
Kini Ririn sudah berada di ruang makan bersama keluarganya. Dia sudah rapi dengan seragam sekolahnya, Ririn akan berangkat sekolah menggunakan motornya, tentu dengan usaha yang ekstra untuk mendapatkan izin terutama sama abangnya. Dia tidak terbiasa untun menggunakan mobil kemana-mana.
"Semua keperluan sekolah kamu udah siap, kan?" Tanya Ayudia sambil mengoleskan selai coklat ke roti yang akan di berikan kepada Ririn.
"Iya ampun mom. Aku bukan anak SD lagi kali, semua sudah aku siapkan di dalam tas tanpa ada yang tertinggal kecuali rasa rajin aku." Jawab Ririn.
"Jangan gitu dong. Kamu harus jadi anak yang rajin, biar bisa menggapai semua cita-cita kamu." Ucap Ade menasehati.
"Nunggu warisan ajalah, ya nggak bang?" Ucap Ririn sambil memakan roti yang di berikan Ayudia.
"Ada-ada aja kamu." Balas Nathan.
"Semakin hari, kelakuan kamu semakin menjadi-jadi" Ucap Ayudia.
"I don't care, i love it" balas Ririn.
Ketiga orang itu tersenyum melihat Ririn yang sedang makan roti tersebut.
"Mom, dad, bang aku berangkat dulu ya!" Pamit Ririn sambil menyalami tangan kedua orang tuanya dan abangnya.
"Biar abang anter aja ya, tangan kamu masih sakit." Saran Nathan.
"Nggak papa kok bang, sudah nggak sakit lagi. Percaya deh" Ucap Ririn meyakinkan membuat Nathan menghembuskan nafas kasar.
"Yang rajin ya belajarnya!" Ucap Ayudia.
"Nggak janji, tapi aku usahakan. Jangan kangen ya! Kata Dilan, itu berat kalian nggak akan kuat--" Ririn tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Terus?" Tanya Nathan. Dia berharap bahwa Ririn akan menjawab 'biar aku saja'.
"Sama, aku juga nggak kuat. Makanya aku nggak bakal kangen kalian." Ririn terkekeh dan melenggang pergi.
"Astagfirullah, untung sabar." Ucap Ade mengelus-elus dadanya. Ternyata harapannya tidak sesuai dengan kenyataannya. Sedangkan Nathan dan Ayudia hanya menggeleng-gelengkan kepada melihat kelakuan Ririn.
"Mom, dad, Nathan berangkat juga ya." Pamit Nathan sembari menyalami tangan keduanya.
"Iya, hati-hati nak. Jangan ngebut!" Peringat Ayudia yang di balas hadiah jempol Nathan.
*****
Kini Ririn sudah mulai memasuki gerbang sekolah bersama dengan motor barunya.
Banyak pasang mata yang penasaran, siapa yang baru datang dengan motor sport tersebut.
Ganteng pasti.
Wah kaya nya anak baru.
Dari kejauhan terlihat ada lima sekawan sedang melihat Ririn dengan tatapan bingung. Tanpa basa-basi dan tanpa berlama-lama, mereka pun berjalan menghampiri Ririn yang sedang mencoba untuk membuka helm fullface-nya.
"Butuh bantuan nggak?" Tanya Malik kepada Ririn.
"Astagfirullah, masih pagi udah ketemu setan aja." Ucap Ririn malas.
"Oyy mulut lo minta di robek hah!" Balas Kenzo.
"Gue duluan yang bakal robek mulut lo." Ucap Ririn dingin dan langsung pergi dari sana.
Kelima sekawan yang Ririn tau nama geng mereka 'Divine' itu pun berjalan mengikuti Ririn. Cavero merasa penasaran kenapa Ririn tiba-tiba bisa mengendarai motor. Dia pun mempercepat langkahnya dan berjalan di samping Ririn.
"Ngapain lo?" Tanya Ririn yang merasa heran dengan Cavero. Tumben-tumbennya Cavero menghampirinya.
"Si bos kesambet apaan tuh?" Tanya Haifen kepada Malik yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Nggak tau. Samperin aja kuy!" Ajak Malik kepada teman-temannya.
"Sejak kapan lo bisa motor?" Cavero sangat tidak menyukai yang namanya basa-basi. Itulah mengapa dia langsung to the point.
"Dihh penting buat lo?"
"Nggak juga. Gue penasaran aja, biasanya juga di anterin supir pribadi." Jawab Cavero sekaligus menyindir.
"Oh." Balas Ririn singkat.
"Lo kenapa, dah? Kesambet? Biasanya juga nggak bisa diem lo." Tanya Kenzo terheran-heran.
Ririn menghentikan langkahnya dan kemudian di ikuti oleh lima pria itu. "Lo semua maunya apa sih, njirr? Gue banyak tingkah salah, diem juga salah." Kesal Ririn.
"Nggak salah. Kita cuma heran doang. Biasanya, kan lo tukang caper." Ucap Haiden.
"Aaah tau lah cape gue. Pengen beli batagor aja. Giliran caper di hina-hina, giliran diem di tanyain. Kemarin-kemarin lo pada kemana aja njirr. Bikin frustasi aja lo semua, aish." Ririn jadi kesal sendiri. "Lo semua pada sekarang maunya gue kayak gimana? Caper lagi kaya dulu atau nggak gangguin kalian lagi?" Tanya Ririn.
Mereka berlima jadi diam tak berkutik. Jujur mereka memang risih dengan Ririn yang selalu caper kepada Cavero. Namun, kali ini mereka merasa bahwa Ririn sudah menjadi beda dan mereka pun merasa ada yang kurang ketika Ririn tidak mengganggu mereka.
"Kenapa pada diem?" Tanya Ririn yang kebingungan sambil berkacak pinggang.
"Eh bukannya lo pada yang bilang kalo lo maunya gue nggak ganggu lo pada lagi?" Tanya Ririn sekaligus menyindir mereka.
"Aah udahlah lupain aja, gue mau kekelas dulu. Bye bye!" Ucap Ririn meninggalkan mereka.
*****
Kini semua murid kelas IPA-5 sedang mengerjakan ulangan harian matematika oleh Pak Burhan. Banyak yang protes dengan ulangan ini, karena ulangan hari ini sangatlah mendadak. Semua murid dari IPA-5 tidak di beri kesempatan untuk mempelajari materinya terlebih dahulu.
Sama seperti yang lainnya, Ririn ikut memprotes guru matematika-nya itu. Namun, Pak Burhan tidak mendengar semua protesan murid-muridnya dan langsung memberikan soal ulangan.
Karena protesannya tidak di dengar oleh gurunya. Ririn pun menyerah dan mencoba memecahkan sebuah soal yang akan dia kerjakan dengan semampu dirinya.
"Aakh ini soal apaan, dah?" Ririn menggaruk lehernya yang tidak gatal sembari memikirkan bagaimana cara mengerjakan soal ini.
"Ssst.. lo bisa nggak, Rin?" Delisha menyenggol-nyenggol tangan Ririn.
"Nggak tau gue. Gue nggak belajar semalam."
"Oh ya udah." Balas Enzy kembeli memperhatikan soal-soal di depannya.
Ririn terdiam sebentar, sebelum akhirnya ia menggebrak meja dengan sekuat tenaganya.
BRAKK
Suara gebrakan itu mampu mengagetkan semua orang yang berada di sana. Mereka langsung menoleh ke arah Ririn sambil mengusap-usap dada mereka untuk menormalkan kembali degup jantungnya.
"Astagfirullah ngagetin aja sih, Rin." Ucap salah satu siswi di sana.
"Hehe ya maaf!" Ririn menjadi merasa tidak enak kepada teman-teman dan gurunya.
"Kenapa, Rin?" Tanya Pak Burhan.
"Saya mau protes pak!" Jawab Ririn.
"Protes apa lagi?" Tanya Pak Burhan mengangkat alisnya sebelah.
...*****...
"Kalo kamu nggak mau kerjakan soal itu, silahkan keluar!" Ucap Pak Burhan dengan santai.
"Alhamdulillah Ya Allah." Bukannya panik, dia malah berayukur telah di usir oleh Pak Burhan.
__ADS_1
"Tapi kamu tidak memiliki nilai dalam pelajaran kali ini dan saya akan menganggap kamu tidak hadir hari ini." Ucap Pak Burhan.
"Yahh pak kok nggak di anggap hadir? Saya kan bukan setan, pak. Lagian saya sudah mengerjakan beberapa soal kok." Protes Ririn.
"Gini aja deh pak! Bapak pilih mau meng-alfakan absen saya atau mau mengosongkan nilai saya?"
"Kok jadi kamu yang ngatur saya?"
"Yaa lagian nggak adil dong bagi saya, pak. Masa saya sudah capek-capek ke sekolah dan mengerjakan beberapa soal malah nggak di anggap sama bapak."
Pak Burhan terdiam sebentar, kemudian dia menghembuskan nafasnya kasar. "Oke kalo kamu keluar bapak akan mengosongkan absen kamu." Final Pak Burhan.
"Dadah prenn. Gue mau bolos dulu hari ini. Selamat mengerjakan buat kalian semua! Alopyu pul, pak." Ucap Ririn sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Jangan di contoh!!" Titah Pak Burhan kepada murid-muridnya.
Ririn pun kembali membuka pintu kelasnya karena mendengar ucapan dari sang guru. "Dilakukan hanya oleh profesional ya pren."
"Anjayy baru kali ini gue liat kantin sepi kaya gini." Ucap Ririn tersenyum lebar.
"Apa lo liat-liat?" Tanya Kenzo.
"Dih pede banget lo" Balas Ririn memutar matanya malas, sebelum akhirnya berjalan menghampiri mereka.
"Ngapain lo di sini? Bolos kan lo?" Tanya Kenzo lagi.
"Anjing, bisa gitu ya. Bolos tapi gurunya tau kalo kita bolos, nah loh gimana konsepnya tuh?" Tanya Haiden heran.
"Jadi gini, tadi tuh gue lagi ulangan matematika, kan. Terus gue protes tuh, karena si Aini yang beli apel tapi gue yang di suruh ngitung harga 1 kg nya berapa. Yaa gue kan males gitu ya, terua kata si bapaknya gini 'kalo kamu nggak mau ngerjain soal itu, silahkan keluar!' gitu, jadi ya udah deh gue keluar." Jelas Ririn panjang lebar.
"Tadinya gue mau beli bakso tapi ngeliat lo pada disini jadi ya udah gue samperin lo pada. Kalo makan bakso sendirian nggak enak, jadi kita makan sama-sama disini." Jawab Ririn.
"Terus bakso lo mana?" Tanya Malik.
"Oiya kita kan belum kenalan ya. Padahal udah ketemu beberapa kali." Lanjutnya.
"Udah dari tahun lalu, njirr." Ucap Malik.
"Gue kan hilang ingatan JAMALUDIN."
"Emang gitu kadang-kadang." Ucap Malik yang tak sengaja mendengar ucapan Ririn.
"Ohh gitu ya." Ririn mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Oke pren-pren. Terima kasih atas perkenalannya, tapi dapat di pastikan bahwa nama lo pada nggak bakalan berguna. Karena gue lebih suka panggil kalian dengan bangsat, nyet, bret dan lainnya."
"Terus ngapain lo nanya, anjirr?" Kesal Haiden.
"Buat jaga-jaga. Siapa tau gue di ajak jalan-jalan sama lo, terus ada orang tua lo juga. Masa gue manggil lo dengan sebutan anjing, anak anjing. Kan nggak lucu." Jawab Ririn santai sembari memasukkan bakso ke mulutnya.
"Siapa juga yang mau ngajak lo jalan-jalan?"
BRAKK
Uhuk
Uhuk
...🌱...
ig : @knririn_
Jangan lupa tinggalkan jejak yaw. Vote, like and komen.
__ADS_1