RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL

RIRIN TRANSMIGRATION BADGIRL
PART 25


__ADS_3

Segerombolan pemuda berjalan menuju taman belakang dengan sesekali tertawa dengan kerecehan Haiden, Kenzo dan Malik. Yaps, mereka adalah Cavero dkk entah apa yang membuat mereka tiba-tiba melangkahkan kaki mereka menuju taman belakang.


Sesampainya mereka di taman belakang, Kenzo melihat ada hujan daun tepat di pohon mangga. Kalo monyet nggak mungkin, pikirnya.


"Itu kok kaya ada hujan daun ya?" Tanya Kenzo kepada teman-temannya.


"Mana ada hujan daun bego!" Jawab David. "Itu liat" tunjuk Kenzo membuat mereka semua melihat ke arah yang di tunjuk Kenzo.


"Itu ada monyet yang lagi kupas mangga" Ucap David mengutaran pemikirannya membuat semua orang terdiam memikirkan sesuatu.


"Sejak kapan monyet bisa kupas mangga pake pisau?" Tanya Cavero yang sedari tadi hanya diam.


Haiden yang penasaran berlari ke arah pohon mangga. Dia sangat terkejut dengan seseorang yang dengan santainya mengupas mangga dan melahapnya langsung.


"Heh ulet bulu gatel kaya pelakor, lo tuh makan daun aja noh ini mangga gue enak aja lo, gue udah cape cape nyolong juga."


"Dia gila kali ya?" Gumam Haiden yang mendengar monolog Ririn di atas sana.


Sedangkan, Cavero dan yang lainnya yang baru sampai di pohon mangga sama terkejutnya dengan Haiden melihat Ririn yang dengan santainya menyingkirkan ulat bulu.


"Woyy ngapain lo di atas, monyet!" Seru Malik kepada Ririn. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari Ririn yang terlihat masih asik memotong dan melahap langsung mangga.


"WOYY MONYET!" Teriak Malik.


Ririn yang mendengar ada orang teriak menoleh ke bawah. Ia melotot tak senang melihat ada lima sekawan ada di bawah.


Gimana mereka tau gue disini, njing. Batin Ririn kesal.


"Apaan sih lo pada, ganggu aja." Ucap Ririn.


"Lo ngapain diatas sana bego?" Tanya Kenzo mendengus.


"Nyolong mangga." Jawab Ririn jujur. Bodo amat jika mereka mau melaporkan dirinya ke guru bk sekali pun.


Sedangkan lima pemuda kecuali Cavero melolot mendengar jawaban jujur Ririn. "TURUN NJIRR!"


"OGAH!" Balas Ririn.


"Turun nggak lo!"


"Ogah! Apaan si lo pada ganggu kesenangan gue aja." Balas Ririn.


"Cepet turun anjirr!" Seru David.


Ririn hanya merotasikan matanya mendengar teriakan mereka semua. Karena malas berdebat, akhirnya Ririn turun dengan meloncat begitu saha dari atas pohon yang lumayan tinggi karena Ririn tadi duduk di dahan yang tinggi. Ririn dengan santai loncat tanpa memperdulukan Cavero dkk yang jantungan karena melihat Ririn loncat dari ketinggian.


"Lo ngapain loncat kaya gitu bangsat!" Omel Haiden.


Ririn mengangkat alisnya sebelah. "Kan tadi lo pada yang nyuruh gue turun njir, gimana si."


Kenzo menatap Ririn tajam. "Gue nyuruh lo turun tapi nggak nyuruh lo loncat, njirr!"


*****


Suasana kantin sudah ramai karena bell istirahat sudah berbunyi. Ririn dengan santai duduk di tempat yang masih kosong di ikuti Cavero dkk membuat semua siswa menatap mereka heran.


Kok bisa ya mereka ngikutin Ririn.


Apa gue salah liat?


Beruntung banget si Ririn.


Dan masih banyak lagi pekikan-pekikan pengunjung kantin tertuju kepada Cavero dkk dan Ririn. Tapi tidak di hiraukan oleh mereka.


Ririn melambaikan tangannya ketika melihat ketiga temannya di pintu masuk kantin. Delisha dkk yang melihat itu segera menghampiri Ririn.


Mereka mengernyitkan. "Lo dapet mangga dimana?" Tanya Mahira.


"Dapet nyolong." Jawab Ririn santai.


Mahira, Enzy dan Delisha saling tatap tak percaya dengan jawaban Ririn. "NYOLONG?" Teriak mereka bertiga serentak membuat suasana kantin menjadi hening dan menatap ke arah mereka bertiga dengan tatapan aneh.


Ririn dan Cavero dkk melotot tajam ke arah mereka bertiga yang teriak. "Berisik lo pada!" Sentak Malik.


*****


Setelah lelah adu bacot, kini sekarang mereka dengan santainya ngerujak tidak terkecuali Cavero yang sesekali colek-colek mangga ke bumbu rujak tersebut. Bumbu dan cobek mereka dapatkan di ibu-ibu kantin.


Huaaa gue juga mau.

__ADS_1


Anjirr enak banget keliatannya.


makkk mau rujak.


Semua orang yang melihat mereka meringis ngiler. Mereka semua bersusah payah menahan ilernya agar tidak keluar.


"Kok lo bisa-bisanya sih ada ide buat nyolong mangga. Hah hu hah" tanya Delisha yang kepedasan.


"Sayang kalo di biarin, mubazir. Mending sedekahin ke gue" jawab Ririn ngawur. Mereka yang mendengar balasan Ririn hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Eh Cav, ini kan sekolah punya keluarga lo kan ya? Lo bilang dong sama kepala sekolah buat sedekahin mangganya sama gue, sayang nanti mubazir itu gue liat mangganya masih banyak yang belum gue colong." Cerocos Ririn sambil melahap rujak mangga.


Cavero hanya menatap Ririn datar tanpa berniat untuk menjawab.


"Si anjing maen nyolong-nyolong aja lo. Hah hu hah" Sewot Haiden.


"Sewot aja hidup lo, njir!" Balas Ririn ketus.


*****


Mereka semua sudah kembali ke kelas mereka masing-masing karena bell masuk tanda belajar kembali telah berbunyi.


"WOYY JAMKOS WOYY, BU RINA SAKIT." Teriak sang ketua kelas.


"YEYYY!!" seru mereka semua tak terkecuali Ririn dkk.


Mereka semua yang ada di kelas Ririn, sibuk masing-masing. ada yang gosip ada yang tidur ada yang main ponsel dll.


"Anjirr bosen banget gue, harus cari hiburan nih." gumam Ririn mencari ide.


"Ahaa gue punya ide" ucap Ririn tersenyum lebar.


"Ide apaan maksud lo?" tanya Delisha yang tidak sengaja mendengar ucapan Ririn.


Ririn pun maju ke depan tanpa menjawB pertanyaan yang di lontarkan Delisha.


"PERHATIAN SEMUANYA. HARAP TENANG DAN SAYA ADA SESUATU YANG DAPAT KITA LAKUKAN BERSAMA-SAMA" Teriak Ririn membuat atensi semua orang beralih ke arah Ririn dengan mengerutkan dahinya bingung.


"Bagus" Ucap Ririn bertepuk tangan melihat mereka yang nurut.


"Ngapain lo Rin?" Tanya Bima sang ketua kelas.


"SEKARANG KALIAN IKUTIN UCAPAN GUE. PENCET HIDUNG BAGIAN BAWAH KALIAN KEMUDIAN NAIKKAN KE ATAS." Teriak Ririn menatap mereka semua serius, padahal dalam hatinya terkikik dengan kebodohan mereka yang mengikuti tanpa terkecuali.


"Bwuahahahhahahaaa anjir nggak tahan" tawa Ririn pecah sambil memegang perutnya dan mereka hanya menatap Ririn dengan bingung.


"Si Laura kek babi beneran karena hidungnya yang pesek" ucap Ririn yang masih tertawa ngakak dan seketika mereka menyadari kalau sedang di bodohi Ririn.


"SETAN" ketus Laura yang di katain mirip babi.


"Anjirr bisa-bisanya." gumam teman sekelasnya.


"RIRINNNN!" Teriak Mahira, Delisha dan Enzy barengan kesal karena di kerjain Ririn.


"BWAHAHA ANJIR NGAKAK!" Teriak Ririn yang tidak berhenti ngakak.


Semua temannya mendengus kesal tidak terima di bodohi begitu saja oleh Ririn. Namun, ada yang tertawa karena memikirkan ucapan Ririn yang mengatakan Laura mirip babi.


*****


"Tolongggg!"


"Tolonggg!"


Di pertigaan jalan menuju pasar yang sepi, dia tidak sengaja melihat ada seorang ibu paruh baya yang sedang tarik-tarikan tas dengan tiga pria berbadan besar dengan tato di seluruh tubuhnya.


"Wahh ada tontonan gratis nih." Gumam Ririn.


"Tolongin nggak ya, itu ibu comberan?" Pikirnya.


"Tolongin nggak tolongin nggak tolongin" Ririn memikirkan dengan sepuluh jari tangan sebagai alat mikir.


"Hai om" sapa Ririn yang sudah di dekat orang-orang yang main tarik-tarikan tadi.


"Heh bocah, pergi lo sana!" Usir salah satu dari ketiga pria berbadan besar tersebut.


Bugh


Bugh

__ADS_1


Bugh


"Wah wah om nggak gentle banget main tangan sama cewek lemah lembut kaya saya." Ucap Ririn mendramatis.


Brak


"Cabut!" Perintah salah satu dari mereka.


"Terima kasih ya, nak!" Ucap ibu paruh baya yang tadi akan di copet.


"Sama-sama bu. Lain kali hati-hati ya bu. Saya permisi dulu." Pamit Ririn yang meringis karena kena sekali pukulan bagian perut.


*****


Plak


"Aaww.. sakit. Berarti ini nyata dong." Monolognya sembari mengusap pipinya yang dia tampar sendiri.


"Zerooo" seru Ririn berlari ke arah seorang pemuda yang terkejut.


Grep


Ririn memeluk Arnold yang masih terkejut. "Ro gue kangen" lirih Ririn.


"Lo kenal dia, Rin?" Tanya Malik. Sedangkan Cavero dan David hanya menyimak.


"Diem anjirr!" Sentak Ririn kemudian pergi meninggalkan Cavero dkk.


"The real anjing ini mah" gumam Haiden kepada Ririn.


"Siapa lo?" Tanya Arnold to the point.


"Oke. Kalo gue bilang Aqila, lo percaya nggak?" Tanya Ririn.


"Gue emang Aqila tapi dalam wujud Ririn. Ro lo percaya transmigrasi, nggak?"


"Percaya. Program pemerintah buat mindahin penduduk dari satu daerah padat penduduk ke daerah lain."


Plakk


Ririn memukul tangan Arnold pelan. "Bukan yang itu, bego. Yang gue maksud itu transmigrasi jiwa. Percaya nggak?"


"Nggaklah. Nggak usah gila lo!"


"Lo bisa buktiin kalo ini bukan omong kosong?"


"Oke. Gue nggak tau apa yang bisa gue buktiin. Tapi semoga ini cukup buat ngebuktiin semua omongan gue." Ucap Ririn penuh harap.


"Gue tau lo nggak bisa tidur kalo belum minum susu pisang, dan itu harus di tuangkan ke dalam dot. Lo akan minum jika tidak ada orang lain. Bener, kan?" Tanya Ririn tersenyum manis.


Grepp


"Gue masih nggak percaya kalo ini lo. Tapi cuma lo yang tau tentang gue yang itu." Ucap Arnold bergetar menahan tangis dalam pelukan Ririn.


"Gue bahkan nggak percaya Ro, tapi ini gue." Balas Ririn yang sudah meneskan air mata.


*****


"Woyy Zeroo" teriak Ririn setelah melihat orang yang di tunggu-tunggu dari tadi. "Sini, njing!"


"Lo kenal, Rin?" Tanya Enzy.


"Kok lo punya temen ganteng gini nggak ngenalin ke kita-kita." Ujar Mahira. "Ho'oh"


"Dia baru pindah. Kenalin ini teman gue namanya Arnold dan Arnold kenalin mereka teman gue." Ucap Ririn memperkenalkan mereka.


"Lahh bukannya tadi lo panggil dia Zero?" Kini giliran Kenzo yang bersuara.


"Zero hanya panggilan dari gue. Lo pada harus panggil dia Arnold." Jelas Ririn.


Arnold hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


*****


Hai gengs bagaimana pendapat kalian tentang novel ini, apakah kalian bosan?


Plis komen ya bagaimana pendapat kalian, kritik dan sarannya jangan lupa.


alapyuu

__ADS_1


__ADS_2