
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Ririn tengah bersiap-siap untuk ikut pergi ke acara makan malam Aira dan Ayman. Dia sangat bersemangat sekali karena akan bertemu dengan sugar daddy incarannya. Walau pun dia tidak akan memilikinya, setidaknya sugar daddy itu tahu bahwa Ririn itu hidup.
"Dah cakep nih gue." Ririn berdialog sendiri sembari melihat penampilannya sendiri di cermin.
Ceklek
"Rin, udah siap?" Tanya Aira dari balik pintu yang hanya terbuka setengah.
Ririn menoleh ke arah pintu dan mendapati Aira yang hanya setengah badan yang masuk. "Udah dong tan" jawab Ririn dengan bangganya.
"Ya ampun Ririn. Kenapa pakaian kamu seperti itu?" Tanya Aira yang cengo melihat penampilan Ririn dari atas sampai bawah. Kaos biasa di tutupi jaket hitam serta celana jeans hitam.
"Lahh emang nggak boleh ya tan?" Tanya Ririn polos.
"Y-ya boleh. Tapi, kita ini mau dinner loh bukan mau tawuran, Rin. Mana pake item-item segala lagi." Omel Aira menepuk jidatnya.
"Sini biar tante aja yang milihin." Ucap Aira berjalan ke arah lemari Ririn dan memilihkan baju untuk Ririn.
"Nih, pake yang ini." Ucap Aira menyerahkan baju dress. Sedangkan Ririn yang melihat itu membulatkan matanya.
"Tap--" Aira memotong ucapan Ririn. "Udah sana ganti aja dulu!" Perintah Aira mendorong tubuh Ririn ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Dengan wajah yang tidak ikhlas, Ririn pun terpaksa mengganti bajunya.
Ceklek
Setelah beberapa saat, akhirnya Ririn keluar dari kamar mandinya dengan wajah yang sangat tertekan.
"Tant, plislah ini dada dan paha aku kemana-mana." Prites Ririn yang risih dengan pakaiannya saat ini.
"Udah nggak papa, udah bagus kaya gitu." Balas Aira.
"Ini gimana naik motornya, yang ada paha aku makin kemana-mana." Tanya Ririn dengan raut wajah memelas.
"Kita naik mobil. Nggak ada motor-motoran. Tante gorok juga kepala kamu lama-lama." Omel Aira.
"Sabar gue mah punya tante yang menyebalkan kaya gini." Gumam Ririn mengusap dadanya dramatis.
*****
Di dalam mobil, Ririn hanya diam saja. Moodnya sedang tidak baik karena Aira memaksanya harus memakai pakaian yang kurang bahan.
"Tumben diem aja, Rin?" Tanya Aira memecah keheningan di anatara mereka.
Gue lagi bad mood njim. Ya Allah ini paha gue kemana-mana. Masalahnya ni ya, gue nggak ngerasa lagi mamerin paha gue tapi ngerasa kaya lagi ngumbar aib, njing. Setelan gue udah bagus-bagus tadi malah di bilang kaya mau tawuran. Kurang akhlak emang ni emak-emak satu. Batin Ririn kesal.
"Terus harus kaya gimana?" Tanya Ririn kepada Aira jengah.
"Ya nggak gimana-gimana. Tante cuma heran aja karena akhir-akhir ini kamu kan banyak tingkahnya." Ujar Aira.
"Astagfirullah. Entah deh cari tutor dulu" ucap Ririn ngawur.
"Tutor apa?" Tanya Aira mengerutkan jidatnya.
"Tutor cara lari-larian di mobil. Puas?!"
"Dih nggak ada otak." Cibir Aira.
"Sabar gue mah" gumam Ririn mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobilnya.
*****
Ririn dan Aira telah sampai di tempat yang telah mereka janjikan. Disana sudah ada Ayman dan Cavero karena mereka berangkat lebih awal.
"Aduhh udah lama ya nunggunya." Ucap Aira yang merasa tidak enak telah mmebuat mereka menunggu.
"Nggak kok, santai aja." Balas Ayman. "Oiya kenalin ini anak saya, Cavero. Dan Cav, kenalin ini tante Aira.
"Halo tan" Sapa Cavero menyalami tangan Aira.
"Ganteng banget, ya." Ucap Aira keapda Cavero. "Oiya, ini keponakanku namanya Ririn." Lanjut Aira memperkenalkan Ririn kepada Ayman.
Ririn pun menyalami tengan Ayman sembari tersenyum kikuk. Sejak tadi, Ririn terus terusan menarik narik roknya agar dapat menutupi pahanya. Namun, ya begitulah nggak mempan.
Mereka semua duduk dan langsung memulai acara makan malamnya dengan keadaan hening.
__ADS_1
"Rin, Cavero ganteng ya." Bisik Aira kepada keponakan lucnuk nya itu.
"Iyalah, dia kan cowok." Balas Ririn.
"Serah dah" Malas Aira.
"Pada bisik-bisik apa sih?" Tanya Ayman penasaran.
"Ah, nggak kok. Bukan apa-apa kok." Jawab Aira.
"Cav, tuh ada cewek cantik nggak mau di embat apa?" Goda Ayman kepada Cavero.
"Nggak. Kelakuannya kaya setan." Jawab Cavero yang masih memakan makanannya yang masih teraisa sedikit.
Ririn yang mendengar itu menatap Caveri dengan tatapan tajam. "Eh monyet, lo mau gue bacok di bagian mana, ha?" Ketus Ririn yang tidak terima dengan perkataan Cavero tadi.
"Nggak ya makasih!" Jawab Cavero singkat.
"Kalo nggak ada bokap lo, udah gue geplak pala lo." Ketus Ririn.
"Geplak aja nggak papa!" Ujar Ayman mempersilahkan.
"Baku hantam seru kali ya?" Ucap Aira yang semakin memanas-manasi keadaan.
"Ayo lah bakwan!" Tantang Ririn kepada Cavero.
Pletak
Cavero menyentil dahi Ririn. "By one, bego!"
"Lah sejak kapan ganti nama jadi by one?" Tanya Ririn dengan polosnya.
"Dih bego." Cibir Cavero.
"Ahh udahlah nggak bener kali gini terus. Mending pindah meja. Sukses ya tan, nanti kalo udah sukses jangan lupa hatinya bagi dua!" Ucap Ririn cengir kuda.
"Maksud kamu?" Tanya Ayman yang sedang menatapnya tajam.
"Ehh bukan gitu maksudnya om. Bukanhati yang itu maksudnya." Elak Ririn yang sedikit merasa takut melihat tatapan Ayman.
"Terus?"
"Matre!" Cibir Cavero.
"Ya nggak papa lah. Dari pada gue ngelonthea, wleee." Ejek Ririn menjulurkan lidahnya. Ririn pun pergi ke meja yang ada di pojok.
"Keponakan kamu lucu juga ya." Ucap Ayman terkekeh.
"Maaf, agak sedikit gila." Balas Aira.
"Aku ke sana dulu ya pa, tan." Izin Cavero yang langsung pergi menyusuli Ririn.
Sesampainya di meja Ririn, Caveri langsung saja duduk tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Lo ngapain ngikutin gue? Mau ngajak ribut?" Tanya Ririn malas.
"Sok tau lo."
"Terus?"
"Gue males aja jadi nyamuk disana."
"Terus ngapain lo kesini? Biasnaya juga nggak mau deket-deket sama orang yang namanya RIRIN, R.I.R.I.N!" Ucap Ririn penuh penekanan pada saat menyebut namanya.
"Kan lo bukan Ririn." Ucap Cavero yang berhasil membuat Ririn terkejut bukan maen.
"L-lo ta-u dari mana?" Tanya Ririn terbata-bata.
Cavero melipat tangannya di dada. "Ohh jadi dugaan gue selama ini bener?"
Mampus. Aduh gue kok bego banget si anjirr. Batin Ririn merutuki dirinya.
"Ngapain diem? Panik gara-gara ketahuan?" Tanya Cavero menatap Ririn yang seperti orang panik.
"Hmm lagian lo sih ngapain nhomong gitu si aelah."
__ADS_1
"Nggak usah ngalihin pembicaraan. Jado sebenarnya lo siapa? Lo nggak bakal gue apa-apain juga."
"Menurut lo, gue siapa?"
"Kok malah balik nanya sih njirr?" Tanya Cavero kesal. Ririn hanya mengangkat bahunya, tanpa ada niatan untuk menjawabnya.
"Mau lo yang ngasih tau atau gue yang cari tau sendiri, ha?"
"Gue nggak mau kasih tau dan lo jangan cari tau, PAHAM?!" Ucap Ririn. "Lagian lo ngapain mikir kalo gue ini bukan Ririn. Udah jelas-jelas mukanya Ririn banget." Lanjutnya.
"Lo pikir gue bego apa? Mana ada orang yang abis kecelakaan parah, besoknya langsung sehat lagi. Terus lo juga tiba-tiba bisa bawa motor. Itu tuh nggak masuk akal banget, bego. Di tambah lagi, kemarin lo buat si Dion sampe babak belur kaya kemarin. Selama ini lo nggak pernah gitu, lo itu orangnya manja. Mana mungkin orang kecelakaan, sadar-sadar udah beda." Jelas Cavero panjang lebar. Entahlah kenapa dia bisa bicara panjang lebar sekarang sama si Ririn. Tapi yang pasti dia sekarang penasaran siapa Ririn sebenarnya.
Anjing ni orang, bego dikit kek. Batin Ririn.
"Y-ya i-tu." Jawab Ririn yang sudah kebingungan harus menjawab apa.
"Dihh, nggak jelas."
Apa gue kasih tau aja kali ya? Tapi jangan du deh. Tapi.. ahh njim ribet bet dah ah. Batin Ririn kesal.
"Nanti gue kasih tau kalo gue udah siap." Final Ririn pasrah.
"Jadi lo beneran bukan Ririn?" Tanya Cavero yang masih berusaha buat Ririn ngaku.
"Ya gitu deh."
*****
"BANGSAT!" umpatnya kesal.
"Iyaaa." Balas Ririn dengan malas.
"Ckck cantik kali lah kau ini, Rin." Monolog Ririn.
"Apa yang kurang ya?" Gumamnya lagi berpikir memperhatikan penampilannya lagi. "Nggak ada deh kaya nya. Cantik gini juga." Lanjutnya lagi.
"Pagi sayang"
"Pagi dek"
"Pagi Rin"
*****
"RIRIN LETHICIA XAVIERA!!" Teriak guru tersebut.
"ANAK ANJING. ANAK ANJING COMEL"
Krikk krikk
"Kamu! Berani ya kamu mengumpati saya?!" Bentak Pak Andre setelah sekian detik tersadar. Dia merasa sangat kesal karena merasa Ririn mengumpati dirinya.
"Salah siapa kamu melamun di jam pelajaran saya?" Balas Pak Andre yang tak mau kalah.
"Saya.. hm.."
"Alasan terus kamu ya!! Keluar dari kelas saya SEKARANG!"
"Beneran pak?" Tanya Ririn antusias.
Ririn tersenyum lebar. "Siap bang jago. Akhirnya gue keluar juga Yuhuu." Ucapnya kegirangan. "Dadah pren, selamat menikmati ngantuk dan lapar hehe" Lanjutnya melambaikan tangannya ke arah semua teman kelasnya.
"Sudah-sudah. Sekarang perhatikan apa yang saya jelaskan."
"Baik, jadu seperti yang di jelaskan kemarin ginjal berfungsi..."
*****
"Gabut bet gue sumpah. Ngapain ya gue enaknya?"
"Ke kantin pasti gue ketemu sama lima sekawan"
"Nih sekolah punya buah mangga nggak di manfaatin. Dari pada mubazir kan mending sedekahin ke gue." Celotehnya sembari memanjat.
"Gue colong beberapa nggak bikir sekolah bangkrut kan?" Pikir Ririn. Ririn pun kini sudah berhasil memtik sekiranya lima mangga dengan ukuran sedang dan semua mangga itu matang. Dia juga menaiki pohon mangga tersebut lebih tinggi lagi mencari tempat ternyaman untuk dia duduk. Ririn merogoh saku roknya dan menemukan subuah silet kecil yang selalu dia bawa kemana-mana. Dia mulai mengupas mangga tersebut pelan dan tanpa di cuci terlebih dahulu, ia langsung melahapnya.
__ADS_1
*****
Yuk gengs bantu vote novel ini ya..