
Sekali lagi ditegaskan, ini cerita anak remaja yang terkenal bar-bar dan dari judulnya aja sudah jelas bad. So plis banget buat yang sering komen 'terlalu banyak kata kasarnya' ya emang hampir semua part ada, karena seperti yang aku bilang di awal bahwa ini kisah remaja bad. Thx.
Enjoy pren:)
***
"JAMKOS WOYY!" Teriak Varel di depan pintu yang entah habis dari mana.
"WHOHOOO YEEEE!" Seru semua temannya.
"Enaknya kita ngapain ya?" Tanya Ririn kepada ketiga temannya.
"Tidur! Ngantuk gue," jawab Delisha.
"Nah bener banget lo Sha," timpal Enzy.
"Yah kalian berdua gak asik," celetuk Ririn.
"Lo ngomong gitu karena tadi di kantin lo tidur," cetus Mahira membuat Ririn cengir kuda.
"Bosen," gumam Ririn menatap sekeliling. "Gak bisa di biarin nih, gue harus ngelakuin sesuatu," lanjutnya sambil berpikir.
"Jangan macem-macem deh Rin," ujar Delisha yang mendengar perkataan Ririn. "Gue gak macem-macem kok, hanya satu macem doang," jawab Ririn membuat Delisha jengah. "Serah lo dah!"
BRAK!
Ririn menggebrak meja tiba-tiba dengan keras membuat teman sekelasnya terlebih Delisha terlonjak kaget.
Anjing! Kaget gue.
Ririnnnnn.
Asu bisa tenang sehari aja gak sih?
Dan masih banyak lagi jeritan tertahan mereka yang kesal dengan Ririn. Sedangkan sang biang hanya menyengir kuda memperlihatkan giginya yang rapi dan putih.
"Apasi Rin?" Tanya Varel sang ketua kelas.
"Hehe maaf pak ketu," ucapnya. "Bosen aja gue. Enaknya ngapain ya?" Tanya Ririn.
"GUYS KONSER YOO!" Seru Ririn tiba-tiba yang kembali membuat teman kelasnya menatapnya kesal karena kaget dengan suara cempreng Ririn.
"BERISIK ANJ! GUE NGANTUK!" Bentak Rizal salah satu teman kelasnya yang terkenal bad dan saat ini sedang tidur tapi karena suara Ririn membuatnya terbangun.
"Ayo kita konserr bareng gengs!" Seru Enzy menghiraukan bentakan Rizal.
"AKU!" Seru Laura tiba-tiba.
"SUKA PADAMU AKU SAYANG PADAMU," balas Ririn.
"AYAYAA," seru teman sekelasnya barengan.
Ririn menaiki meja dengan sapu lidi di tangannya sebagai gitarnya. "AKU!" Teriak Ririn dengan tangan ke udara seperti spiderman yang akan menyelamatkan orang.
"SUKA PA-"
"ASTAGFIRULLAH KALIANN!" Teriak seorang guru yang tiba-tiba masuk. "SAYA SURUH KALIAN UNTUK BELAJAR BUKAN MALAH KONSER KAYA GINI!" Teriaknya lagi.
"KAMU JUGA RIRIN KENAPA BERDIRI DI ATAS MEJA KAYA GITU!" Guru itu menatap garang ke arah Ririn yang hanya nyegir.
"Hahe hahe turun!" Titah guru itu.
"Maaf bu maaf," ucap Ririn kemudian turun.
__ADS_1
"Kalian kalau mau latihan vokal bukan di sini," ujar guru tersebut kesal. "Sekarang buka buku paket masing-masing dan kerjakan semua soal nomor 211," perintahnya.
"Yahh bu ini kebanyakan," protes Ririn setelah melihat soal yang di berikan.
"Kerjakan! Jangan banyak protes!"
"Njirr ini banyak banget soalnya," cetus Mahira membolak-balikan lembar buku paket.
"Udahlah gak usah di kerjain. Sebentar lagi juga pulang biar jadi pr," usul Ririn menaik turunkan alisnya.
"Tumben lo pinter," balas Enzy membuat Ririn yang tadinya tersenyum lebar cemberut. "Serah lo pada!"
***
Hari sudah berganti. Matahari pun sudah memunculkan dirinya kembali menyapa penduduk bumi.
Kali ini Ririn tidak bangun terlambat lagi seperti kemarin karena dia sudah menyetel alarm dan menaruhnya di pinggir nakas agar terdengar lebih kencang, pikirnya. Masih jam enam Ririn sudah siap dengan seragam sekolahnya di depan cermin besar. "Masya Allah cantik banget gue," ujarnya puji dirinya sendiri. "Gak salah Cavero cinta mati sama gue ckck," lanjutnya dengan kepercaya-dirian penuh.
Jam tujuh kurang baru Ririn keluar dari kamarnya.
"Gut morningg mai famili," heboh Ririn di atas tangga dengan senyum lebar.
Rip english. Batin Ade, Ayudia dan Nathan yang sudah ada di meja makan mendengar kata-kata Ririn.
"Morning juga," jawab mereka barengan dengan nada jengah.
"Kok kalian kaya gak semangat gitu?" Tanya Ririn. "Pagi-pagi harus semangat dong," ujar Ririn lalu duduk di kursinya.
"Bahasa inggris lo dek, gak ada enak-enaknya di denger," balas Nathan.
Ririn terkekeh. "Hehe kan masih belajar bang. Malu sama nenek tua itu nanti kalo dia dateng lagi gimana?" Jawab Ririn membuat Ade dan Ayudia menahan tawanya.
"Serah dah!"
"Tengkyu mom," jawab Ririn.
***
Seperti biasa Ririn selalu jadi idola saat sudah memasuki wilayah sekolah. Seperti saat ini sudah banyak pekikan-pekikan dari penghuni SMA GALAXI.
"Busyettt pens pens gue makin banyak aja," cetus Ririn melihat sekitarnya. Dengan gaya angkuh Ririn meninggalkan parkiran karena gang Divine gak ada mereka tungguin Ririn.
Ririn melangkahkan kakinya menyusuri koridor menuju kelasnya. Namun ada satu orang yang berhasil menyita perhatiannya. Seorang cowok yang sedanv duduk di pinggir lapangan basket dengan satu buku di tangannya. Tanpa ragu Ririn mendekatinya dan duduk di sampingnya.
"Cowok," panggil Ririn agak di genit-genitkan.
Tak ada balasan dari orang itu. Orang itu hanya menatap sekilas ke arah Ririn. Ririn tersenyum miring dan mulai melancarkan aksinya.
"Bro kenalan dong, nama gue Ririn. Nama lo siapa?" Tanya Ririn.
"Lio," jawabnya singkat.
"Oh Lia." Ririn mengangguk-angguk. "Lio tau gak lo mirip seseorang?" Tanya Ririn.
"Siapa?" Tanya Lio cuek.
"Nama lo mirip nama seseorang yang akan ada di list teratas kartu keluarga kita kelak!" Ujar Ririn heboh.
Lio hanya menatap Ririn datar sebentar lalu kembali fokus ke bukunya.
"Li lo tau gak bedanya tanggal 28 Oktober sama tanggal 29 Oktober?"
"Gak," jawab Lio singkat.
__ADS_1
"Kalau tanggal 28 Oktober itu hari sumpah pemuda, sedangkan tanggal 29 Oktober itu hari sumpah aku sayang kamu," goda Ririn heboh.
Eeeaaa
"Li, lo tau? Gue gak bakal bisa jadi presiden," ujar Ririn lesu.
"Karena lo gak mampu," balas Lio nyelekit.
"Bukan ish. Karena gue gak mampu mencintai semua rakyat gue karen gue hanya mampu mencintaimu seorang," ujar Ririn menepuk pelan pipi Lio.
Lio menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah pasti memerah. Mati-matian ia menahan bibirnya yang berkedut agar tidak tersenyum tetapi senyum itu terbit dengan sendirinya.
Lio tersenyum kepada Ririn, senyum yang tak pernah orang lain lihat. Karena Lio juga salah satu ice boy di SMA internasional tersebut.
Demi apa Lio barusan senyum?
Diabetes gue, tolong tolong woy!
Anjir Lio sekali senyum manis banget ngalahin gula.
Begitulah pekikan-pekikan para siswi-siswi yang mengenal Lio.
Ririn yang melihat itu bersorak langsung berdiri dari duduknya. "Yess gue berhasil!" Sorak Ririn heboh.
"Senyum lo manis banget gilakk! Diabet gue kalau lama-lama di sini," ujar Ririn. "Papay manusia es." Ririn berbalik dengan senyum lebarnya. Namun senyumnya luntur melihat tujuh laki-laki di hadapannya sekarang membuatnya berdiri kikuk.
"Eh mas pacar. Selamat pagi," ucap Ririn tersenyum kikuk menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Malik dkk menahan tawa kecuali David yang memang ya begitulah dan Cavero yang menatap Ririn datar.
...***...
...SPOI NEXT!...
Ririn menyenggol lengan Delisha membuatnya menoleh mengangkat alisnya sebelah. "Bolos yuk," ajak Ririn pelan.
"Berdua?" Tanya Delisha.
"Ajak mereka berdua," jawab Ririn yang diangguki Delisha.
"Hust hust," cuit Ririn berhasil membuat kedua temannya menoleh kebelakang. "Kenapa?" Tanya Mahira dengan suara pelan.
"Bolos yuk," ajak Ririn yang langsung diangguki Mahira dan Enzy antusias.
"Gimana caranya?" Tanya Delisha pelan.
Ririn tersenyum menatap ketiga temannya silih berganti. "Tenang aja. Kita berempat sekarang berdiri sama-sama," ujar Ririn. "Satu.. dua.. tiga!"
"Kalian berempat ada apa?" Tanya guru tersebut berhenti sejenak menjelaskan materi.
"Kita izin ke toilet bu," ujar Ririn dengan wajah tanpa dosanya.
"Berempat?" Tanya guru tersebut.
"Oiya jelas dong bu. Kita kan bes pren, tapi tenang aja bu nanti masuk bilik toilet satu-satu kok," ujar Ririn tak tau malu mengundang gelak tawa teman sekelasnya.
Delisha menonyor kepala Ririn kesal. "Iya ya lah satu-satu, bego!"
"Lah salahnya dimana?" Tanya Ririn polos.
...🌱...
Jangan lupa hadiahnya gengs!
__ADS_1