RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 43


__ADS_3

"Emm sebenarnya.."


"Sebenarnya.."


"Sebenarnya apa RIN!" Geram Cavero dengan Ririn yang hanya bicara 'sebenarnya' tanpa melanjutkan. Dia akhirnya membuka suara setelah Ririn sadar membuat atensi semua orang menoleh kearahnya.


"Sebenarnya aku bukan Ririn putri kalian." Ucap Ririn meremas selimut yang dipakainya.


Deg


Tidak ada yang terkejut mendengar perkataan Ririn, kecuali Lorenz dan Dark Spider dan nenek odi tentunya yang linglung melihat sekitar.


"Apa maksudmu sayang? Jangan berkata seperti itu, kamu adalah putri mommy" ucap Ayudia memeluk Ririn dengan mata berkaca-kaca. Membuat Ririn harus menahan cairan bening di pelupuk matanya.


"Mom, Mommy harus tau aku bukanlah Ririn yang selama ini kalian kenal" Ririn mendeja ucapannya. "Aku sebenarnya adalah Aqila Zara Maureen, adik dari Lorenz Abimanyu Pratama, anak dari bunda Naya dan ayah Bayu. Sebelum kecelakaan itu terjadi dan mengharuskan jiwaku memasuki raga putri kalian Ririn" jelaa Ririn, ralat Aqila panjang lebar dengan tubuh yang mulai bergetar. Mereka yang mendengar itu di buat terkejut.


"Apa maksud dari semua ini?" Tanya Ade. Sungguh dia tidak percaya dengan cerita putrinya barusan.


"Rin udah. Lebih baik kamu istirahat biar tidak bicara ngawur kaya gitu" ucap Aira yang baru sadar dari keterkejutannya. Sedangkan Adelard tengah memeluk Ayudia yang hanya bisa menangis.


"Nggak tante, aku sadar dengan apa yang aku katakan" ujar Ririn.


"Raga ini memang milik Ririn putri kalian, tapi jiwa yanh menpati tubuh ini adlaah aku Aqila. Raga dan jiwaku tertukar saat aku dan Ririn kecelakaan di waktu yang sama." Jelas Ririn mulai terisak.


"Mungkin kalian yang mendengar ini akan menganggap aku gila. Tapi inilah rahasia yang sebenarnya aku tutupi selama ini" jelas Ririn lagi.


"Ragaku ini memang milik Ririn putri daddy dan mommy. Tapi, jiwaku milik seorang Aqila Zara Maureen putri dari Ayah Bayu dan Bunda Naya." Ucap Ririn.


"Hiks maafin Ririn dad mom" tangis Ririn pecah melihat keluarganya termasuk Cavero juga yang terdiam.


"Abang, Qila takut hiks" Lorenz yang mendengar perkataan adiknya segera memeluknya. "Jangan takut ada abang disini" ucap Lorenz mencium rambut adiknya.


"Jika kamu adalah Aqila, lalu dimana adikku Ririn?" Tanya Nathan dingin dengan mata yang sudah merah menahan air matanya membuat Ririn terdiam menegang.


Apa yang harus aku katakan ya Allah. Aku tidak mau membuat mereka terluka mendengar hal yang sebebarnya. Batin Ririn bimbang.


"JAWAB DIMANA RIRIN SEKARANG!" Sentak Nathan tiba-tiba membuat semua orang kaget.


Ririn menatap wajah mommynya yang berada di sampingnya dengan penuh luka dan kesedihan mendalam. Membuat Ayudia hancur berkeping-keping.


"Ririn.." suara lirihan keluar dari bibir milik Ririn ketika matanya melihat jiwa Ririn yang asli tengah berdiri memeluk sebelah tangan Ayudia tengah melihatnya dengan tersenyum manis.


"Biar aku yang mengatakan semuanya." Lirihan suara dari jiwa Ririn asli membuatnya terdiam hanya menatap kearahnya.


"Mommy.. Ri-rin.." tunjuk Ririn kearah tangan sebelah kiri mommynya yang tengah di peluk oleh Ririn yang asli.


Ia mencium sebelah kiri pipi Ayudia. "I love you mommy" lirih suara Ririn terdengar di telinga Ayudia membuat wanita paruh baya itu tertegun dengan hati berdenyut sakit dan menangis terisak kembali.


"Lethicia" gumam Ayudia ketika merasakan pelukan hangat di tangan dan pipi sebelah kirinya.


"Mommy" panggil Ririn menyadarkannya. Ayudia menatap kearah Ririn yang tengah tersenyum manis merentangkan tangannya. Yaps, saat ini jiwa yang memasuki raga Ririn adalah Ririn yang aslu sedangkan jiwa Aqila memasuki sebuah ruang terdalam dengan kegelapan menyelimuti.

__ADS_1


"Do you wanna hug me, mom dad?" Tanya Ririn dengan mata berbinar dan mengerjap lucu membuat Adelard tersenyum haru. Kata itu adalah yang sering putrinya katakan ketika ia merasa sedih atau lelah ketika seharian bekerja. Kata yang baru kalii ini ia dengar lagi setelah sekian lama.


"Putriku" lirih Adelard berhambur memeluk Ririn dengan bahu bergetar menahan isak tangis.


"Daddy jangan nangis. Ririn nggak suka" ucapnya dengan mata yang berairnya.


"Mommy" panggil Ririn menjulurkan sebelah lengannya kepada Ayudia, membuat Ayudia langsung berhambur memeluknya.


"Maafin Ririn ya. Ririn udah jadi anak yang nakal, selalu buat mommy sama daddy khawatir." Ucap Ririn dalam pelukan mereka. "Maafin Ririn juga karena selama ini selalu nyusahin mommy sama daddy, meskipun Ririn tau mommy sama daddy jarang di rumah karena kerja buat Ririn sama abang" lanjutnya lagi dengan air mata yang terus mengalir membuat suasana di dalam ruangan tersebut penuh haru bahkan nenek Odi yang tidak mengerti sampai mengeluarkan air matanya dan Cavero yang memalingkan mukanya.


"Nggak sayang, sayangnya mommy nggak nyusahin apa pun buat mommy sama daddy. Apa pun akan mommy kasih demi kamu sayang. Jangan berkata seperti itu" ucap Ayudia mengelus lembut pucuk kepala Ririn.


"Mommy terima kasuh dan maafin Riri ya untuk semuanya, sekarang Ririn udah bahagia tapi juga sedih karena harus ninggalin kalian semua."


"Kamu bicara apa Rin? Jangan bicara seperti itu!" Ayudia melepas pelukannya dan menatap nyalang anaknya itu.


"Sebenarnya Ririn sudah pergi jauh. Jaaauuuhh banget pada saat Ririn jatuh koma karena kecelakaan waktu itu." Ucap Ririn tersenyum pedih menatap sendu kedua orang tuanya. "Ririn udah pergi jauh sebelum jiwa Aqila memasuki raga milik Ririn." Ririn mendongak menatap langit-langit ruangannya agar air matanya tidak jatuh kembali, namun gagal lagi-lagi air bening itu terjatuh juga.


"Bukan hanya Ririn yang jadi korban pada waktu itu, tetapi seorang gadis yang tidak lain adalah Aqila yang menyelamatkan seorang anak kecil." Jelas Ririn membuat semua orang terkejut dengan fakta yang baru saja di dengar oleh telinga mereka.


"Mak-sud lo? Bu-kannya yang nabrak Aqila sebuah truk? Lo nggak mungkinkan mengebdarai truk?" Tanya Lorenz beruntun tak percaya.


Ririn menggeleng dengan terisak. "Bukan truk tapi mobil. Waktu itu aku dan yang lain ke Bandung, rumah Opa. Tapi karena aku bosan akhirnya aku pergi keluar sebentar. Tapi waktu aku sedang sibuk dengan ponselku sendiri tidak melihat kedepan, memang ada truk yang melaju tapi Aqila dengan segera menghindar dari truk tersebut tapi tidak dengan aku yang tidak fokus kedepan." Jelas Ririn terisak. "Aku tidak bisa menghindari itu dan menabrak Aqila dan bagian samping truk itu, hanya Aqila sedangkan anak yang di selamatkan Aqila selamat karena dia mendorongnya ke pinggir. Disaat itu terjadi aku melihat Aqila yang tengah sekarat dengan tubuh penuh darah sama tidak jauh beda denganku." Isakan kecil tidak dapat Ririn tahan. Lorenz yang melihat itu membawa Ririn kedalam pelukannya.


"Semua ini salahku. Seandainya aku fokus dan bisa menghindar semua ini tidak akan terjadi." Raung Ririn merasa bersalah mengeratkan pelukannya kepada Lorenz.


Semua yang mendengar cerita dari Ririn terisak pelan. Cavero yang selalu terlihat dingin dan datad kini ikut menangis melihat dan mendengar semua kebenarannya dari Ririn.


"Dia sudah berbuat banyak untukku di wakty yang sekarang ini" jeda Ririn menatap kedua orang tuanya. "Mommy, daddy Ririn mohon tetap sayangi Ririn mesku jiwa Ririn sudah pergi dan tergantikan oleh Aqila." Ririn menggenggam tangan Adelard dan Ayudia.


"Siapapun kamu, bagi daddy kamu tetap putri kesayangan daddy." Kata Adelard mengecup kening Ririn.


"Kak, aku harap kakak bisa menerima raga ini sebagai adik kakak dan maafin Ririn" ujar Ririn kepada Lorenz.


"Tentu saja sweety. Terima kasih telah memberikan Aqila kehidupan kedua, kakak sendirian disini" ujar Lorenz memeluk dan mencium rambut Ririn. Ririn hanya mengangguk mendengarnya.


...*****...


NEXT!


Ririn melepas pelukan Lorenz dan beralih menatap Nathan yang juga menatapnya. "Abang, maafin Ririn yang selalu gangguin abang" kata Ririn merentangkan tangannya.


Nathan yang melihat adiknya merentangkan tangannya langsung memeluk adiknya erat. Air matanya turun dengan deras. "Maafin abang yang sering cuekin adek. Maaf" lirih Nathan mencium kepala Ririn bertubi-tubi.


"Tante maafin Ririn yang selalu jahilin tante, selalu nyusahin tante bahkan selalu tanyain tante hal yang sensitif buat tante" Aira yang mendengar itu berlari menubruk tubuh Ririn dan menangis sesegukan. "Ayo jahilin tante terus, ayo nyusahin tante lagi. AYO RIN AYO!" ujar Aira mengguncang tubuh Ririn dalam pelukannya. Air mata keduanya turun semakin deras. Begitu juga dengan semua orang yang melihatnya.


"Grandma, do you wanna hug me?" Tanya Ririn melihat neneknya.


Nenek odi tersenyum melihat itu, dia berjalan pelan menuju cucunya. Wanita tua itu langsung memeluk cucunya. "I don't understand what happened. but seeing how everyone was crying, it meant that nothing was okay." (Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Tapu melihat bagaimana semua orang menangis, itu artinya tidak ada yang baik-baik saja.) Ujar nenek Odi menitikkan air mata.


"whatever happens, i just want grandma to know i love grandma." (Apa pun yang terjadi, aku hanya ingin nenek tau aku sayang nenek) ujar Ririn mengeratkan pelukannya. "Thank you for always pampering me, always giving me love, always hearing all my stories, Grandma." (Terima kasih selalu memanjakanku, selalu memberikan aku kasih sayang, selalu mendengar semua ceritaku, nek.) Lanjutnya, nenek Odi hanya mengangguk mendengar tenuturan cucunya.

__ADS_1


"Sure, 'cause you're my love" lirih nenek odi.


Ririn melepas pelukannya kepada neneknya dan kali ini beralih menatap Cavero yang hanya berdiam diri memandang kearah lain.


"Cav?" Panggil Ririn lirih.


Cavero yang di panggil menghapus kasar air matanya dan menoleh kearah Ririn. "Kenapa?" Tanya Cavero dengan suara lembut.


Ririn melepas pelukannya dari Cavero. Dia menatap seluruh keluarganya yang mengeluarkan air mata. "Terima kasih untuk semuanya. Ririn sayang kalian semua, aku pamit. Jaga kesehatan kalian semua terutama untuk mommy jangan terlalu banyak makan manis karena senyum mommy aja udah manis." Ucap Ririn tersenyum sedikit menggoda mommy nya itu membuat Ayudia semakin histeris.


"Nggak sayang nggak! Hiks jangan tinggalin mommy hiks." Ayudia menggeleng-gelengkan kepalanya memeluk erat Ririn.


"TIDAK! Tidak hiks Rin jangan tinggalin mommy!" Ayudia mengguncang tubuh Ririn yang menutup matanya tak sadarkan diri. Membuat semua orang panik.


"Cepat panggilkan dokter!" Ucap Adelard entah kepada siapa. Dia sendiri masih harus menenangkan istrinya yang masih terisak dalam pelukan Ririn. Adelard mencoba melepaskan Ayudia dan membawanya kedalam pelukannya.


"Dad bilang hiks sama mommy, ini hiks cuma mimpi hiks semua ini cuma mimpi kan dad hiks" isak Ayudia mencengkram baju lengan suaminya kuat.


"Mohon maaf bapak dan ibu bisa tunggu di luar, kami akan menangani pasien sebisa mungkin." Ucap salah satu perawat mmeberitahu. Mereka pun berjalan keluar dengan hati penuh kecemasan.


"Dok, detak jantung pasien semakin melemah." Ujar salah satu perawat membuat kepanikan diantara mereka.


"Satu.. dua.. tiga" dokter menghitung dan menaruh alat tersebut tapi belum ada kemajuan.


"Tambahkan Vol nya" perintah dokter. "600cc siap!" Ucap salah satu perawat dengan lantang.


"Satu.. dua.. TIGA.." Dokter tersebut kembali menghitung dan melakukan yang sama. Sampai ketiga kalinya alat itu mengenai tubuh Ririn namun tidak ada kemajuan.


Dokter dan tim masih mengupayakan, sampai kali keempat akhirnya detak jantung Ririn kembali normal membuat dokter dan para perawat bernafas lega.


"Berikan obat pada cairan infus pasien. Kemungkinan untuk sadar kembali pasien membutuhkan waktu yang cukup lama." Titah sang dokter yang di angguki oleh salah satu perawat.


Gadis ini benar-benar diluar ekspektasiku, baru saja bulan lalu terkena koma sekarang harus mengalaminya lagi. Aku harap kau cukup kuat untuk bisa sadar kembali nona aneh. Batin dokter Justin yang dulu sempat bertengkar dengan Ririn.


*****


Sekarang gue tau kenapa lo berubah. Dan sialnya gue suka dengan lo yang sekarang. Batin Cavero menatap pintu ruangan Ririn yang tertutup.


Semoga lo tenang disana. Batin Cavero lagi.


Nenek Odi tentu sangat terpukul dengan kenyataan ini, dari awal bertemu setelah sekian lama dia sudah merasa aneh dengan cucunya yang tidak seperti biasa.


"My love" raung nenek Odi dalam pelukan Nathan. Aira yang mendengar lirihan ibunya menangis kencang.


Adelard dan Nathan berusaha tegar untuk menenangkan ketiga wanita tersebut. Cavero yang melihat itu pergi meninggalkan mereka dengan air mata yang sesekali jatuh.


...🌱...


Jangan lupa komen di setiap paragraf, tandai typo biar nanti langsung revisi..


Jangan lupa Vote, Like, Komen, dan Hadiahnya gengs.

__ADS_1


Happy X'mas bagi yang menjalankan..


__ADS_2