
Ririn dan Kenzo tersedak makanan mereka sendiri ketika seseorang menggebrak meja di hadapannya.
"Hah ****!" Umpat mereka berdua ketika sudah meminum air yang di berikan temannya yang lain padanya.
"Bangsatt!!.."
"Mau lo apa hah?" Sertak Malik.
"Lo udah gila hah! Main gebrak meja orang gitu aja udah tau ada orang yang lagi makan. Untung gue kaya mati dua kali gara-gara keselek." Bentak Ririn dadanya terasa sakit karena nafasnya yang tersendat bakso, matanya sedikit berair karena terbatuk tadi.
"Lo yang udah gila!" Ucap Dion dengan emosi. "Liat apa yang baru aja lo lakuin? Lo kurung dia di bilik toilet dan bully dia sampai segitunya!" Ucap Dion marah membuat Ririn memgernyit bingung menatap Dion kemudian menatap Monika yang ada di belakang Dion dengan keadaan yang sangat mengenaskan seperti sudah tercebur ke air got. Ririn yang menatap itu tertawa terbahak-bahak membuat orang yang melihatnya ikut tertawa bahkan ada juga yang terkikik geli karena melihat Monika yang seperti itu, kecuali Cavero dan David tetap dengan muka dinginnya.
"Heh lu jangan asal nuduh orang sembarangan dong, lo punya bukti apa kalo Ririn yang udah biat dia kaya gitu." Ucap Malik melihat Dion tak suka.
"Lo perlu bukti apa lagi. Monika sendiri yang bilang gitu dan lo nggak liat Monika kaya gitu dan itu pasti ulah teman lo yang iblis ini." Ucap Dion dengan gigi bergemelutuk.
"Lo pikir karena omongan dia, gue bakalan percaya gitu aja? Heh asal lo tau ya Ririn dari pagi masuk gerbang sekoalh sampai sekarang sama kita-kita terus dia aja bahkan belum ke toilet!" Bela Kenzo, dia memang kesal dengan Ririn tapi dia tidak terima jika Ririn dibtuduh begitu saja. Dia melihat ke arah Monika menatapnya tajam.
"Kenapa lo? Habis kecebur di selokan iiuuh haha anjirr ngakak gue liatnya. Lo kaya orgil di jalan yang suka ngejar-ngejar orang tau nggak lo?" Ucap Ririn tertawa membuat Dion marah dengan rahang yang mengeras, dia menjambak rambut Ririn dengan kuat membuat semua orang terkejut.
"Akhh shitt" ringis Ririn, dia menatap Dion dengan senyuman mengejek.
"Kenapa? Mau marah ha.." Ririn tersenyum miring. "Lepasin rambut gue sebelum gue berubah!" Ucap Ririn dingin.
"Lo pikir lo siapa hah. Bisa nggak sih lo nggak usah ganggu Monika" Dion semakin mengeratkan jambakannya membuat Ririn merasa rambutnya seakan mau copot.
"Siapa yang ganggu siapa? Gue nggak lakuin apa pun sama si anak gorila itu." Ucap Ririn datar matanya menyorot tajam Dion.
"Heh lo" tunjuk Ririn pada Dino. "Bawa nih temen burik lo ini menjauh dari gue sebelum gue ngelakuin sesuatu." Ririn memejamkan matanya menahan semua emosi di benaknya.
Sabar Rin sabar, kita lihat dulu sampai mana ni gorila main-main. Batin Ririn.
"Gue nggak mau!" Ucap Dino membuat Ririn tersenyum miring.
"Oke jangan salahin gue kalo sampai temen burik lo ini masuk rumah sakit sampai satu minggu, ah satu bulan tidak tapi satu tahun." Ririn menyeringai lebar membuat semua orang yang melihatnya bergidik ngeri.
"Lepas tangan lo!" Ucap Ririn dengan santai. "Kenapa gue harus lepasin tangan gue, ini pantas buat lo yang selalu gangguin Monika." Ucap Dion dengan suara dingin dan menusuk.
"Lepas bangsatt!" Sertak Kenzo.
"Diem lo!" Bentak Dion.
"Sudah kalian diem aja dan liat pertunjukan gratis yang gue berikan." Ucap Ririn santai dengan rambutnya yang masih di jambak.
Ucapan Ririn membuat Cavero yang akan turun tangan mengurungkan niatnya dan menunggu pertunjukan apa yang akan di lakukan Ririn.
Srett
Ririn balas menjambak rambut depan Dion membuat pria itu meringis.
"Lo pikir lo juga pantes gitu nyakitin gue kaya gini!" Ririn tersenyum mengejek kepada Dion. "Lo pikir lo siapa? Berani ngelakuin hal kaya gini ke gue?" Ucap Ririn menghempaskan tangan Dion dari rambut panjangnya. Lalu mendorong Dion sedikit menjauh darinya.
"Siapa pun gue, itu terserah gue mau lakuin hal apa pun." Ucap Dion dingin.
"Begitu pun gue. Lo pikir lo aja yang bisa lakuin hal apa pun, gue juga bisa"
"Sebaiknya lo jauh-jauh dari hidup gue sebelum gue bener-bener bakalan bikin hidup lo nyesel." Ucap Ririn serius.
Dion mencekal dagu Ririn kuat. "Itu nggak bakalan terjadi." Dion tersenyum miring.
__ADS_1
"Kenapa? Lo nggak mau jauh-jauh dari gue gitu dan mau terus gangguin hidup gue. Apa emang lo beneran nggak bisa lepasin gue?" Ucap Ririn membuat Dion semakin kuat mencekal dagunya.
"Lo jadi cowok kok pengecut banget. Main kasar sama cewek!" Sindir Malik.
"Gue yakin sih ni monyet kalo punya cewek nggak ada yang betah sama kelakuannya." Lanjut Ririn terkekeh. Dia mendorong Dion hingga cekalannya terlepas.
"Cewek kayak lo emang pantes di kasarin, karena lo itu iblis yang nggak punya hati." Sarkas Dion.
"Lo liat Monika yang lo buat sampai kaya gini!" Dion menunjuk Monika yang isakan menunduk dengan bibir yang menyeringai.
"Heh lo bodoh atau emang bodoh sampai ubun-ubun. Seorang iblis aja nggak bakalan mau di kasarin. Dan lo samain gue sama iblis yang nggak punya hati."
"Oke gue bakal tunjukin bagaimana gue yang iblis ini." Ucap Ririn menyeringai. "Lo semua penasaran kan apa yang udah gue lakuin sama ni anak gorila?" Ucap Ririn menatap sekelilingnya.
"Tapi sebelum itu gue cuma mau nunjukkin kejutan buat lo semua, siapa disini yang bersalah gue atau lo pada." Ucap Ririn tersenyum misterius. Ririn mengambil sebuah tisue lalu membasahinya dengan air. Kemudian dia mendekati Monika.
"Nggak boleh ada yang halangin gue setelah ini, karena kejutannya akan segera kalian lihat."
"Lo liat matanya yang membiru ini serta bibirnya yang membiru seperti bekas pukulan. Pasti sakit iyakan anak monyet? Apa ini asli atau efek make-up atau ini benar-benar bekas pukulan gue?" Ririn tersenyum miring, dia mengguyur wajah Monika hingga gadis itu terkesiap.
"Lo apa-apaan!" Pekik Monika dengan muka melas.
"Lo udah gila ya!" Bentak Dion.
"Iya anggap aja begitu."
"Lo ma-mau ngapain?" Tanya Monika dengan tubuh bergetar. "Gue? Gue cuma mau bersihin muka lo." Ririn mengelap wajah Monika dengan tisue yang sudah dia kasih air tadi.
Semua orang terkejut melihat wajah Monika yang tidak ada bekas biru lagi di wajahnya.
Plak
Plak
"Ini yang gue lakuin sama dia."
Srett
Ririn menarik rambut Monika hingga gadis itu menjerit berdiri dari duduknya.
Dugh
Brak
Ririn membenturkan kepala Monika pada meja di depannya dan mendorongnya hingga tubuh Monika menabrak meja.
Brukk
Keadaan Monika sudah sangat mengenaskan tidak ada yang berani menghentikannya bahkan Dion sekali pun, dia hanya mematung mencerna apa yang terjadi di hadapannya sekarang. Sedangkan Cavero dkk hanya tersenyum sinis melihat kejadian hari ini. Semua orang meringis melihat bagaimana Monika yang sudah sangat mengenaskan.
"Ssh.. sa.. hiks kit.. hiks."
"Sakit ya?" Tanya Ririn dengan polosnya, sedetik kemudian dia merubah mimik wajahnya jadi datar dan dingin.
"Sudah.." Ucap Cavero menghentikan Ririn dengan menggenggam tangannya kemudian menariknya keluar kantin.
...🌱...
"Cari dulu kebenarannya sebelum bertindak!" Ucap David dingin kemudian pergi menyusul teman-temannya.
__ADS_1
Sedangkan Ririn yang di bicarakan hanya terkekeh. "Banyak orang yang bilang Ririn itu queen bullying disini, tapi nyatanya dia sendiri yang jadi korban bully dan melawan mereka untuk pertahanan diri. Namun mereka semua berpikir bahwa Ririn lah seorang pembully." Ririn tersenyum miris.
"Dia bertahan sendiri tanpa ada yang membela satu pun. Ririn nggak pernah melakukan apa pun tapi see, mereka selalu menganggap Ririn yang salah meski dia nggak ngelakuin kesalahan apa pun." Air mata Ririn lolos begitu saja tanpa di minta.
"Udah.. gue nggak papa."
"Udah gue mau balik kelas dulu, bye bye." Ucap Ririn melangkah pergi tapi seseorang menahannya.
"Lo tenangin diri aja dulu disini." Ucap Cavero datar.
"Okelah." Balas Ririn kemudian duduk di antara mereka.
"Bret, pesenin makanan dong. Gue laper nih tadi baksonya yang masuk cuma tiga suap." Pinta Ririn dengan wajah melas.
"Ehh busyett berani bener lo suruh si bos." Sewot Haiden.
"Mau apa?" Tanya Cavero membuat teman-temannya cengo tidak percaya.
"Mantapss!"
"Eh Rin, gue mau nanya, boleh nggak?" Tanya Malik.
"Boleh" jawab Ririn.
"Kok lo bisa berubah secara drastis gini? Terus tadi behh pertunjukan lo keren bet, busyett. Kok bisa?" Tanya Malik.
"Lahh kok nanya lagi kan tadi udah."
"Kapan anjirr?"
"Tadi lo nanya, 'boleh nggak?' gitu, terus gue jawab 'boleh'. Lah kok lo nanya lagi?"
"ANAK SETAN, MATI KEK LO, ANJING!" Kesal Malik. Pasalnya dia sudah bertanya dengan sungguh-sungguh tapi anak setan ini malah membuatnya kesal dengan tidak menjawabnya dengan benar.
"ANAK SETAN!"
"Mommy lagi masak apa?" Ririn menjinjitkan kakinya untuk melihat makanan apa yang sedang di masak Ayudia.
"Kenapa emang? Mau bantuin?" Tanya Ayudia sambil mengaduk-aduk masakannya.
"Ngggak" Ririn menggelengkan kepalanya cepat.
"Katanya gabut. Tuh masih banyak bawang yang perlu di kupas." Ayudia menunjuk sebuah wadah tempat bawang-bawangan yang harus dia kupas untuk bumbu masakannya beberapa hari ke depan, karena stok di kulkas sudah habis.
"Mending aku gabut, mom. Nanti kalo ngupas bawang aku pasti bakal nangis, nanti kalo nangis aku jadi jelek. Aku nggak mau." Ririn segera pergi meninggalkan Ayudia.
"Anjing! Kita nanya baik-baik malah di ketusin gitu" kesal Malik.
"Cabut!" Perintah Cavero.
"Ini juga kulkas berjalan main tinggal-tinggal aja, nggak bisa apa jalan bareng-bareng gitu?" Gerutu Malik membuat teman-temannya terkekeh mendengarnya.
*****
"Wehh, apa-apaan nih?" Tanya Ririn kesal. Tidak bisakah dia terbebas sehari saja dari mereka.
"Apa apanya?" Tanya Malik polos.
...🌱...
__ADS_1
ig : @knririn_
Jangan lupa tinggalin jejak yaw gengs. Vote Like and Komen..