RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
Part 66


__ADS_3

Pren maaf banget kalau misalnya nanti ada salah penyebutan nama, tempat, dan lainnya, karena jujur aku sedikit lupa saking sudah lama gak update hehe maafken ya pren:)


Enjoy pren!


...***...


Di kelas XI IPA-4 guru tengah menjelaskan materi dengan serius. Sedangkan Ririn tengah misah misuh tidak jelas, pikirannya entah kemana. Ririn menoleh ke samping melihat Delisha yang sesekali menguap mendengar penjelasan guru lalu beralih menoleh ke depan dimana Enzy dan Mahira duduk, Enzy tengah menggigit-gigit kecil kuku-kukunya dan Mahira terus bercermin di cermin kecil tutup bedaknya. Ririn tersenyum seketika mendapatkan ide, jika di anime atau komik kepala Ririn pasti ada tanda lampu kuningnya.


Ririn menyenggol lengan Delisha membuatnya menoleh mengangkat alisnya sebelah. "Bolos yuk," ajak Ririn pelan.


"Berdua?" Tanya Delisha.


"Ajak mereka berdua," jawab Ririn yang diangguki Delisha.


"Hust hust," cuit Ririn berhasil membuat kedua temannya menoleh kebelakang. "Kenapa?" Tanya Mahira dengan suara pelan.


"Bolos yuk," ajak Ririn yang langsung diangguki Mahira dan Enzy antusias.


"Gimana caranya?" Tanya Delisha pelan.


Ririn tersenyum menatap ketiga temannya silih berganti. "Tenang aja. Kita berempat sekarang berdiri sama-sama," ujar Ririn. "Satu.. dua.. tiga!"


"Kalian berempat ada apa?" Tanya guru tersebut berhenti sejenak menjelaskan materi.


"Kita izin ke toilet bu," ujar Ririn dengan wajah tanpa dosanya.


"Berempat?" Tanya guru tersebut.


"Oiya jelas dong bu. Kita kan bes pren, tapi tenang aja bu nanti masuk bilik toilet satu-satu kok," ujar Ririn tak tau malu mengundang gelak tawa teman sekelasnya.


Delisha menonyor kepala Ririn kesal. "Iya ya lah satu-satu, bego!"


"Lah salahnya dimana?" Tanya Ririn polos.


"Sudah-sudah!" Cetus guru tersebut. "Kalian berempat silahkan keluar dan cepat kembali," titah guru itu memberikan izin.


Senyum keempatnya mengembang. "Makasi bu," ucap mereka barengan lalu keluar kelas dan tentu saja dengan sombongnya mereka melambaikan tangannya kepada teman sekelasnya yang mendengus. Sedangkan gurunya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak muridnya itu.


"Akhirnya! Kantin kuy," ajak ya Ririn lah siapa lagi.


"Kuy! Kayanya es jeruk seger nih," balas Enzy.


Mereka berempat dengan senyum yang tak pernah luntur sembari bersenandung ria menyusuri koridor dan jangan lupakan betapa sombongnya mereka melambaikan tangannya ke arah kelas-kelas yang mereka lewati.


Saat di pintu masuk kantin, mata mereka langsung tertuju pada sekelompok laki-laki yang tengah memakan cemilan yang ternyata adalah Divine. Ririn berjalan dengan cepat menuju meja mereka diikuti ketiga temannya.


"Hai mas pacar," sapa Ririn menepuk pundak Cavero pelan dan tidak lupa senyum manisnya.


Cavero hanya menatap Ririn sekilas kemudian kembali memainkan ponselnya. Senyum Ririn luntur melihat mas pacarnya cuek padanya, ia langsung duduk di sampingnya menggeser Varen membuatnya mendengus. "Punya mulut kan? Bisa bilang," kesal Varel.


Sedangkan, Delisha dkk sudah duduk langsung tadi.


"Diem dulu njirr, mas pacar gue kenapa nih?" Tanya Ririn.


"Lah kok nanya kita?" Tanya Haiden balik.


"Mas pacar," panggil Ririn namun tetap tidak ada jawaban dari Cavero.


"Ini si es batu kenapa dah dari tadi gak nyaut-nyaut," gumam Ririn yang masih di dengar oleh mereka yang ada di meja tersebut.


Krucuk krucuk

__ADS_1


Bunyi dari perut Ririn membuat semua orang menahan tawa kecuali Cavero yang masih bertahan dengan wajah datarnya.


Alah bodo amat dah lo mau ngambek apa kaga terserah. Cacing gue udah demo. Batin Ririn.


Ririn berdehem-dehem kecil. "MANG BAKSO SAMA ES TEH SATU!" Teriak Ririn tiba-tiba membuat orang yang bersamanya di meja tersebut terkejut bukan maen pren.


Huk huk


Anjing!


Asu!


Ririnnn!


Mereka menatap Ririn horor, sedangkan yang buat onar hanya menampilkan wajah tanpa dosanya. Ririn menoleh ke sampingnya tepatnya melihat Cavero yang masih tetap stay dengan ponselnya. "Mas pacar nanti lagi ya aku bujuknya, karena ngerayu juga butuh tenaga," ujar Ririn membuat David dkk, Enzy dkk, Varen bahkan Reyhan menahan tawa.


"Ini neng makanannya," ucap Mamang bakso.


"Makasi mang. Bayarnya nanti sama Cavero ya mang," ujar Ririn dengan wajah tanpa dosanya membuat Cavero mendengus.


"Siap neng."


Ririn menikmati baksonya tanpa peduli dengan sekitarnya. Cavero bangkit lalu menaruh tiga lembar uang seratus ribu di meja. "Bayar!"


Cavero pergi dengan wajah datarnya, sedangkan teman-temannya hanya melihat kepergiannya. Mereka tau Cavero masih kesal dengan Ririn dan dengan tampang tak bersalah Ririn malah menikmati makanannya.


"Lo kok santai gitu sih Rin?" Tanya Haiden sedikit kesal juga dengan Ririn.


"Lo gak minta maaf lagi sama Cavero," timpal Kenzo.


"Hooh. Liat tampang lo yang sekarang pengen gue cakar tu muka," timpal Malik.


"Emang lo habis ngapain Rin?" Tanya Enzy penasaran.


"Dia habis rayu cowok di pinggir lapangan basket tadi pagi," jawab Reyhan terkekeh.


"Anjir! Serius lo?" Tanya Enzy memastikan yang diangguki Ririn.


"Liat muka si es batu tadi buat bulu kuduk gue berdiri," celetuk Mahira.


"Hooh. Kayaknya dia marah banget deh sama lo," timpal Delisha.


"Biarin aja si. Gue mau makan dulu," balas Ririn senggit sambil memasukkan suapan baksonya dengan tak santai.


Karena merasa risih dengan teman-temannya yang terus merecokinya, Ririn berdiri lalu pergi meninggalkan kantin. Tujuannya sekarang adalah rooftop.


Sesampainya di rooftop Ririn membuka pintu rooftop dan hal pertama yang ia lihat adalah Cavero yang tengah menyedot rokok lalu menghembuskan asapnya ke atas.


"Kenapa?" Tanya Cavero datar.


"Hehe mas pacar," ujar Ririn kikuk sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Ririn melangkah masuk lalu duduk samping Cavero di sofa lusuh yang ada di rooftop. "Mas pacar masih marah?" Tanya Ririn.


Cavero tidak menghiraukan pertanyaan Ririn, dia sibuk menghisap rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke udara.


"Huaaa mas pacar jangan marah," ujar Ririn menggoyang-goyangkan lengan Cavero. Sedangkan Cavero hanya diam saja.


Cavero menjatuhkan rokoknya yang masih tersisa lalu menginjaknya sampai mati. Ia menyenderkan punggungnya di sandaran sofa dengan mata terpejam, tangannya ia biarkan Ririn memeluknya.


"Mas pacar," rengek Ririn.

__ADS_1


"Pergi," ujar Cavero dingin.


"Yakin?" Tanya Ririn. Ralat, goda Ririn.


"Hm."


"Ya udah gue pergi mau goda cowok-cowok gant-"


Ucapan Ririn terpotong karena Cavero membungkam bibir Ririn dengan bibirnya sendiri membuat Ririn melototkan matanya kaget.


Anj! Main nyosor-nyosor aja ni orang. Batin Ririn menggerutu.


Ririn tidak membuka mulutnya, ia masih kaget dengan apa yang sedang mereka lakukan, meski hal tersebut bukan hal pertama buat keduanya. "Aws," ringis Ririn karena Cavero tiba-tiba menggigit bibir bawah Ririn. Hal tersebut menjadi kesempatan buat Cavero untuk memperdalam ciumannya, satu tangannya menahan tengkuk Ririn.


Trobos ajalah. Batin Ririn.


Lama terdiam, Ririn akhirnya membalas sembari memejamkan matanya. Setelah sekian lama, Ririn memukul dada Cavero untuk menghentikannya. Cavero yang mengerti melepas ciumannya lalu tersenyum miring.


Ririn menghirup oksigen dengan rakus menatap nyalang Cavero.


"Manis," cetus Cavero sambil mengusap bibir Ririn dengan ibu jarinya menghapus air liur mereka yang keluar.


Semburat merah keluar dari kedua pipi Ririn. "Jangan kaya gitu, gue maluuu," cicit Ririn membuat Cavero terkekeh.


"Mas pacar gak marah lagi?" Tanya Ririn polos.


"Jangan gitu lagi! Gue cemburu," ujar Cavero.


"Jangan sebut cowok lain di hadapan gue."


"Mau lagi gak?" Bisik Cavero tepat di telinga Ririn membuatnya bergidik. "Udah gue mau kekelas udah bel," alibi Ririn malu.


Cavero tidak menghiraukan perkataan Ririn, ia langsung mencium rakus bibir Ririn dan Ririn pun tidak menyia-nyiakan kenikmatan dunia ini.


Bodo amat dah. Bolos sekali-kali gak papalah. Batin Ririn mengalungkan kedua tangannya di leher Cavero.


...***...


...SPOI NEXT!...


"Helloeperibadiiii," sapa Ririn sembari menuruni tangga dengan senyum mengembang.


"Wah see nya very delicius ini makanan," celetuk Ririn setelah sampai di meja makan. "Mari kita eat-eat," ujar Ririn duduk di kursinya.


Ayudia terkekeh mendengar bahasa inggris anaknya, sedangkan Ade menggeleng heran. Nathan tidak ikut sarapan karena sudah berangkat kuliah.


"Apa itu see nya very delicius?" Tanya Ade kepada Ririn.


"See itu kan lihat, very artinya sangat, delicius artinya lezat. Jadi, kelihatannya sangat nikmat. Daddy payah gak bisa bahasa inggris," ujar Ririn mengejek Ade dengan membanggakan bahasa inggrisnya yang ah sudahlah.


"Terserah kamu aja Rin," balas Ayudia jengah.


Tidak lama, Ririn telah menghabiskan sarapannya. "Dad, aku berangkat sekolah dulu," pamit Ririn menyalami punggung tangan kedua orang tuanya. "Assalamualaikum," salam Ririn lalu berjalan keluar mansion.


"Hati-hati sayang, waalaikumsalam," balas Ayudia.


...🌱...


Nih buat kalian yang kemarin request Ririn dan Cavero mesra-mesraan wkwk.


Jangan lupa hadiah, vote, like, komen dan favoritkan gengs!

__ADS_1


__ADS_2