkin, akhirnya Kenji kembali menuju kantornya yang tak jauh dari sana.
Meski begitu, tak dia pungkiri sampai sekarang bayangan gadis yang dia lihat tadi masih terbayang dalam ingatannya.
****
"Mau makan di mana?" tanya Javier.
"Emmm lihat-lihat sekitar sini deh, ada yang enak gak ya?" Ciya melihat ke kiri dan ke kanan yang dipenuhi dengan pedagang makanan.
Wajar saja, letaknya sangat strategis karena banyak perkantoran di sana. "Ada gerai bebek goreng. Mau coba," ucap Ciya antusias.
Selama ini dia belum pernah memakan bebek, jadi mungkin saja setelah dia mencobanya sekarang dia akan menyukainya.
"Ya udah yuk. Parkir di sini aja kali ya, nanti kita nyebrang ke sana. Soalnya parkiran di sana penuh," ucap Javier.
"Boleh." Ciya menyetujui karena dia memang melihat sendiri sepenuh apa parkiran di sana.
Setelah yakin mereka memarkir mobil dengan aman, keduanya keluar dari mobil dan menyeberang ke gerai bebek goreng itu.
"Aduh wanginya udah sampai di sini," ucap Ciya padahal mereka masih di tengah jalan.
__ADS_1
Tiba di sana, betapa terkejutnya melihat lautan orang yang sedang mengantri.
"Kayanya bakal lama deh, gak apa-apa?" tanya Javier.
"Lo gak apa-apa kalau nunggu juga?" Cia meminta pendapat Javier.
"Gak apa-apa sih lagian belum terlalu lapar juga," jawabnya.
"Ya udah nunggu aja. Gue lagi pengen banget makan ini, penasaran," ucapnya yang diangguki oleh Javier.
Mereka mengambil nomor antrian dan menunggu dipanggil. "Udah kaya di dokter aja pakai nomor antrian," ucap Ciya sambil melihat nomor antrian yang ada di tangannya.
Sekitar dua puluh menit mereka menunggu dan akhirnya kini giliran nomor mereka. "Dia porsi ya Bang."
Pesanan mereka langsung dilayani dan diantarkan ke meja mereka.
"Woww gede banget." Ciya tak mengira jika satu porsi akan sebesar ini.
"Habisin, gue gak mau tau. Kita udah antri lama jadi gak boleh ada yang gak habis," ucap Javier.
"Nyiksa lo!"
Mereka memakan milik mereka masing-masing. Tak heran jika antriannya begitu panjang. Rasanya sangat enak dan sekali makan bisa membuat mereka ketagihan.
"Kalau rasanya gini sih antri dua jam juga masih oke," ucap Ciya sambil terus makan.
Saking enaknya hingga Ciya berkata demikian. "Eh ngomong-ngomong, lo bilang gak mau ketemu sama teman-teman lo. Tapi lo keluar kaya gini? Gak ada niatan nyamar gitu?" tanya Javier.
Entah kenapa dia tiba-tiba teringat hal tersebut. "Gue gak mau nemuin mereka. Kalau ketemu gak sengaja ya mau gimana lagi. Lagian repot banget kalau harus pake topi, masker. Udah kaya artis aja," jawab Ciya.
Sejauh ini dia yakin jika dia tak akan bertemu dengan teman-temannya.
"Tapi Vi, ada seseorang yang mau gue temuin. Temenin ya," pintanya.
"Siapa? Sekarang?"
"Ada seseorang. Tapi gak sekarang juga. Mungkin besok," jawab Ciya.
__ADS_1
"Oke. Selama di sini gue bersedia jadi sopir pribadi lo." Sebenarnya Javier sedang menyindir karena dia selalu menyetir ke manapun Ciya pergi.