
"Sudah.." Ucap Cavero menghentikan Ririn dengan menggenggam tangannya kemudian menariknya keluar kantin.
"Makan tuh sakit!" Ucap Kenzo menatap Monika dan Dion dkk dengan sinis begitu juga dengan Haiden dan Malik.
"Cari dulu kebenarannya sebelum bertindak!" Ucap David dingin kemudian pergi menyusul teman-temannya.
"Wow lo hebat banget, Rin!" Pekik Haiden heboh.
"Iya nggak nyangka gue, lo keren banget tadi!" Lanjut Malik.
Sedangkan Ririn yang di bicarakan hanya terkekeh. "Banyak orang yang bilang Ririn itu queen bullying disini, tapi nyatanya dia sendiri yang jadi korban bully dan melawan mereka untuk pertahanan diri. Namun mereka semua berpikir bahwa Ririn lah seorang pembully." Ririn tersenyum miris.
"Dia bertahan sendiri tanpa ada yang membela satu pun. Ririn nggak pernah melakukan apa pun tapi see, mereka selalu menganggap Ririn yang salah meski dia nggak ngelakuin kesalahan apa pun." Air mata Ririn lolos begitu saja tanpa di minta.
Semua yang ada di rooftop ini bingung dengan semua perkataan Ririn. Apa maksudnya? Bukankah dia Ririn.
"Maksud lo apa?" Tanya Kenzo bingung.
"Kenapa lo nangis, Rin?" Tanya Haiden.
"Maaf bukannya kita nggak mau bantuin lo tadi, tapi bukannya lo yang minta untuk nggak halangin lo." Ucap Malik.
"Udah.. gue nggak papa."
"Udah gue mau balik kelas dulu, bye bye." Ucap Ririn melangkah pergi tapi seseorang menahannya.
"Lo tenangin diri aja dulu disini." Ucap Cavero datar.
"Okelah." Balas Ririn kemudian duduk di antara mereka.
"Bret, pesenin makanan dong. Gue laper nih tadi baksonya yang masuk cuma tiga suap." Pinta Ririn dengan wajah melas.
"Ehh busyett berani bener lo suruh si bos." Sewot Haiden.
"Mau apa?" Tanya Cavero membuat teman-temannya cengo tidak percaya.
"Itu si bos kesambet apaan?"
"Kok tumben?"
"Kita juga dong, bos."
"Nih uangnya, beli apa aja." Ucap Cavero memberikan tiga lembar seratus ribu kepada Haiden.
"Mantapss!"
"Gue nasi goreng sama minumnya terserah, laper gue." Ucap Ririn.
"Oke. Yang lain?" Tanya Haiden sebelum pergi.
"Beli apa aja deh, makanan ringan tapi jangan makanan berat masih kenyang gue." Balas Malik yang diangguki teman-temannya.
__ADS_1
"Oke!" Haiden pergi ke kantin untuk borong makanan.
"Eh Rin, gue mau nanya, boleh nggak?" Tanya Malik.
"Boleh" jawab Ririn.
"Kok lo bisa berubah secara drastis gini? Terus tadi behh pertunjukan lo keren bet, busyett. Kok bisa?" Tanya Malik.
"Lahh kok nanya lagi kan tadi udah."
"Kapan anjirr?"
"Tadi lo nanya, 'boleh nggak?' gitu, terus gue jawab 'boleh'. Lah kok lo nanya lagi?"
"ANAK SETAN, MATI KEK LO, ANJING!" Kesal Malik. Pasalnya dia sudah bertanya dengan sungguh-sungguh tapi anak setan ini malah membuatnya kesal dengan tidak menjawabnya dengan benar.
"Lahh kok ngamokkk?"
"Tuhan tolong aku, katakan padanya kalo dia kaya lonthea." Ucap Malik sembari menunjuk Ririn.
"ANAK SETAN!"
Cavero, Davin dan Kenzo hanya memperhatikan mereka saja tanpa ada niatan untuk melerainya. Saat ini mereka merasa seperti sedang menonton film misteri seru tapi memusingkan.
*****
Bell pulang sudah menggema, semua murid sudah menyerbu gerbang tidak terkecuali Ririn.
Ririn jalan mengendap-ngendap supaya tidak ketahuan oleh Ayudia.
Grepp
Ririn langsung memeluk Ayudia dari belakang. Ayudia terlonjak kaget ketika merasakan sebuah tangan melingkar di pinggang rampingnya. Ririn terkekeh melihat hal itu.
"Ririn, ngagetin aja kamu ih" Ayudia mengusap dadanya untuk menetralkan detak jantungnya.
"Hehe maaf gabut." Ririn menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengengesan.
"Mommy lagi masak apa?" Ririn menjinjitkan kakinya untuk melihat makanan apa yang sedang di masak Ayudia.
"Kenapa emang? Mau bantuin?" Tanya Ayudia sambil mengaduk-aduk masakannya.
"Ngggak" Ririn menggelengkan kepalanya cepat.
"Katanya gabut. Tuh masih banyak bawang yang perlu di kupas." Ayudia menunjuk sebuah wadah tempat bawang-bawangan yang harus dia kupas untuk bumbu masakannya beberapa hari ke depan, karena stok di kulkas sudah habis.
"Mending aku gabut, mom. Nanti kalo ngupas bawang aku pasti bakal nangis, nanti kalo nangis aku jadi jelek. Aku nggak mau." Ririn segera pergi meninggalkan Ayudia.
Ayudia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar mendengar jawaban Ririn. "Makin hari makin aneh aja kelakuannya."
***
__ADS_1
Malam sudah berganti menjadi pagi. Kini, Ririn sudah berada di parkiran sekalah. Saat ini, suasana parkiran sekolah masih sangat sepi karena Ririn berangkat lebih pagi dari biasanya. Tidak seperti biasanya memang, tapi entahlah tanyakan saja pada Ririn sendiri..
Ririn berjalan menyusuri koridor sekolah dengan tenang, tapi dengan tidak tau malunya Cavero dkk. menghampiri Ririn membuatnya mendengus kesal.
Ya Allah.. tolong sekali aja hamba bisa bebas dari mereka. Batin Ririn.
"Pagi cantik!" Sapa Haiden sembari merangkul Ririn.
"Pagi!" Ketus Ririn.
"Santai dong, jangan galak-galak gitu masih pagi nih" ucap Haiden.
"Lo mau ikut kita nggak?" Tanya Malik.
"Ogah!" Balas Ririn berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Anjing! Kita nanya baik-baik malah di ketusin gitu" kesal Malik.
"Cabut!" Perintah Cavero.
"Ini juga kulkas berjalan main tinggal-tinggal aja, nggak bisa apa jalan bareng-bareng gitu?" Gerutu Malik membuat teman-temannya terkekeh mendengarnya.
*****
Bel istirahat telah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Semua murid SMA GALAXI berbondong-bondong pergi ke kantin tempat terfavorit mereka karena tersedia berbagai jenis makanan dan minuman yang bisa menghilangkan rasa lapar dan ngantuk mereka.
Kini Ririn sedang melahap sebuah bakso yang dia pesan tadi. Dia duduk di sebuah meja yang berada di tengah-tengah area kantin tanpa di temani siapa pun. Untuk mendapatkan meja tersebut, Ririn rela berlari dengan secepat mungkin dari kelas ke kantin. Hari ini dia tidak ingin terlalu banyak bicara dengan anak Divine. Itulah mengapa dia mencari meja yang masih kosong untuk mereka tempati, dengan harapan mereka tidak menghampirinya lagi.
Btw, Divine bukanlah sebuah geng motor tapi Divine adalah geng persahabatan yang hanya beranggotakan lima pemuda yaitu Cavero dkk.
Namun, lagi-lagi harapan Ririn tidak terkabul. Ternyata Cavero dkk dengan santai dan tanpa meminta izin kepadanya, langsung menduduki kursi kosong yang tersedia di meja tersebut.
Seketika kegiatan Ririn terhenti melihat mereka yang dengan seenak jidatnya duduk di mejanya yang dengan susah dia dapatkan.
"Wehh, apa-apaan nih?" Tanya Ririn kesal. Tidak bisakah dia terbebas sehari saja dari mereka.
"Apa apanya?" Tanya Malik polos.
"Ini ngapain pada maen duduk-duduk aja, bukannya izin dulu atau apa gitu?"
"Halah sewot amat lo, kayak kantin ini punya bapak lo aja." Ucap Kenzo.
"Ho'oh. Si Cavero yang punya sekolah ini aja diem-diem bae pas lo duduk di sini." Lanjut Haiden.
"Iyain biar cepet!" Balas Ririn pasrah, kemudian melahap kembali baksonya.
...🌱...
ig : @knririn_
Jangan lupa tinggalin jejak yaw gengs. Vote Like and Komen..
__ADS_1