
Kini Ririn sedang berada di perjalanan pulang. Ketika mobilnya mulai memasuki halaman rumahnya, ia sudah bisa melihat sebuah motor sport yang terparkir tepat di halaman rumahnya.
Ririn pun segera turun daru mobilnya dan langsung menghampiri motor barunya itu.
Ade yang mendengar ada suara mobil masuk ke pekarangan rumahnya pun keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata itu adalah putrinya yang baru pulang sekolah.
"Gimana? Suka?" Tanya Ade kepada Ririn.
"Suka banget. Makasih daddy!" Ucap Ririn sambil tersenyum bahagia. Sungguh dua merasa sangat senang karena akhirnya dia bisa mengendarai motor lagi.
"Dad, aku mau nyoba dulu, ya" Ririn tersenyum manis.
"Mau kemana, Rin? Nggak gant-.. Astagfirullah tangan kamu kenapa sayang?. Kenapa merah melepuh gini?" Tanya Ayudia beruntun.
"Eh.. itu m.. itu anu eee.."
"Tadi di sekolah nggak sengaja Ririn tabrak orang yang sedang bawa nampan bakso jadi ya gitu. Ini tadi udah di obatin kok Mom di UKS sekolah." Jelas Ririn bohong menundukkan kepalanya.
"Bener?" Tanya Ade yang ikut terkejut melihat tangan anak gadisnya itu.
"Iya dad, beneran. Udah ahh Ririn mau nyobain motor baru ini dulu."
"Nggak ada! Sekarang masuk, lihat tangan kamu masih merah gitu. Mommy nggak izinin!" Larang Ayudia.
"Ayolah mom, aku nggak papa kok. Sumpah!"
"Mommy bilang masuk, Ririn!"
"Daddyy..." rengek Ririn.
"Benar apa yang mommy kamu katakan. Sekarang lebih baik masuk istirahat!" Ucap Ade
"Aish!!"
Ririn menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal masuk rumah, membuat mommy dan daddynya menggeleng-gelengkan kepala melihat anak gadisnya itu.
Ririn langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Ririn keluar dari kamar mandi dengan menggunakan hanfuk saja, karena ia lupa membawa baju ganti. Ia berjalan ke arah lemarinya dan membukanya. Ririn memandangi semua baju-baju yang menggantung di dalam lemari tersebut.
"Ini semua kenapa rok semua sih njirr. Gue kan nggak terbiasa pake rok mana pendek-pendek banget lagi kaya kurang bahan. Gue tau sih harganya selangit, dari pada uangnya beli baju modelan gini mending uangnya buat beli martabak tuh duit, bisa sama gerobak-gerobaknya juga mungkin." Oceh Ririn ketika melihat semua pakaian yang ada di lemarinya.
"Untung aja masih ada celana satu atau dua. Kalo nggak, mungkin gue nggak bakal pake baju." Ucap Ririn sambil membawa sebuah baju kaos berwarna putih dan celana berwarna army kembali ke kamar mandi untuk ganti baju.
Setelah selesai ganti baju, Ririn langsung merebahka tubuhnya di kasur yang sangat nyaman itu.
"Pengen nyoba motor baru gue" beo Ririn menatap langit-langit kamarnya.
"Gara-gara si anak gorila nih, jadi gue nggak bisa kan nyoba motor baru gue. Aish!" Gerutu Ririn.
Ririn mengambil ponselnya yang berada di sampingnya dan langsung mengotak-atik apa saja yang ada di dalamnya. Pertama-tama ia mengecek aplikasi WA dan di sana terlihat aman-aman saja tidak ada yang aneh. Kemudian dia membuka galerinya. Matanya melotot melihat isi galerinya yang penuh dengan photo-photo si Cavero.
"Njirr segitu sukanya dia. Ya meski pun gue akui sih kalo si jambret itu emang ganteng cuma kelakuannya aja yang kayak setan. Tapi nggak usah sampai segininya juga kali, Rin. Pekerja keras banget lo, dih." Tangan Ririn pun bergerak untuk men-delete semua foto-foto Cavero. Ia sangat kesal karena tangannya sangat pegal ketika menghapus foto-foto cavero yang jumlahnya sampai ribuan foto.
Setelah selesai delete semua foto-foto Cavero, dia pun beranjak dari tempat tidur dan menuju dapur untuk mengambil minum. Setelah mengambil minum dia tidak langsung kembali ke kamar melainkan ke ruang keluarga karena melihat kedua orang tuanya yang sedang menonton tv.
"Ekhm.. nonton kok nggak ngajak-ngajak." Ucap Ririn sambil berjalan dan duduk di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Iish kok seenaknya duduk di tengah?" Kesal Ade.
"Ish biarin dong. Lagian nggak baik berduaan kayak gitu, nanti orang ketiganya setan."
"Ya, itu kamu!" Ucap Ayudia sambil terkekeh. Sungguh momen yang langka sekali karena Ririn tidak pernah ikut serta dalam hala-hal seperti ini. Ia selalu lebih memilih berdiam diri di dalam kamarnya dari pada berbincang-bincang seperti ini.
"Mommy nggak liat, anak mommy secantik dan seimut ini masa di bilang setan sih?" Ririn mengerucutkan bibirnya. Bisa-bisanya dirinya di sebut setan oleh mommynya.
"Iya ya deh, anak mommy cantik, banget malah." Ucap Ayudia mengelus rambut Ririn dengan sayang.
"Rin, gimana tangannya, sayang. Masih sakit nggak?" Tanya Ayudia.
"Nggak kok mom. Udah mendingan." Jawab Ririn.
"Kita ke rumah sakit aja ya, sayang" bujuk Ade khawatir.
"Ririn nggak kenapa-napa kok dad. Udah nggak sakit lagi"
"Sudah di obatin belum, takutnya nanti infeksi jadi makin parah, sayang" ucap Ayudia khawatir.
"Sudah mom tadi di sekah sama petugas uks nya langsung." Balas Ririn.
"Bii... bi..." Teriak Ade.
"Iya tuan" sahut Bi ratih.
"Tolong ambilkan kotak obat ya." pinta Ade.
"Baik Tuan"
Setelah beberapa saat, Bi Ratih kembali dengan kotak P3K di tanggannya. "Ini Tuan."
"Sini tangannya biar mommy olesin salep biar cepat sembuh."
"Gimana sekolah kamu hari ini?" Tanya Ade mengalihkan pembicaraan.
"Nggak ada seru-serunya. Nih ya dad, di sekolah itu ada 5 orang cowok kelakuannya nyebelin banget. Tiap ketemu ngajak ribut mulu, untung bibir aku udah siap sedia buat ngelawan. Kalo nggak, bisa depresot diri ini. Udah gitu debatnya nggak selesai-selesai, pengen aku bacok tapi ingat negara kita ini negara hukum, yaa meski pun kadang yang beruang selalu menang. Jadi Ririn hanya bisa bersabar dan bersabar." Ucap Ririn panjang lebar dan di sambut gelak tawa dari kedua pasutri di sampingnya. "Ish kok pada ketawa sih, ini tuh cerita nyebelin tau!" Kesal Ririn.
"Kamu kok lucu banget sih" gemas Ade kepada anak perempuannya itu.
"Bukan cuma lucu dad. Aku itu cantik, imut, lucu, baik hati dan tidak sombong." Balas Ririn dengan bangganya.
"Setelah kepalanya kebentur, sekarang tingkat kepercayaan diri kamu meningkat ya" sahut Ayudia.
"Harus dong! Ngapain kita harus insecure kalo kita masih bisa bersyukur"
"Bener banget, daddy setuju sama kamu." Ucap Ade menyetujui perkataan Ririn.
"Ya udah ah, aku mau ke kamar dulu. Monggo atuh di lanjut lagi uwu-uwuannya, saya tidak mau ganggu." Ririn bangkit dari duduknya dan langsung pergi menuju kamarnya.
"Sekarang Ririn jadi beda banget ya dad, sekarang keliatan ceria banget." Ucap Ayudia kepada Ade. Terpampang senyum bahagia di wajahnya, dia sangat menyukai Ririn yang sekarang.
"Iya mom." Balas Adelard.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Iya ampun mom. Aku bukan anak SD lagi kali, semua sudah aku siapkan di dalam tas tanpa ada yang tertinggal kecuali rasa rajin aku." Jawab Ririn.
__ADS_1
"Jangan gitu dong. Kamu harus jadi anak yang rajin, biar bisa menggapai semua cita-cita kamu." Ucap Ade menasehati.
"Nunggu warisan ajalah, ya nggak bang?" Ucap Ririn sambil memakan roti yang di berikan Ayudia.
"I don't care, i love it" balas Ririn.
Ketiga orang itu tersenyum melihat Ririn yang sedang makan roti tersebut.
"Yang rajin ya belajarnya!" Ucap Ayudia.
"Nggak janji, tapi aku usahakan. Jangan kangen ya! Kata Dilan, itu berat kalian nggak akan kuat--" Ririn tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Terus?" Tanya Nathan. Dia berharap bahwa Ririn akan menjawab 'biar aku saja'.
"Astagfirullah, untung sabar." Ucap Ade mengelus-elus dadanya. Ternyata harapannya tidak sesuai dengan kenyataannya. Sedangkan Nathan dan Ayudia hanya menggeleng-gelengkan kepada melihat kelakuan Ririn.
"Butuh bantuan nggak?" Tanya Malik kepada Ririn.
"Astagfirullah, masih pagi udah ketemu setan aja." Ucap Ririn malas.
"Oyy mulut lo minta di robek hah!" Balas Kenzo.
"Gue duluan yang bakal robek mulut lo." Ucap Ririn dingin dan langsung pergi dari sana.
"Ngapain lo?" Tanya Ririn yang merasa heran dengan Cavero. Tumben-tumbennya Cavero menghampirinya.
"Sejak kapan lo bisa motor?" Cavero sangat tidak menyukai yang namanya basa-basi. Itulah mengapa dia langsung to the point.
"Lo kenapa, dah? Kesambet? Biasanya juga nggak bisa diem lo." Tanya Kenzo terheran-heran.
Ririn menghentikan langkahnya dan kemudian di ikuti oleh lima pria itu. "Lo semua maunya apa sih, njirr? Gue banyak tingkah salah, diem juga salah." Kesal Ririn.
"Nggak salah. Kita cuma heran doang. Biasanya, kan lo tukang caper." Ucap Haiden.
"Aah udahlah lupain aja, gue mau kekelas dulu. Bye bye!" Ucap Ririn meninggalkan mereka.
*****
"Aini, Dita dan Nia pergi bersama-sama ke toko buah. Aini membeli 2 kg apel, 2 kg anggur, dan 1 kg jeruk dengan harga Rp 67.000,00. Dita membeli 3 kg apel, 1 kg anggur dan 1 kg jeruk dengan harga Rp 61.000,00. Nia membeli 1 kg apel, 3 kg anggur dan 2 kg jeruk dengan harga Rp 80.000,00. Tentukan harga 1 kg apel, 1 kg anggur dan 4 kg jeruk." Ririn membaca soal yang belum dia kerjakan dengan suara pelan.
"Aakh ini soal apaan, dah?" Ririn menggaruk lehernya yang tidak gatal sembari memikirkan bagaimana cara mengerjakan soal ini.
"Oh ya udah." Balas Enzy kembeli memperhatikan soal-soal di depannya.
BRAKK
"Astagfirullah ngagetin aja sih, Rin." Ucap salah satu siswi di sana.
"Hehe ya maaf!" Ririn menjadi merasa tidak enak kepada teman-teman dan gurunya.
"Kenapa, Rin?" Tanya Pak Burhan.
"Saya mau protes pak!" Jawab Ririn.
...🌱...
ig : @knririn_
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak yaw gengs. Vote like and komen.